SCHOOL OF LOST SOULS

SCHOOL OF LOST SOULS
Teror


__ADS_3

Sementara Reyza sibuk dengan urusan Prasetyo, begini perjuangan Intan dan Andri di asrama.


***


Hari Intan masih biasa. Tapi Intan tetap menjaga kewaspadaannya. Siang itu, Intan dan Lily sedang menyantap makanannya. Intan menggerutu soal Lily yang sibuk belakangan ini. Ia juga ingin tahu apa yang mereka rapatkan. Lily pikir, karena Intan sudah terlibat dengan orang di balik semua kejadian ini, maka lebih baik jika ia memberitahu semuanya.


Intan menutup mulutnya tak percaya, setelah Lily selesai dengan ceritanya. Reaksinya persis seperti Reyza, Andri dan Akbar saat pertama dengar. Memang sulit dipercaya, tapi ini sungguhan.


Lima anak remaja itu sedang berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar dari yang mereka kira.


Intan pasrah. Ia biarkan Lily atau Reyza yang memimpin. Ia harap, Reyza berhasil membujuk Prasetyo untuk melakukan sesuatu.


Intan kembali ke kamarnya, sedangkan Lily ke rumah Malik.


Di jalan setapak menuju asrama, kebetulan ketika kosong tak ada orang di sana, Intan merasakan aura aneh mengikutinya. Beberapa kali ia menoleh ke belakang, kiri dan kanan, tapi tak dilihatnya apapun itu.


Tiba-tiba saat pandangannya ke depan, orang hitam kembali muncul persis seperti hantu di siang bolong.


Intan membisu karena kaget setengah mati. Matanya memerah karena saking takutnya dan jantungnya berdetak tak beraturan.


Orang hitam berkata, "shhhttttt...!" Ia kenakan topeng dengan hanya mata yang terlihat.


Intan mundur, suaranya tercekat tak keluar. Bahkan kakinya nyaris tak mampu menahan beban tubuh.


Kemudian secara sengaja, sosok itu berkata lagi, "boo!" Membuat Intan makin takut.


Intan roboh. Ia meraba-raba tanah mencari jalan untuk terlepas dari sosok hitam. Ia gemetaran kengerian.


Suara misterius keluar dari balik topeng, ia juga menunjukkan foto keluarga Intan, "keluarga Priyonggo. Ada satu gadis kecil yang mirip denganmu Intan."


Intan menggeleng, masih menangis. Ia ingin berucap, please jangan usik keluargaku. Tapi suaranya tertahan tak keluar.


"Turuti pinta kami, atau gadis ini tinggal mayat."


Intan tak bisa melawan. Ia terpaksa mengangguk dengan kencangnya.


"Besok. 10 PM, gedung tua belakang sekolah," ucap si sosok misterius berbaju serba hitam.


Lalu ia berbalik pergi.


Intan mengatur ketakutannya. Meski lemas, ia coba untuk berdiri lagi. Ia pelan-pelan mengikuti kemana sosok itu pergi, tapi ternyata si orang hitam hilang seperti lenyap entah kemana.


Intan mengusap matanya, dan seseorang kembali membuatnya terkejut.


"Tan?!" Tegur Lily. "Kamu kenapa?"


Masih mengusap air mata di pipinya, Intan menjawab, "enggak. Aku kangen keluargaku."


Lily memegangi tangan Intan. "Kamu bisa pulang. Aku bantu kamu izin," katanya halus.


Intan menolak.


***

__ADS_1


Lily bermaksud mengungkapkan tujuannya ke kamar Intan, "ayo kita ke Andri sekarang!" Ajak Lily. Ia tak hiraukan Intan yang tampak sedang bersedih.


"Akbar ikut?" Tanya Intan, wajahnya datar.


Lily menggeleng, "Akbar ogah ikut campur masalah Andri."


Intan paham. Akbar sudah disibukkan dengan latihan turnamen game-nya. Akbar pasti tak akan habiskan waktu untuk urusan yang tidak ada hubungannya dengan dirinya. Apalagi ini Andri, tentang kegilaan Andri.


"Baik aku ikut kalian. Rasanya gak bakal aman kalau aku gak sama kamu Ly."


Lily tersenyum, ia gandeng tangan Intan dan membawanya ke ruangan rapat.


Di ruang rapat Andri sudah menunggu. Ia masih tak banyak bicara, masih murung karena kejadian mencekik Reyza.


"Aku tahu kamu kalut," ucap Lily membuka.


Andri diam saja. Juga Intan ikut jadi pendiam.


Lily lelah, semua sudah lelah, tapi Lily berpesan, "kamu mau kalah, silakan."


Andri mulai akan bicara. "Gue gak tahu harus mulai dari mana."


"Sosok terakhir. Kita cari tahu siapa dia."


Andri mengangguk, "gue gimana lu aja Ly."


Lily kini berucap pada Intan, "kamu jangan takut ya Tan."


"Lily mau masukin setan ke tubuh gue," jawab Andri.


