SCHOOL OF LOST SOULS

SCHOOL OF LOST SOULS
Reveal


__ADS_3

Reyza gelisah. Ia memutar rekaman di telinganya berkali-kali. Sejak awal, sudah jelas bahwa Reyza tidak suka Novis ikut campur dengan urusannya. Hari pertama Reyza masuk ke sekolah asrama ini, Novis adalah senior mencolok di mata Reyza. Bukan karena Novis berprestasi dan populer, melainkan pada masa itu Novis amat terlihat agresif mendekati Reyza dan Akbar.


Reyza hapal, orang yang terlalu agresif ingin berteman dengannya adalah orang-orang yang memanfaatkan atau menginginkan sesuatu darinya. Itu hukum yang baku bagi Reyza. Dari sana Reyza tidak sembarang menerima Novis sebagai temannya, berbeda dengan Akbar yang langsung saja nyantol. Reyza lebih waspada. Ia tegas bersikap. Sekali Reyza rasa tidak cocok, maka keputusan sulit diubah.


Seiring berjalannya waktu, Reyza semakin tidak suka pada Novis. Terlebih karena bocah Novis itu dengan gencarnya mencari perhatian Lily.


Novis bisa saja mengelabui semua orang di sekolah asrama ini dengan wajahnya yang polos ramah, tapi tidak Reyza. Kepura-puraan Novis di depan Reyza itu tidak mempan, sebab Reyza tetap bisa melihat sosok di balik si tuan sempurna.


Saat Novis bersikeras meyakinkan Andri bahwa si penguntit hanyalah hantu iseng, Reyza langsung merasakan ada yang tidak beres. Reyza pun kemudian meletakkan HP-nya dan mengaktifkan recording untuk menyadap obrolan Novis dan Andri. Untuk antisipasi saat kemunafikan Novis muncul lagi.


Riwayat hubungan Novis dan Reyza yang tidak baik membuat Reyza selalu berpikir dua kali ketika ia harus terpaksa bercakap-cakap dengan Novis. Dari sana ia yakin, Novis pun juga sama dengannya. Novis tidak akan ceroboh berbicara sembarangan di depan dirinya. Bagaimana jika tanpa Reyza? Ah Reyza yakin kemunafikan Novis akan kembali mencuat.


Dan benar saja. Dugaan Reyza tepat. Dari rekaman itu, Reyza menjadi tahu apa yang Novis bicarakan pada Andri.


Apa-apaan orang ini! Heran Reyza.


Reyza menggigit kuku-kukunya. Ia berpikir keras memecahkan maksud di balik perkataan Novis. Tapi, berkali-kali ia pikirkan, kesimpulannya tetap berakhir pada, Novis memiliki koneksi dengan si penguntit itu. Tapi koneksi yang bagaimana dan seperti apa? Reyza belum bisa mengira-ngira itu.


Reyza beranjak pergi. Ia memanggil Lily, Andri, dan Intan dan meminta Intan untuk tidak mengatakan apapun pada Akbar soal pertemuan mereka itu.


"Sekarang gue tanya, apa pendapat lu Ndri soal isi rekaman itu!" Reyza menyelidik.


Andri gelagapan. Tapi ia masih membela senior panutannya itu. "Kamu nuduh bang Novis ya Rey?"


"Gue bukannya nuduh. Tapi lu denger sendiri dong omongan dia!" Keras Reyza katakan itu pada Andri. "Gue tanya Lily Intan deh, gimana menurut lu berdua?"


Lily dan Intan menyimak suara rekaman, Intan bergumam, "aneh."


"Nah kan! Apa gue bilang. Ini aneh Ndri! Lu gak peka banget sih!"


"Jangan terlalu keras sama Andri Rey!" Ucap Lily dengan lembut mengingatkan.


Reyza membuang napasnya lelah, "oke oke! Tapi gue tegasin sekali lagi ya, Please! Please guys, kita saling jaga! Ada manusia gila yang lagi ngincer kita bukan Andri aja!"


"Kita semua tahu," Lily menenangkan.


"Ya lu semua kalau udah sadar ini bahaya, pada buka mata dong! Kita kerjasama!"


Lily masih berusaha menenangkan temannya itu, ia berkata, "sekarang aku tanya, si penguntit itu terakhir dilihat Akbar kan? Gak ada lagi dia setelah itu."


Semua mengangguk.


"Terus apa artinya?" Reyza bertanya menukik.

__ADS_1


"Artinya, kamu Ndri... harus kasih tahu kita kapan gejala itu datang lagi. Karena kita bakalan pancing si penguntit itu."


Ide Lily lumayan. Reyza menyetujuinya. Ia kembali tersenyum, meski tipis. Akhirnya ada jalan untuk menangkap si penguntit.


***


Sejam dua jam sebelum tidur, Akbar dan Novis terbiasa melakukan ritual mereka masing-masing. Novis dengan buku dan headset di telinganya, sementara Akbar antara merokok, nongkrong, ngopi di warung Ibu Piah, atau bermain game. Malam itu Akbar memilih bermain game.


