
Malam bertaburan bintang seperti biasa. Udara masih bersih, jauh dari hiruk pikuk dan lampu kota. Karena sebab inilah mungkin bintang berani memancarkan sinarnya di atas langit asrama.
Reyza membasuh mukanya, sendiri di kamar mandi nan luas. Rasanya segar setelah seharian belajar... dan tentunya, setelah semua kejadian janggal hari ini. Ia ingin cepat-cepat mengatupkan matanya, tidur.
Di kamar asrama, saat selimut sudah membalut tubuh Reyza, Andri yang harusnya tidur di samping Reyza, tidak ada.
Reyza tidak peduli itu. Biar pengurus bagian keamanan saja yang mengurus Andri. Saat waktu tidur, semua murid tak terkecuali wajib ada di kamar asrama. Pengurus keamanan masih berpatroli di jam segini, Andri pasti segera ke kamar.
Jam terus berdetik, mata Reyza tidak juga terkatup. Sial! Reyza belum bisa tidur.
Kemana si Andri??
Andri tak kunjung sampai di kamar. Kemana dia?
Reyza tidak tenang. Ia bergerak, berguling kiri kanan berusaha tidak peduli, tapi tidak. Reyza peduli temannya.
Tiba-tiba suara pintu terbuka.
Siapa?
Diam-diam Reyza mengintip dari balik selimut. Ah itu dia si Andri! Reyza hembuskan napas. Syukurlah. Anak itu baik-baik saja. Tapi tunggu...
"Ndri? Lu dari mana dan mau ngapain sih?" Tanya Reyza.
Andri diam saja.
"Kebiasaan lu yaa, gak jawab gue!" Reyza kesal.
Andri melihat Reyza dan katanya, "gue mau tidur Rey."
Oh. Reyza tidak bisa tanya-tanya Andri lagi. Ya sudah. Yang penting, anak ini tidak hilang diculik demit. Reyza kembali menenggelamkan dirinya di bawah selimut. Ia berbalik membelakangi Andri.
Mereka berdua terlelap.
***
Di lain sisi, Lily dan Intan sedang sibuk memasangkan masker di wajah. Intan menggerutu mengomeli Lily, " Reyza ikut campur terus urusanku Ly."
"Urusan sama Akbar?" Jawab dan tanya Lily.
Intan tersenyum genit sambil mengangguk dan berkata, "he em."
Lily tertawa kecil, "dasar! Naksir Akbar Tan?"
"Ya kalau dibilang naksir, yaaa... iya."
Lily tertawa, lebih keras.
Intan tersipu malu. "Tapi aku belum bisa pacaran sih, cuma sekedar deket gitu."
__ADS_1
"Oooohhhhhh...." Lily ragu.
Intan terkekeh, "hehe... dasar kamu Ly!"
"Apa yang kamu suka dari Akbar?" Tanya Lily heran.
"Nanti juga kamu tahu Ly." Intan mengedipkan sebelah matanya genit.
Ah Lily tidak tahan kelakuan Intan, "centil kamu Tan!" Ejeknya.
Intan hanya manyun.
***
Reyza terkejut terbangun karena suara pintu terbuka. Matanya merah. Ia sangat kesal. Siapa pula yang keluyuran malam-malam begini? Mau apa? Shalat tahajud? Atau kebelet ke kemar mandi? Haduhhh... Reyza tidur tidak tenang. Selain karena seharian ini ia bertemu kejadian janggal, juga karena ia khawatir kalau-kalau ada sesuatu yang terjadi pada temannya yang aneh (Andri), lagi.
Dan benar saja. Di samping kosong. Sudah tidak ada Andri. Kemana dia selarut ini? Bukankah besok banyak agenda kelas, utamanya kelas kaligrafi yang paling disukai Andri?
Dengan mata yang masih terkantuk-kantuk, Reyza bangkit, lemas, ke arah pintu, dan pergi menengok ke luar.
Dilihatnya Andri, berjalan lurus ke gerbang asrama. Reyza tidak bisa membiarkan Andri. Ia diam-diam mengikuti kemana anak itu pergi.
Udara malam, dingin hingga menusuk tulang. Reyza mengambil sarung warna hitam, warna yang menyatu dengan gelapnya malam. Semoga Reyza tidak ketahuan siapapun, apalagi Andri.
Sampai di gerbang, Reyza melihat Andri ternyata pergi ke warung kopi depan sekolah. Tidak ada yang mencurigakan sampai sekarang. Yang mengganggu benak Reyza hanya, sejak kapan Andri bertingkah seperti ini. Sudah hampir dua tahun Reyza berteman dengan Andri selama SMA, Andri tidak pernah begini. Apa itu Andri?
