SCHOOL OF LOST SOULS

SCHOOL OF LOST SOULS
Masterpiece


__ADS_3

Reyza siapkan mental untuk terima keterangan dari Musa. Tapi sebelum itu, ia katakan begini pada Musa, "Saya tidak akan basi-basi. Langsung saja, dengan hati yang sakit dan sedih karena dikhianati, saya minta bapak jelaskan kenapa bapak lakukan ini pada keluarga kami."


Semua dokumen bermasalah itu berurusan langsung dengan Musa. Termasuk Musa dijadikan salah satu pengawas sekolah asrama Malik oleh si surat wasiat. Musa pulalah pembeli aset Prasetyo di Bandung, dan Musa juga orang yang meminjam nama Prasetyo untuk mengeruk untung dari perusahaan gorengan secara diam-diam. Semua akta pengalihan hak atas saham melibatkan nama Musa. Kenapa? Ada apa?


Ini sama saja, Prasetyo telah membesarkan seekor anak singa. Dan ketika singa itu besar, dia memakan hidup-hidup Prasetyo beserta seluruh keluarganya.


Ibu Reyza tidak paham bisnis. Musa bisa saja mempengaruhi dan menyalahgunakan kepercayaan Ibu Reyza untuk membeli aset di Bandung.


Reyza geleng-geleng dan bergidik tak percaya dengan apa yang diperbuat Musa. Apa Akbar tahu soal ini? Anak bengis itu yang kerjanya cuma game, apakah dia bagian dan ambil peran di rencana jahat Musa?!


Musa berseringai membuka bicaranya, "Untuk Akbar. Semua yang saya lakukan adalah untuk Akbar."


Reyza naik pitam. Ia geram, sangat sangat marah. Ia kepalkan tangannya, rasanya ingin menjotos Musa. Tapi ia dinginkan otaknya untuk berpikir, "Apa bapak sudah hilang akal?" ucap Reyza penuh keheranan dan kekesalan.


Musa geleng-geleng polos, ia berkata lagi santai dan dingin, "Semua yang saya lakukan adalah untuk mengembalikan Akbar pada saya. Harta yang saya kumpulkan cuma untuk anak saya seorang dan keturunannya."


Reyza mendengus merasa sia-sia. Musa seperti sudah kehilangan kewarasannya. "Bapak anggap apa Prasetyo selama ini?!" bentaknya.


"Kamu sudah pintar. Masa depanmu akan baik-baik saja Rey. Tapi kamu lihat Akbar. Anak saya sudah tersesat. Saya ingin dia pulang dengan sukses dan kembali ke saya lagi." ucap Musa masih ngawur.


Reyza tak bisa membiarkan pembicaraan ngawur itu terus berlanjut, ia kembali ke inti masalah, "Sekarang bapak sudah tertangkap basah. Saat saya bisa ikut ke Rapat Umum Pemegang Saham, saya akan menindak bapak secara tegas. Mungkin saya bisa depak bapak dari Prasetyo Group. Tapi tenang saja ... bapak masih bisa miliki saham di beberapa anak perusahaan Prasetyo Group."


Musa berseringai lagi menganggap enteng ancaman Reyza, "Dan saya bisa beri kamu hadiah di sini." Musa tunjuk kepalanya.


Reyza mengernyitkan dahinya tak paham, "Maksud bapak?" tanyanya.


Musa tunjukkan gesture dominan, "Well ... pewaris tunggal Prasetyo, Reyza ... harus sadar posisinya." seringainya lagi.


Reyza masih belum bisa menangkap maksud Musa, ia protes, "Sepertinya tidak ada gunanya saya habiskan waktu yang berharga saya untuk bicara dengan orang seperti bapak. Saya angkat kaki."


Reyza bangkit dan berbalik. Ia hendak langkahkan kakinya ke pintu dan pergi dari rumah itu.

__ADS_1


"Tunggu!" cegah Musa.


Reyza hentikan langkahnya.


"Kamu sudah berhasil merampas Prasetyo dari tanganku, tapi tidak dengan temanmu." seringai Musa lagi dan lagi.


Mata Reyza berkaca-kaca, ia kepalkan dan remas tangannya penuh amarah yang meletup-letup. Lalu ia berbalik dan ....


BUGG!!! Ia pukulkan kepalan tangannya sekuat tenaga tepat ke wajah Musa.


