SCHOOL OF LOST SOULS

SCHOOL OF LOST SOULS
New Guy 3


__ADS_3

"Itu mungkin hantu lewat aja kan? Jadi kita gak perlu repot cari hantu yang gak keliatan," Novis memberi pendapat.


Reyza menolaknya, ia membantah, "atau itu orang gila yang pake topeng, buntuti temen gue Andri, untuk apa?" Reyza menatap dalam ke mata Novis.


Novis gugup karena tatapan Reyza. "Lu... lu kenapa Rey?" Tanyanya heran pada tatapan itu.


Reyza memalingkan wajahnya, "gue..."


"Jangan hiraukan Reyza bang! Reyza memang sering begitu," Lily memotong.


"Oh okey."


Ekspresi Reyza hanya rata mendengar Lily memotong omongannya. Tapi itu lebih baik. Lily memahami Reyza. Lily tahu Reyza menaruh curiga pada Novis, entah curiga apa itu. Tapi sekali lagi, ini bukan saat yang tepat untuk berbincang tentang kejanggalan yang ada, apalagi di saat Novis sedang bersama mereka.


"Tapi Reyza benar!" Ucap Andri. "Sosok itu pasti manusia kan. Manusia yang pakai topeng," pendapatnya.


"Aku masih belum setuju," Novis menyangkalnya. "Dia bisa saja setan, karena bagaimana bisa setan bisa selalu berada tepat di saat-saat kamu kerasukan Ndri!"


"Benar juga," Andri menanggapi.


Sementara Reyza dan Lily hanya diam memerhatikan kemana arah percakapan Novis dan Andri mengalir.


Novis berkata lagi, "aku gak ahli bahas dunia ghaib, tapi denger cerita orang katanya setiap kali kita kerasukan kita biasanya jadi bisa lihat makhluk yang masuk ke tubuh kita itu."


"Jadi aku kerasukan bang?"


"Ya mungkin."


Reyza dan Lily masih diam saja tidak sedikitpun menanggapi.


"Gimana menurut lu Rey?" Andri bertanya.


Reyza menjawab, "go on! I'm here listening to you guys."


"I'm listening too," tambah Lily.


Andri kembali pada percakapannya dengan Novis. "Pendapat Bang Novis memang masuk sih. Kalian pada percaya hantu kan?" Tanya Andri antusias. Ia senang karena merasa Novis telah peduli pada dirinya.


Novis berseringai. Orang seperti Andri memang selalu membuatnya semangat, orang yang menghargai dirinya dan yang selalu mendengarkan semua perkataannya. Novis harus melestarikan pengagum tipe Andri dengan beramah-tamah dan berpura-pura peduli seperti ini.


"Siapa yang gak percaya sih Ndri. Tapi tergantung konteks," jawab Reyza pada pertanyaan Andri.


Lily sepakat.


"Jadi kalian juga setuju sama bang Novis kan?"

__ADS_1


Novis tersenyum bangga dan merasa pendapatnya dalam hal apapun itu memang selalu oke.


Reyza tersenyum meremehkan. Ia belum juga menanggapi.


"Kalo dari aku sih gitu Ndri. Sekarang tinggal kamunya aja yang jaga diri. Jangan ngelamun sembarangan atau sosok itu nanti datang lagi."


Andri mengangguk bersemangat, "siap bang!" Senangnya Andri karena dapat perhatian dari senior panutannya.


"So Rey, kayaknya kalian harus berhenti deh. Gak perlu lagi capek cari tahu siapa atau apa sosok itu. Yang harus kalian fokuskan itu Andri. Jaga Andri. Jangan sampai dia kerasukan lagi."


"Tuh Rey!! Dengerin bang Novis. Bang Novis memang benar. Aku yang harusnya bisa jaga diri," ujar Andri dengan senyumannya yang lebar kepada Novis.


Novis tersanjung. Pengagum seperti Andri jangan sampai lepas. Harus terus dipupuk. Karena mereka sudah seperti melengkapi Novis. Hidup Novis jadi tidak utuh tanpa pengakuan dari mereka.


Reyza masih tidak menanggapi, sementara Lily pamit karena harus mencari Intan.


"Tunggu Ly! Gue ikut lu," pinta Reyza.


"Oh ya," Lily membalas.


Kini hanya Andri dan Novis berdua. Andri kikuk karena gugupnya datang lagi, "Abang gak makan?" Andri memilih bertanya itu untuk mencairkan dirinya yang gugup, kebetulan juga ini jam istirahat.


