
"Exorcism."
"Lu bercanda kan Ly?" Andri terkejut mendengar Lily akan nekat melakukan ritual itu padanya.
"Apa aku keliatan bercanda?" Lily tersenyum yakin.
"Gue mundur. Gue gak bisa ikut gila juga kayak kalian. Gue balik, gue perlu cek kabar Intan," ucap Akbar. Ia beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju pintu.
"Baik Bar. Intan cuma syok karena kejadian Novis. Gak lebih. Dia baik-baik saja," Lily memberi kabar.
Akbar berhenti dan berbalik, katanya, "tapi dia masih takut. Kalian urus Andri selagi gak ada kelas. Gue pergi. Tapi kalau soal si orang hitam dan kroninya itu, gue siap lakuin apapun."
Mereka biarkan Akbar berlalu. Kemudian kembali fokus pada Andri.
"Apa yang kamu maksud Exorcism? Pengusiran setan yang buat Andri bisa telekinesis, levitasi, nempel di tembok kayak cicak, jerit-jerit gak karuan, dapet tenaga lebih dari setan..."
Lily memotong, "enggak Rey! Bukan itu yang aku maksud."
"Terus?" Tanya Andri penasaran.
"Kita coba berkomunikasi dengan semua sosok di diri Andri."
"Gimana kalau Nara yang muncul?" Reyza ragu.
"Andri! Biar gimanapun, ini adalah tubuh kamu. Kamu nahkoda dari tubuhmu sendiri. Jadi kumohon, ini tergantung kamu Ndri! Jangan biarkan Nara keluar!" Pinta Lily sambil menatap lekat mata Andri.
"Okey shall we begin Ly?" Ajak Reyza.
Lily mengangguk.
Ruangan itu menjadi terasa sempit secara tiba-tiba. Udara yang tadinya sejuk berubah agak hangat. Benda-benda di sekitarnya diam saja. Tidak ada tanda hantu poltergeist yang iseng, dan Andri masih normal.
Namun, sederhana saja. Tanpa doa, tanpa bacaan mistis yang mengundang setan berkerumun, Lily dengan hanya memanggil nama Anton.
"Anton... ini Kak Lily! Kak Lily minta kamu keluar!"
Kemudian Andri menunduk, melihat ke kakinya. Saat ia mengangkat kepalanya lagi, yang ada di sana sudah bukan Andri, melainkan bocah cilik umur 10 tahun.
__ADS_1
Berkomunikasi dengan semua sosok dalam diri Andri adalah hal yang selalu diinginkan Lily. Tapi waktu terbatas, dan tidak mudah bagi Lily untuk mencuri waktu hanya dengan Andri saja tanpa teman dekatnya Reyza.
"Halo Kak Lily," Anton dengan wajah Andri tersenyum. "Kak Lily... di sini dingin," keluhnya.
"Apa kita perlu jalan-jalan di luar? Supaya kamu bisa lihat matahari juga?" Lily tersenyum.
Sementara Reyza masih menganga tak percaya.
Anton mengangguk penuh semangat, senyumnya lebar dan cerah.
Mereka keluar ruangan itu. Matahari terik, jam satu siang. Satu jam sebelum kelas selanjutnya. Ada beberapa waktu untuk menggali informasi dari Anton.
"Kenapa Kak Lily panggil Anton?" Tanya Anton, wajah Andri menjadi lucu dan menggemaskan.
Bahkan Lily tak tahan melihat ekspresi Andri yang seperti bocah. Lily tersipu, rasanya ingin mencubit pipi Andri. Tapi Lily dengan cepat kembali serius, "Kak Lily minta Anton cerita Nara. Boleh ya?" Senyum Lily manis.
Anton paling suka senyum Kak Lily. Tapi Anton menatap takut ketika ia melihat Reyza mengikuti mereka berdua. Anton sembunyi di balik tubuh Lily yang sebetulnya lebih kecil dari tubuhnya.
"Kak Lily... Anton gak bisa cerita di depan orang asing. Siapa itu?" Tanyanya sambil memegangi baju Lily erat-erat.
Lily mengeluarkan napasnya perlahan, terlalu lucu anak ini. Lily lembut berkata kepadanya, "Anton jangan khawatir. Teman Kak Lily teman Anton juga." Lily melihat Reyza, dan ia mengundang, "sini Rey! Kenalkan dirimu pada Anton."
