
Reyza adalah anak tunggal dari keluarga konglomerat Prasetyo. Kekayaan yang besar, hingga memasukkan Prasetyo ke dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes.
Lulus SMA, Reyza diwajibkan sekolah ke luar negeri, jurusan Manajemen-Ekonomi Bisnis, tidak lain dipersiapkan untuk membesarkan bisnis Prasetyo.
Perusahaan ayah Reyza adalah perusahaan holding yang membawahi lebih dari 13 anak perusahaan yang bergerak di berbagai macam industri. Minyak, properti, infrastruktur, forex, perkebunan (sawit), tambang, finansial (asuransi, e-money, credit scoring, dan lainnya), baja, unggas, energi, dan lain-lain. Memperkerjakan lebih dari 30.000 karyawan, dan 35 pabrik tersebar di seluruh Indonesia. Pendapatan 2 miliar dollar per tahun dan 50% produk diekspor ke luar negeri.
Banyak orang yang tidak tahu mengenai pewaris pendiri dari Prasetyo Group, yakni Reyza yang kelak akan berposisi sebagai Direktur Utama Prasetyo Group.
Orangtua Reyza menikah di usia tua, mereka baru memiliki Reyza di umur 40 tahun, dan kini ayah dan ibu Reyza sudah berusia tidak kurang dari setengah abad. Beberapa tahun ke depan, mau tidak mau Reyza harus ambil alih, setidaknya Reyza harus belajar menjadi bagian dari direksi Prasetyo Group.
Akses keluar untuk Reyza memang terbatas. Sedari kecil, Reyza dikurung di salah satu rumah mewah milik Prasetyo. Itulah mengapa, selain keluarga, pengasuh dan pelayannya, tidak ada lagi yang mengenali Reyza sebagai anak dari pendiri perusahaan holding raksasa.
Sejak dari sekolah usia dini, Reyza rencananya akan di-homeschooling-kan. Tapi Reyza menolak dengan alasan klise, karena ia juga ingin punya teman. Tidak mungkin jika Reyza harus bersosialisasi dengan para pengasuh dan pelayan di rumahnya saja. Reyza tidak dekat dengan kedua orangtuanya. Bagaimana bisa dekat, ia tinggal terpisah dengan orangtuanya, dan orangtuanya selalu sibuk mengelola bisnis keluarga. Malang memang.
Kemudian dari mana Reyza mengenal Akbar. Bagaimana keduanya berakhir di sekolah asrama bersama.
Tidak jauh berbeda dari Reyza, ayah Akbar adalah mitra terdekat dari ayah Reyza. Mereka partner bisnis. Tidak akan ada Prasetyo Group tanpa peran ayah Akbar. Mereka membangun kerajaan bisnis bersama-sama, meski ayah Reyza tetap merupakan pencetus utama.
Kelak Akbar pun akan menggantikan posisi ayahnya sebagai salah satu Direksi di Prasetyo Group.
Di umur 6 tahun, Reyza dan Akbar bertemu untuk pertama kalinya, berteman, kemudian bersahabat dekat. Keduanya disekolahkan di SD dan SMP yang sama.
Dari mana persahabatan Akbar dan Reyza merenggang?
Cerita tidak terlepas dari realitas silver spoon yang melekat pada karakter Akbar dan Reyza.
***
Ayah Akbar, Tuan Musa, tentu saja merupakan sosok yang karismatik. Meski sangat sukses, ayah Tuan Musa (kakek Akbar) hanyalah seorang guru agama namun ibunya bergelar 'ratu' dari Banten (artinya keturunan bangsawan Banten). Masa muda Tuan Musa dihabiskan dengan gaya hidup sederhana, ditopang hanya dengan gaji guru PNS dari ayahnya.
Untuk makan sulit, rumah rapuh bocor sana sini, untuk jajan seperti anak lainnya, Tuan Musa harus rela berjualan apapun yang bisa ia jual.
Beruntungnya, Tuan Musa dianugerahi otak yang cemerlang, tidak bermodal, tapi ia sanggup bermitra dengan Prasetyo yang sudah kaya sejak lahir.
Mereka berkenalan sewaktu SMA. Bertemu secara tidak sengaja, kemudian mengobrol ngalor-ngidul dan bermimpi bersama untuk mendirikan bisnis kecil berbasis pertanian.
Itu awalnya, hanya berencana menjalankan usaha kecil pertanian, dan perkebunan.
***
__ADS_1
Temperamen Akbar yang buruk terlahir dari Tuan Musa itu sendiri. Karena khawatir Akbar tidak akan mampu menjadi anak yang baik, dan meneruskan usaha yang telah ia bangun dari keringat dan darah, Tuan Musa seringkali bertindak tidak masuk di akal.
Saat kecil, Akbar disanjung dan dimanja. Tuan Musa amat bahagia memiliki seorang anak laki-laki yang nantinya bisa ia andalkan sebagai penerusnya. Akbar dihormati, disanjung-sanjung, disayang-sayang, dan dimanja tidak hanya oleh orangtuanya, tetapi juga oleh seluruh karyawan yang bekerja di kerajaan bisnis ayahnya.
