
Langkah kaki Novis cepat, ia berjalan kesana-kemari, terlihat sibuk. Rutinitas Novis memang super sibuk sebagai ketua kelas, ketua ekstrakulikuler pramuka, paskibra, dan ia juga bisa bermain band dan marching. Ditambah, sekarang ini Novis sedang menyiapkan lomba pidato, bahasa Indonesia dan Inggris. Latihan setiap waktu, belajar giat, bersosialisasi dengan para senior dan guru, dan yang paling Novis gemari dari semua itu adalah menebar pesona ke para junior, khususnya junior perempuan.
Di balik sosoknya yang kalem, keren, dan 'good boy', tipikal pria sopan yang pintar dan tekun, Novis sebenarnya menyembunyikan versi dirinya yang nyentrik. Novis selalu menikmati setiap tatap mata orang-orang yang mengagumi karisma dan karakter 'good boy'-nya itu. Baginya, pujian dan rasa kagum terhadapnya sudah seperti santapan lezat yang menyegarkan tubuhnya.
Pujian, popularitas, ketenaran, sanjungan, dan kekaguman yang diberikan sekolah asrama ini untuk Novis selalu sukses memompa adrenalin Novis untuk menelurkan prestasi yang lebih, lebih, dan lebih hebat lagi.
Kelak mungkin ia harus lebih profesional, misal menjadi selebriti keren, hingga mendapat acungan jempol dan hati dari berjuta-juta fan.
Selebriti tidak harus menjadi aktor atau bintang film, tokoh publik seperti tokoh yang menginspirasi jauh lebih berwibawa dan dihormati. Inilah salah satu ambisi Novis. Selesai SMA, ia pokoknya harus semakin tenar, tersohor sebagai anak muda sukses dan rendah hati yang menginspirasi.
Novis tersenyum dan bangga pada dirinya sendiri.
"Lu yakin gak keberatan Bro?" Akbar bertanya merasa tidak enak karena seperti telah merepotkan Novis dengan masalahnya.
Novis tertawa kecil, "lebay lu ah! Ya enggak lah. Gue malah seneng bisa bantu lu."
Akbar membalas senyum. Ia lega. "Tapi bukannya lu sibuk terus ya bro?"
"Santai.... gue kan pinter atur waktu. Sebanyak apapun kegiatan yang gue jalanin, gue tetep oke di semua kegiatan itu kan," ucap Novis dengan bangganya.
"Gue percaya kalo lu sanggup handle sih. Tapi lu kalo sekali ikut gue sama si Reyza cs, lu gak bisa keluar gitu aja loh."
Novis membuang napas, "gue tau itu."
"Reyza bakalan makan lu hidup-hidup kalo lu berani keluar."
"Ah Reyza doang. Lu lebih serem buat gue," ucap Novis merendahkan.
"Lu jangan niatnya pengen deket sama Lily doang!" Akbar kembali mengingatkan.
Novis tertawa, "Lu bisa bayangin gimana hebohnya sekolah kita kalo ada gosip gue sama Lily deket."
Mata Novis membelalak, ia merasakan sensasi luar biasa pada hati dan tubuhnya. Ia tak sabar ingin segera dekat dengan Lily dan menjadi makin populer.
__ADS_1
"Wah bro! Jangan ngarep deh. Gue tau lu suka Lily, tapi lu juga tahu Lily dikawal siapa."
"Reyza? Lah.... anak itu lagi! Apa spesialnya anak itu sih! Reyza si pewaris Group Prasetyo?! Harta dari orang tua aja, dia belagunya udah gak ketulungan."
Akbar setuju itu.
"Ya tapi bukan itu maksud gue. Intinya bro, lu harus serius bantu gue. Karena gue ini butuh bantuan lu. Besok-besok gue mohon sama lu buat bisa baik di depan Reyza sedikit aja," pinta Akbar.
Novis lama menanggapi Akbar. Novis berpikir tentang keuntungannya dekat dengan Reyza. Ia menghitung-hitung, kira-kira apa yang bisa ia dapatkan, apa untungnya jika ia dekat dengan Reyza.
