
Novis berwajah manyun kesal. Berita tentang Akbar yang akan bertanding di kancah internasional semakin merebak di asrama. Orang-orang juga tak hentinya membicarakan Lily yang nanti akan mewakili sekolah di perlombaan siswa teladan. Kupingnya gatal. Hatinya gusar tak nyaman. Pandangan orang teralihkan dari dirinya ke Akbar. Ia takut cahayanya di sekolah ini meredup. Frustasi. Bagaimana bisa ia mengalahkan Akbar, pamor Akbar bermain DOTA bahkan sudah keluar Indonesia, sial. Novis merinding. Bagaimana ia menyaingi prestasi setinggi itu, bahkan lomba siswa teladan tingkat kabupaten saja, ia hanya dapat juara lima. Sial.
Akbar yang khawatir karena melihat temannya yang sedari tadi muram, menyapa dan membawakan Novis cemilan peningkat endorfin. "Makan nih! Biar lu segeran!"
Tanpa tahu alasan kesalnya Novis, Akbar dengan santainya menanyai Novis, "lu galau mikirin apa?"
Novis acuh. Ia malah berbalik dengan cueknya ke kelas.
Akbar tidak hiraukan itu. Akbar baik hati memberikan Novis jarak, pikir Akbar, Novis sedang butuh sendiri. Tapi Akbar ingat sesuatu, berita tentang si penguntit.
Akbar menaruh cemilan di depan Novis, sambil berkata, "ini benda yang gue dapat dari Reyza semalam".
Novis yang tadinya tidak peduli, kini ia berbalik antusias. Dengan penuh semangat, ia mengambil benda itu dari tangan Akbar. Tanpa basa-basi, Novis berkata, "biar gue yang cari tahu ini benda apa."
Akbar mengangguk polos. Ia percaya Novis. Setitik pun ia tidak akan pernah menaruh curiga pada Novis. Akbar pamit. Ia kembali ke kelasnya.
***
Andri menatap lemarinya serius. Dengan tajam ia menyelidik seluruh isi lemarinya. Empat gambar miliknya sudah ia jejerkan, dan ada dua atau lebih gambar yang hilang. Jadi saat ini, ia sedang mencari-cari gambar yang hilang itu. Mungkin saja terselip di antara baju, atau di salah satu laci lemari. Tapi tidak ada. Tidak ia temukan apapun di sana. Semua bersih. Semua hanya benda miliknya, tidak ada benda milik si setan.
Ah tapi ada hal mengganjal hatinya. "Rey!" Ia meminta bantuan Rey. "Dorong lemari gue!"
Mereka berdua susah payah mendorong lemari itu. Suara gemerincing terdengar. Reyza dan Andri saling tatap, keduanya bertanya dalam hati, suara apa itu.
Ketika terbuka sedikit agak lebar, di sana, di belakang lemari Andri ditemukan golok, pisau, gunting, dan benda tajam lainnya.
Reyza dan Novis terpaku.
Ada juga canvas yang hilang. Lukisan bercatkan hitam legam, gambar yang selama ini Andri cari.
Jika selama ini gambar itu menunjukkan setiap watak setan-setan yang menempel di diri Andri, maka apa yang ditunjukkan oleh gambar ini? Hanya hitam. Tidak tampak apapun.
Tapi yang mengejutkan mereka adalah benda-benda tajam itu. Apakah bertuah? Sekali lagi Reyza memastikan, jika Nara, Anton, dan si pemarah yang ia temui adalah semuanya hantu, maka benda ini mungkin saja menyimpan kesaktian.
Andri meremas kepalanya. "Gue pusing Rey?"
Reyza panik, ia takut Andri kambuh lagi.
__ADS_1
Andri menggeleng. "Gue bukan pusing karena mau kambuh, gue cape sama kondisi gue Rey!" Keluh Andri. Wajahnya menyedihkan.
Apa yang bisa Reyza katakan? Ia tidak pernah mengalami hal seperti Andri. Ia tidak mampu memahami Andri. Reyza diam saja membisu. Ia turut prihatin dengan kondisi sahabatnya.
Beruntung Andri punya Reyza, dan kawan lain yang menemani dan membantunya menyelesaikan masalah setan. Jika tidak, wah! Tidak terbayang akan ada berapa banyak setan yang menggerayangi jiwanya.
