
Ini adalah sepenggal kisah Lily.
Gadis misteri. Ayah dan ibu Lily mati saat ia umur 4 tahun. Berasal dari keluarga miskin, di Kampungnya para pemulung. Menghabiskan masa kecil di gubuk kardus milik saudaranya.
Ketika Malik tahu bahwa Lily terlantar, Lily diangkat anak oleh pamannya Malik. Baru sejak umur 6 tahun, Malik membawa Lily ke sekolah yang ia bangun.
***
Kejadian demi kejadian Lily alami di sekolah itu, tapi ia masih terlalu kecil untuk mengerti. Hingga ketika usianya 13 tahun, saat pertama ia alami gejala yang mirip dengan Andri, Lily membuka pikirannya. Ia sadari ada yang disimpan oleh sekolah ini.
Semester kedua kelas 1 SMP, beberapa bulan setelah gejala pertama, Lily kembali merasakan ketidak-warasan itu kembali.
Tidak seperti Andri yang dihantui setan di mimpinya atau diteror oleh riuhnya suara di kepala, yang Lily rasakan hanya emosi depresi yang intens. Kesedihan yang luar biasa menekan dan meremas tubuhnya. Lily kecil lagi-lagi mengurung diri di kamar. Melakukan isolasi dari dunia luar, termasuk tidak menemui Intan.
Kilasan memori masa lalu yang perih membayangi pikirannya, menyiksa batin, dan menghancurkannya. Perasaan tidak berharga, tidak berguna, tidak pantas dilahirkan, hingga keinginan untuk mati saja, berputar seperti angin puyuh di otaknya.
Malik dan Istrinya berusaha menggedor-gedor pintu kamar Lily, tapi Lily tidak pernah menjawab. Hingga datang Pipit.
***
Pipit tewas dalam kecelakaan mobil tunggal. Menabrak pohon tua hingga tumbang. Kepalanya pecah, serpihan kaca menempel di otaknya yang tercecer.
Lily adalah saksi utama dari kecelakaan itu. Lily menyaksikan semua kejadian kecelakaan maut itu, karena ia duduk tepat di samping Pipit. Mereka berdua pergi dari asrama. Pipit membawa Lily ke tempatnya, hendak melakukan pengobatan pada Lily.
Dalam kecelakaan nahas itu, secara ajaib Lily selamat. Tergores sedikit serpihan kaca di wajahnya, tapi tidak terluka serius.
Yang paling berduka adalah istri Malik. Keponakannya Pipit mati dengan mengenaskan.
***
__ADS_1
Polisi menggali keterangan Lily sebagai saksi kecelakaan. Lily yang sedang tidak waras tentu tidak mungkin memberi keterangan utuh.
Tetapi sebetulnya Lily mengingat sesuatu dari kejadian itu. Ada penumpang lain yang menyelinap di mobil. Diam-diam ikut di kursi belakang mobil.
Ingatan Lily terbatas pada bayangan orang berbaju hitam. Yang menutup pandangan Pipit, meremas mata Pipit dengan tangan bersarung hitam, dan berkata, "Shhhhhhttt!" dengan telunjuk di mulutnya kepada Lily.
Lily diam terpaku, ketakutan.
Orang itu memasangkan sabuk pengaman terlebih dahulu di tubuh Lily, melepas ikatan sabuk pengaman dari Pipit, barulah menutup mata Pipit.
Pipit tidak sempat melawan. Karena orang itu terlalu cepat dan tak terduga bergerak. Si malang Pipit membanting mobil keluar dari bahu jalan, lalu dengan kerasnya menabrak pohon besar.
Air bag mobil rusak, Pipit tewas seketika.
Dengan geraknya yang misterius, orang hitam pergi tanpa jejak meninggalkan Lily yang syok tak sadarkan diri bersama mayat Pipit.
Kaki Lily terjebak, ia tidak bisa bergerak keluar meminta pertolongan. Di sampingnya, mata dari mayat Pipit melototi Lily lebar-lebar. Darah Pipit muncrat ke wajahnya. Tengkorak Pipit hancur, potongannya ada yang menempel di setir dan dashboard mobil. Sekitar lebih dari setengah jam, Lily menahan takutnya bersama mayat mengerikan itu. Ia menangis sambil terus mendorong kakinya, berusaha untuk terlepas dan pergi meminta tolong. Tapi ia sendiri lemas, ia tak punya cukup tenaga bahkan mungkin untuk berjalan.