Novis menggeleng.


Merasa lega tidak ada Reyza, dan hanya ada fannya si Andri, Novis berani menunjukkan pelan-pelan sisi dirinya yang lain.


Tapi Andri yang polos tidak mampu melihat kesombongan yang ditunjukkan oleh Novis melalui gesture-nya itu. Ia malah makin bingung mau bicarakan apa lagi dengan Novis.


"Dengerin pendapat aku ya Ndri! Sebelum telat, kamu harus berhenti berpikir berat. Itu supaya kamu gak kerasukan lagi. Kamu itu kerasukan Ndri. Sosok yang ngikutin kamu adalah hantu yang masuk ke tubuh kamu, bukan manusia. Paham!?"


Andri mengangguk seperti anak anjing. Ia menurut saja. Lugu sekali.


"Jadi aku mohon. Ini juga buat kamu sendiri. Ajak Reyza dan yang lain untuk berhenti mencari tahu siapa atau apa sosok itu. Karena kalian gak mungkin dapat jawabannya. Paham!?"


Andri mengangguk lagi. Mungkin Andri terhipnotis karisma dan aura sombong tidak biasa yang terpancar dari Novis. Baru kali ini juga ia melihat Novis seperti itu. Biasanya Novis di mata Andri selalu berperilaku sangat sopan dan rendah hati.


"Ini aku kasih bantu kalian sekarang. Tapi kalau kalian mengacau, aku gak segan-segan untuk laporkan dan bocorkan ini ke pihak yang berkuasa. Paham Ndri!?"


Andri mengiyakan.


"Sekali lagi aku mohon ke kalian, jangan bertindak terlalu jauh! Tinggalkan persoalan ini! Jangan coba cari tahu! Atau kalian sendiri yang ribet."


"Iya bang. Nanti aku bilang ke Reyza buat berhenti," ucap Andri.


"Bagus. Itu yang gue mau dari lu Ndri," Novis mengakhiri ocehannya dengan seringai ngeri. Ia beranjak pergi dan kembali pada Akbar.

__ADS_1


***


"Lu udah selesai ngobrol sama Andri?" Tanya Akbar.


Angguk Novis.


"Apa yang lu dapet?"


"Si Andri mana bisa dipercaya sih Bar!" Ejek Novis merendahkan. "Maksud gue, anak itu gak punya clue."


Akbar setuju saja. Jangankan Andri, dirinya saja toh tidak punya sedikit pun petunjuk tentang sosok itu.


"Eh tapi lu lama amat ngobrol sama dia?"


Novis menjawab dengan dagu terangkat, " dia kepo sama gue. Dia kan fan gue Bar!"


"Lama-lama jijik gue sama lu!" Canda Akbar.


Novis nyengir. Amat pintar memanipulasi fakta. Sangat mulus ia berbohong pada Akbar.


***


"So Rey, aku tahu kamu itu gak suka sama bang Novis. Boleh aku tahu apa alasannya?"


Reyza menghela napas, "Novis suka kamu Ly. Kamu gak mungkin bisa lihat sisi jeleknya Novis. Dia pasti sekuat tenaga nunjukkin sisi sempurnanya depan kamu. Jadi kamu gak akan paham deh intinya!"


"Aneh kamu Rey! Kamu itu aneh dari dulu. Sok tahu segala hal, terus kamu gak pernah berubah."


"Kalo gak sok tahu, bukan Reyza namanya," Reyza tersenyum.


Lily senang Reyza memberikan senyumnya itu padanya.


"Oh ya Ly, karena kita teman, gue harap lu gak kayak Andri yang plin-plan gak terus terang. Gue itu orangnya khawatiran. Gue gak bisa ninggalin temen gue sendirian ngadepin masalah."


Lily terdiam, sedikit tersinggung. "Pelan-pelan ya Rey. Orang butuh waktu untuk terbuka sepenuhnya."


"Tuh kan! Aku tahu kamu itu lagi galau sendiri Ly. Please kasih tahu gue apa yang lu simpen sendiri?"


Lily menggeleng sedih, "aku belum siap Rey." Ia tersenyum manis, "sabar sedikit ya! Nanti kamu juga bakalan tahu kok."


Reyza sedikit kecewa. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa memaksa Lily.


***


Kita balik lagi ke visual AKBAR yaaa... Nih author kasih foto AKBAR lagi latihan tinju 🙊

__ADS_1



__ADS_2