SCHOOL OF LOST SOULS

SCHOOL OF LOST SOULS
Hostage


__ADS_3


Song Weilong Aktor China as Prince Kodok Reyza 😉


***


Intan merasa tak tenang dengan dirinya sendiri. Sudah lebih dari dua hari ini, ia lihat Lily, Reyza, dan Andri terus berkumpul. Biar bagaimanapun Intan ingin membantu. Intan juga ingin berguna untuk grup, terutama untuk Lily. Temannya Lily saja bisa tidak takut, mengapa ia amat cengeng.


Intan harus bangkit dari rasa takut itu. Ia harus pikirkan sesuatu.


Secara acak, Intan akhirnya dapatkan ide. Lily dan yang lain selalu rapat di tempat yang Intan tidak tahu. Ide itu muncul di kala mereka tak ada. Karena merasa harus segera ia lakukan, akhirnya tanpa bicara pada Lily dan yang lain terlebih dahulu, Intan memaksa melakukan ide itu seorang diri. Bahkan tidak dengan Akbar. Sebab ia kira, Akbar pun ikut Lily dan yang lain.


Intan menyelinap masuk ke ruang guru. Di sana ia mencari data. Profile Pipit, informasi mengenai kematian Pipit, data siswa yang satu angkatan dengan Pipit, hingga berita siswa yang hilang, Ali dan Nafira, ia dapatkan dari sana.


Di ruang guru itu, seperti seorang maling, ia sisir semua informasi janggal yang bisa ia dapatkan.


Ia juga hubungkan semua yang ia dapat, dan tampak ada yang sekolah ini sembunyikan mengenai kasus hilangnya Nafira dan Ali, teman Pipit. Lalu kecelakaan Pipit juga terlihat dibuat seolah bukan kejadian yang besar. Seperti ada orang yang memang sengaja menutup setiap kasus aneh di sekolah.


Apakah Malik mampu berbuat demikian? Intan menggeleng. Tidak mungkin si tua bijak itu. Malik orang yang baik. Tidak mungkin.


Lanjut ia mencari-cari dokumen janggal lain yang berhubungan dengan Pipit, Ali, Nafira. Terkejut, ia dapatkan proposal program aneh di sana. Tapi tak sempat Intan membaca proposal itu, ia hanya sekilas melihat jilidnya saja, pengeras suara di ruang guru berbunyi grasak-grusuk.


Ada orang yang akan berbicara dari sana.


Lalu ngiiiiinggggggg!


Berdenging kencang sekali memekikkan telinga. Apa-apaan, siapa?


Intan tengok kesana-kemari, guru belum ada yang datang. Siapa yang memainkan pengeras suara.


Intan jongkok, ia mengendap-endap keluar dari ruangan itu. Tapi tepat di depan pintu, barulah orang dari balik pengeras suara berpesan kepadanya.


"Intania Priyonggo. Putri dari pengusaha kecil di pelosok Banten. Ini peringatan untukmu, kembalikan dokumen itu."


Intan gemetar ketakutan. Tapi ia tak gentar. Ia mengangkat tangannya, hendak membuka pintu dan kabur.


Tetapi alarm kebakaran tiba-tiba berbunyi sangat keras sekali. Para siswa dan guru berhamburan berdatangan ke ruangan itu.


Dari pengeras suara itu, orang misterius berkata lagi, "terpaksa kami harus menangkapmu Intania."


Intan tak peduli. Ia segera berlari terbirit-birit sambil menenteng dokumen tua dan lusuh di pelukan tangannya.

__ADS_1


Tanpa memerhatikan jalan, ia menubruk Akbar.


"Lu kenapa Tan?" Tanya Akbar.


Dengan napas yang memburu, Intan menggandeng tangan Akbar. Ia menyeret Akbar ke tempat yang lebih sepi.


Setelah sampai, Intan baru buka suara. "Aku gak nyangka, aku temukan ini di ruang guru."


Intan menyerahkan tumpukan dokumen itu pada Akbar. Akbar bertanya, "apa ini?"


"Kamu ingat kalau Lily pernah cerita ke kita dia jadi saksi dari korban si orang hitam?"


Akbar mengangguk.


"Nama orang itu Pipit. Gak cuma kematian Pipit, saudara kembarnya dan juga temannya hilang tak berjejak."


