SCHOOL OF LOST SOULS

SCHOOL OF LOST SOULS
The Mastermind


__ADS_3

Reyza dan Akbar berpencar mencari Andri dan Novis. Seluruh asrama sudah mereka sambangi. Kemana lagi? Napas keduanya nyaris habis. Mereka kelelahan. Mereka bertemu di warung kopi Ibu Piah, mengambil napas dan beristirahat sejenak.


"Gue gak ngerti kemana mereka pergi!" keluh Akbar.


Reyza diam saja. Ia masih terengah-engah. Setelah segelas kopi sudah habis, terlihat dari gelapnya malam tubuh Andri yang menghampiri. Itu mungkin tubuh Andri, tapi Reyza tidak yakin siapa yang di dalam. Reyza mundur ke belakang Akbar.


"Apaan sih Rey! Itu Andri beg*!" Akbar tak nyaman Reyza bersembunyi di baliknya.


Reyza berbisik pelan, "itu bisa aja sosok yang ngangkat lu tadi siang."


Akbar menghindar.


"Takut juga kan lu!" Ejek Reyza.


"Gue gak takut!" Akbar pura-pura berani memasang dirinya di depan.


Andri tersenyum, "ini gue Nara Rey."


"Nara?" tanya Akbar.


Reyza memberi tanda pada Akbar, mencubitnya sedikit, dan Akbar paham maksud Reyza.


"Oh jadi lu setan dari mana?" dengan polosnya Akbar bertanya.


Nara tertawa. "Kalian lucu! Masih aja ngira gue setan!"


Akbar menggaruk kepalanya, ia berkata dalam hati, terus apa kalo bukan setan?!


"Ikut gue. Yang kalian kejar sudah ada di gedung," ajak Nara.


Reyza dan Akbar membuntuti Nara/ Andri di belakang.


***


Di gedung itu, ada Novis yang sudah tidak berdaya. Akbar berlari menghampiri. "Lu apain temen gue!"


Nara mendengus, "Lu anggap tikus ini teman?! Lucu sekali!" ia berseringai.


"Apa maksud lu setan!" Akbar naik pitam.


Reyza menengahi. "Gak sekarang Bar! Bisa aja dia masih bukan Novis kan!"


Akbar diam.


Reyza mengangkat dagu Novis, lalu membentaknya. "Siapa lu! Jawab gue! Siapa nama lu!"


Novis meludahinya. "Novis! Ini gue Novis! Tolong gue Bar! Ini temen lu Novis! Lepasin gue!"


Akbar terenyuh, ia tak tega melihat temannya diikat seperti itu. "Stop! Temen gue udah kembali."


Nara menghentikan Akbar. Ia memegangi tubuh Akbar yang berontak ingin melepaskan ikatan Novis. "Dia memang Novis! Sejak awal dia selalu Novis!" ucap Nara berbisik.

__ADS_1


"Apa maksud lu setan!!" Akbar masih kasar. Ia berusaha terlepas dari cengkeraman tangan Nara.


"Gue kayaknya paham maksud Nara," kata Reyza. "Sekarang gue tanya lu, siapa yang bawa dan ngikat lu di gedung ini Bar? Novis? Novis tidak pernah kerasukan Bar! Sejak awal Novis teman yang lu banggain itu memang gila!"


"Brengs*k lu semua. Lepasin gue! Gue kenal Novis! Itu temen gue!" Akbar meronta-ronta.


Nara nyaris kehabisan tenaga. Ia lalu meminta Reyza untuk melakukan apapun yang diinginkan Reyza kepada Novis.


Reyza mengangguk.


Kini Reyza menghantam Novis dengan jotos yang kuat.


Akbar mengamuk, meneriaki Reyza dengan kasarnya. Ia masih meronta dalam genggaman tangan Nara yang kokoh. "Lepas! Lepasin gue! Lu mau apain temen gue!"


Reyza tetap fokus pada Novis. "Vis! Lu harus jujur ke gue. Lu jujur, masalah selesai. Lu itu sebenarnya siapa? Kenapa lu sekap Akbar di sini?" tanya Reyza menelisik.


"Dia kerasukan orang hitam Rey!" terus teriak Akbar. "Temen gue dirasuki orang hitam!" suara Akbar mulai pelan, mungkin lelah memberontak.


Reyza tersenyum, "Jadi selama ini lu orang hitam itu."


Novis melototi Reyza. Meludahinya. Ia tetap bungkam tidak bersuara.


"Sekarang lu harus kasih tahu gue semuanya, gue bakal lepas lu."


Novis tetap menutup rapat mulutnya. Ia tidak bergeming.


Reyza menampar Novis. Akbar berteriak histeris tak terima.


Novis terkekeh. "Lu gak akan berani!"


Tak tahan, Reyza akhirnya mengambil satu benda logam yang ada di ruangan itu. Perlahan, ia mencabut kuku Novis.


