SCHOOL OF LOST SOULS

SCHOOL OF LOST SOULS
Intania Priyonggo


__ADS_3

Akbar belum sampai juga ke UKS. Akbar berbelok ke gedung belakang sekolah. Ia geledah sarang si orang hitam.


Tempat itu memang terbengkalai sejak lama. Dulu sekali, saat pertama kali sekolah asrama dibangun, di gedung itu ada sumur tua untuk sumber air di sekolah. Tapi entah mengapa sumur itu meluap, selalu mengeluarkan air yang berlebih, hingga air senantiasa menggenangi lantai gedung ini dan dinding gedung menjadi berlumut. Tak mungkin gedung ini diisi. Ternyata kini, gedung ini dihuni oleh sosok yang lebih mengerikan dari setan iseng.


Matahari masih terik, Akbar tidak bodoh. Memang tak akan ia jumpai di orang hitam di siang bolong, apalagi di jam pelajaran. Tapi tujuannya kesana adalah untuk menyisir setiap sudut. Ia ingin menemukan apapun itu yang bisa jadi petunjuk.


Banyak logam tajam berjejer, mungkin Novis dulu mengoleksinya. Akbar juga membuka lemari-lemari tua yang sudah keropos, tercium bau kayu busuk dari sana, Akbar mendengus. Ia menutup hidung, mengindari aroma toxic tak hanya dari kayu itu, tapi seisi gedung ini memang busuk. Bisa-bisanya mereka pakai gedung ini untuk markas.


Di sana Akbar temukan botol-botol berisi cairan berwarna aneh, seperti obat. Apakah racun? Mana Akbar tahu. Ia bawa beberapa botol untuk kemudian ia minta seseorang menelitinya.


Ia beranjak ke halaman belakang gedung. Luas sekali. Ilalang dan rumput liar tak terurus nyaris membenamkan pintu bagian belakang. Hijau pemandangan, tanahnya subur. Panas matahari juga langsung menyorot ke halaman belakang gedung ini. Terbuka dan lapang.


Akbar berpikir sepertinya tak akan cukup jika hanya menyisir isi gedung, ia juga harus gali halaman belakang ini nanti. Ini pikiran aneh Akbar, efek karena ia sering nonton film juga, mungkin ada tengkorak manusia dikubur di belakang gedung. Mungkin halaman ini menjadi makam bagi para siswa yang hilang. Akbar merinding. Ia bergegas pergi menemui Intan.


***


Intan ditinggal sebentar oleh pengurus. Pengurus juga bosan hampir seharian penuh ia tunggu dan rawat Intan di UKS. Lily sibuk dengan Andri.


Ada perasaan panik yang menjalar di diri Intan. Intan menutup tubuhnya dengan selimut. Orang hitam pasti datang lagi, mereka memang selalu datang di setiap Intan sendiri.


Mata Intan liar menatap sana sini, ke seisi ruangan. Ia berlindung di balik seutas selimut sambil gemetaran.


Tak tahan rasa takut itu meneror dirinya, pada akhirnya, Intan panggil juga sosok itu. Ia tahu mereka sudah datang.


"Keluar!"


Hitam. Bertubuh besar, tinggi 180 cm lebih, dengan topeng menutup seluruh bagian wajahnya, kali ini matanya pun tertutup. Ia kenakan juga sarung tangan, dan sepatu pantofel yang mengkilap, serta topi hitam.


Sosok itu keluar dari balik pintu. Ternyata selama ini, diam-diam ia mengintip Intan di sana.


Suaranya aneh berkata, "kami sudah bersamamu!"


"Aku tahu!" ucap Intan, matanya berkaca-kaca sedih.


"Dan juga keluarga Priyonggo."


Intan menggigit bibirnya. Ia kesal setengah mati, ia ingin menolong hanya caranya buntu tak ia temukan.


"Apa yang kalian inginkan dariku! Ambil aku saja! Jangan keluargaku!" sentak Intan, air mata buncah.


Sosok itu mengeluarkan smartphone. Ia mengklik sesuatu, dan sampai pada Intan sebuah pesan. Intan mengambil smartphone di meja sebelahnya, ia lirik kiriman si sosok itu.

__ADS_1


Isi pesan itu apalagi kalau bukan siaran live keluarga Intan yang sedang mereka pantau di seluruh ruangan rumahnya.


Intan menutup mulutnya tak percaya. Bagaimana bisa mereka secanggih ini, hingga keluarganya yang berada jauh dari sekolah ini terlacak juga.


