
Luapan emosi marah itu keluar, Lily merasa lega. Ia kembali stabil dan tenang, sekaligus juga terkejut pada Intan. Lily menganga.
"Tan, what have you done?!"
Tangan Intan gemetaran, ia nyatanya sedang terkejut pada dirinya sendiri. Mata Intan lagi-lagi berkaca, "Gue gak tahu! Gue gak ngerti. Gue refleks Ly. Gue ...."
Kekesalan Intan pada Andri sudah ada di puncaknya, di ambang batas. Itu saja. Intan juga terpancing emosi, hingga tanpa sadar, ia lakukan itu.
Dengan kondisi Lily yang masih lemah karena jotosan Andri, Lily tak bisa berbuat banyak. Ia juga tak ingin memanggil dokter.
Intan terpaku dengan perbuatannya sendiri. Ia kalut.
Lily berpikir keras, tidak ada jalan lain selain memanipulasi fakta ketika seseorang atau dokter memergoki Andri dalam kondisi begini.
"Dari mana kamu dapat obat itu?" tanya Lily menelisik.
Intan tidak mungkin menjawab.
"Jawab aku! Kumohon!"
Tidak. Tidak bisa dan tidak mungkin. Intan belum percaya Lily bisa selamatkan dia dan keluarganya dari jerat si orang hitam. Intan lebih percaya si orang hitam akan benar-benar melukai keluarganya.
Intan geleng-geleng. Menolak memberitahu Lily.
Lily menyerah, "Okey kalau kamu gak mau bilang Tan. Tapi kemarikan obat itu! Biar aku cek obat apa ini."
Dengan tangannya yang gemetaran, Intan serahkan sisa obat itu pada Lily.
"Ada yang mau kamu sampaikan?" tanya Lily terakhir kali.
Intan tidak menjawab.
"Kalau gak ada, pergilah!" usir Lily halus.
Dengan lemasnya Intan angkat kaki dari UKS. Ia sadar betul ia salah. Tapi sekali lagi, ia tidak ada pilihan lain.
Tak butuh waktu lama setelah Intan pergi, seorang dokter UKS masuk ke ruangan Lily.
Ia pergoki Lily sedang membersihkan darah yang mengucur dari kepala Andri yang robek.
Dokter itu terkejut. Ia segera siapkan alat jahit, kemudian mulai menutup luka Andri. Tiga jahitan.
"Andri tidur lelap ya Dok?" tanya Lily kikuk.
Dokter mengangguk, "Mungkin efek obat penenang." ucapnya.
Lily merasa aman. Baguslah kalau dokter berpikir demikian. Beberapa hari ini, Andri memang diberikan obat anti depresan. Reaksinya termasuk gampang mengantuk.
Napas Andri normal, detak jantungnya juga. Semua alat vital baik saja. Lily masih penasaran dengan obat apa yang diinjeksikan Intan. Tampak tidak bahaya, tapi belum tahu. Efeknya mungkin nanti dirasa.
Akbar datang menjemput Intan. Dilihatnya Intan sudah pergi dari sana. Ia bertanya kemana Intan. Tapi Lily justru membicarakan apa yang barusan terjadi.
__ADS_1
Lily sodorkan jarum suntik yang Intan gunakan. "Aku bingung harus lakuin apa!" ucap Lily putus asa.
Akbar memeriksa jarum itu. "Percuma, gue gak paham. Belakangan ini Intan emang aneh, lebih galak."
Lily setuju. Intan lebih sensitif dibanding biasanya.
"Gue bawa ini, kebetulan gue juga dapet drugs dari gedung sarangnya si Novis."
Mata Lily terbuka lebar, "Obat juga?" tanyanya.
"Sort of." jawab Akbar.
Lily memberikan peringatan, "Kemana kamu bakal periksa itu? Jangan lupa kalau 'mereka' bisa melihatmu di mana aja di sekolah ini. Mungkin keluar pun, kamu gak akan bisa."
Akbar tahu itu. "Gue anak Musa. Gue bahkan punya laboratorium penelitian sendiri."
"Ya lalu?"
"Gue tanya ke .... " Akbar bingung.
"Biarkan saja. Anggap itu sianida. Dan anggap ini ... " Lily tunjukkan jarum suntik, "Ini anestesi. Mungkin jenis yang kuat dengan efek samping aman. Mungkin."
Akbar tertawa, "Bercanda lu Ly! Lu pikir lu orang kesehatan?!"
Lily memutar bola matanya, "Kamu ada tebakan lain?"
Akbar gagap.
Kini Lily yang tertawa.
"Gak ada."
"Gila banget tuh anak! Kalo dia pulang ke asrama gak dapet apapun dari Prasetyo, gue gak sabar ajak dia sparring tinju."
Lily tertawa lagi.
"Kita di sini abis-abisan ngurusin Andri, lah dia di rumahnya ngapain aja!" kesal Akbar.
Lily tak membalas.
"Gue rasa Intan rahasiakan sesuatu dari kita." imbuh Akbar.
Lily berseringai, "Tentu Bar! Itu udah jelas."
