
Reyza membeku. Sejenak pikirannya kabur, ia terpaku tidak menjawab sapaan Lily.
Lily tentu menyapanya lagi, "Rey?" Tangannya ia kibaskan di depan wajah Reyza. "Kamu ngelamun?"
Reyza menarik napas, kemudian katanya, "ah yaa Ly. Aku siap-siap untuk kelas sore dulu." Ia pamit. Meninggalkan Lily tanpa bertanya apapun. Padahal hati Reyza gusar, suara tadi itu suara siapa? Apa mungkin Lily?
Ah hari yang selalu melelahkan. Reyza menarik napas menenangkan pikiran. Tetapi malangnya Reyza, ia tiba-tiba terjatuh menabrak seseorang.
Reyza meringis, menahan pusing di kepalanya. Siapa?
Reyza menegakkan kepala dan melihat siapa yang ia tabrak. "Bar?"
Akbar. Anak yang sudah dicap sombong oleh Reyza.
Sialan! Gerutu Reyza dalam hati.
"Hati-hati dong kalau jalan!" Akbar menatap Reyza dengan pandangan mengancam.
Tidak ada gunanya untuk membalas ucapan Akbar itu. Akbar anak temperamental, sekali dilawan, Reyza bakalan dilibas sampai ******. Tipikal bad boy-nya sekolah. Preman, sering bolos kelas, bertindak seenaknya, pemarah, anjing gila. Si sombong. Satu saja kelebihan Akbar di mata Reyza, Akbar charming di depan perempuan. Mungkin karena Akbar bad boy. Perempuan paling suka bad boy bukan?
Reyza meminta maaf pada Akbar, kemudian kabur dari sana secepatnya.
Dari kejauhan, Andri sebetulnya baru saja akan menghampiri Reyza, lagi. Tapi Andri mengurungkan niatnya, dan lebih memilih pergi ke kelas selanjutnya. Andri berjalan dengan kepala tertunduk, seolah sekarang anak itu sedang galau dan sedih. Wajah ceria yang biasa terpancar dari Andri hilang sejenak.
Reyza bergegas mengambil buku, mencuci mukanya sebentar, shalat, lalu pergi lagi ke kelas. Bersyukur ia tidak menemui hal aneh lainnya, paling-paling hanya omelan para murid karena mengantri kamar mandi.
Sesampainya di kelas, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di bangku samping Andri. Kepala Andri masih tertunduk. Reyza bertanya dalam hati, si Andri ngantuk atau lagi galau nih?
"Oy!" Sapa Reyza. "Napa lu? Muram amat kayaknya."
Andri diam. Ia hanya menggelengkan kepalanya.
Reyza tidak peduli lagi. Pikiran Reyza sederhana, mungkin Andri sedang tidak ingin diganggu.
Telah 30 menit lamanya kelas berjalan, Andri masih menundukkan kepalanya, tidak bergeming, tidak bersuara sedikit pun. Pandangan matanya kosong. Dan Reyza merasa ini sudah sangat tidak wajar.
Perlahan Reyza mencoba mendaratkan tangannya di pundak Andri. Ingin Reyza untuk menyadarkan Andri. Bisa gawat kalau anak ini benar-benar diganggu jin kan?
"Ndri?" Reyza mengguncang pundak Andri. "Ndri?" Sekali lagi.
Andri diam, tidak menjawab.
"Ndri!?" Sekarang lebih keras. Hingga seisi kelas tertuju menatap Reyza, pun guru yang sedang mengajar. Tentu guru menegurnya. Ah Reyza gugup, ia pelan berusaha menutup wajahnya yang memerah karena malu juga.
Reyza kembali pada Andri. Ia memalingkan kepalanya ke Andri, dan betapa terkejutnya ia, ketika melihat tatapan Andri yang normal.
"Aish!!! Bikin kaget aja lu!" Bentak Reyza dengan suara kecil. "Lu kenapa sih? Lu lagi gk oke?"
__ADS_1
Senyum Andri kembali. Andri hanya terkekeh kecil sambil berkata, "gue lagi nyari inspirasi buat gambar selanjutnya di otak gue."
"Lu gila! Gue udah ngira lu kerasukan jin. Sumpah yaa.. lu aneh banget hari ini."
"Ya maaf Rey," Andri cemberut. Ia minta simpati Reyza.
Reyza geleng-geleng. Ia menyerah. Andri memang anak aneh. Reyza akui itu. "Lagian lu kenapa ngelukis terus sih?"
"Gue mau ikut kompetisi lukis kan Rey. Lu gak tau?"
"Lu gak cerita. Mana gue tau."
