
Saat Akbar sudah pergi ke gedung belakang sekolah, dan Intan Lily titipkan di UKS bersama pengurus yang menjaga, Lily mulai membuka obrolan lagi dengan Andri. Lily tak ingin mengajak Intan kali ini. Ia tidak ingin menambah beban Intan. Sahabatnya Intan sudah amat ribet bermasalah langsung dengan orang hitam. Ia biarkan Intan istirahat dan menenangkan pikiran saja.
"Sekarang giliran aku yang cerita Ndri," ucap Lily.
Andri menunggu. Ia siap mendengarkan.
"Ali dan Pipit sepertinya datang memberi pesan. Ali bilang ke aku 'balaskan'. Aku khawatir, Ali ingin aku menumpas habis pembunuhnya, Pipit juga. Gak ada petunjuk penyebab mereka dibunuh, apalagi siapa yang bunuh mereka," jelas Lily dengan raut wajah sedih.
"Kalau gitu, artinya kakak gue..."
Lily mengangguk membuat Andri berhenti bicara. Lily lanjutkan, "kakakmu Nafira, kemungkinan sudah meninggal juga."
Andri tak rasakan apapun. Ia bahkan tak ingat kalau ia punya Kakak. Tapi ada rasa sakit di jantungnya.
"Kamu harus ingat Nafira!" Pinta Lily.
Andri tak langsung menjawab. Ia berpikir keras, bagaimana? Amnesia Andri sudah seperti mendarah daging di dirinya. Apa yang bisa buat ia ingat kakaknya?
Lily menawarkan ide, lagi-lagi Lily dengan dinginnya berkata pada Andri, "aku tahu ini bahaya apalagi dilakukan sama pemula kayak aku, tapi ayo kita coba 'regresi'."
Andri tercengang, "wtf Ly!" Umpat Andri.
"Aku juga takut Ndri. Tapi kita harus coba," Lily terus membujuk.
Andri mendengus, "gue emang percaya lu. Tapi what the f*ck is regression Ly! Ini riskan. Lu mau gue tambah gila?!"
Lily diam.
Andri meneruskan, "panggil psikiater! Then let's do the regression."
Andri tak mengerti mengapa, Lily mulai menangis. Amat langka ia lihat gadis kuat ini bersedih. Biasanya Lily selalu tenang, dengan gayanya yang pintar tapi juga dingin dan misterius.
"Gue sa... salah ucap?" Tanya Andri terbata.
Lily menggeleng, air matanya tumpah perlahan.
Andri menunggu Lily tenang, ia juga khawatir sekaligus salah tingkah tak tahu harus lakukan apa.
Lily menarik napasnya, ia menghentikan tangisnya, dan akhirnya ia kembali berkata menyampaikan, "kamu tahu kenapa aku ikut Kak Pipit waktu itu?"
Andri diam saja tak menjawab.
"Kak Pipit sudah dapat izin berpraktek sebagai psikiater. Dan aku ikut ke tempatnya untuk pengobatan."
Ini memang informasi baru yang Andri dengar, tapi Andri masih belum dapat intinya.
__ADS_1
"Kak Pipit tewas seketika," Lily mengusap air matanya mencoba tegar. "Mereka akan menghabisi siapa saja yang mengusik, termasuk jika kita berani memanggil psikiater kesini lagi apalagi pergi bersama psikiater itu, aku yakin orang-orang berbaju serba hitam siap menyerbu. Mereka tak segan membunuh siapa saja yang menghalangi. Para psikopat andal yang akan dengan sempurna menghapus jejak."
Jantung Andri kembali sakit dan berdegup kencang.
"Aku yakin yang Nafira dan Ali lakukan adalah yang sekarang lagi kita lakukan. Mereka tewas karena menghalangi sesuatu yang sedang dikerjakan kroni orang hitam."
"Gimana Intan Ly?" Tanya Andri.
"Sementara ada Akbar."
"Jadi tentang regresi?" Andri kembali bertanya.
Tangis Lily berhenti, kembali ia fokus pada Andri, "ayo lakukan!" Ucapnya.
Lily menerangkan, "menurut konsep regresi, masalah di masa sekarang bisa jadi disebabkan oleh peristiwa di masa lalu. Apa yang terjadi sekarang akan mempengaruhi masa depan. Dengan regresi, aku akan bawa 'mundur' kamu ke belakang untuk cari akar masalah dan kalau bisa membereskannya. Bayangkan ini rekreasi Ndri. Kamu kembali ke masa lalu, kamu gak cuma lihat dan ingat lagi masa lalu kamu, tapi kamu harus rasakan masa lalu itu. Kamu harus siap dengan setiap kemungkinan yang buruk. Kamu harus berhadapan dengan masalahmu di masa lalu lagi. Kamu harus bisa selesaikan masalah itu."
Andri mengerti tapi ia ragu pada dirinya sendiri, "gimana kalo gue gagal dan malah makin sakit karena ingat masa lalu gue itu Ly?"
