SCHOOL OF LOST SOULS

SCHOOL OF LOST SOULS
The Spy


__ADS_3

Obrolan mereka terus berlanjut tentang orang berpakaian serba hitam yang membuntuti mereka.


Spekulasi Reyza tidak lepas dari status ayahnya dan Tuan Musa. Pun Akbar.


"Gue udah coba telfon bokap gue. Tapi lu sendiri tau gimana hubungan gue sama bokap," kata Akbar.


"Tapi seenggaknya lu bisa minta bantuan Pak Musa."


"Untuk?" Akbar bertanya.


Reyza terdiam. Ia menghela napas. Lalu berkata, "gue coba ngomong sama Bapak."


dialing..........


Tidak lama, Prasetyo mengangkat panggilan Reyza, terdengar suara Prasetyo mengucap salam. Reyza menjawabnya.


Reyza selalu kikuk jika harus berbicara dengan Prasetyo. Tapi mau bagaimana lagi, perkara ini bisa saja menyangkut nyawanya. Bisa saja orang dengan pakaian serba hitam itu tidak hanya dikirim untuk menguntit, tapi juga untuk membunuh. Bisa saja.


"Halo Pak, maaf Reyza ganggu Bapak. Reyza mau sampaikan sesuatu ke Bapak."


"Apa itu Rey?" Ayah Reyza bertanya.


Tidak bertele-tele, langsung saja Reyza mengungkapkan perihal orang hitam itu. Dan bertanya balik ke ayahnya, "bagaimana menurut Bapak? Maksud Reyza apa ada hubungannya dengan bisnis Bapak misalnya, atau apa pak? Kenapa Reyza diikuti?"


Ayah Reyza tidak lantas menjawab. Ia terdiam sejenak dan justru kebingungan. "Orang apa sih kamu ini Rey? Bukannya belajar serius, kok malah berpikir aneh-aneh!"


Reyza menyerah. Ia tidak akan dapat jawaban dari ayahnya. Prasetyo tidak tahu apapun soal itu. Bagaimana dengan Tuan Musa? Bisa saja Tuan Musa tahu sesuatu. Tapi Reyza tidak mengenal Tuan Musa, pun Akbar tidak mungkin berbicara dengan Tuan Musa terutama tentang hal aneh semacam ini.


Reyza memegangi kepalanya, ia bingung sendiri. "Maafin gue Tan."


"Untuk?" Heran Intan.


"Karena gue, lu jadi terlibat."


"Santai aja Rey. Toh gak ada apa-apa kan? Mungkin saja orang itu cuma maling."


"Maling yang rapih, fancy, pake motor gede yang harganya gak kurang dari 50 juta. Kamu yakin dia 'cuma' maling atau 'cuma' iseng?" Ungkap Akbar.


Intan diam, dan menundukkan kepala dengan mulut cemberut.


"Tapi tenang aja Tan. Ada aku," kata Akbar sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Genit kamu yaa Bar!" Balas Intan sambil memukul pundak Akbar pelan, ia agak tersipu dan pipi putihnya merona kemerahan.


"Dudududuh... keras amat mukulnya!" Goda Akbar lagi.


"Pelan kok!" Intan pura-pura marah.


Reyza tepuk jidat, apa-apaan mereka berdua ini. Di depan Reyza bertingkah menggelikan, menjadikan Reyza ibarat nyamuk di antara dua sejoli, sial. "Hey kalian! Malah bercanda." Reyza yang jomblo serius tersinggung.


Intan menahan senyumnya. Ia juga lupa ada Reyza. Ah suasananya jadi agak canggung.


Kemudian Lily datang memecah kecanggungan di antara mereka.. bersama Andri.

__ADS_1


"Kalian lagi bicarakan apa?" Tanya Lily.


"Oh hai Ly," sapa Reyza.


"Kita lagi obrolin penguntit Ly," Intan menjawab pertanyaan Lily.


"Kebetulan, aku juga mau bicarain itu."


Akbar, Reyza, dan Intan terdiam. Lily juga? Dari mana Lily tahu soal orang itu? Bukankah hanya Akbar yang melihatnya?


Mereka bertiga menatap Lily, tidak sabar ingin mendengar cerita dari Lily.


***


Awalnya Lily bertemu Andri di kantin. Andri sendiri saja, tumben ia tidak bersama dengan Reyza. Lily menyapanya.


"Aku tahu dari Reyza kalau kamu lagi sakit Ndri. Jadi jangan ragu, aku juga temanmu, kamu bisa cerita padaku sebanyaknya tentang penyakitmu," pinta Lily pada Andri.


Sejak pertama kali bertemu Lily, saat penerimaan siswa baru di sekolah asrama ini, Andri memang sangat suka pada Lily.


