SCHOOL OF LOST SOULS

SCHOOL OF LOST SOULS
Prasetyo


__ADS_3

Mempertimbangkan permintaan Lily, Intan dan yang lain kemarin, akhirnya Reyza mencoba izin ke Malik untuk pulang beberapa hari. Keraguannya memang besar, tapi ia akan usahakan.


Malik dengan mudahnya mengizinkan anak dari Prasetyo itu. Jika tidak menuruti pinta Reyza, bayangkan karma apa yang akan ia dapatkan dari Prasetyo.


Mobil hitam mewah, berhenti di depan asrama, gedung kamarnya Reyza. Anak asrama yang melihat mobil itu ramai berbisik, hingga Reyza sendiri mampu mendengarnya. Reyza menutup wajahnya, ia tak nyaman menjadi pusat perhatian. Seorang supir Reyza dengan sigap membuka pintu mobil mewah itu, menyambut dan mempersilahkan si tuan muda masuk. Semua bawaan Reyza juga segera ia bopong.


Andri berlari cepat menyusul Reyza. Sebelum pergi, Reyza juga berpesan pada Andri, "lu hati-hati! Kalau mereka ganggu lu, panggil Lily atau mungkin Akbar."


Andri manyun, "yang ada gue abis di tangan Akbar."


Reyza tertawa kecil. Ia kemudian pamit. Andri hanya menatap dengan raut sedih. Mungkin Andri khawatir tentang apa yang harus ia lakukan ketika ia kambuh lagi.


***


Di dalam mobil, Reyza tak banyak bicara. Si Tuan Supir juga fokus saja ke jalan. Banyak yang Reyza pikirkan, terutama ayahnya. Sesampainya di rumah, Prasetyo pasti banyak minta. Sebetulnya pulang adalah hal merepotkan bagi Reyza.


Reyza turun tidak di rumah utama keluarga Prasetyo yang super besar dan mewah. Ia diantarkan oleh si Tuan Supir ke rumah di mana para kolega Prasetyo berkunjung dan rapat. Sudah Reyza duga, pasti akan jadi seperti ini. Prasetyo terlalu bersemangat mendidik Reyza untuk menjadi penerusnya.


"Di sini ya Kak," ucap si Supir membukakan pintu Reyza.


Reyza keluar, barang bawaannya dibawakan si Supir. Reyza bertanya, "bapak juga di sini?"


Supir mengangguk, "mari Kak... saya antar ke ruangan Bapak."


Reyza menolak, "Bapak gak ke kantor?" Tanyanya lagi.


"Tadi bapak berpesan katanya ajak Kak Reyza ke rumah ini, kebetulan Bapak sedang ada tamu di rumah ini."


"Oh ya? Siapa tamunya?"

__ADS_1


"Soal itu, saya kurang tahu kak. Ayo masuk kak," ajak si Supir itu.


Lagi-lagi Reyza menolak. Ia tak mau diantar. Ia masuk ke rumah cukup besar dan masih mewah, meski tak semewah rumah utama, ia lihat beberapa tamu sedang rapat bersama Prasetyo.



Prasetyo menyapa Reyza kegirangan, "kamu sudah sampai Nak! Sudah makan?" Senyumnya lebar, dan pelukannya hangat menyambut Reyza.


Reyza diam saja, ekspresi datar.


Prasetyo masih girang, ia menawarkan Reyza cemilan, makanan, buah, susu, banyak. Sementara para tamu diam saja menunggu Prasetyo melanjutkan rapat. Prasetyo, masih dengan senyum lebarnya, mengenalkan Reyza dengan amat gembira dan bangga.


"Ini Reyza, anakku."


Para tamu tersentak, terkejut karena baru kali ini melihat anak sulung Prasetyo. Pujian untuk Reyza sontak berhamburan dari mulut mereka. Mulai dari si Kakak Reyza ganteng banget, hingga memuji Prasetyo karena punya anak seganteng Reyza.


Prasetyo senyum-senyum, sambil menegakan dagunya bangga. Prasetyo juga lanjut tak lelahnya membanggakan Reyza yang pintar dan penurut. Reyza hanya diam tak mendengarkan, sesekali senyum terpaksa.


Langkah Reyza berat, tapi memang ini risikonya jika ia pulang. Pastilah ayahnya selalu mengajak rapat dengan para orang dewasa itu.


Meski kerajaan bisnis Prasetyo sudah amat besar, tapi ketidakpuasan Prasetyo masih selalu terlihat. Terbukti, rapat kali ini pun Prasetyo sedang membicarakan project membuka perusahaan sekuritas.