Apapun yang Akbar minta, pasti akan segera dipenuhi dan diberikan oleh Tuan Musa, apapun, mainan mahal, game, hingga mobil dan rumah kecil yang mewah terkhusus untuk Akbar. Segitu sayangnya Tuan Musa, hingga ia lupa akan akibat dari memanjakan seorang anak. Akbar menjadi anak yang tidak tahan diperlakukan keras. Menjadi lembek. Sekali dibentak, langsung jatuh mental.
Akbar dan Reyza bersekolah di sekolah yang sama, berstandar internasional dengan teman-teman yang juga kaya.
Akbar tidak bisa menerima kekerasan sedikitpun, bahkan ketika Akbar tertinggal dan tidak mampu memahami mata pelajaran, ia akan murung seketika.
Berbanding terbalik dengan Reyza, seorang anak yang sedari kecil tidak memperoleh kasih sayang dari orangtuanya yang sibuk bekerja, Reyza yang selalu diasuh oleh pengasuh dan berteman dengan pelayan di rumahnya. Mental Reyza terlatih dalam hal tidak menerima kasih sayang atau sesuatu yang ia inginkan. Reyza terlatih merelakan yang ia inginkan.
Akbar tidak.
Akbar merengek ketika ia tidak mendapatkan semua yang ia inginkan.
Kasih sayang guru, perhatian dan kepedulian dari temannya, rasa hormat, sensasi disegani, diperlukan bak seorang raja, ituu hilang perlahan seiring Akbar beranjak dewasa.
Biar bagaimanapun Akbar harus beradaptasi dengan hidup baru.
Tapi anak itu tidak bisa.
Ayahnya kecewa luar biasa. Temperamen Tuan Musa yang kasar dan keras, ia luapkan pada tubuh Akbar yang masih kecil.
Akbar dianiaya. Dipukul di sekujur tubuh, hingga nyaris mati.
Akbar juga diusir, diancam akan dihapus namanya di kartu keluarga.
Tuan Musa terlalu kecewa. Jantungnya meletup-letup tidak terima anak semata wayangnya, anak yang ia sanjung-sanjung dan sangat disayang, anak yang ia tunggu akan menjadi pengganti dirinya, rusak.
Tuan Musa tidak terima anak itu. Hatinya hancur dan sakit berkeping-keping. Air mata meleleh menangisi Akbar, merengek, memohon-mohon pada Akbar dan pada Tuhan agar Akbar menjadi anak yang baik dan pintar.
Tapi apa yang Tuan Musa dapatkan?
Akbar berubah buas. Semakin buas, lebih buas dari Tuan Musa itu sendiri.
Akbar berontak. Ia menjadi orang yang sulit dikontrol. Orang yang tidak mungkin dikendalikan oleh Tuan Musa.
Akbar dendam, dan bersumpah bahwa Tuan Musa bukanlah ayahnya. Ia meludahi Tuan Musa di depan mata kepala Tuan Musa itu sendiri.
__ADS_1
Begitulah, begitu cerita Akbar akhirnya kini berada di asrama. Ia dikawal ketat oleh orang di sekitar asrama, yang tidak lain adalah orangnya Tuan Musa.
Sekolah Asrama Akbar dan Reyza itu dibiayai oleh Prasetyo dan Tuan Musa, dan dipimpin/dikelola oleh paman Lily.
***
Selama masa badungnya Akbar, salah paham, silang pendapat, dan saling jotos antara Akbar dan Reyza menjadi tidak terhindarkan.
Bukan hanya Tuan Musa yang kehilangan anaknya, melainkan Reyza juga telah kehilangan sosok teman kecilnya.
***
Siang itu, setelah pelajaran selesai dan waktunya ISHOMA, Intan mendatangi bangku Reyza, dan bertanya, "kalian kenapa ribut terus sih? Gak pernah akur?"
Reyza diam, tidak peduli pertanyaan Intan.
Intan menggebrak meja dan bertanya lebih keras, "lu kalo gue tanya jawab dong! Jangan diem aja!"
Reyza sebetulnya tidak tahan dengan perilaku Intan. Seorang gadis, tapi kasarnya mirip dengan Akbar. Reyza menjawab jengkel, "apa urusan lu?"
Intan terpancing emosi, ia melempar handphone-nya ke hadapan Reyza, "lu liat rekaman di sana. Semalam ada orang misterius yang buntuti kita di bawah!"
Reyza keheranan, ia segera membuka Hp Intan, dan menyaksikan dengan mata terbelalak rekaman CCTV. Di sana ia melihat, benar ada orang mencurigakan yang tampaknya sedang memerhatikan mereka saat rapat.
"Itu kenapa Akbar lari. Akbar mengejar orang itu," jelas Intan.
"Terus?" Tanya Reyza masih terpaku pada rekaman.
"Akbar hilang jejak dan gak sempet liat muka orang itu."
Reyza menghela napas, "maafin gue Bar!" Ucapnya pada Akbar.
Akbar hanya memutar bola matanya, tidak peduli.
***
Tebak siapa ini? Ini bukan Lily loh. Ini INTAN ;)
__ADS_1