"Gak masalah. Yang kita coba gali itu adalah ingatanmu tentang kakakmu."
"Gue takut gue alami lagi trauma gue."
"Kamu pernah trauma?" Tanya Lily.
"Gue gak inget. Tapi tiap manusia pasti pernah kan?"
Andri menelan ludahnya memberanikan diri, "ayo kita coba."
Lily mengeluarkan pendulum dari lemarinya. Ia belajar banyak hal, bela diri, filsafat, hukum, psikologi, hingga teknik hipnotis seperti ini. Semuanya tidak lain karena ia terobsesi menangkap pemimpin dari orang-orang berbaju serba hitam. Ia ingin dapatkan orang yang membunuh Pipit.
Lily mulai dengan membuat Andri relax. Ia meminta Andri fokus melihat pendulum yang berdetik. Lily menunggu Andri berada dalam kondisi trance hipnosis, ia ingin Andri ada di tingkat kedalaman trance yang cukup. Untuk jaga-jaga agar ketika trauma Andri muncul, sakitnya tak akan terlalu terasa. Lily membimbing Andri untuk juga merasakan kembali secara nyata pengalaman masa lalunya yang hilang.
Kini Lily mulai bertanya, "apa yang kamu lihat?"
Mata Andri fokus menatap pendulum. Lily berjalan di sekitar ruangan. Andri yang sudah terhipnotis kemudian akhirnya menjawab Lily, "di kamar."
"Lalu?"
"sendiri... kamar gelap."
Tampaknya Andri sampai di rumahnya.
"Seseorang masuk," Andri meneruskan dengan agak panik.
"Kamu bisa lihat siapa dia?"
__ADS_1
"Orang itu berbaju merah," Andri semakin panik, ia merapatkan kakinya.
"Kakakmu?"
Di mata Andri, ia lihat sosok perempuan, masih gadis. Perempuan itu menutup pintu, lalu berbalik melihat Andri. Gadis bergaun pendek berwarna merah terang dan pekat. Ia tersenyum pada Andri.
Menjawab pertanyaan Lily, Andri mengangguk kencang. Ia yakin gadis itu adalah kakaknya. Andri tersenyum halus dan tenang. Katanya, "Cantik..."
"Sedang apa ia di kamarmu?"
Andri mengangkat tangannya ke udara, seolah ia sedang mengusap sesuatu. Pastilah dalam bayangannya, ia sedang meraba lembut wajah kakaknya. Ia rasakan letupan kerinduan yang teramat sangat. Air mata meleleh terharu gembira melihat Nafira. Ia bertanya pada gadis itu, "kakak ingat Andri?"
Hati Lily tersentuh melihat ini. Kasihan juga Andri harus kehilangan memori kecil yang mungkin indah bersama kakaknya.
"Andri?" Lily bertanya lagi. "Apa yang Nafira lakukan di sana?"
Andri melihat Nafira yang tadinya senyum, kini berubah ketakutan. Nafira seolah menyeret Andri. Tubuh Andri ikut terjatuh ke bawah mengikuti bimbingan Nafira. Gadis itu mengajak Andri sembunyi.
"Shhhtttt!" Ucap Andri.
Lily bergumam, mungkin mereka sedang main petak umpat. Mungkin saja. Ia lanjutkan, "apa lagi yang kamu lihat Ndri?"
Andri diam saja. Di matanya, Nafira duduk di samping Andri dan menyuruh Andri untuk tidak bersuara. Kemudian Andri mulai melihat seorang perempuan tua masuk.
"Ndri? Apa yang kamu lihat sekarang?" Lily terus bertanya.
Tubuh Andri tampak panik dan ketakutan. Andri menjawab Lily, "perempuan tua."
"Seperti apa rupanya?" Tanya Lily.
Perempuan itu amat mengerikan dengan tampilan seperti orang gila. Rambut semrawut, wajah jelek berminyak kotor lusuh tak karuan, keriput sana-sini, dan membawa semacam tongkat kecil. Perempuan mengerikan itu tersenyum seram. Dan katanya, "ketemu!" Lalu ia terkekeh.
Ia membawa dan mengangkat tubuh kecil Nafira dengan entengnya. Andri ditinggal. Andri berteriak-teriak, ia mengamuk memanggil "kakak! Kakak! Kakak! Jangan bawa kakakku!"
Ia berontak. Ia tendang meja di depannya. Ia lalu memeluk diri seperti sedang menahan dingin. Ia menangis sejadi-jadinya, menjerit-jerit masih memanggil Nafira.
Abreaksi terjadi. Lily harus sudahi sesi hipnosis ini. Lily mengguncang tubuh Andri membangunkannya.
Ketika Andri terbangun, Lily jelaskan, "maafkan aku. Kamu alami abreaksi Ndri, itu artinya kamu sedang melepas tekanan psikologis karena pengalaman traumatik kamu di masa lalu."
"Lu bener Ly!" Andri menanggapi. "Gue emang pengecut," ia kecewa pada dirinya sendiri.
***
Badass Lily 😁
__ADS_1