Intan menelan ketakutannya, "aku percaya Lily. Setan itu gak akan bahaya kan?"


Lily membalas senyum yang ambigu. Kemudian ia beralih ke Andri lagi. "Baik. Kita siap?"


Andri mengiyakan.


Ruangan itu kini hening. Tak ada suara. Ini juga menjadi ruangan yang tak terjamah si orang hitam. Hadirnya Anton kemarin menjadi kehadiran pertama yang tidak membawa serta si orang hitam. Mungkin mereka di balik si orang hitam juga butuh waktu mencari pengganti Novis.


Andri mengantuk. Matanya berat, dan tak tahan mata itu akhirnya terkatup.


Kemudian melotot lagi tiba-tiba.


"Siapa di sana?" Tanya Lily.


Mata Andri menjadi sayu. Menetes air mata dari sana.


"Hazan?" Lily memastikan.


Hazan mengangguk pelan sekali dan sambil tersedu tak jelas.


"Maaf Hazan. Tapi ini bukan waktumu. Aku minta kamu bawa 'dia' kemari!" Pinta Lily.


Intan bengong memerhatikan.

__ADS_1


Hazan terbata, ia mengabulkan pinta Lily. Ia pamit dengan air mata yang masih mengucur.


Andri kembali terpejam. Ruangan hening. Aura tak biasa terhembus di sekitar.


"LILY!" Bentak Andri marah. Matanya buas menerkam. "Panggil kami!"


Ucapannya sedikit tak bisa dimengerti Lily, tapi Lily paham maksud Amar. "Aku ingin 'dia' di sini. Kamu bisa tidur lagi Amar!" Ucapnya.


Masih dengan ekspresi yang geram, Amar mendengus karena kesal telah dipanggil. Ia pulang ke dalam diri Andri.


Lalu muncul yang terakhir, si anak nakal Anton.


Lily mengusap keringatnya. Ternyata sosok itu amat susah dipanggil. Kenapa selalu yang lain yang muncul. Beruntung memang bukan Nara.


Anton tersenyum iseng dan jail. Ia melihat si cantik Intan, dan ia dengan genit menggoda, "itu teman Kak Lily ya?" Senyum Anton lebar. "Kak Lily cantik, teman Kak Lily juga. Anton suka!"


Lily membalas senyum Anton lembut dan ia memohon, "panggil sosok terakhir. Kak Lily butuh bantuan Anton."


Masih dengan gayanya yang jail dan nakal, Anton memalingkan wajahnya dari Lily, "Kak Lily jahat! Kak Lily gak kangen Anton! Kak Lily maunya ketemu Kak Hitam!!!!"


Jackpot! Lily akhirnya dapat panggilan si sosok itu. Jadi mereka menyebutnya hitam. Kenapa hitam sulit dipanggil? Lily ingin tahu. Tapi sebelum itu, ia harus manjakan Anton dulu. Lily mengatur napasnya, rasanya berurusan dengan setan amat menguras tenaga.


"Dek... Kakak kangen Anton kok. Tapi sekarang Kakak sedang butuh bantuan Anton. Kalau Anton mau bantu Kakak, Kakak kasih hadiah loh!"


Anton nyengir sumringah. Ia kegirangan mendengar hadiah. Ia mengangguk bersemangat. "Anton siapppp bantu Kak Lily!" Ucapnya.


Bagus. Lily tersenyum lega, ia lalu bertanya lagi, "kenapa Kak Hitam sulit dipanggil? Anton tahu siapa dia?"


Anton memandangi langit-langit, seolah ia sedang berusaha mengingat sesuatu.


Lily menunggu.


Akhirnya jawab Anton begini, "namanya bukan Kak Hitam, itu panggilan kita aja buat dia. Dia gak pernah gabung dengan kami. Dia benci kami. Kami gak suka dia Kak!"


Lily masih mencoba memahami kata Anton. Ia menggali lagi, "kenapa dia sulit dipanggil? Kenapa Kak Lily baru tahu dia? Kenapa dia jarang keluar?"


Anton mendekat ke arah Lily, ia hendak berbisik ke telinga Lily. Lily menurutinya. Ia sodorkan telinganya ke hadapan Anton. "Kak Nara dan Kak Hitam musuhan. Kak Hitam ditahan Kak Nara."


"Kenapa?" Tanya Lily makin penasaran.


Anton berbisik lagi, "itu karena Kak Hitam baik pada inang kami. Kak Nara benci mereka yang baik pada inang kami."


Cukup. Lily puas dengan informasi yang diperoleh siang ini. Ia berkata pada Anton, "masuklah! Sebelum Kak Nara tahu."


Anton mengangguk dan mengucap salam perpisahan pada Lily dan Intan. Gayanya amat tengil, dengan senyum lebar yang menggemaskan sekaligus menyebalkan.


"Dadah Kakak cantik semuanya!" Ucap Anton terakhir kali.


***


Senyum Anton 😁😏


__ADS_1


__ADS_2