***
Saat polisi menginterogasi Lily kecil, tidak sepatah kata pun yang ia keluarkan. Keringat mengucur, tubuh bergetar. Lily kecil semakin syok. Polisi menyerah. Ia membiarkan Lily dirawat dari traumanya terlebih dahulu.
Meski sedih bukan main karena kehilangan Pipit, istri Malik mengusap penuh kasih sayang rambut Lily. Menyanyikan lagu yang halus ke telinga Lily, membantu Lily kembali waras, membuat Lily terlelap tidur dan istirahat.
Air mata Bu Malik mengucur, berhari-hari menangisi Pipit. Sementara Lily terus bungkam dengan sorot mata kosong masih trauma.
***
Lily kembali ceria setelah berminggu-minggu lamanya. Hal pertama yang ia lakukan setelah kembali adalah menyiapkan ruangan kosong untuk riset.
Ia bertekad menangkap si orang hitam. Informasi janggal pertama yang ia dapat adalah, obrolan mencurigakan antara Malik dan salah satu donatur. Meski tidak berhubungan, tapi tetap ia kumpulkan semua potongan puzzle, semua kejadian janggal yang ia temui di asrama ini.
__ADS_1
Lily tidak melibatkan Intan, ia takut Intan berakhir tragis seperti Pipit lagi. Ia tidak mungkin melibatkan siapapun dalam project-nya itu.
Kedua adalah perasaan aneh yang ia alami sendiri. Dari mana datangnya emosi itu? Timbul hilang tak terduga di diri Lily. Apa penyebabnya.
Dan terakhir adalah motif pembunuhan Pipit. Siapa pembunuhnya? Kenapa targetnya adalah Pipit, dan kenapa ia membiarkan Lily hidup padahal Lily merupakan saksi kunci.
Umur 13 tahun. Terlalu kecil untuk menyerap informasi janggal ini sekaligus apalagi memecahkan misterinya.
Lily bermain secara perlahan. Tanpa diketahui oleh siapapun, termasuk oleh si orang hitam, Lily pelajari pola dari setiap kejadian janggal di sekolahnya.
Setiap bulan, selalu sekali atau dua kali ia bertemu si orang hitam.
Berpakaian serba hitam, memudahkan orang itu mengendap-endap tanpa ada orang yang melihat, kecuali Lily.
Mata tajam Lily tidak pernah ketinggalan langkah dari orang hitam. Tapi nyalinya belum siap jika harus mengikuti kemana si orang hitam pergi.
Lily hanya sebatas mempelajari pada saat kapan saja si orang hitam mendatanginya.
Dan ia dapatkan itu.
Orang hitam selalu kembali di setiap kali Lily kambuh. Emosi tidak waras yang merayap dan menjalar di dirinya, itulah yang membawa orang hitam kepada dirinya.
***
Dua tahun lebih berlalu. Kejadian demi kejadian aneh seringkali terjadi di sekolah. Tapi kemudian hilang ditelan waktu. Pernah ada histeria, kerasukan masal di sekolah ini. Juga keracunan ramai-ramai. Tapi semua berita itu terhapus begitu saja dan terlupakan.
Lily terbiasa dengan semua kengerian itu. Bahkan menjadi target si orang hitam tidak banyak menciutkan nyalinya. Penyiksaan Novis bukan apa-apa untuk Lily.
Lily melatih dirinya mempelajari beberapa teknik bela diri. Untuk jaga-jaga ketika ia harus menghadapi si orang hitam secara langsung.
Temannya Intan tak pernah tahu misteri yang disimpan Lily. Dan Malik adalah orang yang paling Lily hindari untuk persoalan ini. Tidak ada orang dewasa yang ia percaya, termasuk Malik. Juga tidak ada teman yang sanggup ia libatkan.
__ADS_1
Lily hadapi misteri sekolah seorang diri selama bertahun-tahun lamanya. Ia obati dirinya sendiri yang kewarasannya nyaris berkali-kali hilang. Lily juga harus terus menyiapkan mental hati dan fisiknya, tidak hanya untuk menghadapi misteri di sekolah, tetapi juga untuk mengatasi misteri pada dirinya sendiri. Sewaktu-waktu, kegilaan Lily pasti akan menyambar lagi ke dirinya. Lily harus siap untuk itu dan untuk segala hal.