
Intan memasangkan scarf di lehernya. Ia gelisah. Matanya jelalatan memerhatikan para pengurus yang lalu-lalang. Ia menunggu, orang hitam itu menunggunya.
Ia tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika ia terlambat. Waktu sudah hampir jam 10 PM. Keringat Intan mengucur, makin gelisah.
"Kamu kenapa Tan?" Tanya seseorang.
Intan menggeleng berkata bukan apa-apa.
Tak lama pengurus baru selesai menyisir seluruh asrama, Intan langsung cabut dari kamar. Ia berjalan cepat, menembus gelapnya malam tanpa bintang dan bulan. Cahaya remang dari gedung-gedung sekolah tak cukup menerangi jalan yang Intan lalui.
Intan makin dekat dengan gedung tua itu. Seorang diri ia menerobos rumput-rumput ilalang yang tinggi mengelilingi gedung. Ia tak hiraukan para arwah dan setan penasaran yang sedari tadi mungkin memerhatikannya dan ingin mengganggunya atau sekedar ingin menyapa.
Saat Intan sudah di dalam gedung itu, amat gelap, tapi ada seseorang yang menaruh lampu redup di sana. Setidaknya ada sedikit cahaya. Intan juga menyalakan senter di smartphone-nya. Ia bertanya-tanya, di mana si orang hitam itu. Matanya terus mencari.
Ada banyak ruangan, lobi di tengah terhampar luas. Cat gedung sudah kusam dan mengelupas. Perabot gedung sudah usang tak karuan. Banyak bau aneh tercium di telinga Intan. Seperti bau bangkai, kadang terhirup wangi bunga melati, atau kayu cendana. Tak heran, gedung ini pasti sudah menjadi sarang hantu. Si gadis yang penakut itu seketika menjadi berani karena ancaman orang hitam.
Intan dikejutkan suara kecil, "shhttt!" dari salah satu ruangan.
Intan berteriak, "siapa di sana!! Keluar! Maaf jika kalian hantu, aku tak bermaksud mengusik kalian! Aku hanya ingin bertemu seseorang!"
"Kesini!" Balas suara kecil itu amat misterius.
Intan merinding, menelan ludahnya. Mungkinkah itu hantu yang jail dan ingin bermain dengannya? Atau sebetulnya orang hitam!? Jika orang hitam, Intan dengan amat terpaksa harus mengikuti dari mana suara itu berasal.
Kakinya bergetar dan melangkah. Ia meneguhkan nyali demi menemui si orang hitam.
Tiba-tiba, suara tertawa perempuan melengking kencang memekik di seluruh gedung.
"hihihihihihihi......."
Intan berhenti, ia mulai lagi menangis tak tahan. Tubuhnya makin bergetar ketakutan.
Di titik ini, ia memilih kabur. Beruntung ia masih bisa berlari terbirit-birit.
Intan berhenti di kamarnya, napasnya masih terengah-engah. Apa ia baru saja mendengar tertawa kuntilanak? Atau ia sebenarnya hanya dipermainkan si orang hitam. Ia tak tahu pasti.
Temannya bertanya keheranan melihat Intan yang seperti dikejar setan. Intan menjawab sekedar saja. Ia berangkat tidur menenangkan pikiran.
__ADS_1
***
Lily dihantui mimpi yang seperti nyata. Ia terjebak di dalam kepalanya sendiri. Lily melirik kanan kiri, mencoba menebak di mana ia terdampar. Ini seperti pulau.
Lily mulai gila, kenapa bisa ia memimpikan dirinya sendiri di suatu pulau yang tampaknya terpencil seperti ini.
Laut biru terhampar tak berujung, luas sekali. Burung camar berterbangan di atas Lily. Deburan ombak riuh dan menyentuh tubuhnya. Di mana Lily.
Ia terus bertanya, mimpi apa ini? Kenapa pulau?
Pantainya memang indah. Pasir putih seperti permadani yang bercahaya memantulkan sinar matahari terik. Lily membangunkan tubuhnya, ia berjalan masuk ke dalam hutan di pulau itu.
Ada semacam gunung juga di sana. Tapi Lily menolak pergi ke arah gunung itu. Ia memilih membuat gubuk atau tempat berlindung di area hutan tropis di pulau.