"Sekarang lagi banyak kompetisi. Lily fokus untuk siswa teladan di tingkat provinsi. Kak Novis, si mister perfect sekolahan ini juga ikut lomba lagi, pidato bahasa Inggris kalau gak salah. Lu juga ikut dong Rey."
Reyza memutar bola matanya, "ngawur lu!" Sentak Reyza, masih dengan suara dipelankan.
"Si Akbar juga ikut Rey!"
Reyza sedikit terperanjat. "Ikut lomba apa anak badung itu?"
"Game."
Reyza makin terperanjat. Bisa juga si Akbar melangkahkan kakinya untuk sekolah. Berbicara tentang Akbar membuat Reyza malas menanggapi obrolan dengan Andri lagi. "Perhatiin guru Ndri!" Pinta Reyza.
Andri cemberut.
***
Banyak yang salah dengan Akbar. Paling utama adalah temperamennya yang sangat keras, gampang marah, seperti anjing gila. Tetapi setiap manusia, pasti memiliki lebihnya. Reyza hanya belum tahu itu.
Akbar berteman akrab dengan tuan sempurna, Novis. Senior satu tingkat di atas Reyza. Ia juga terlihat dekat dengan salah satu murid perempuan, cantik juga meski tidak secantik Lily, namanya Intan.
Intan dan Akbar pacaran?
Belum.
Mereka hanya dekat saja.
Kebetulan pula, Intan adalah sahabat paling dekat Lily.
Itu pula yang membuat Reyza kesal pada Akbar. Lily temannya, Intan juga. Reyza hanya tidak ingin Intan sampai menjalin hubungan romansa dengan Akbar.
Akbar selalu fokus dengan game-nya. Ia sering bolos karena bermain game. Tapi masa bodoh, bukan hobby Akbar yang menjadi perhatian semua murid di sekolah ini, melainkan pribadinya.
Akbar tidak segan melancarkan tinjunya pada junior yang melakukan kesalahan sepele. Seperti, menyenggolnya sedikit saja, ia langsung berkata, "anjing!!!" *******, *****, dan kata kasar lainnya.
Watak yang benar-benar rusak.
__ADS_1
Bagaimana dengan guru? Kenapa Akbar tidak dikeluarkan dari sekolah.
Jawabannya klise. Guru bungkam karena sosok di balik Akbar.
Itu adalah kolega orangtuanya Reyza. Orang kaya juga, donatur kedua terbesar setelah orangtua Reyza.
Itu alasan ke sekian kali, kenapa Reyza selalu kesal pada Akbar.
***
Setelah semua kejadian aneh hari ini, Reyza masih belum bisa menenangkan pikirannya. Ia tidak akan bisa tidur, sebelum setidaknya ia bertemu Intan. Ia ingin tahu lebih banyak, apa yang akan dikerjakan Akbar.
"Tan!" Reyza memanggil Intan, sesaat setelah pengajian malam. "Bisa bicara sebentar?"
Saat itu Intan sedang bersama Lily. Reyza lega melihat Lily yang tampak sehat, ceria, dan normal. Lily baik-baik saja. Tangisan di lorong itu bukan Lily.
"Rey!" Intan mengejutkan Reyza. "Malah ngelamun!" Kata Intan.
Reyza tidak melamun, ia hanya terpaku sesaat efek melihat Lily.
"Oh ya... gue cuma mau nanya ke elu soal Akbar Tan."
Intan mengangguk, "go on!"
"Si Akbar ikut lomba game, itu karena lu ya?"
Wajah Intan heran, "lah gue juga baru tau Rey. Btw, emang apa urusannya sama lu?"
Reyza menggeleng, "ya gak ada sih."
"Lah terus?"
"Gue..." Reyza sendiri pun tidak bisa menjawab, kenapa? Kenapa ia ingin tahu urusan anak badung itu. Ah... Reyza makin bingung dengan hari ini. Tapi terserah. Di depan ada Lily, Reyza melirik Lily sebentar. Kali saja ada hal janggal lain dari anak itu.
"Soal tadi di aula, aku cuma lagi cari buku yang ketinggalan." Ucap Lily, dengan seringai.
Senyum Lily tidak penuh. Itu bukan senyum, itu seringai.
Lily yang biasa, tidak akan berseringai seperti itu. Dan lagi pula, kenapa Lily bisa tahu apa yang akan ditanyakan Reyza kepadanya.
Dengan gagap Reyza menjawab Lily, sambil memastikan, "kamu dengar suara aneh dari lorong depan samping aula?"
"Tidak."
Intan membentak kesal, "ish apaan sih Rey. Yang aneh sekarang itu elu!"
Intan dan Lily beranjak meninggalkan Reyza.
__ADS_1
***