***
Setelah semua itu, Reyza dan Andri kembali ke kelas. Di sana kebetulan ada Akbar. Reyza hendak menanyakan chip yang ia titipkan pada Akbar.
Tetapi sayang, chip itu hilang. Hilang tidak di tangan Akbar. Ada di Novis.
Reyza luar biasa marah pada Akbar. Tak kuasa ia mengontrol emosinya yang meluap, ia memaki Akbar dengan keras, "bangs*at lu ya!! Bisa-bisanya lu kasih benda itu ke orang lain!"
Novis bukan orang lain. Novis itu teman dekatnya Akbar. Begitu pikir Akbar. Ia heran kenapa Reyza bisa semarah itu padanya. Ia juga tidak terima Novis dianggap orang lain, Novis bagian dari mereka juga dalam kasus ini. Apa salahnya?
"Apa salahnya brengs*k!!" Akbar balas memaki.
Reyza mengatur napas, juga amarahnya. Setelah agak tenang, ia berkata datar pada Akbar. "Gue gak mau tahu, siang ini lu harus dapat benda itu dari Novis!"
Andri lari ke tengah-tengah mereka. Tubuh Andri yang kecil di antara Reyza dan Akbar mencoba menghalangi pertengkaran yang lebih lanjut di antara keduanya.
Di mata Akbar, Reyza sudah salah. Kenapa Reyza selalu memandang sebelah mata Novis. Apa salah Novis. Bagaimana bisa Reyza memusuhi orang sebaik Novis.
Reyza meraih Andri. Ia tidak takut pukulan kedua Akbar menghantam dirinya. Ia menatap tajam Akbar. Menantang anak sangar itu.
Suasana menegang. Siswa lain masih asyik di kantin-kantin.
Andri bangkit, lalu berseringai. Ia meraih kerah Akbar, dan tidak disangka, tubuh Akbar yang besar dan berotot diam tidak berkutik di depan Andri.
Andri berbisik di telinga Akbar, "lu bakalan nyesel!"
Kemudian Andri roboh, ambruk dengan lemasnya.
Reyza meneriaki nama Andri. Akbar masih berdiri mematung keheranan.
***
__ADS_1
Intan dan Lily berlari terbirit-birit menuju kelas. Mereka berdua dengar suara Reyza berteriak Andri dari bawah.
"Akbar! Ayo bawa Andri!" Pinta Intan khawatir.
Akbar menurut, ia membopong tubuh Andri ke UKS.
Setelah sampai di sana, mereka diam menunduk. Reyza yang paling terpukul. Reyza tahu Andri akan segera sadar dan temannya itu baik saja, tapi bukan kondisi tubuh Andri yang Reyza pikirkan.
Sosok yang mengangkat tubuh Akbar.
Siapa lagi?
Sosok seperti apa lagi yang datang? Apakah si pemarah?
Intan mengomel, menceramahi Akbar dan Reyza. Intan tahu pasti telah terjadi sesuatu yang membuat Andri pingsan.
Akbar menjelaskan semuanya. Dan Lily paham. Ia melirik Intan, seolah mengirimi anak itu pesan. Kemudian Intan berkata pada Akbar dengan lembut, "Reyza sudah percayakan chip itu di kamu loh. Masa kamu tiba-tiba kasih chip itu ke Bang Novis."
Akbar akhirnya mengalah meski karena Intan yang memintanya mengalah. Ia pastikan akan memberikan benda itu lagi pada Reyza.
***
Hari berlalu, malam tiba. Akbar bersantai-santai di kamar ditemani segelas kopi hangat dan rokok. Novis dengan bukunya.
"Gue minta benda yang gue kasih ke elu tadi pagi Vis."
Novis berseringai misterius. Ia malah mengalihkan pembicaraan, "ada sesuatu yang mau gue tunjukkin ke elu."
Akbar diam mendengarkan.
"Ikut gue ke gedung tua di belakang sekolah. Gue lihat bayangan hitam di sana."
Tidak akan pernah Akbar curiga pada Novis, ia percaya anak itu. Ia ikuti anak itu, keduanya menyelinap ke gedung belakang sekolah tanpa mengundang Reyza dan Andri.
***
Rey Rey 😆
__ADS_1