
Suara tembakan itu berasal dari peluru panas. Mengenai bagian perut Andri. Masih dengan senyum yang tersemat di wajahnya, Nara berkata, "Aku ... benci ...." hilang berganti Anton.
"******* lu Nar! Gara-gara lu Andri jadi ....!" Tangis Reyza tumpah. Kemeja putih yang dikenakan Andri bersimbah darah. Lily menekan luka Andri berusaha menutup lubang di perutnya. Lily juga mencari pembuluh darah yang dekat dengan jantung, lalu menahannya. Ia berusaha keras menghentikan pendarahan hebat.
Dengan sekuat tenaga menahan tremornya karena syok, Intan menelpon ambulans. Sementara Akbar melindungi mereka semua dari penembak Andri yang tidak lain ada orang berbaju serba hitam. Akbar tahu orang itu tidak akan berani melukainya. Ia ikat juga ayahnya di kaki meja, dan mulut Musa disumpal.
Mereka semua panik, menangisi Andri. Sementara darah terus mengucur keluar tidak berhenti dari perut Andri. Tangan Reyza dan Lily dilumuri darah. Kemeja Andri berubah merah karena darah. Reyza histeris berteriak minta tolong. "Bar! Akbar! Ba ... ba ... bawa Andri ke bawah!"
Akbar juga takut salah. Ia tidak tanggung risiko kalau-kalau pendarahan Andri makin menjadi.
Reyza tidak bisa berpikir jernih. Bahkan tubuhnya mati rasa. Kepalanya seperti dipukuli palu godam, dadanya nyeri, perutnya mual. Reyza terlalu takut Andri tidak bisa melalui masa kritisnya.
Andri sekarat. Kesadarannya mulai hilang karena rasa sakit di organ dalamnya dan pendarahan hebat. Dari mulut Andri, Anton berkata, "Kakak ... Anton ... takut." ia menangis seperti bocah.
"Ja ... ja ... jangan takut! Ada Kak Lily," ucap Reyza sambil terbata dan matanya memerah karena air mata.
Lalu keluar juga Hazan, "Andri kenapaaaaaa ...." diikuti dengan tangis yang menderu. Kemudian Amar, "Bangs*t sakit!" bentaknya sambil menggigiti bibirnya.
Hitam kembali dan tersenyum, "Bu ... nuh Musa!" pesannya.
Dan terakhir sebelum Andri benar-benar kehilangan kesadaran muncul Andri, "Rey, Ly, Tan, dan Akbar ..." mata Andri berkaca-kaca. Ia sadar waktunya tidak banyak. Kakinya dingin dan membeku, bahkan sakit di perutnya hilang mati rasa.
"Makasih karena sudah bantu gue selama ini. Makasih karena sudah pertemukan gue dengan Nafira," suara Andri tercekat tidak keluar.
Reyza menjerit histeris, "Tahan Ndri! Bentar lagi ambulans datang!!!"
Tangis Lily juga banjir, ia terus menekan luka Andri. Intan mengusap keringat dingin Andri yang mengucur.
"Gue bisa pergi dengan tenang. Gue sekarang ingat keluarga gue, masa lalu gue, dan gue punya teman sebaik lu semua," air mata meleleh.
__ADS_1
Kemudian tak lama, Andri terpejam lemas. Tubuhnya membiru. Andri tak tertolong sebelum ambulans datang. Darahnya nyaris habis tumpah, tercecer di mana-mana. Lengan Reyza dan Lily bermandikan darah.
Reyza memeluk jasad Andri yang sudah tak bernyawa. Ia menangis sejadi-jadinya. Lily peluk Reyza turut berduka, Intan peluk Lily dari belakang.
Akbar menyambar si orang hitam dengan buas. Mereka bertarung sengit. Pertama Akbar hempaskan terlebih dahulu senjata api itu dari si orang hitam. Orang itu tidak berkutik, lagi-lagi ia melirik Musa. Tidak mungkin orang itu melukai anak yang berharga dari bosnya.
"Lu mau bebasin bokap gue ya bangs*t!" bentak Akbar.
Si orang hitam tidak menjawab. Matanya liar berkali-kali mencari celah agar bisa menghampiri Musa. Tapi tertutup. Akbar menghalangi.
"Lu langkahi dulu anaknya!!" bentak Akbar lagi.
