SCHOOL OF LOST SOULS

SCHOOL OF LOST SOULS
Playing Victim


__ADS_3

Andri terbaring kaku di atas kasur. Lily lama menunggunya tersadar. Lily berbalik membelakangi tempat Andri, ia pun mengantuk. Ia pandangi jendela, tampak langit sore yang cerah dari sana.


Untuk sekian tahun ke depan, sekolah asrama ini mungkin akan dipimpin oleh Lily. Atau paling tidak, Lily akan menjadi salah satu pengasuh dari sekolah asrama ini.


Sekolah yang sangat disayangi Malik. Tanah seluas 3 hektar. Hampir satu desa. Sebagian besar dari tanah sekolah masih dibiarkan begitu saja, ada yang ditumbuhi ilalang liar, ada yang ditanami padi, ada juga hutan bambu luas, dan hutan biasa dengan rawa.


Ia teringat dulu, mungkin saat pertama kalinya Prasetyo dan temannya kemari, sekolah ini masih belum apa-apa. Berdiri beberapa gedung, untuk kelas dan asrama siswa. Sisanya kebun, sawah, hutan dan rawa.


Bahkan dulu, yang Lily ingat, siswa seringkali diliburkan dari kursus-kursus untuk membantu para guru dan orang dewasa mengeruk tanah hutan yang tinggi secara manual dengan pacul dan benda lain agar rata dengan posisi tanah sekolah.


Perjuangan sekali para senior itu. Umur 13 tahun ke atas, bukan belajar di sekolah, justru Malik memanfaatkan mereka untuk meratakan letak tanah di area sekolah.


Sekolah asrama yang dulu kecil, kini seperti macan kepunyaan daerah Banten. Setiap perlombaan bergengsi, olahraga, seni, dan sains, nyaris semua disabet oleh siswa berbakat sekolah ini.


Sering pikiran Lily berkelana jauh berpikir sampai sana, akan ia bawa kemana sekolah ini nanti.


"Ternyata sulit sekali bernegosiasi bersamamu ya Ly!" ucap Andri.


Lily memaksakan matanya yang sudah terkantuk. Ia berbalik melihat siapa yang ada di diri Andri. "Kamu pasti Nara! Atau Hitam?"


Orang itu berseringai. "Lu gak ingat gue Ly! Lu samain gue sama si brengs*k itu!"


Lily membalas seringai Nara. "Lama sekali kamu gak keluar! Kenapa? Seseorang menahanmu ya?"


Nara menatap Lily lekat.


"Kamu beritahu aku identitas orang-orang berbaju hitam yang mengikutiku. Aku gak akan macam-macam dengan Andri. Biar gimanapun Andri itu inangmu. Kamu gak akan bisa tanpa dia." lanjut Lily.


Nara tak terpancing. Ia masih tenang dan dingin.


Lily menyentuhkan tangannya di rambut Intan yang tertidur. Ia ingin Intan bangun untuk bisa melihat langsung bagaimana Nara, sehingga Intan bisa paham Andri. Lily tahu Intan pasti murka karena Andri sudah membuat wajah Lily babak belur.

__ADS_1


"Jangan libatkan dia! Urusanku keluar adalah untuk bicara denganmu." cegah Nara.


Lily tersenyum kuat, "Oh ya? Tentang apa? Aku yang mengusikmu?"


Nara meremehkan dan mencibir Lily, tapi gelagatnya masih tenang, "Akui saja kalau kamu juga seperti kami Ly! Kamu rapuh ...."


"Ya. Aku akui aku memang sakit. Lalu apa? Toh sakit gak jadi kelemahanku." potong Lily pada kalimat Nara.


Nara mendengus.


"Terlalu banyak misteri yang kamu buat Nar! Aku gak akan biarkan itu. Aku berniat sembuhkan Andri supaya kamu ... wus! Pergi! Lenyap seperti abu yang tertiup angin!" Lily berseringai penuh ancaman dan rencana jahat untuk Nara.


Lagi-lagi Nara hanya mendengus, "Kamu itu cuma Lily si anak SMA sekolah ini. Bisa apa?" ia terkekeh geli. "Ayo bertaruh, sampai mana kamu bisa menyelamatkan anak ini yang sekarang sedang di tanganku." seringai Nara lebih mengancam.


"Apa yang kamu lakukan terakhir kali pada Andri ironinya adalah yang telah membantuku keluar."


Lily menatap tak percaya, Lily yakin itu hanya permainan Nara. Ia buat Lily jatuh, agar emosi Lily ada di genggamannya.


"Percuma. Kamu bisa berhenti menekanku sekarang. Kamu bukan siapa-siapa. Kamu itu cuma parasit yang numpang di tubuh Andri, gak lebih. Kamu pikir kamu bisa ambil alih Andri!?" Lily menatap Nara merendahkan, "Jangan harap!"


