
Reyza, Andri, dan Akbar membisu. Mereka masih memproses apa yang Lily utarakan. Mereka merasa percaya tidak percaya, tapi Lily terlihat serius. Lily tidak sedang bercanda. Tapi bagaimana bisa selama ini? Setelah semua yang terjadi.
Lily dengan canggihnya menyimpan semua informasi itu seorang diri. Bahkan Reyza pun tidak pernah menduga sisi Lily yang lain itu.
Reyza gelisah, ia masih belum bisa mencernanya. Sulit dipercaya. Semua yang Lily sampaikan, itu sulit diterima.
"Aku tahu kalian kaget. But I'm serious Rey, Ndri, Bar... I'm 100 percent serious. Aku gak sedikitpun bercanda. Kalian mungkin cuma butuh waktu, aku pamit dari sini, kalian panggil aku kalau kalian siap ngobrolin rencana selanjutnya."
Lily melangkah menuju pintu.
Akbar menghentikannya. "Tunggu! Lu temen Intan. Gue gak mau Intan kenapa-kenapa cuma karena dia deket sama lu. Gue percaya lu. Gue ikut lu demi Intan."
Lily tersenyum. "Rey? Ndri?"
Reyza masih membisu.
Andri menjawab, "lu yang paling hapal gue Ly. Gimana mungkin gue nolak buat ikut lu. Gue sih yes."
"Rey?" Tanya Lily lembut.
"Gue... asal lu buka semua yang lu tahu Ly. Selama kita koordinasi dengan baik. I'm in."
"Okey," ucap Lily.
"Tapi tunggu... kalau lu maju sendiri lagi kayak kemaren, gue gak akan percaya lu lagi Ly," itu syarat dari Reyza.
Lily tersenyum, "fine Rey!"
"Jadi sekarang apa?" Tanya Akbar.
"Ikut aku! Aku mau nunjukin sesuatu ke kalian semua."
***
Lily meminta Malik membuatkan ruangan khusus untuk menyimpan buku-bukunya. Sekecil gudang. Ruangan itu ada di salah satu kamar asrama yang selalu dikosongkan.
"Segini aja yang aku dapat," ucap Lily menunjukkan hasil risetnya yang carut marut.
Foto-foto, kliping koran, benang merah yang dihubungkan kesana-kemari, daftar orang, jurnal ilmiah dari tema okultisme, misteri alam ghaib, riwayat iblis, hingga jurnal tentang jiwa manusia, banyak... banyak hal yang ditempel di sana.
Lily gila. Di umur ABG-nya, ia habiskan waktu untuk mengulik misteri yang bahkan tak terpecahkan oleh polisi. Gila!
Applauses untuk Lily. Reyza, Andri, dan Akbar menganga. Masih belum bisa mencerna, masih belum bisa percaya apalagi menerima.
Ada potongan foto Prasetyo, Musa, dan Malik, foto Pipit dan beberapa foto tidak dikenal. Ada lima versi foto Andri, versi asli (Andri itu sendiri), versi Anton, Amar, Hazan, hingga Nara. Foto-foto si orang hitam, dan banyak lagi yang tidak bisa Reyza, Andri, dan Akbar mengerti.
__ADS_1
Ketiga lelaki itu hanya memandangi hasil riset Lily. Berusaha keras ingin memahaminya.
"Hey!" Panggil Lily. "Aku ajak kalian kesini bukan buat liatin itu yaa!"
Mereka bertiga menengok Lily. Kemudian Duduk melingkar, mendengarkan Lily.
"Andri, kumohon tahan! Jangan sampai Nara denger apalagi ngontrol kamu!"
Andri mengangguk.
"Jadi guys, informasi terakhir yang aku dapat itu 'The Mastermind'. Dia punya koneksi dengan Akbar."
"Gue gak ngerti Ly. Kenapa gue?"
"Bisa jadi itu ayahmu."
"F*ck you Ly! Gue akui Bokap gue itu brengs*k. Tapi gak mungkin dia ngurusin yang beginian. Okultisme atau apalah itu. Dia orang yang logis," protes Akbar.
Lily berseringai, "oh ya? Emang seberapa kenal kamu sama bapakmu itu Bar?"
Akbar tajam menatap Lily, merasa tak senang dan terganggu dengan perkataan Lily. Tapi ia tidak menjawab atau membantah Lily. Ia sadari ia tak mengenal sosok ayahnya sendiri.