Ah bodoh. Tentu itu Andri, siapa lagi?
Andri mengeluarkan sesuatu dari saku celana. Reyza menajamkan penglihatannya, apa itu?
Rokok. Itu rokok.
Reyza menutup mulut, terkejut. Wahhhh... siapa yang mengajari temannya merokok? Kemana pengurus bagian keamanan?
Reyza mencoba meneruskan langkah, hendak menghampiri Andri saat itu juga. Ia berencana bertanya, dan kalau bisa menegur Andri untuk berhati-hati. Ngeri kalau sampai pengurus bagian keamanan memergoki Andri sedang merokok, urusan bisa gawat nanti.
Tapi langkah Reyza terhenti. Ia bimbang. Apa lebih baik ia balik ke kamar saja? Tidak perlu ikut campur urusan orang kan?
Reyza menggaruk kepalanya, ragu, tapi kemudian ia memantapkan hatinya. Ya! Ia harus kembali ke kamar asrama. Lebih baik tidur saja. Biar besok ia bicarakan ini dengan Andri.
Tetapi di kamar, Reyza tak kunjung tidur. Reyza menghembuskan napas. Apa karena sudah terlanjur bangun, ia jadi tidak bisa tidur lagi? Hingga pintu kamar terbuka kembali, Reyza menengok itu Andri.
"Ndri? Lu ngerokok?"
Andri melotot! Tampak geram mendengar Reyza bertanya demikian. Langkah Andri tegas, tegap dan intense.
Reyza mundur perlahan. Ada yang salah dengan Andri.
Mata Andri masih melotot sangat tajam.
__ADS_1
"Lu kenapa Ndri?" Heran Reyza. Ia makin mundur, mencoba menjauh dari Andri yang sedang ingin meraihnya.
Tapi kerah baju Reyza tertangkap, Andri menariknya keras, hingga Reyza merasa cukup takut dengan tingkah anak ini.
"Lu... lu... kenapa sih?" Reyza gagap. Gue mohon jawab. Lirih Reyza dalam hatinya.
Lengan Andri pelan tapi pasti terangkat, Andri sebentar lagi akan mendaratkan tinju ke wajah Reyza.
Yang benar saja nih anak! Ia serius akan menonjok Reyza.
Reyza bergerak berusaha mendorong tubuh Andri. Tapi kuat, Andri terlalu kuat. Seperti batu, tubuh itu tidak bergerak meski Reyza dorong dengan sekuat tenaga. Tangan Andri masih menggenggam kerah baju Reyza.
Wah gila. Dia bukan Andri!
Dia bukan Andri! Ucap benak Reyza.
Reyza hanya bisa menutup muka dengan kedua tangannya. Ia harap tinju dari tubuh yang sekuat batu ini tidak akan terasa sakit.
Tapi sebelum itu, Reyza memohon kepada Andri lagi, "tunggu Ndri! Lu gila?!!"
Dan BUGGG!!!
Reyza terlempar satu meter. Ia meringis menahan sakit.
Murid lain di kamar itu sama sekali tidak terganggu, mereka masih terlelap.
Meski sangat sakit, Reyza malah tertawa. Terkekeh.
"Hah! Hahahaha... Lu udah gila Ndri! Lu jelas bukan Andri! Siapa lu? Keluar dari tubuh Andri!" Reyza yakin Andri sedang kerasukan.
Andri berjalan menghampiri Reyza. Ia hendak melayangkan tinjunya lagi, tapi tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar itu.
Seseorang yang Reyza pun tidak akan menyangkanya.
"Gue denger suara pukulan dari kamar sebelah. Ternyata lu Rey."
"Akbar?"
Sialan! Di kondisi kayak gini, Akbarlah yang malah datang menolong Reyza. Meski kesal, Reyza terpaksa meminta tolong pada Akbar.
"Itu bukan Andri Bar! Tolong gue. Si Andri kayaknya kerasukan."
Kini Andri melangkah menghampiri Akbar. Tapi sesaat sebelum Andri melayangkan tinjunya lagi, Akbar menangkisnya.
Akbar berseringai.
"Sok banget lu setan!" Akbar mencekik leher Andri. "Bangsaaaattt! Keluar gak lu!"
Gila. Mana bisa mengeluarkan setan dengan cara begitu. Yang ada si setan makin geram lah! Dan Andri terluka.
__ADS_1
"Eh tunggu Bar!" Reyza tidak bisa kalau Andri mati kehabisan napas karena dicekik. "Lu gila! Andri bisa mati kalau lu cekik!"
Reyza mendekati tubuh Andri, dan dengan pelan meminta, "sadar ndri! gue mohon!"