
Reyza sadar gak ada gunanya jika ia memohon pada setan di tubuh Andri. "Gue panggil Ustadz. Lu jaga Andri di sini Bar? Gimana?" Opsi Reyza. Ia pikir Akbar mampu menahan Andri jika setan itu mengamuk lagi.
Akbar mengangguk.
Tetapi sesaat sebelum Reyza keluar, Andri berkata, "tunggu! Gue udah sadar."
Reyza menghampiri Andri dengan tatapan masih sedikit takut, jengkel, sedih pula. Ia membuang napas emosi itu, "lu serius Andri kan?" Tanya Reyza belum yakin.
Andri membuang napas, "iya Rey." Matanya lelah.
Akbar yang hanya mematung di sana, kemudian pamit. "Gue balik." Akbar yakin Andri sudah kembali.
"Thanks," ucap Reyza.
Akbar tidak menghiraukannya. Ia terus nyelonong pergi.
Reyza berbalik kepada Andri. Ia tidak berharap setan itu kembali lagi.
"Lu kalo punya masalah, cerita dong Ndri! Lu jangan pikir bisa nyelesein masalah sendiri." Omel Reyza.
Andri masih diam.
"Lu ada masalah apa sebenernya, tadi lu kesurupan? Atau apa?" Tanya Reyza.
Andri gagap, "gue......."
"lu gak akan ngerti Rey!" Ucap Andri dengan wajah murung.
"Terserah. Gue tidur." Ucap Reyza jengkel.
***
Reyza masih menyimpan kesal pada Andri hingga esok hari. Bukannya simpati karena temannya itu baru saja kerasukan setan dan butuh dukungan mental, Reyza malah tidak peduli. Reyza pikir, ini karena Andri sendiri. Mengapa pula Andri tidak berterus-terang tentang keadaannya. Ia juga masih ragu, apa itu benar-benar kerasukan.
Akbar diam-diam memerhatikan mereka berdua. Akbar paham yang terjadi. Tapi ia tidak ingin peduli.
Andri hanya murung.
Sesekali Reyza masih menegur Andri, mengajaknya berangkat ke kelas. Tapi menolak berbicara panjang pada anak itu.
Bukan karena takut. Reyza hanya malas. Marah pun tidak, meski Andri sudah melempar pukulan pada wajahnya.
Andri yang tidak tahan dengan kelakuan Reyza yang menurutnya keterlaluan, akhirnya protes juga. Ia hanya sekedar bertanya sebetulnya, "emang yang gue lakuin semalam itu parah Rey? Sampe lu marah banget kayaknya."
Reyza menjawab, "bukan itu yang jadi masalah gue."
"Terus apa?"
Reyza ingat Andri pergi keluar asrama dan merokok, "lu inget gak yang lu lakuin semalem?"
Andri diam, wajahnya selalu murung sambil tertunduk.
__ADS_1
"Enggak?" Tanya Reyza.
Andri diam saja.
Reyza bingung jadinya. Siapa yang merokok itu. Apa mungkin setan merokok? Setan paham dengan rokok? Apa mungkin orang kerasukan bisa bertingkah persis seperti manusia pada umumnya? Bukankah kalau seseorang kerasukan itu hanya mampu mengerang tidak jelas, bergerak, atau berkata tidak karuan ya?
Ah Reyza tidak paham itu.
"Gue ke kelas aja deh Ndri. Gue siap dengerin cerita lu kapan aja," Ucap Reyza lalu pergi.
***
Di kelas kaligrafi, Reyza duduk di samping Andri, dan Lily di seberang mereka berdua. Intan ada di samping Lily, ia fokus pada ceramah pengajar kaligrafi.
Lily mengetuk pulpennya berkali-kali. Wajahnya berkeringat, merasa tidak nyaman dan terganggu. Jemarinya gatal, tapi tidak gatal sungguhan, hanya seperti saraf-saraf yang mengirim sinyal salah. Mata Lily sesekali nyasar ke arah Andri.
"Lily kenapa?" Tanya Intan khawatir.
Lily memalingkan wajahnya ke Intan, tersenyum, "gapapa," ucapnya.
"Kalo mau keluar, aku temenin Ly," ajak Intan.
Lily tersenyum lagi, "gapapa. Lanjut kelas aja."
"Yakin?" Intan masih bertanya.
Lily meletakkan pulpennya dengan sedikit hentakan, mungkin karena sebal. "Kalo Intan, mau keluar, ayo Lily temenin," ajak Lily dengan senyum palsu yang kentara.
Lily kembali memerhatikan Andri diam-diam tapi serius.