Nara mulai kesal. Kupingnya panas mendengar ocehan Lily.


"Segitu sayangnya kamu pada anak ini?! Kamu usik emosi anak ini, maka akan lebih banyak 'kami' yang muncul."


Nara benar. Lily tak bisa mengacak-acak memori Andri terlalu dalam, apalagi memaksa anak itu. Hanya Andri yang bisa, dan mungkin dibantu waktu. Lily harus berjalan pelan, santai, tetapi tetap fokus. Jika ia lakukan sekali lagi regresi pada Andri, abreaksi yang lebih parah dari sebelumnya mungkin terjadi. Atau kemungkinan paling buruk adalah, 'mereka yang lain' akan bertambah lagi di diri Andri.


Nara berseringai, merasa taktiknya berhasil. Membuat Lily merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan. Membuat Lily menghentikan aksinya mengusik inang miliknya.


"Jadi ... berhentilah! Untuk Andri!" senyum Nara.


Lily belum merespon.

__ADS_1


"Kamu juga bukan apa-apa untuk Andri, tak lebih hanya sebagai perusuh." lagi Nara menekan Lily. "Inang kami, menjadi lebih kacau karenamu Ly! Thank you." senyum Nara licik.


Lily mengalihkan pembicaraan, ia ingin Nara berhenti membuatnya merasa salah. "Gimana dengan Reyza? Apa kesepakatan kalian berdua?"


Aura gelap yang manipulatif dan dominan terpancar dari tubuh Nara, "Karena kamu juga, Reyza dalam masalah. Jangan lupa itu! Karena kamu yang menyuruh Anton, Hazan, dan Amar untuk memberikan lukisannya pada inang kami, Reyza jadi terbawa ke arus masalah ini. Kasihan sekali anak itu. Anak dengan segala kekuasaan Prasetyo yang ia miliki tiba-tiba berubah menjadi sandera di sekolah ini. Oh atau justru ia akan jadi seperti kamu Ly, dibuat gila oleh 'mereka'. Wah wah wah ... jahat sekali kamu. Berapa banyak kekacauan yang kamu buat, berapa banyak anak lagi yang akan kamu seret ke masalahmu dan 'mereka'. Berhentilah! Berhenti sebelum kekacauan yang lain mencuat karena ... kamu!" seringai Nara sekali lagi.


Nara benar. Semua jadi terlibat memang karena Lily. Nara berhasil menanamkan rasa bersalah di diri Lily. Kini gadis itu melepaskan tatapan sinisnya dari Nara. Pandangan Lily menjadi kosong.


"Biar kutebak, kamu sedang berpikir bagaimana bisa kamu yang sakit ini menjadi pengasuh sekolah asrama yang dibanggakan Malik ini? Kamu adalah produk gagal dari sekolah ini Ly. Seharusnya kamu menjalani pengobatan dengan Pipit. Lily yang cantik, yang pintar, yang baik, dan yang berbakti ternyata menyimpan misteri kelam. Bermuka dua, munafik dan cacat. Menyerahlah! Tidak mungkin manusia cacat dan bodoh sepertimu berhasil selamatkan sekolah ini dari 'mereka'. Sekali lagi, berhentilah!"


Botol beling terbang ke arah Andri, dan pecah tepat di kepala Andri. Darah mengalir dari sana. Nara tersenyum puas dan senang, ternyata kontrol emosinya pada Lily berhasil juga. Lily kalah. Nara terkekeh menikmati permainannya.


Lily melotot buas. Tak terima Nara mengejeknya sedemikian rupa.


"Harga dirimu ... segitu saja?!" pancing Nara lagi.


Nara tak tahu, apalagi Lily, bahwa Hp Intan selalu terhubung dengan kroni orang berbaju serba hitam. Rekaman audio aktif, dan langsung terkirim secepat kilat ke kelompok misterius itu. Intan juga tidur ayam, ia dengar semua ucap Nara.


Intan tahu Lily sudah diambang batasnya, Intan membuka matanya, ia berjalan menuju Andri. Kemudian,


jleb!


Jarum suntik berisi obat yang tidak diketahui menancap tepat di lengan bagian atas Andri.


Nara tak menduga itu. Selama ini, ia tidak pernah menganggap Intan sebagai ancaman. Matanya berkaca-kaca menahan tekanan obat yang sebentar lagi membuatnya ambruk tak berdaya, ia berkata dengan terputus-putus, "Da ... da ... dari mana kamu...."


Terlanjur loyo tak sadarkan diri.


***


Adakah yang kangen Reyza?

__ADS_1



__ADS_2