Mereka baku hantam. Akbar dengan teknik tinjunya yang gesit dan mematikan, sedangkan si orang hitam, Akbar rasa dia menggunakan karate mungkin bersabuk hitam. Mereka berdua seri. Si orang hitam ternyata petarung dan lawan yang tidak mudah dijatuhkan. Akbar sedikit terengah-engah kecapekan.
Tatapan pembunuh dari si orang hitam kadang membuat Akbar merinding. Akbar gatal ingin membuka topengnya.
Tangis Reyza diikuti pula oleh tangis Lily dan Intan memekakkan telinga. Reyza meneriaki nama Andri amat menyakitkan dan memilukan. Duka menyelimuti ruangan itu. Pemandangan yang menyedihkan. Bahkan Akbar tidak bisa menahannya, ia turut bersedih.
"Andri masih bernapas kan? Dia masih hidup kan?" tanya Reyza tak terkendali.
Tim medis menggunting kemeja putih berdarah-darah milik Andri. Andri sudah berhenti bernapas dan jantungnya tidak berdetak.
Mereka melakukan metode CPR (cardiopulmonary resuscitation). Seorang tim medis pertama-tama memberikan kompresi pada pertengahan dada berkali-kali. Seorang yang lain memberikan bantuan napas untuk Andri melalui ambu bag. Lalu tak lama, end-tidal CO2 dihubungkan dengan ambu bag untuk memonitor, memantau, dan melacak alat vital Andri, khususnya ritme jantungnya.
Tapi Andri tidak merespon. Mereka lakukan kompresi pada dada Andri lagi dengan sekuat tenaga.
Petugas medis itu sampai berkeringat kelelahan karena terus menggenjot jantung Andri agar berdetak. Reyza dan yang lain menunggu penuh harap dan cemas.
Tapi sayangnya, Andri masih tidak bernapas, dan jantungnya senyap.
__ADS_1
Defibrillator mulai digunakan untuk menstabilkan jantung Andri yang terhenti. Mengisi 200 Joule, lalu shock dikirimkan untuk menghidupkan kembali jantung Andri. Setelah itu, kompresi dada kembali dilanjutkan. Tim medis terus memeriksa denyut nadi Andri.
Tapi ternyata percuma. Andri tetap tidak merespon. Jantung Andri mati tidak berdenyut. Tim medis berhenti.
Reyza tidak percaya. Emosinya tak tertahankan. Ia mengamuk dan memaki tim medis, "Hidupkan Andri! Temen gue harus hidup!" teriaknya.
Lily mencoba menghentikan Reyza, tapi tubuhnya juga lemas. Lily juga tidak ingin Andri pergi. Akbar dan Intan berduka, mereka tak bisa berbuat apapun.
Tim medis merapihkan peralatan medisnya. Mereka membersihkan luka Andri dan mengeluarkan peluru yang bersarang di perut Andri dengan hati-hati.
Reyza pilu melihat jasad Andri tanpa nyawa. Reyza menangis di pundak Lily. Matanya bengkak tak karuan.
Mereka kembali ke sekolah asrama. Syukurnya, asrama sudah kondusif. Malik menyambut kedatangan Reyza dan yang lain penuh duka. Ia peluk Lily erat. Ia tabahkan Reyza. Ia cium-cium wajah Andri seakan Andri adalah anaknya sendiri. Istri Prasetyo juga demikian. Mereka menangisi kepergian Andri.
Andri dimandikan, didoakan, dishalatkan secara Islam. Dia seorang muslim. Siswa dan guru yang Islam, semuanya berkumpul di masjid untuk memberikan Andri penghormatan yang terakhir.
Andri sosok yang ceria, meski ia tengah digempur berbagai macam cobaan yang luar biasa berat. Selama ini Andri berjuang sebatang kara tanpa keluarga, dan hanya ditemani oleh Anton, Amar, Nara, Hazan, dan Hitam. Belum genap dua tahun Andri nikmati hari-harinya bersama seorang teman dan keluarga di sekolah ini, ternyata yang maha kuasa memanggilnya lebih dahulu.
Andri anak yang kuat. Tanpa ia sadari, ia telah menjadi inspirasi untuk mereka dengan masalah yang serupa.
Tidak ada yang Reyza harapkan selain berdoa agar Andri diterima di sisi-Nya dengan baik, dan semoga ia bisa bertemu Andri lagi kelak.
***
RIP Andri ... Chimonac as Andri 😁🙏
__ADS_1