"Menurutku ayah Akbar patut diduga sebagai dalang dari semua ini, atau siapapun itu yang ada hubungannya dengan Akbar. Oh atau kamu sendiri sebenarnya tahu sesuatu Bar?" Lagi-lagi senyum seringai dari Lily.
Andri menyentuh pundak Akbar, dan ucapnya, "Tenang Bar!"
Selalu ada Andri yang menenangkan.
Lily tertawa tanpa beban, "santailah! Aku kasih kalian cemilan sama minum ya. Santai Bar! Intan ternyata belum bisa menyembuhkan penyakit temperamen-mu itu ya. Hati-hati loh... amarah seringkali berasal dari setan," Lily berseringai lagi. Amat lihai Lily memancing temperamen Akbar kambuh.
"Stop Ly!" Reyza menghentikan. Ia tidak ingin ada pertengkaran lagi di dalam kelompok mereka. "Gue mohon saling hargai satu sama lain!"
Lily menurut. Ia berhenti bermain-main. Lily mengeluarkan cemilan dan minuman segar dari salah satu lemari di ruangan itu, "itu aman. Makan dan minumlah dengan santai guys!" Lily tersenyum normal.
"Apa lu tahu yang dikerjakan si Novis sebagai orang hitam?" Tanya Reyza.
"Sayangnya enggak. Dan yang harus kalian tahu, Novis bukan satu-satunya orang hitam. Parahnya lagi, aku pikir Novis itu gak lama ini jadi orang hitam."
"Berapa banyak yang lu temui Ly?"
"Satu."
"Dari mana lu simpulkan kalo orang hitam itu ada banyak."
Lily menatap Andri, "dia!" Tunjuk Lily ke Andri.
__ADS_1
"Maksudnya?" Andri bertanya merasa tersinggung dan dituduh sesuatu.
"Nara," jawab Lily.
"Gue udah duga itu," ucap Reyza.
"Seberapa bahaya mereka?" Akbar bertanya.
Lily mengeluarkan foto Pipit. "Ini korbannya. Perempuan ini mati di tangan orang hitam. Aku saksinya."
"Terus kenapa lu gak bilang itu ke polisi."
Lily tertawa dan menggeleng, "mereka bakal ngira aku gila."
Mereka meneguk minuman yang Lily suguhkan.
"Mereka lebih profesional dari perkiraan kita semua. Kita cuma anak SMA," ucap Lily. Ia sendiri lelah dan rasanya ingin menyerah. Tapi tidak mungkin, Lily sudah sejauh ini terlibat.
"Lu bener. Kita harus hati-hati," Reyza berikan sedikit rasa semangat.
"Masalah lainnya Rey, itu Nara. Aku gak nyangka kamu berani buat kesepakatan sama setan itu," ucap Lily lagi.
Reyza menunduk. "Gue tahu gue salah."
Semua mata memandang Reyza. Bahkan Akbar merasa ngeri karena ia juga kenal beberapa sosok di tubuh Andri, termasuk sosok yang mampu mengangkat tubuhnya seperti sehelai kertas.
"Ini opsi dari aku, gimana kalau kita skip dulu persoalan si orang hitam dan bosnya. Kita fokus ke Andri. Kita sembuhkan Andri sampai Reyza terbebas dari Nara?" Ucap Lily memberi masukan.
"Gue sepakat itu Ly!" Dengan antusias Andri menyambut ide dari Lily.
Akbar keberatan. Yang ia inginkan adalah segera menumpas tuntas orang hitam dan kroninya, sampai ke Mastermind-nya. Tapi ia kalah suara. Ide dari Lily, yang sepakat Reyza dan Andri, dan yang menolak hanya Akbar.
Akbar diam saja, tidak bisa membantah.
"Gimana caranya? Kita gak tahu Andri kenapa!" Reyza skeptis.
Lily mengeluarkan buku besar dan tua dari salah satu lemarinya. "Aku bukan orang yang punya 'bakat'. Tapi ada beberapa kemungkinan yang dialami Andri. Aku catat semuanya di sini, termasuk obatnya. Gak gampang buat Andri sembuh, but let's just try it!"
Amat naif Lily ini.
***
Intan kemana aja? Kok gak muncul-muncul? Hehe... Intannya jangan ikut-ikutan sama Lily cs yaa, ngeri. Kasian 😁
__ADS_1