Akbar terlepas dari genggaman Nara, ia melompat dan menghantamkan tinjunya. "Lu udah gila Rey! Lu kelewatan!" makinya.


Reyza meludahkan darah di mulutnya. Sementara Novis tertawa-tawa gila. "Ironi! Ironi yang menghibur!" ucap Novis yang terlihat tidak waras.


"Lu lihat Bar! Ini sifat asli temen lu!" kata Reyza.


Akbar melirik Novis dengan matanya yang memerah menahan air mata.


Novis berkata pada Akbar dengan gamblangnya, "dari awal gue benci elu Bar! Gue gak pernah anggap lu temen! Gue deketin lu karena gue suka sama harta, status sosial dan keluarga lu! Sekolah ini penuh sampah! Setan semuanya! Gue benci lu Bar! Gue benci lu yang gak perlu susah payah sudah jadi selebriti sekolah! Gue benci Reyza! Gue benci si munafik Lily! Gue benci semuanya!" Novis menangis gila.


Akbar lunglai. Ia tidak percaya yang dikatakan Novis. Tubuhnya menjadi lemas, tidak tahan dengan ucapan yang keluar dari mulut Novis.


Reyza tetap fokus pada apa yang dicarinya. "Jadi siapa yang nyuruh lu buat buntuti Andri dan ngikutin gue, Akbar, Intan, Lily? SIAPA!!"


Novis melirik Akbar, menatap anak yang malang itu dengan tajam.


"Gue tanya siapa?!" Reyza memukul wajah Novis lagi.


"Cukup Rey!" ucap Nara. "Dia sudah berikan jawabannya."

__ADS_1


Reyza berhenti. Tatap mata Reyza masih seperti serigala buas, ia ingin informasi sebanyak-banyaknya. Tapi karena Nara berkata begitu, ia menahan dirinya. Ia percaya Nara.


Reyza membantu Akbar berdiri dan membawa Akbar keluar dari gedung itu. Nara masih terdiam.


***


Akbar menginap di kamar Andri dan Reyza. Akbar masih terguncang mendengar pengakuan Novis. Ia diam saja sambil masih bisa merokok.


"Dari awal gue gak suka dia," kata Reyza dengan tenang. "Dia anak paling munafik yang pernah gue temui."


Akbar menanggapi dengan lemas. "Dari mana lu bisa tahu?"


"Mungkin gue punya kelebihan," Reyza nyengir menyebalkan.


Akbar tidak peduli, ia justru tiba-tiba khawatir pada Andri dan bertanya di mana anak itu.


Reyza menjawab, "ada Nara. Dia pasti balik baik-baik aja."


***


Lily menitipkan dan percayakan semuanya pada Reyza dan Akbar. CCTV di gedung itu ia aktifkan. Lily bisa menyaksikan semua yang terjadi. Ia tahu sosok di balik Novis. Ia dapatkan yang ia incar. Belum pasti, masih kemungkinan. Tapi sudah lumayan.


Yang perlu dibereskan sekarang adalah, bagaimana cara menghapus jejak kejadian malam ini. Lily masih anak SMA, dia tidak berpengalaman menghapus jejak kriminal, jejak penganiayaan, apalagi pembunuhan. Harus ia apakan Novis.


Lily menengok jam di tangannya, sudah sangat larut. Ia harus tidur atau besok menjadi zombie butuh tidur. Ia yakin Reyza akan heboh menceritakan kejadian malam ini.


Di layar kaca CCTV Lily, Nara menatap dengan sorot mata dingin. Senyumnya mengerikan.


Nara memasangkan sarung tangan, kemudian ia meraih pisau. Ia mencengkram wajah Novis, dengan paksa membuka mulutnya Novis. Nara mengeluarkan lidah Novis, lalu memotong lidah itu perlahan.


Novis mengisak, ia meronta memberontak, bergerak sekuat tenaga agar terlepas dari cengkeraman Novis. Tapi tak kuasa. Lidah Novis putus di tangan Nara.


"Gue tahu lidah ini adalah kekuatan lu kan? Skill komunikasi lu bagus. Tapi lu harus tahu, kekuatan dan kelebihan lu adalah kelemahan lu juga. Gue tinggal rampas kelemahan itu." ucap Nara pada Novis.


Air mata mengucur, Novis bergidik dan terus meronta menahan nyeri dan perih.


***


NARA pake bajunya ANDRI nih Guys 😁



Hallo guysss....


Ayo cus ke Novel DI BALIK KEMATIAN.


Nanti ketemu Lily, Reyza dkk di sana. Kita bakal maen sama Beny, Reno cs 😆


DI BALIK KEMATIAN juga adain sayembara cover loh.... 🎉💥


Total hadiah sampai jutaan 😍

__ADS_1


Ayo ramaikan! Jangan sampai ketinggalan 😆


__ADS_2