SCHOOL OF LOST SOULS

SCHOOL OF LOST SOULS
Histeria


__ADS_3

Malik mengabari Lily bahwa terjadi persis seperti kerasukan massal di sekolah. Suara Malik terdengar panik. Lily loud speaker panggilan Malik. Dari suara Malik, Reyza rasakan orang tua ini sedang betul-betul bingung dan kalut.


Malik mengirim video kondisi di sekolah. Menurut keterangan yang Malik peroleh dari siswa pertama yang kerasukan, ia bercerita bahwa pada mulanya siswa merasakan tepukan keras di bahunya. Siswa berbalik untuk melihat siapa dan tiba-tiba ruangan menjadi gelap.


Ketakutan meliputinya. Siswa itu rasakan sakit yang menyiksa di punggung, dan kepalanya mulai berputar. Ia jatuh ke lantai.


Tiba-tiba katanya ia melihat 'dunia lain'. Adegan-adegan berdarah dan kekerasan. Ada banyak sesosok wajah yang begitu jahat mengelilingi dan hendak memangsanya.


Siswa itu tidak bisa lari dan pada akhirnya pingsan.


Aksi Siswa yang pertama tersebut ternyata memicu reaksi berantai kuat di seluruh sekolah. Beberapa menit kemudian siswa di ruang kelas lain mulai menjerit, tangisan panik mereka menggema di aula.


Mereka mengaku melihat "sosok gelap" yang sama.


Pintu-pintu kelas ditutup rapat. Para guru dan siswa yang panik membarikade diri mereka di dalam.


Reyza berkata ia akan meminta Prasetyo memanggil polisi, ahli spiritual, dukun, hingga ilmuwan. Malik punya relasi psikiater dan psikolog klinis dari Pipit. Mereka segera mengumpulkan orang-orang yang bisa menolong sekolah itu. Kecuali wartawan. Mereka cegah wartawan masuk.


Malik menunjukkan video lain yang ia rekam dari hasil rapat dengan para psikolog klinis teman Pipit. Mereka memberikan keterangan bahwa "kerasukan massal, atau histeria massal, dikenal juga sebagai penyakit psikogenik massal. Penyebarannya cepat dengan gejala fisik hiperventilasi dan kejang-kejang di antara sekelompok besar orang tanpa penyebab organik atau biologis yang masuk akal."


"Ini adalah respons stres kolektif yang memicu stimulasi berlebihan pada sistem saraf," ucap salah seorang sosiolog medis yang Malik undang. "Mirip seperti virus atau masalah di perangkat lunak komputer." tambahnya.


Seorang psikiater juga memberi komentar, "Mekanisme di balik histeria massa memang belum atau dipahami dan tidak terdaftar dalam DSM/ manual untuk gangguan jiwa. Tapi bagi saya ini adalah 'perilaku kolektif'. Gejala yang dialami itu nyata atau betulan dirasakan, seperti pingsan, jantung berdebar, sakit kepala, mual, gemetar, hingga sawan. Tetapi tidak ada penjelasan biomedis konvensional untuk gejala tersebut. Penularannya sebagian besar disebabkan oleh faktor psikologis dan sosial, oleh karena lingkungan terdampak yang penuh tekanan. Atau pemicunya bisa juga karena kecemasan yang ditanam di lingkungan, oleh keinginan untuk diperhatikan, dan frustrasi."


Tidak cukup dengan sudut pandang ilmiah, Malik juga memanggil para ahli spiritual.


Sekolah asrama Malik menghargai perbedaan kepercayaan. Di sekolah ini, semua agama difasilitasi. Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha. Para siswa memeluk agama yang beragam, berasal dari daerah dan suku yang bermacam-macam.


Malik undang ustadz, pendeta Kristen dan Hindu, biksu, hingga dukun.


Polisi yang didatangkan Prasetyo, Malik arahkan untuk mengamankan para siswa yang bertindak anarkis dan bahaya.


Semua pihak bekerja dengan keahliannya masing-masing.

__ADS_1


Seorang Ustadz memegangi kepala siswa yang meraung-raung seperti hewan, ia membacakan doa, dan siswa itu bereaksi dengan jeritan yang keras. Begitu pula ahli spiritual yang lain. Dengan bantuan polisi, mereka seolah mengusir jin yang menguasai tubuh para siswa, dan mencabut jin itu lewat ubun-ubun para siswa.


Ilmuwan sibuk berdebat.


