SCHOOL OF LOST SOULS

SCHOOL OF LOST SOULS
The Documents 2


__ADS_3

Prasetyo segera datang ke rumah, ia senang Reyza memanggilnya. Dengan sumringah ia bertanya, "Ada apa Nak? Kamu kangen Bapak?" candanya.


Ekspresi Reyza datar, ia langsung meletakkan dokumen janggalnya di atas meja. "Jelaskan ini pada Reyza!" perintahnya.


Prasetyo kenakan kacamata plusnya. Ia memicingkan matanya. Ia lihat surat wasiat.


Reyza mulai bicara, "Surat wasiat itu dibuat kalau bapak sudah sekarat mau meninggal. Lah ini Bapak masih sehat wal afiat, kenapa buat wasiat segala. Isinya pun aneh! Surat wasiat ini mengalihkan hak-hak dari saham Prasetyo Group ke sekolah asrama Malik, setelah 20 tahun sejak bapak meninggal. Sekilas memang gak ada masalah di surat wasiat ini. Wasiat ini memang tidak mengalihkan sahamnya itu sendiri. Tapi pak, ini peringatan dari Reyza ...."


Reyza menjeda.


Prasetyo mendengarkan, matanya sayu dimarahi anaknya sendiri. Gaya Reyza amat beda dengan dirinya, tapi ia merasa kepintaran dan kecerdasannya menurun ke Reyza.


Reyza meneruskan, serius ia jelaskan, "Isi wasiat ini rentan disalahgunakan. Sekolah asrama Pak Malik berbadan hukum yayasan, karena itu ada pengawas dan pengurus. Ditulis di surat wasiat ini bahwa Malik adalah pengurus dari sekolah itu. Ini okey. Tapi untuk pengawas, ini bukan bapak tapi malah Reyza dan orang lain yang bukan keluarga kita. Rentan berseberangan pendapat, apalagi orang lain ini lebih senior dari Reyza. Yang ada, dia akan kuasai Reyza dan juga Pak Malik."


Reyza menjeda lagi, lalu ia ambil dokumen yang lain. "Bukan itu saja. Semua dokumen ini tercatat juga ada nama si orang itu. Termasuk akta nominee arrangement saham. Bapak pinjamkan nama bapak untuk orang lain! Orang itu yang punya sahamnya atas nama bapak. Di atas kertas, bapak tercatat sebagai pemegang saham mayoritasnya, tapi realitanya bapak hanya peminjam nama saja. Pemiliknya adalah orang lain. Ini dilarang oleh hukum perusahaan di negara kita pak, undang-undang nomor 40 tahun 2007. Bagaimana bisa notaris itu buat akta ini tanpa masalah. Harusnya akta ini batal demi hukum."


Reyza ampun memarahi ayahnya yang bodoh. "Latar belakang bapak memang bisnis. Tapi bapak cerdas dikit dong soal hukum dalam berbisnis. Ini sama saja bapak sedang diterkam seseorang. Beruntung nominee arrangement itu hanya di salah satu perusahaan yang beberapa tahun ke depan pasti pailit. Perusahaan gorengan."


Reyza ambil lagi dokumen lain, "Lalu ini!" Reyza gebrak meja dengan dokumen itu. "Ini akta jual beli tanah di Bandung. Jual beli ini tidak sah. Yang tanda tangan di sini bukan bapak! Tapi cuma ibu! Kenapa! Kenapa gak ada bapak yang tanda tangan di sini. Lagi pula notarisnya nakal, dia notaris di Jakarta, buat akta yang lokasi tanahnya di Bandung!"


Reyza berhenti, tapi tak lama ia teruskan lagi. Ayahnya masih berikan waktu untuknya.


"Intinya Reyza gak suka ada surat wasiat ini, Reyza gak suka bapak bermain 'pinjamkan nama' di saham perusahaan, Reyza juga gak suka aset bapak dijual diam-diam seperti ini. Reyza tanya bapak, apa ada lagi dokumen lain yang harus Reyza lihat?"

__ADS_1


"Kenapa anak seumuranmu bisa analisis semua dokumen bisnis seperti ini Rey?" Prasetyo takjub.


