
Wajah putih Novis merah padam, ia masih kesal pada si senior itu. Ia tidak ingin orang lain mengabaikannya. Ia sedang bicara pada si senior, tapi kenapa bisa si senior malah menggali informasi tentang Akbar melalui dirinya. Senior itu tidak sadar betapa spesialnya Novis. Senior lupa siapa Novis!?
Novis mengumpat tidak karuan, melampiaskan kekesalannya, berjalan terburu-buru ke suatu gedung terbengkalai di sekolah.
BUGGG!!!
Ia jotoskan tangannya ke dinding yang keras. Beruntung tangan itu tidak babak belur. Novis juga menjerit seperti orang gila.
Siapa pun yang melihatnya pasti akan jijik dan mengira Novis menjadi gila.
Tidak ada seorangpun yang tahu, kalau itu adalah ritualnya. Menyelinap ke gedung tua yang berpenghuni demit dan setan, kemudian melampiaskan semua nafsu amarah.
Novis berteriak lagi, dan meracau tidak jelas, terdengar ia sedang menyebut-nyebut nama Akbar.
"Aaaaaakhhhhh!!! Akbar! Akbar! Akbar!"
Kenapa Akbar?
Gue mau deket sama lu juga biar gue keliatan makin baik depan banyak orang. Biar orang nganggep gue gak pilih-pilih temen, gue baik, gue temenan sama siapa aja, bahkan sama lu yang kayak sampah ****!
Woah!! Itu ucap Novis dalam hatinya?
Novis menenangkan dirinya sendiri, ia menghela napas lalu membuangnya perlahan. Ia lakukan itu berkali-kali sambil berkata, "tenang Vis... tenang. Santai... kalem... everything will be fine. Akbar cuma sampah."
Tapi gagal.
Novis berteriak lagi tidak karuan, dan BUG!!! Ia melukai tangannya lagi dengan memukulkannya pada dinding yang berlumut. Ia rasakan kenikmatan setelah nafsu marahnya diluapkan. Ia tersenyum lebar, berseringai pada dirinya sendiri, kemudian terkekeh mengerikan.
"Akbar cuma sampah. Gak ada satu orangpun yang bisa...
BUGG!! Satu pukulan didaratkan.
"Ngalahin...
BUGG!!! Dua pukulan lagi didaratkan.
"GUEEE!!!"
BUGGG!!!! Tiga pukulan. Pukulan dan teriakan terakhir yang paling keras.
Obsesi untuk menjadi nomor satu, menjadi si tuan sempurna, tampak telah menjadi ular hitam yang menggerogoti mental dan hati Novis. Ia rela mengkhianati Akbar yang selama ini ia temani hanya karena alasan sepele.
Akbar menandingi prestasinya. Akbar mencuri perhatian orang lain darinya.
Itulah yang membuat Novis kesal.
Setelah cukup tenang, Novis kembali normal dengan senyum seringai. Ia keluar dari gedung itu, kemudian kembali beraktivitas sebagai Novis yang baik dan rendah hati.
Dengan munafiknya, ia menegur Akbar yang kebetulan lewat di depannya. Tampangnya ceria seperti tidak terjadi apapun padanya.
__ADS_1
"Bro! Tadi gue udah tanya-tanya senior, tapi katanya mereka gak tahu apa-apa tuh," ucap Novis santai.
"Oh ya udah," Akbar menjawab singkat.
Novis kecut. Ia merasa Akbar seperti tidak peduli kalau ia sudah mencoba membantu masalahnya. Tapi Novis selalu berhasil menyembunyikan kekesalan hatinya dari orang lain. Ia tetap tersenyum dan berkata pada Akbar, "gue bisa ketemu Andri ya bro. Gue pengen tahu lebih jelas gimana sosok itu."
Akbar mengangguk dan menjawab singkat, "ya terserah."
Novis makin kecut. Ia terus menenangkan dirinya agar emosi itu tidak meluap.
***
Jam kosong, Novis memerhatikan Andri yang sedang asik dengan Reyza dan Lily. Pemandangan yang merusak matanya. Lily miliknya kenapa harus bercanda-canda seperti itu dengan dua kucrut yang gak tahu diri. Tapi karena sudah terlanjur terlibat dengan masalah Akbar dan Reyza cs, Novis memaksakan dirinya menahan rasa muaknya, dan bergabung dengan perkumpulan Andri, Reyza dan Lily itu.
"Hai!" Novis menyapa ceria.
Andri yang ramah dan murah senyum menyahut sapaan Novis dan mengajaknya duduk bersama mereka. "Sini bang! Wahh tumben banget Abang Novis datengin kita," Andri tersenyum lebar lagi.