"Gue juga udah gak terlalu mikirin si penguntit itu lagi sih," ucap Akbar memecah keheningan.


"Baguslah. Gue jadi gak harus caper sama si Reyza lagi. Males gue deket sama anak songong itu."


Akbar terkekeh dan membalas, "sepakat."


Novis berseringai.


Salah satu yang membuat Akbar tidak suka Reyza adalah karena Novis. Akbar tipikal orang yang setia pada kawannya. Sementara Reyza memperlakukan Novis dengan tidak baik tanpa alasan jelas. Akbar benci itu. Akbar adalah orang yang tidak segan memberikan apapun untuk kawannya.


Apapun untuk teman. Siapapun yang berani melukai temannya, ia pasti melawannya. Reyza pikir siapa dirinya!? Sangat nekat mengusik teman Akbar. Di mata Akbar, Novis itu tiada salah. Hanya si Reyza kucrut itu saja yang kurang ajar.


Akbar... ayahnya yang seorang miliuner berkuasa saja ia ludahi, apalagi cuma si tengik Reyza. Intinya, Akbar selalu setia menjaga dua temannya (Novis dan Intan). Ia tidak akan suka Novis diperlukan seenak jidat oleh Reyza. Itulah salah satu yang membangun rasa tidak senang Akbar pada Reyza.


Novis masih menghabiskan waktu dengan belajar dan menghapal, suara musik terdengar keras dari headsetnya. Tetapi kemudian, musik berganti suara riuh. Grasak-grusuk memekik di telinga. Novis melempar headset itu, lalu sontak bangkit beranjak keluar.


"Bilang pengurus gue ke toilet sebentar," jawabnya dengan ekspresi dingin dan datar.


***


Semilir angin malam menusuk tulang membawa pesan dari arwah-arwah penasaran di sekolah. Reyza dan Andri tidak peduli, mereka menerobos angkernya suasana malam, dan melakukan suatu ritual konyol.


Reyza malu pada dirinya sendiri, bisa-bisanya dia mau melakukan hal seperti ini. Memediasi setan yang mengikuti Andri, mengundang mereka untuk mengisi tubuh Andri lagi.


"Gue bukan ahlinya, tapi gak ada salahnya kita coba," ucap Reyza.


Andri mengangguk, "ayo kita semangat tangkap si penguntit itu!!" Katanya dengan penuh semangat.


"Sekarang lu fokus, tarik napas...


Andri menarik napas dalam-dalam.


"Buang..."


Andri membuangnya.

__ADS_1


"Relax... santai... dan rasakan..." Reyza memberikan instruksi.


Dan Andri mematuhinya.


Anak muda yang naif. Mengapa mereka memilih waktu di malam hari. Andri bisa membuat geger dan membangunkan semua siswa di asrama kalau betulan kambuh. Reyza terlalu yakin pada dirinya sendiri, terlalu terburu-buru melangkah, terlalu percaya diri bisa mengatasi Andri yang kambuh dan si penguntit yang datang. Bodoh.


Andri belum merasakan apapun. Padahal sudah sekian menit berlalu. Ini percuma, Reyza pikir demikian. Apakah mereka lewati saja malam ini, dan coba di waktu lain, atau hanya tinggal menunggu saja datangnya.


Jika menunggu, kapan? Bahkan Andri tidak bisa memastikan dan tidak akan tahu.


Apakah ada pemicu yang mendatangkan 'mereka'?


"Apa yang buat lu kambuh biasanya Ndri?" Tanya Reyza.


"Gue juga gak tau Rey."


Itu terjadi begitu saja. Prosesnya cepat. Pertama, Andri akan mendengar telinganya bising penuh suara.


Dan tepat pada saat ini, tiba-tiba Andri menutup telinganya. Matanya terpejam, giginya bergemeretak, ia meringis.


Reyza terkejut heran, "Ndri?" Tanyanya khawatir dan memastikan.


Ah ternyata 'mereka' sungguhan datang. Apa sebenarnya yang memicu mereka datang.


Kemudian kini Andri meremas-remas kepalanya, nyeri... lalu Andri berteriak dengan suara tertahan di kerongkongan. Mata memerah, melelehkan rasa yang makin nyeri di kepala. "Reyza!!!" Keluh Andri. "Rey!!!" Ia meringis kesakitan.


Reyza mencoba membantu. Ia menahan tubuh Andri, jaga-jaga kalau Andri mengamuk.


Tetapi karena tak tahan sakit, Andri pun hilang kesadaran. Ia terlelap tidur seketika.


"Ndri?!" Reyza mengguncang tubuh Andri yang lemas. "Sadar Ndri!" Reyza terus mengguncang tubuh itu, sambil matanya menengok kanan kiri, mencari-cari sosok si penguntit.


Tidak ada.


'Dia' belum datang.


Reyza gemetar menahan ngeri.


***


ANDRI


__ADS_1


__ADS_2