Akbar melihat-lihat dokumen itu. "Gimana ceritanya sekolah biarkan mereka hilang gitu aja? Hilang kemana?"


Intan menggeleng. "Itu jadi misteri yang gak terpecahkan siapapun Bar."


Akbar menatap mata Intan khawatir. Ia memarahi gadis manis itu, "aku kan udah bilang ke kamu, jangan urusi ini lagi Intaaann! Ini bahaya! Susah banget sih dibilanginnya."


Akbar menghela napasnya, memang susah berbicara dengan gadis keras kepala seperti Intan. Tapi terserah yang dilakukan Intan, Akbar jamin dirinya akan melindungi gadis ini. Ia tak akan memaafkan dirinya jika gadis ini terluka.


"Apa lagi yang kamu dapat?" Tanya Akbar.


"Seseorang lewat pengeras suara ngancam aku."


"Kamu takut?"


Intan cemberut.


Akbar tertawa lucu melihat Intan gemas, "lagian! Penakut kayak kamu sok berani begitu," Akbar menjentikkan telunjuknya di kepala Intan.


Intan mengusap rambutnya yang jadi sedikit acak-acakan karena Akbar.


"Ya udah terlanjur. Orang itu udah tahu kamu. Mulai dari sekarang kamu harus hati-hati."


Intan mengangguk.


Akbar kemudian mengajak Intan untuk pergi ke ruangan Lily.

__ADS_1


***


Akbar berbicara tegas di depan Reyza, Lily, dan Andri. "Intan yang udah ambil semua dokumen itu!"


Reyza dan Andri tercengang. Nekat juga si gadisnya Akbar.


Lily menghampiri Intan. Lily curiga ada hal lain yang belum Intan sampaikan, ia bertanya, "kamu ketahuan Tan?"


Mata Intan sembab. Ia masih sesenggukan. Akbar yang menjawab, "ya ada."


Sudah Lily duga. "Orang itu punya mata di seluruh sekolah ini. Orang itu punya akses ke semua orang yang tinggal atau bahkan hanya sekedar datang ke sekolah ini."


Lily sadar betapa bahayanya ini. Tapi jika ia katakan lebih lanjut, ia khawatir Intan menjadi semakin takut. Ia memilih berkata lembut pada Intan, "kami selalu ada buatmu Tan."


Reyza tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Semua sudah amat rumit baginya. Urusan Andri saja belum selesai, sekarang Intan. Selanjutnya apa lagi!?


Lily melirik Reyza yang gelisah, Lily berkata seperti Intan, "kayaknya kami memang butuh bantuanmu Rey. Kamu anak tunggal Prasetyo, kita bisa pakai kekuasaan yang Prasetyo punya."


"Gue gak bisa," Reyza menunduk tak percaya diri. Reyza menggeleng dan berkata sekali lagi, "gue gak bisa!"


"Setidaknya kamu harus coba Rey!" Ucap Intan dengan intonasi tinggi.


Mereka semua menatap Reyza penuh harap.


Reyza masih tertunduk lesu.


Lily tak tahan. Sudah berkali-kali Lily selalu ingatkan Reyza tentang siapa sesungguhnya Reyza. Anak itu harus sadar dengan semua yang ia miliki. Kekuasaan, koneksi ayahnya yang begitu luas hingga mungkin ke lembaga hukum di luar negeri, dan tentunya uang. Mengapa Reyza sulit sekali sadar.


Lily menatap lekat mata Reyza, menaruh harap pada anak itu, "kumohon... kamu orang paling baik yang pernah aku temui. Kamu orang yang gak akan membiarkan teman dalam bahaya. Statusmu jangan kamu anggap beban. Jangan hiraukan kata orang lain yang meremehkan, yang iri, atau yang tidak menginginkanmu dengan status itu. Kumohon... percayalah pada apa yang kamu punya Rey. Gunakan potensi itu untuk kami, untuk sekolahmu."


Pesan yang panjang dari Lily, dan diakhiri dengan senyum termanis Lily.


Hati Reyza sedikit terluluhkan. Siapa yang tidak gagal fokus ketika melihat Lily melemparkan senyuman nan manis itu. Hatinya berdesir.


Dengan masih terpaksa Reyza berkata, "akan kucoba."


***


The Beauty of The School Lily


__ADS_1


__ADS_2