"Awasi Andri! Laporkan perkembangannya kepadaku!" ucap sosok itu datar dan dingin.


Intan mengangguk lemas, air mata masih mengucur. Ia tak bisa pertaruhkan keluarganya untuk Andri. Tak ada jalan baginya untuk terlepas dari perintah si sosok itu. Keluarganya yang jauh di luar sana saja mereka sadap, apalagi dirinya.


"Kami bisa melihatmu!"


Intan mengangguk lagi dengan lemasnya.


Lalu sosok itu pergi, tak berjejak.


Satu pengurus datang memberikan Intan cemilan, ia terkejut melihat Intan tersedu-sedu.


"Kamu kenapa?" tanya pengurus itu.


Intan menggeleng sambil ia usap air matanya. Otaknya berputar memikirkan kemana si orang hitam itu pergi. Kenapa pengurus ini tak melihatnya sama sekali di luar. Harusnya mereka berpapasan.


"Kakak lihat orang berbaju serba hitam keluar dari sini tadi?"


"Kayaknya lihat, emang siapa dia?"


"Hey!" tegur Akbar yang tiba-tiba masuk ke UKS. "You okay? Ngelamun aja perasaan?" tanyanya.


Intan diam masih berpikir si sosok hitam itu.


Akbar menegurnya sekali lagi.


Jawab Intan, "Aku lagi mikir gak ngelamun."


Akbar mengalah. "Iya deh... oh ya, ini aku dapat dari gedung tua. Waktu itu, Novis juga ancam aku pake ini." ucap Akbar sambil menyodorkan botol isi likuid.


"Aku lagi gak mau ngurusin itu bar!" ketus Intan.


Akbar paham, Intan sedang lelah.


Hari sudah sore, tampaknya Intan harus berpindah ke kamarnya ketimbang di UKS ini. Akbar mengajak Intan juga mengantarnya. Pengurus UKS sibuk, dengan siswa lain yang sakit. Mereka berdua pamit dari UKS.


Suasana di antara keduanya canggung. Intan tampak tak ingin diganggu dan sedang butuh untuk menenangkan pikirannya. Akbar tak tahu harus bicara apa. Ia biarkan saja keheningan di antara mereka.

__ADS_1


Intan membereskan tasnya, di sana terselip cairan, seperti serum, berwarna aneh. Lengkap juga dengan alat suntiknya. Intan duga ini dari si orang hitam. Ia sembunyikan benda itu dari Akbar.


"Ada apa?" tanya Akbar yang sedari tadi menunggu.


Intan jawab, "Lily masih dengan Andri?"


"Mungkin." Akbar menawari, "Kamu mau ke mereka?"


Intan terdiam sejenak, lalu jawabnya, "ya ayo."


Akbar heran, tadi Intan bilang ia sedang tak tertarik dengan urusan misteri sekolah, kenapa sekarang malah mau mendatangi Lily. Tapi Akbar menurut saja.


"Kayaknya yang aku bawa itu racun."


Intan mendengus, "tentu saja. Apalagi kalau bukan!"


"Mood-mu lagi gak bagus ya?" tanya Akbar bingung sendiri.


Intan diam tak bisa menjawab.


Saat mereka sampai di ruangan Lily, dilihatnya oleh mereka Andri yang sedang kacau, dan mata Lily yang bengkak.


"Setannya Andri buat gara-gara lagi ya?" tanya Akbar ketus. "Kalian bolos juga?"


Intan sendiri salah tingkah. Ini adalah kali pertama ia melakukan perintah si orang hitam. Ia tahu ini perbuatan kotor, menjerumuskan temannya sendiri ke tangan si orang hitam. Tapi keluarganya?


Intan mengepalkan tangannya memberanikan diri. Lalu tring!


Ada pesan masuk ke Intan. Isinya, "di mana mereka?"


Intan tak tahu kalau ternyata ruangan Lily ini tak terjamah orang hitam. Mungkin karena lokasinya yang terpencil, dan tak ada CCTV pemantau di area ini.


Intan dengan ringannya menjawab, karena dorongan masih takut juga, "mereka sedang ruang xxxx."


"Bagus!" pesan terakhir dari orang hitam.


"Tan?" tegur Lily. "Dari tadi kamu sibuk main Hp, tumben Akbar dicuekin, aku juga." candanya.


Intan nyengir kaku, "Keluarga tanya kabar," katanya.


***

__ADS_1



Apakah Intan bakal jadi antagonis? 🙊


__ADS_2