
Lily terus saja menunjukkan hal yang janggal, tetapi tidak ada seorangpun yang menyadarinya. Hanya Reyza, yang saat itu Lily mendadak datang berkata 'aku takut'. Namun hanya sampai di situ, Lily tidak lagi menunjukkan gelagat janggal, dan Reyza tidak lagi curiga padanya.
Sebetulnya, kalau saja Andri sadar, ia adalah satu-satunya orang yang terus menemui kejanggalan pada Lily.
Ketika semua mata tertuju pada Lily, dan meminta bantuan Lily, Lily sedikit terkejut dan terdiam sejenak.
Tidak banyak yang mereka pinta, cukup Lily melapor si penguntit pada pamannya. Tidak sulit dan sederhana saja. Setelah itu masalah beres, biar paman Lily yang mengurusnya.
Tapi mengejutkan, Lily menjawab pinta mereka dengan berkata, "guys... sebelumnya aku minta maaf. Tapi itu gak bisa aku lakuin. Gimana kalo kita minta bantuan pengurus aja dulu?"
"Alasannya apa emang Ly?" Intan bersikukuh. Karena cuma itu jalan yang paling efektif.
"Aduh gimana ya..." Lily tampak kebingungan.
"Pengurus itu cuma murid Ly. Sama kayak kita. Kita gak mungkin mengandalkan mereka untuk urusan kayak gini," Reyza meyakinkan.
"Ya maksudku, mungkin saja orang itu murid juga. Iya kan? Karena gimana bisa orang itu ada di setiap kali Andri 'kambuh'," Lily lebih keras meyakinkan mereka. Ia melirik Andri sebentar, seolah berkata maaf karena telah berkata 'kambuh'. Kata itu seolah menandakan Andri telah benar-benar memiliki penyakit.
"Apa kamu bisa mengira-ngira berapa kali orang itu datang?" Tanya Lily.
Andri mencoba mengingat-ingat dengan mengalihkan bola matanya ke kanan atas. Lalu ia menjawab, "hmmmm... kira-kira sekitar 5 sampai 6 kali."
Reyza terkejut, "serius Ndri? Sorry to say, jadi kamu sudah 6 kali 'kerasukan' tanpa sepengetahuan gue? Gue baru liat lu sekali loh Ndri!"
"Hus... Reyza! Jangan sembarang ngomong. Kita kan gak tahu Andri kerasukan atau apa," tegur Intan.
"Kalo bukan kerasukan apa lagi? Gila!?" Ucap Akbar kasar.
Intan sebal. Akbar memang tidak bisa menjaga mulutnya barang sehari saja.
"Maaf Intaaan... aku kunci nih mulutku," kata Akbar manja sambil seolah mengunci mulutnya dengan tangannya.
Intan makin sebal.
"Serius, serius! Balik lagi ke topik, jadi Ly... lu tetep gak bisa ke paman lu?" Tanya Reyza.
Dengan berat hati Lily berkata, "gak bisa Rey."
"Boleh gue tau alasan lu?" Reyza heran, padahal ini cuma permintaan simpel gak berat.
"Itu..."
Mereka menunggu jawaban Lily dengan mata menyelidik.
__ADS_1
"Itu, karena gue cuma gak mau ayah jadi terlalu berlebihan nanggepin ini, hehe..." Lily berbohong. Itu alasan palsu.
Semua menghela napas. Mau bagaimana lagi, Lily sudah menolak, dan mereka tetap tidak bisa memaksa Lily.
"Kalo sekitar 5 sampai 6 kali Andri melihat sosok itu, bukannya itu berarti sosok itu sudah sering ada di asrama ini. Bisa saja dia murid juga?" Lily tersenyum tipis mencoba menebus kesalahannya karena sudah menolak pinta mereka.
"Sekarang justru makin bahaya," ucap Reyza dengan wajah muram. "Karena pertama dia ngikutin Andri udah lama, terus kita juga, dan kedua dia bisa aja ada di mana-mana di sekitar kita."
"Gue paham. Gue pasti pasang mata gue buat ngejar orang itu," Akbar menambahkan.
"Gue heran sama Lu Ndri. Sudah sesering itu lu diikuti orang aneh, dan lu tetep gak sadar juga!?" Ucap Intan dengan intonasinya yang agak marah.
Andri merasa bodoh. Ia tertunduk lesu, dan rela dianggap bodoh juga oleh teman-temannya itu.
"Ya sudah... kita terlanjur nyebur. Kita gak tahu motif orang itu, kita gak tahu apa tujuannya dan siapa saja targetnya. Yang jelas mulai dari sekarang kita harus saling jaga."