Tubuhnya lemas kecapekan. Shelter sudah berdiri. Lily buat dari ranting pohon, dan daun kelapa yang terjatuh. Lily menenggak setetes air embun, ia kehausan. Tenggorokannya kering, tubuhnya berkeringat kepanasan.
Belum ada tanda aneh dari mimpi ini. Lily pikir apa ia harus menyusuri pulau. Mungkin saja ia menemukan sesuatu di tengah pulau.
Lily memantapkan langkahnya. Ia terobos rumput liar di hutan itu, tak peduli binatang buas yang menatap tajam.
Ada shelter lain. Lily tak segan menghampiri, dan menyapa siapa di dalam.
"Kak Pipit?" Lily terkejut bukan main.
Pipit tak bicara. Ia hanya menatap Lily dengan senyum janggal dan menakutkan. Tanpa aba-aba, Pipit juga menggenggam tangan Lily lalu membimbing Lily ke suatu tempat.
Lily mengikutinya, lagi pula ini hanya mimpi bukan apa-apa.
Pipit berhenti di pantai. Telunjuknya terangkat ke arah laut. Lalu kepalanya berputar menengok wajah Lily yang kebingungan.
Lily masih tak paham maksud Pipit.
Senyum aneh dari Pipit itu hilang, berganti raut wajah datar dan dingin.
Lily masih merasa aneh, ia sedang mengikuti alur dari mimpinya sendiri sembari menebak kemana mimpi ini mengarahkannya.
Lily berusaha bertanya pada Pipit, "ada apa di sana?"
__ADS_1
Pipit mendengus, seperti kemarahan akan meletup dari sana. Tetapi emosi Pipit berubah cepat, ia berakhir dengan jeritan menyakitkan dan menangis sesenggukan.
Derita Pipit disambut seseorang yang keluar dan berjalan santai dari arah laut.
Lily terpaku pada sosok itu, dan lupa ada Pipit di sampingnya. Mata Lily memicing, ia ingin tahu siapa itu.
Pipit menguap, menghilang seketika. Lily terkejut, tapi ia lebih terkejut lagi ketika melihat sosok itu sudah ada di hadapannya.
Sosok itu berpesan, "balaskan!" Air matanya meleleh. Lalu menguap juga mengikuti Pipit.
Lily berhasil terbangun dengan peluh di sekujur tubuhnya. Napas tersengal-sengal. "Apakah itu Ali?" Gumam Lily. "Mereka kembar tidak identik."
***
Pagi yang melelahkan baik untuk Intan maupun untuk Lily. Malam yang panjang untuk mereka berdua.
Teror berlanjut hingga subuh ini. Intan terbayang-bayang si orang hitam membuntutinya. Hingga sebelum ia berangkat sekolah, orang hitam itu betulan muncul di depan dirinya, selalu berhasil muncul di kala tidak ada siapapun di sekitar.
Intan sudah bisa mengontrol rasa takutnya, meski masih gemetaran, Intan meneriaki orang hitam itu dan berkata marah, "lu main-main ya! Gue udah ke gedung belakang sekolah semalam! Kenapa gak ada lu brengs*k!"
Orang hitam dengan suara misteriusnya terkekeh, "kamu terlambat. Tentu saya sudah pulang!" Ucap si orang hitam dengan entengnya.
Intan kesal. Ia akui ia memang terlambat.
"Kamu ingin lihat bagaimana keadaan keluargamu sekarang?" Ancam si orang hitam mempermainkan.
"Apa yang lu mau si*lan!" Bentak Intan nyaris tak kuasa menahan tangisnya lagi.
Orang hitam itu masih dengan jahatnya mempermainkan Intan, "kamu. Kami ingin kamu!"
Selesai dengan omongannya, si orang hitam berbalik pergi dan menghilang lagi secara misterius.
Merasa tak kuat, Intan pada akhirnya mengatakan semuanya pada Akbar sesampainya ia di kelas. Sambil berusaha menahan tangis, dengan gamblang ia ceritakan semua teror yang ia alami. Lily juga ikut mendengar.
Jelas Akbar murka. Ia pasang badan, dan bertekad siang itu untuk pergi menemui si orang hitam langsung. Ia akan mendatangi sekali lagi sarang si orang hitam ke gedung belakang sekolah. Intan tak boleh ikut, Lily harus menjaga Intan, dan mungkin Andri akan ikut menyertainya.
***
__ADS_1
Lindungi Intan at all cost guys! 😁