"Bangs*t!!! Ternyata selama ini elu! Baj*ngan teng*k! As*!" Reyza mengamuk tak tahan membuncahkan emosinya.


Reyza menarik kerah Musa, mulut Musa sudah berdarah-darah, tapi Musa nikmati rasa sakit di wajahnya itu. Reyza bentak Musa keras, "Katakan anj*ng! Apa yang lu rencanakan di sekolah gue!"


Musa tersenyum jahat, licik, dan edan, "Untuk Akbar. Saya ingin anak saya kembali."


Kembali pukulan Reyza mengenai wajah Musa. "Ngomong yang bener bangs*t!!" maki Reyza dan paksanya.


"Bakat apa si*lan!" bentak Reyza terus-terusan. Liurnya terciprat tak karuan di wajah Musa.


Musa menatap dingin, "Kamu harus sadar potensimu Rey! Kamu bisa merasakan emosi manusia dan memanipulasi perasaan mereka, kemampuan persuasifmu tinggi, hingga mampu membuat manusia melakukan yang kamu minta tanpa mereka sadari." senyum Musa mengerikan.


"Gila! Lu gila!" Reyza kehabisan umpatannya. Ia juga melemas. Ia lepaskan cengkeramannya di kerah baju Musa. Ia ambruk lemas. Ia masih keheranan, kenapa ada manusia segila Musa.


Musa merasa ada celah di emosi Reyza, ia menimpal lagi, "Ikutlah denganku!"


"Bertahun-tahun lu jadikan sekolah asrama gue sebagai laboratorium lu. Siswa sebagai tikus eksperimen lu. Yang Andri derita, yang buat Novis seperti itu, semua karena ambisi dan keyakinan lu atas pikiran manusia! Begitu?"


Musa tersenyum senang, "Betul. Kamu memang brilian Rey."


"Kenapa!?" tanya Reyza.

__ADS_1


"Jiwa dan pikiran manusia itu penuh misteri, seperti sebuah kolam yang sangat dalam, tidak berdasar dan bertepi. Bayangkan jika kita bisa menyelam dan menjelajah di jiwa dan pikiran manusia itu. Lalu kita temukan tombol mereka." Musa menjentikkan jarinya, "Sekali klik tombol itu, kira-kira apa yang bisa kamu dapatkan dari manusia itu?!"


Reyza tercengang tidak paham.


Lanjut Musa, "Mind control, emotionless human, spy, gundik, pengikut yang setia, dan seorang anak yang kembali pada pelukan ayahnya."


"Tapi yang lu lakuin semua error! GAGAL TOTAL!" bentak Reyza lagi.


Musa terkekeh sinis, "Maksudmu si ******* dan si kembar Malik?" ia melihat Reyza seperti iblis berkulit manusia, "Mereka produk gagal! Karena kasihan, saya dengan senang hati menghentikan derita mereka. Untuk yang laki-laki, namanya ...."


"Ali." ucap Reyza.


"Oh ya itu dia! Itu keinginannya sendiri. Mungkin efek samping dari yang kuberikan padanya. Kamu tahu Rey, seringkali sebuah masterpiece membutuhkan pengorbanan dan ribuan kali gagal."


"Gila! Lu sudah gila Mus!" hati Reyza terkoyak, sakit ia dengarkan omongan Musa.


Reyza benar-benar tak tahan berdiam lama di sarang iblis. Ia memilih bergegas menyelematkan teman-temannya.


Musa menatap kepergian Reyza dengan penuh harap. Reyza tidak gagal seperti Lily atau Andri, atau anaknya Akbar. Reyza masih gagah berjalan tegak dengan keyakinannya. Dan pribadi Reyza sudah kokoh terintegrasi. Musa bangga pada anak itu, sekaligus menyayanginya sebagai produk yang bagus.


***


Mazda CX9 melaju kencang ke arah pelosok Banten. Reyza ditumpangi supir ngapak. Ia cemberut saja sepanjang perjalanan terlihat tidak tenang. Mungkin pikirannya kalut menanyai nasib teman-temannya di asrama.


Supir ngapak tidak berani membuka obrolan. Ia juga diam saja.


Area perkebunan terbentang luas di jalan menuju asrama. Udara segar pegunungan juga mengisi napas Reyza. Sayang sekali, ada iblis edan yang taringnya sudah menancap di area ini.


***


Lama-lama si Reyza kurus.

__ADS_1



__ADS_2