"Iya Rey," jawab Lily.
Dan semua mengangguk turut menjawab, termasuk Akbar.
***
Novis, senior satu tingkat, primadona para siswi. Atletis, pintar, aktif ikut lomba, dan sudah barang tentu ia tampan dan populer. Ia juga disinyalir akan menjadi ketua pengurus selanjutnya. Ia dekat dengan para pengurus dan guru-guru.
Meski Novis tidak memiliki latar belakang keluarga yang mewah seperti Reyza, Akbar, dan Lily, namun berkat ketekunannya berperan sebagai anak kebanggaan sekolah sejak kelas satu SMP, Novis pada akhirnya tidak kalah populer dengan Lily. Apalagi Reyza atau Akbar, bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Novis.
"Bro! Gue jarang liat lu, dari mana aja?" Tanya Novis pada Akbar.
Novis adalah kawan pertama yang dekat dengan Akbar di sekolah ini. Mengapa seorang Akbar bisa dekat dengan tokoh sekolah, yang sifatnya amat berkebalikan dan berseberangan dengan Akbar?
Itu mungkin karena hanya Novis yang mau berteman dengannya. Yang lain, mana berani. Dua temannya Akbar, kalau bukan Intan dan Novis, siapa lagi.
"Belakangan ini, gue emang sibuk."
"Sama si Intan?"
"Ya sama dia juga, tapi gak sama dia aja."
"Lah lu dapet temen baru ceritanya?" Ejek Novis.
"Sialan lu!"
"Hehe... canda Bar. Terus lu sibuk ngapain sih?" Novis hanya penasaran, karena langka sekali seorang Akbar rela menghabiskan waktu untuk selain game, rokok, tidur, leha-leha, Intan dan dirinya.
__ADS_1
Akbar mulai kembali ngobrol santai dengan Reyza, jika Akbar ceritakan ini pada Novis, Novis pasti sangat terkejut. Tapi Akbar pikir, akan ada gunanya juga jika ia melibatkan Novis di persoalan si penguntit brengs*k itu.
"Vis... gue mau kasih tau lu sesuatu. Tapi lu jangan overreacting ya!"
Novis mengangguk dan menunggu.
Dan pada akhirnya, Akbar beritahukan Novis semua yang ia alami belakangan ini, termasuk persoalan si penguntit. Ia mengajak Novis untuk ikut di pertemuan Akbar dan Reyza cs selanjutnya.
Mata Novis berbinar-binar. Faktanya sebeken apapun Novis di sekolah ini, Novis tetap tidak akan bisa menandingi popularitas Lily. Hanya terkadang, Novis geer. Si Novis ini sering terlihat sok terutama di depan adik kelas yang cantik-cantik, sok keren, sok-sokan.
"Lu bakalan makin tenar kalo deket sama Lily. Lu mau itu kan?"
Novis nyengir narsis.
***
Mata Reyza memicing, menatap tajam Novis dari ujung kaki sampai ujung kepala. Bertanya dalam hati, ngapain si Akbar bawa si tuan perfect? Apa gunanya dah?
Novis mencoba mencairkan suasana yang canggung, "slow Rey! Gue kesini buat bantu kalian kok."
"Oh ya?" Reyza ragu. "Lu bisa bantu apa emang?" Reyza sinis.
Novis tersenyum kikuk, mungkin saja dalam hatinya ia mengumpat tidak karuan, tidak terima harga dirinya yang tinggi diinjak-injak oleh anak ingusan macam Reyza. Tapi Novis pintar, ia sembunyikan rasa kesalnya itu dari Reyza.
"Gue bisa cari informasi di kalangan pengurus dan guru," ucap Novis menawarkan diri, dengan senyum yang makin kaku.
Reyza memalingkan wajahnya, angkuh. Ia berjalan ke arah Akbar, dan berbisik, "lu yang tanggungjawab kalo dia buat salah!" Lalu Reyza pergi angkat kaki begitu saja.
T*I!!!! Umpat Akbar pada Reyza teramat kesal.
Novis menenangkan emosi Akbar yang bergolak, memegangi pundaknya dan berkata, "gue mau bantu lu. Biarkan aja si Reyza yang songong itu!"
***
Ini dia Potret REYZA temen-temen 😁
Akhirnya yah, semua karakter utama sudah dipajang foto castnya 😊
INI NOVIS:
__ADS_1
Foto Novis satu aja yaa.. dia support karakter.