Reyza tersenyum semanis mungkin, berharap agar Anton bisa menerima dirinya. Ia mengangkat tangannya mengatakan, "halo! Ini Kakak Reyza. Kakak juga baik kok seperti Kak Lily."
Anton mengintip dari balik Lily, kemudian ia dengan perlahan keluar dari sana. Ia bertanya gugup, "Kakak bukan pacarnya Kak Lily kan?"
Reyza dan Lily tertawa dan secara berbarengan menggeleng. Mereka juga berkata bersama-sama, "bukan. Kami teman."
Anton merasa lega, dan katanya, "Kak Lily itu punyaku. Kalau Kakak mau jadi pacarnya Kak Lily, harus lewati aku dulu!" Ancamnya lucu dengan mulut manyun-manyun.
Reyza tertawa kecil, "baik dek Anton." Katanya.
"Jadi sekarang, Anton bisa ceritakan Nara? Oh ya jangan sampai Kak Nara ngintip loh kalau sekarang Anton lagi sama Kak Lily dan Kak Reyza. Anton juga jangan kasih tahu ini yaa," Lily menutup mulutnya, kemudian seolah ia mengunci mulut itu dengan tangannya, dan membuang kunci imajinasi.
Anton paham. Ia mengangguk tegas. "Siap Kak Lily!" Jawabnya.
Sulitnya berkomunikasi dengan bocah cilik. Seorang bocah tidak cepat tanggap, sekali lagi Lily harus bertanya, "bagaimana Nara?"
__ADS_1
Tujuan Lily adalah menemukan sisi lemah Nara dengan mengenali dan menganalisis pribadi itu. Semua untuk antisipasi dan rencana kedua, ketika rencana mengusir Nara dari tubuh Andri gagal. Pertarungan selalu dimenangkan ketika kita mengenali lawan dengan baik.
Anton menjawab ragu dengan diiringi rasa takut pada suaranya, persis seperti dugaan Lily, Nara bukan sosok yang baik, terbukti Anton seperti ketakutan lebih dari melihat setan, begini jelas Anton, "Kak Nara itu yang jagain kita. Dia yang atur semuanya. Kapan kita bisa keluar, itu Kak Nara yang kasih tahu. Anton anak nakal. Anton paling suka kabur dan keluar tanpa sepengetahuan Kak Nara."
Lily terbengong. Reyza apalagi. Reyza berbisik pelan pada Lily, "kamu tanya kenapa dia nempel di Andri coba Ly!"
Tidak. Lily berbeda pilihan dari Reyza. Agendanya bersama Anton, ia niatkan hanya untuk mengulik bagaimana sosok Nara. Lily berkata, "aku sudah sering coba tanya itu. Tapi Anton sendiri gak tahu. Dia masih kecil Rey, dia gak tahu banyak hal, kecuali Nara."
"Kak Reyza boleh tanya Anton?" Ucap Reyza dengan lembut.
Anton mengangguk polos.
Lily memegangi tangan Reyza, ia memberi tanda, jangan.
Reyza bersikukuh, ia tetap ingin tahu, "bagaimana kondisi Kak Andri di dalam? Anton pernah bertemu Kak Andri?"
Anton menggeleng. Lily menatap sinis pada Reyza. Lily lupa memberitahu Reyza kalau, para sosok itu tak suka Andri. Atau setidaknya, Nara membenci Andri dan mengajak semua sosok juga membencinya.
"Kami dilarang menyebut nama inang kami," ucap Anton menjelaskan alakadarnya.
"Kenapa?"
"Kak Nara," Anton menatap sedih. "Anton pergi Kak. Anton takut Kak Nara tahu kalau Anton gak ada."
"Sebelum pergi, Kak Lily ingin bertemu Hazan, boleh?" Lily meminta.
Anton tersenyum dan menjawab, "Apa yang enggak buat Kak Lily. Anton akan bantu supaya Kak Hazan bisa keluar."
Lily merasa lega. Ia tinggal perlu menunggu Anton berganti Hazan.
Kemudian, tubuh Andri ambruk menabrak lantai. Ia pingsan tak sadarkan diri.
"Cukup Ly! Jangan paksa Andri," tegas Reyza.
Lily mengiyakan. Mereka membopong tubuh Andri ke UKS. Mungkin esok, ia akan bertemu Hazan.
***
__ADS_1
Haloo, kenalkan ini ANTON 😁