Reyza geleng-geleng. Rumahnya dipenuhi para sales senior bitcoin dan forex, direktur dari salah satu perusahaan forex juga turut hadir. Mereka para pedagang dan pengusaha berwajah-wajah tamak, serigala berbulu domba, amat mengganggu konsentrasi Reyza.


Ada anak muda juga, umur sekitar 26 atau 27 tahun tapi kata si pemuda itu, ia sudah berpengalaman di dunia kripto. Transaksi dan untung yang ia peroleh sudah puluhan miliar. Tampak meyakinkan, mungkin memang benar. Namun yang lucu, si pemuda itu menawarkan produk kripto dengan nama K12 dan ia ingin meluncurkan produk itu di sekuritas tapi butuh modal. Ia minta duit investasi dari Prasetyo senilai 1,5 miliar.


Si pemuda dilewat. Seberapa meyakinkannya pun mereka berjualan, jika tiba-tiba meminta duit seperti itu, Reyza yakin Prasetyo langsung menolaknya. Ayahnya tak akan sembarangan membuang duit, meski super kaya.


Ada lagi seorang direktur perusahaan forex yang memiliki rencana membuka perusahaan baru di bidang bursa berjangka atau future trading, besok ia tawari Prasetyo untuk datang ke kantor barunya di daerah pusat bisnis di Jakarta.

__ADS_1


Reyza putar matanya, ia juga menguap. Reyza sudah terlalu terbiasa dengan rencana-rencana bisnis itu. Ia sudah hapal betul kemana arah bicaranya.


Banyak dari mereka yang butuh investor, ada yang ingin perusahaannya diakuisisi oleh Prasetyo atau dijembatani oleh Prasetyo ke calon pembeli lain, hingga ada yang ingin produknya sekedar di-endorse Prasetyo.


Tapi 'klien' Prasetyo itu tentu bukan kaleng-kaleng. Yang minta diakuisisi kebanyakan adalah perusahaan tambang besar di Kalimantan, Jawa, hingga di daerah Sunda atau ada juga perusahaan perkebunan sawit di Sumatera. Yang maunya dimodali saja lebih banyak lagi, tetapi lebih sering dari bidang keuangan seperti perusahaan-perusahaan kripto tersebut. Yang ingin di-endorse bukan produk kecil-kecil, keseringannya produk platform yang amat visioner dan potensial seperti platform market place.


Bahkan pernah ada keturunan bangsawan kesultanan di Jawa yang memohon agar Prasetyo dapat meluncurkan satelit yang ia miliki. Tentu butuh modal sampai 50 miliar dollar Amerika untuk low-earth-orbit satellite, belum lagi izinnya ke LAPAN yang cenderung sulit.


Reyza sudah terbiasa dengan rencana-rencana bisnis Prasetyo. Mereka kira Prasetyo lumbung uang mungkin. Membangun bisnis lagi itu bukan perkara mudah. Banyak penipu ulung bertebaran, atau orang tak bertanggung jawab.


Reyza berkali-kali mengingatkan, jangan sembarang mengundang orang ke rumah ini. Prasetyo kalau sayang mengeluarkan uangnya untuk mereka-mereka itu, ya jadilah saja seorang makelar. Carikan pemodal yang bersedia membiayai mereka.


Terakhir ayah Reyza berpesan kalau besok akan datang Tuan Musa. Ayah Akbar itu adalah tamu terhormat, sahabat Prasetyo, rekan sekaligus kompetitornya.


Reyza angkat tangan, ia menyerah dan sudah terlalu bosan dengan omong kosong rencana bisnis itu. Ia izin istirahat, atau jika tidak ia akan habiskan waktu sampai pagi hanya untuk ngobrol ngalor-ngidul bersama mereka.


Ayahnya menyusul Reyza ke kamarnya. Ia tinggalkan para tamu. Di kamar, Prasetyo membujuk Reyza, "besok kamu ikut ya ke Tuan Musa."


Reyza membalasnya, "ada yang harus saya bicarakan dengan Bapak."


Prasetyo menunggu.


Lanjut Reyza, "pak! Asrama sedang enggak baik-baik saja. Saya yakin bapak tahu kasus hilangnya siswa di asrama, Ali dan Nafira. Sekarang kasus itu seperti akan terulang lagi. Teman-teman saya yang jadi sanderanya. Saya butuh peran bapak. Saya ingin tahu siapa yang menyebar teror di sekolah."


Prasetyo tersenyum, "kamu kayaknya kecapekan ya nak! Kamu istirahatlah." Ia tinggalkan Reyza di kamarnya.


Reyza mendengus kesal. Ini memang percuma. Orang dewasa yang si*lan!


***

__ADS_1



__ADS_2