"Bapak gak perlu tahu. Sekarang jawab Reyza! Apa masih ada dokumen lain yang bapak sembunyikan?! Ini belum termasuk akta-akta pengalihan hak-hak atas saham. Reyza masih bingung, kenapa urusan dengan orang ini selalu aneh! Kenapa akta atau surat yang dibuat oleh orang ini selalu bermasalah. Seolah ia ingin menguntungkan diri ya sendiri dan merugikan bapak. Lihat yang nominee arrangement! Bapak yang kena batunya karena di atas kertas, perusahaan itu dimiliki mayoritas oleh bapak, jadi bapak yang tanggung rugi perusahaan gorengan itu. Tapi pemilik saham yang sesungguhnya tinggal enaknya saja. Tinggal terima deviden setiap ada laba. Bapak dapat berapa persen doang dari dia?! Gila! Jangan bermain seperti ini pak! Bapak bisa jatuh. Reyza juga."


Prasetyo masih melongo dengan kemampuan anaknya.


"Lalu yang surat wasiat ini. Risiko terburuk yang paling buruk adalah pengawas yang satunya lagi bisa bermain melanggar substansi wasiat. Bukan dividen saham yang ia urus untuk disumbangkan ke sekolah asrama, tapi malah saham itu sendiri. Saham bapak bisa dijual ke sekolah. Bukan diturunkan ke Reyza. Lebih lebih buruk lagi, saham itu akan hangus karena seseorang tidak menjualnya, tapi 'membuangnya'/ 'mengamalkannya' ke sekolah begitu saja. Pada akhirnya seluruh kepemilikan bapak di Prasetyo Group akan hilang tidak bersisa dibuang atau diamalkan ke sekolah!"


"Tapi itu untuk 20 tahun ke depan, saat kamu sudah dewasa dan lebih pintar Rey!" Prasetyo membela diri.


Reyza menggeleng, "Enggak! Selama ada orang lain selain Reyza yang jadi pengawas di sekolah asrama dan yang dicatat di wasiat ini, permainan/ skema jahat rentan dilakukan. Disebut 20 tahun, tapi mungkin saja dibereskan oleh orang jahat itu tak lama setelah bapak tiada. Pengalihannya memang tidak akan sah. Tapi saham sudah terlanjur 'terbakar' di sekolah asrama. Itu mimpi buruk pak! Itu worst scenario ever. Yang bahkan pengacara terhebat pun tidak akan bisa memperbaikinya. Karena itu Reyza mohon sama bapak ...."


Reyza tatap mata Prasetyo sungguh-sungguh. "Batalkan semua surat dan akta ini. Sebelum terjadi hal yang lebih buruk. Jaga semua aset bapak dengan hati-hati. Jangan sampai dikontrol oleh orang yang berniat jahat!"


Prasetyo berkaca-kaca bangga. Reyza begitu pintar. Ia kehabisan kata-kata. Ia mengangguk penuh semangat. Tetapi katanya, "Notaris itu bukan relasi ayah."


Reyza membereskan tasnya. Ia tampak sedang bersiap pergi.


Prasetyo bertanya, "Kemana kamu Nak?"


"Reyza harus pergi temui sahabat bapak. Ada parasit lintah yang harus Reyza bereskan." pamit Reyza


***

__ADS_1


Reyza sampai di rumah sahabat, rekan terdekat dan tersolid, sekaligus kompetitor terkuat Prasetyo di perusahaan holdingnya.


Itu Musa. Ayah dari Akbar Musa.


Reyza duduk dan disuguhi teh chamomile oleh pengurus rumah besar Musa.


Rumahnya berhiaskan ornamen antik dan etnik.


Musa dengan senyum lebar datang menghampiri Reyza. Dari cara jalan Musa saja, sudah tampak jelas Musa seorang yang elegan dan karismatik.


Reyza berdiri menyambut Musa. Mereka berdua bersalaman, lalu Musa memeluk Reyza dan menepuk punggungnya dengan hangat. "Hallo Rey!" ucap Musa.


Reyza memberi hormat.


"Ada apa? Tumben sekali kamu kemari." tanya Musa.


Reyza membersihkan tenggorokannya, ia agak gugup, tapi tajam ia katakan, "Apa yang bapak mau dari Prasetyo!"


Mata Reyza tertuju fokus ke Musa. Menelisik sampai ke pikiran Musa.


Musa santai menimpal, "minumlah tehnya. Mungkin ini akan menjadi pembicaraan panjang di antara kita berdua." ia berseringai penuh makna.


***

__ADS_1


Siap-siap untuk next episode yaaa 😆



__ADS_2