***
Selepas kelas, Reyza mencoba santai, dengan menatap rindangnya dedaunan pohon yang memenuhi koridor lantai dua gedung sekolah. Pikirannya sedikit berkecamuk, ditambah ia tahu betul Lily sepanjang kelas kaligrafi tadi terus saja memerhatikan Andri. Seolah predator yang siap menerkam mangsa, Lily menatap tajam.
Persoalan yang lainnya, gambar yang Andri buat.
Lagi-lagi gambar pohon. Daun-daunnya seperti kapas yang berterbangan, tertiup angin kencang yang juga membawa debu abu dan berputar seperti tornado. Pohon itu tetap bertahan, menjulang dengan akar kuat, meski seluruh daunnya habis dilahap angin.
Apa artinya?
Reyza menggeleng. Apa ia harus berpikir, bahwa Andri baik-baik saja. Atau meski Andri bermasalah, apa sebaiknya Reyza tidak ikut campur, dan cuek saja.
"Oy!" Tegur Lily dari belakang. "Ngelamun!" Tegurnya lagi. "Lagi mikirin cewe ya?"
"Sembarangan!"
Lily tertawa kecil. "Terus?"
Reyza masih galau dan diam saja. Malah lanjut menatap rindangnya daun pohon di depannya.
"Andri?" Tanya Lily.
__ADS_1
Tentu Reyza terkejut, ia tersedak air liurnya sendiri.
Lily tertawa sedikit keras, "jadi... kenapa dia?"
"Dari kemaren, Andri udah bertingkah aneh."
"Anehnya?"
"Gue gak tau ya Ly. Apa gue yang lebay, atau emang beneran ada masalah sama anak itu."
"Ya kamu cerita dulu," pinta Lily.
"Andri tuh buat gambar, yang menurut gue aneh. Pertama, gambar pohon yang gue liat seger banget, kedua gambar orang yang suram kayak sedih gitu, terakhir baru aja dia selesai gambar pohon lagi tapi ada angin kenceng yang kayak mau numbangin pohon itu. Gue tanya ama lu Ly, menurut lu itu aneh gak sih? Dalam tiga hari, si Andri kayak terobsesi sama gambar, dan gambarnya aneh-aneh. Terus semalem, dia kesurupan. Atau gue yang lebay ya? Yang terlalu mikirin masalah si Andri?"
Lily melihat Reyza dengan ragu, sulit dipercaya memang, tapi bukankah hal yang terjadi pada Andri itu wajar?
"Kadang, si Andri bikin gue takut Ly."
"Boleh aku liat gambar yang Andri buat?" Pinta Lily.
"Boleh aja. Nanti gue bawain."
"Kejadian aneh di asrama itu udah menjadi hal yang biasa Rey. Kamu cerita pada Ustadz, atau pada siapapun itu, pasti mereka gak akan peduli, dan anggap ini bakalan hilang sendiri."
Reyza kembali tertunduk.
"Jangan khawatir, Andri gak kenapa-kenapa."
"Terus, lu gimana? Gimana lu nanggepin masalah ini? Kenapa lu nanya gue tadi, dari mana lu tahu gue lagi mikirin Andri?" Tanya Reyza.
Lily berseringai. "Aku jawab yang mana dulu? Oh, gimana aku nanggepin ini? yaa... aku gak jauh beda sama kamu Rey. Biar gimanapun, Andri temen sekelas kita, kita semua gak bisa diem dong kalau ada apa-apa sama dia. Jujur, tadi aku perhatiin Andri, dan aku tahu ada yang salah sama dia."
"Apa? Menurut lu apa yang salah?"
"Belum tahu. Karena itu, aku mau liat gambar Andri dulu."
Reyza diam. Ia hanya bisa berkata, "Okey," pada Lily. Malam ini, Reyza akan membawa semua gambar Andri dan memberikannya pada Lily.
***
Intan yang sedari tadi menunggu Lily di bawah, sambil berbincang dengan Akbar, akhirnya bisa istirahat juga ke kamar. Lily sudah turun, bersamaan dengan Reyza.
Reyza buang muka, setelah melihat Akbar bersama Intan. Ia berjalan cepat menuju kamarnya.
"Kamu lama banget Ly. Ngobrolin apa sama Reyza?" Tanya Intan.
"Si Andri?" Tanya Akbar.
Lily mengangguk.
Mata Akbar yang sayu, hanya menatap dingin ke Lily. Seperti seseorang yang sedang mencoba menebak isi kepala Lily.
__ADS_1
"Ya udah Ly. Yu balik!" Ajak Intan.