Kengerian meliputi sekolah asrama. Malik kerepotan.


Lily, Reyza, Andri juga ikutan bingung. Mereka sudah terlanjur tidak di asrama, di jalan menuju menara Prasetyo.


Semua karena Musa. Apa yang dilakukan Musa sampai bisa membuat sekolah menggila, mereka tidak tahu.


Tapi kejadian histeria massal seperti ini bukan kali pertama terjadi di sekolah Lily. Ketika Nafira, Ali, dan Pipit masih belajar di sini juga pernah terjadi. Lebih parah, beberapa siswa kena luka bacok yang cukup dalam dan butuh beberapa belas jahitan.


Waktu itu, belum cukup tenaga medis, keamanan, dan ahli spiritual yang didatangkan untuk menolong. Semua manual, dilakukan sekuat tenaga oleh beberapa orang dewasa yang tidak terdampak.


Malik meneteskan air matanya, ia sedih mengapa hal yang seperti ini terulang di sekolahnya. Lily juga ikutan murung.


Emosi sedih yang tajam memenuhi isi mobil itu dan membuat Reyza tak nyaman. Ia terus bertanya kabar pada Prasetyo. Biar bagaimanapun orang-orang Prasetyo harus bisa menormalkan kembali sekolah.


"Apa kita harus kembali?" tanya Lily.


"Tapi ini fenomena supranatural. Tidak ada hubungannya dengan Musa. Mereka kerasukan jin. Histeria massal tidak ada dalam kamus ilmiah!" debat Lily.


"Gue ada urusan personal dengan Musa. Gue harus temui Musa Ly. Rey ... tancap gas!" pinta Andri tegas.


Lily mendengus, ia kepikiran kabar Malik di sekolah. "Aku takut ayahku juga kena!"


"Gue percaya Pak Malik. Beliau sosok yang kuat. Tidak mungkin kena." Reyza memberikan semangat.


"Tapi ayahku sekarang udah tua Rey. Kemungkinannya besar dia juga kena!"


Reyza diam tidak menanggapi. Supir ngapak ia perintahkan untuk mempercepat mobilnya.


Lily rasa percuma. Ia terpaksa harus juga pergi menemui Musa.

__ADS_1


Hp Reyza berbunyi. "Prasetyo," kata Reyza memberitahu Lily dan Andri.


"Nak, polisi temukan sesuatu di gudang tua belakang gedung sekolah dan di dapur asrama."


Jantung Reyza nyaris copot, "Apa itu Pak?"


"Seperti semacam obat katanya."


Lily berkata pada Reyza dengan suara yang dipelankan, "Itu bukan apa-apa. Akbar juga dapat obat itu. Andri juga sempat tidur panjang karena obat itu."


Reyza menutup teleponnya. "Hubungi Reyza kalau sudah ada kabar lagi Pak," pintanya. Lanjut Reyza pada Lily, "Kenapa Andri bisa kena obat itu?" tanyanya.


"Intan menyuntikkannya. Ia dapat dari kaki tangan Musa, si orang yang berpakaian serba hitam."


"Kalian lihat orang itu?" Andri bertanya.


"Enggak," jawab Lily.


"Terus hati-hati dan pasang mata. Gue takut orang itu sebetulnya lagi buntuti kita sekarang," kata Reyza.


Mereka mengangguk sepakat.


"Kenapa lu bisa yakin kalau histeria di sekolah itu kejadian supranatural dan gak terjamah sains?" tanya Reyza tajam pada Lily.


Lily menatap Reyza sinis dan jawabnya, "Tidak semua kejadian di dunia ini bisa dijelaskan oleh sains Rey. Kamu gak dengar tadi kata psikolog klinis? Histeria ini tidak termasuk ke dalam DSM (The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). Artinya para ilmuwan jiwa itu bahkan belum sepakat apakah kerasukan itu fenomena psikologis atau bukan. Kita anggap saja histeria dipengaruhi jin, disebabkan oleh jin!" jelas Lily.


"Kamu sama saja dengan berpikir kalau sekolahmu itu dihuni setan-setan." tanggap Reyza.


Lily bungkam kesal.


"Sekolahmu dijahili Musa. Itu sudah jelas. Kita gali keterangan dari Musa tentang kejadian histeria ini." tambah Reyza.


Lily diam saja. Tidak ada pilihan lain selain menuruti Reyza. Meski hatinya gatal ingin membantu Malik.

__ADS_1


***


__ADS_2