"Sialan lu Ly. Gak kuat gue sama gaya lu yang sok. Lama-lama lu mirip Reyza."
"Intan lama-lama mirip lu." ucap Lily.
Tawa Akbar pecah lagi, meski tidak terlalu keras.
"Jadi apa lagi? Lu sakit, Andri ... koma? I guess, Intan .... "
__ADS_1
Sergah Lily, "Jangan lebay Bar! Gak lama Andri bangun kok. Malam ini aku bicara sama Intan baik-baik."
Akbar mengatur napasnya yang agak tegang karena khawatir Intan, "Gue sendiri gak nyangka gue bisa ikut lu, Reyza, Andri ngurusin beginian."
Biasanya yang Akbar lakukan hanyalah membelot dan memberontak ayahnya. Apa yang ayahnya inginkan darinya, ia tidak lakukan. Dan apa yang ayahnya tidak inginkan, dia akan lakukan. Hingga akhirnya, semua perilaku pemberontakan itu menjadi kebiasaan Akbar. Kebiasaan seperti candu. Sulit Akbar melepasnya, meski Intan berkali-kali menceramahinya.
"Jangan sungkan. Dulu kamu dan Reyza itu deket loh." kata Lily.
Akbar ingat masa itu.
"Kenapa kamu kayak tikus kucing sama dia sekarang?" tanya Lily santai.
"Reyza kurang ajar. Lu gak liat sikap dia yang kurang ajar!?"
Lily tersenyum sedikit gregetan, "aku tahu kamu itu gentleman. Kamu tanggung jawab, menghargai, dan menghormati Intan sebagai perempuan. Aku tahu kalau sebetulnya kamu punya hati yang lembut. Kamu gak mungkin benci Reyza. Bahkan kalau Novis minta maaf dan balik ke kamu lagi, kamu pasti akan dengan senang hati menerimanya kan? Kamu orang baik Bar. Temperamenmu yang buruk itu kekuranganmu. But who cares!? Setiap manusia punya kekurangan."
"Ini karena bokap gue! Dia yang udah buat gue gak bisa ngontrol emosi kalau marah. Gue gak mau diem kalau diinjak orang. Bawaannya, gue pengen selalu lawan. Terus soal Novis ... gue tahu Novis itu tengil, sombong, narsis, nyebelin juga. Tapi jujur, selama gue temanan sama itu anak, dia gak pernah jahat atau buat salah ke gue. Gak adil rasanya, kalau gue tolak dia mentah-mentah. Kalau dia masih punya muka mau temenan sama gue lagi, ya gue oke aja."
"Tuh kan!" Lily berikan senyum tulusnya, "Kamu tahu mana yang benar dan salah, you know how to behave."
Hening sejenak.
Lanjut Lily, "Tapi soal ayahmu, kamu terlalu berlebihan Bar. Biar gimanapun, orang bisa langsung tepar sekali kena pukulanmu, karena temperamenmu. Kamu harus hati-hati loh!"
Akbar sadar itu. Hanya saja, perilaku brutal sudah melekat di dirinya. Sulit untuk dirubah. Itu sudah seperti menjadi identitasnya dan mendarah daging.
Tambah Lily, "Satu hal yang aku khawatirkan, kamu gak bedakan orang berdasarkan status, uang, usia, bahkan gender. Aku gak mau kalau Intan juga sampai kena pukul."
Akbar menggeleng, "Gue usahakan gak akan."
"Aku gak yakin ... kamu dan Intan baru kenal kurang dari dua tahun. Saat Intan buat kamu marah, bakal sulit kamu mengontrol temperamenmu Bar."
"Janganlah sok tahu Ly!" sedikit nada bicara Akbar meninggi.
"Karena itu, belajarlah menahan keinginan untuk memukul orang yang buat kamu jengkel sedikit. Jangan langsung damprat orang cuma karena masalah sepele. Kamu anggap mereka apa? Mereka juga manusia Bar, mereka segumpal daging yang punya jiwa dan rasa. Bukan samsak tinju."
"Kamu gak paham Ly!" Akbar membela diri, mencari pembenaran.
"Gak paham apa? Soal masalahmu dengan ayahmu? Aku paham, tentu saja."
"Enggak! Kamu gak paham. Kamu gak pernah rasain trauma itu."
Lily menghela napas dan mengeluarkannya. "Aku paham. Kita semua punya trauma masing-masing. Buang temperamenmu yang seperti macan lapar itu."
Ayah Akbar perlu minta maaf pada Akbar. Mereka harus damai. Ucap benak Lily. Tidak ia sampaikan itu pada Akbar.
Akbar cuek saja dengan semua celoteh Lily. Dari sudut pandangnya, Lily yang sedari kecil disayang oleh keluarga Malik tahu apa?! Jelas Lily tidak mungkin paham rasa sakitnya dulu oleh Musa.
***
Ngobrol candu dan obatnya Akbar nih .... Lily main peran as therapist Akbar 😅
__ADS_1
Lama gak pajang foto Akbar 😁