Di mata Andri, Novis adalah sosok senior yang patut menjadi panutan. Ia mengagumi Novis seperti sebagian besar murid di sekolah ini. "Rey! Bang Novis nih... lu senyum dikit kek," ucap Andri lagi. Andri agak canggung dan berdebar karena ingin tahu ada urusan apa Novis menghampiri mereka.
Dengan kalemnya Novis menanggapi Andri, "hehe... santai aja Ndri. Aku kesini buat ngobrol sama kamu kok."
Andri sedikit terkejut, ia semakin girang, "wahhh... yang bener bang?"
Novis mengangguk.
"Oh ya?" Lily terkejut. "Siapa yang cerita ke Bang Novis?"
"Akbar, siapa lagi," jawab Reyza sinis. Reyza masih saja sinis dan terlihat tidak senang dengan keberadaan dan intervensi Novis.
"Reyza! yang sopan dikit lah sama senior kayak Bang Novis," gerutu Andri.
Reyza tidak menurut, ia tetap saja sinis dengan tatap mata tajam menyelidik ke Novis.
"Jangan peduli si Reyza bang. Cuekin aja dia. Sini bang duduk!" Dengan ramah dan girangnya Andri menyambut Novis.
Novis membalas keramahan itu dengan tingkahnya yang sopan. "Jadi orang itu kayak apaan sih Ndri?" Tanya Novis kembali ke topik.
"Hmmm... Tingginya sih kayaknya rata-rata aja. Aku cuma liat dia sekelebat gitu sih bang. Ya kayak orang lewat aja gitu."
"Ciri-cirinya sama sekali lu gak tau?" Reyza bertanya.
Andri mengiyakan.
"Kalau soal ciri, Akbar kayaknya lebih tahu," ucap Lily menambahkan.
"Oh ya? Kayak apa?" Novis bertanya.
Kemudian Lily menjawabnya, "Tinggi rata-rata, kulit putih pucat, dan..."
__ADS_1
"Wait!" Reyza memotong. "Dari mana lu tau Ly? Akbar gak pernah cerita gitu ke kita."
Lily terdiam, juga Andri dan Novis.
Lily menjawab gelagapan, ia sadar ia keceplosan. Ia lupa ada Reyza yang peka dengan sesuatu yang janggal. "Oh itu... aku asal sebut, hehe..." jawab Lily kikuk.
"Ah gak percaya gue. Mana ada lu salah sebut," Reyza tidak langsung percaya.
Andri polos terpaku, lalu ia berkata, "oh iyaaa! Si Lily bener Rey. Orang itu kulitnya pucat banget kayak mayat, dia putih sih!" Andri menambahkan seperti orang yang baru mengingat sesuatu.
"Ye! Baru inget sekarang lu!"
"Sorry Rey," Andri tersenyum seperti anak kecil pada Reyza.
Reyza masih belum mendapat jawaban benar dari Lily. Jelas Lily sedang menyembunyikan sesuatu, dan Reyza tahu itu. Tapi tidak sekarang. Jangan sekarang ia membahasnya. Jangan saat ada Novis.
"Kira-kira, dia orang dewasa atau orang yang seumuran kita?" Tanya Novis lagi.
Andri kembali mengingat-ingat. Kilasan memori si orang hitam timbul hilang di kepalanya. Semakin dalam, Andri mengingat dan bulu kuduknya berdiri. Ia merasa merinding pada sosok itu, dan baru menyadari kalau selama ini ia diikuti oleh sesosok orang asing yang menyeramkan seperti hantu. Andri mengusap kuduknya, salah tingkah, lalu berkata, "kayaknya aku inget deh!" Ucapnya.
Reyza menatap tajam Andri.
"Ingat apa Ndri?" Lily bertanya.
"Orang itu bermuka rata."
Semuanya merinding. Angin semilir berhembus dingin, seperti meniupkan ketakutan di antara mereka. Membuat kuduk semakin berdiri.
Reyza tertawa kaku, "yang bener dong Ndri! Jangan bikin takut nih!"
Andri meyakinkan, "iya aku serius! Orang itu gak punya hidung, mulut, cuma ada mata serem yang keliatan."
"Tapi kenapa lu baru inget tadi!!" Reyza mengomeli Andri lagi.
Andri dengan wajahnya polos tanpa dosa hanya mengucap maaf pada Reyza.
"Bikin khawatir gue aja lu!" Ucap Reyza.
***
Haloo guyss... Author kasih foto Reyza nih
Sama foto Lily 😁😁
Gimana guysss?? Mereka cocok kaann.. 😁😁
__ADS_1