Wajah yang secantik peri, sifatnya yang anggun dan baik hati, juga pintar, semua laki-laki pasti akan langsung jatuh hati pada momen pertama memandang Lily.


Gadis yang benar-benar langka. Elegan, cerdas, ramah, dan jelita.


Dan kini gadis impian Andri sedang berada di hadapan Andri, dan meminta ia untuk bercerita panjang lebar. Mimpi yang jadi kenyataan bagi Andri. Tapi Andri kikuk bukan main, ia salah tingkah dan sangat sangat gugup.


"Santai saja. Aku gak gigit kok Ndri," senyum Lily sambil menyodorkan cemilan ke Andri. "Aku suka gambar-gambarmu. Reyza yang kasih liat."


"Ada empat gambar yang aku lihat," ucap Lily.


"Empat?" Tanya Andri. Sejauh yang Andri ingat, baru tiga gambar yang ia berikan pada Reyza.


"Iya. Oh satu lagi, aku lihat saat kamu menggambarnya," jawab Lily dengan santainya.


Andri hanya menanggapi dengan berkata "oh."


"Selain merasakan gejala yang menyakitkan itu, apalagi hal aneh yang kamu rasakan Ndri?" Tanya Lily.


"Apa Reyza juga kasih tahu kamu soal... soal... aku yang gak bisa tidur, mimpi buruk, denger suara aneh......."


"Iya," jawab Lily cepat.


Andri hanya mengangguk-angguk.


"Gimana Ndri? Apa ada lagi?" Lily terus bertanya, sedikit mendesak Andri agar terbuka.


Andri mengangguk.


"Apa itu?" Terus tanya Lily.


"Aku sering lihat sekelebat bayangan hitam. Enggak sih, itu cuma orang yang pake baju serba hitam."


Lily tidak terkejut, seolah ia juga sudah menduganya.

__ADS_1


"Aku belum cerita ke Reyza soal itu."


"Jangan khawatir Ndri. Ada kami," Lily tersenyum. Kemudian mengajak Andri untuk masuk kelas, mendatangi Reyza dan yang lain.


Bermula dari sekedar menyapa, Lily dan Andri berakhir dengan perbincangan tentang si penguntit, penyusup, bayangan, orang hitam, entah apa lagi sebutan untuk sosok itu.


Saat itu Andri belum sadar bahwa Lily memiliki sesuatu yang ia sembunyikan.


***


"Kapan aja lu liat orang itu?" Reyza bertanya agresif pada Andri.


Andri yang belum sepenuhnya ceria, menjawab Reyza dengan ragu-ragu dan ada ketakutan di suaranya.


"Setiap kali gue ngerasa suara-suara di kepala gue makin ramai, terus gue pusing, terus semua jadi gelap. Gue kayak liat ada orang yang lagi ngintipin gue," ucap Andri dengan suaranya yang bergetar.


"Lu gak takut Ndri?" Tanya Intan heran.


Andri menggeleng. "Gue cukup ribet sama kondisi gue sendiri. Gue gak ada waktu buat ngurusin orang kayak begitu. Lagian bisa aja itu cuma orang lewat kan."


Reyza geram. Ia tidak bisa membiarkan kepolosan Andri terus berlanjut. "Mulai dari sekarang, lu bener-bener harus terbuka Ndri! Apapun yang lu rasain dan lu liat, lu harus bilang ke gue. Kalo lu gak nyaman sama gue, ya sama Lily kek. Lu kan demen Lily."


Andri manyun, merasa sebal pada Reyza karena menurutnya ia sudah mempermalukan dirinya di depan Lily.


Sementara Lily hanya tersenyum biasa saja.


"Oke guys, jadi apa langkah kalian selanjutnya?" Tanya Lily.


"Kita juga buntu Ly. Reyza udah coba telepon bapaknya," jawab Akbar.


Sejenak hening. Kemudian semua mata tertuju pada Lily.


"Kayaknya pikiran kita sama deh," ucap Reyza.


Intan mengangguk. "Kamu keponakan kesayangan pimpinan sekolah loh Ly!" Intan tersenyum aneh.


"Ma... maksudnya?"


"Ya kamu bisa laporin ini ke pamanmu," pinta Intan sambil masih tersenyum.


***


Ini dia foto LILY :)


Sama cantiknya dengan Intan, tapi Lily punya mata lebar dan kulit cokelat khas perempuan Latino/ Indonesia, bulu mata lentik, hidung yang mancung banget, dan senyumnya manis ☺


Author juga minjem foto Lily buat jadi Avatar, hehe.




Ini Lily versi makeup 😁

__ADS_1


__ADS_2