Reyza seperti upil bagi Novis, kotoran atau t*i yang sering menodai popularitasnya. Seharusnya Reyza hanya berperan sebagai figuran di sekolah ini, dan Novis tokoh utamanya. Tapi di waktu-waktu tertentu, Reyza terkadang tampak mencuri panggungnya, katakanlah Novis iri pada Reyza yang dekat dengan Lily. Novis juga dari lubuk hatinya yang paling dalam betul-betul iri pada keistimewaan Reyza sebagai anak konglomerat yang super kaya.
Kebencian dan kekesalan yang sama antara Novis dan Akbar terhadap Reyza yang menjadi titik mula Novis bisa berteman dekat dengan Akbar.
Di belakang, Novis bukan main sering membicarakan bagaimana jeleknya sifat Reyza yang songong hingga menghasut orang-orang agar juga membenci Reyza seperti dirinya. Novis merasakan kepuasan di setiap momen Reyza tertimpa masalah, ia bahkan senang meletup-letup dengan hanya melihat Reyza murung. Lambat-laun, tanpa Novis sadari, Novis sungguh telah terobsesi pada Reyza, dirinya bertekad untuk menghancurkan Reyza di sekolah ini.
"Vis! Gimana? Lu bisa kan coba akrab dengan Reyza," tegur Akbar memecah lamunan Novis.
Akbar lega. Ia berharap Novis sungguh bisa bergabung dengan Reyza cs.
Keahlian Novis yang lain adalah kemampuannya berpura-pura. Di hadapan Reyza, Novis selalu kembali pada sosoknya sebagai senior sopan, baik, bijak, dan rendah hati. Ia terlalu pengecut untuk menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Reyza.
***
Rutinitas Novis yang normal, siang yang cerah dan panas. Novis selalu nimbrung dengan obrolan para pengurus, atau guru-guru di kantin.
"Sekolah kita emang udah dari dulu banyak setannya ya bang?" Tanya Novis pada salah satu senior.
Senior itu menjawab, "namanya juga asrama, asrama mana yang gak banyak setannya. Emang lu kenapa tiba-tiba nanya itu Vis?"
Novis mulai bercerita, "temen gue ketempelan sosok bayangan item bang. Lu pernah liat? Atau pernah tahu gitu bang, setan apaan itu?"
Seniornya pun baru tahu itu. Senior itu malah cengok dan minta Novis untuk lanjut cerita.
__ADS_1
Di dalam hatinya, Novis berkata kasar. Entah kenapa ia merasa marah hanya karena tidak mendapat jawaban dari senior. Ia sudah membuang waktunya yang sangat berharga hanya untuk berbincang dengan para senior yang sesungguhnya ia anggap bodoh.
Tapi di luarnya, Novis menggeleng, ia hanya berkata secara sopan kalau dirinya juga ingin tahu cerita setan itu.
Novis tidak sama sekali menaruh hormat pada senior, bahkan pada guru. Baginya mereka itu orang-orang tidak berguna, figuran di hidupnya Novis, yang perannya hanya sebagai pendukung Novis dan pemasok pujian. Novis butuh mereka untuk menaikkan dirinya di kampanye calon ketua pengurus nanti. Novis butuh semua orang di sekolah asrama ini, tidak sebagai teman, tapi cukup sekedar sebagai pengagum dan pemuja. Di kamus Novis, orang harus memberikannya keuntungan, baru ia akan beramah-tamah dan menghargai. Waktu Novis itu terlalu berharga untuk dihabiskan dengan orang-orang yang tidak membawa keuntungan untuknya.
"Vis! Lu deket sama Akbar kan?" Tanya salah satu senior.
Novis mengangguk.
"Si Akbar itu keren deh! Dia main game DOTA sampe tingkat internasional!!! Wahhhhh... itu sih keren abis! Iya gak bro!?" Ucap senior itu antusias mengagumi Akbar.
Novis tidak tersenyum, ia tidak ikut kagum pada temannya Akbar.
"Lu gak bangga punya temen selebriti game?!" Tanya senior itu lagi.
Novis melotot tegang, amat sinis pada si senior.
"Si Akbar nanti tuh mau ikut kontes game internasional!" Si senior itu terus membanggakan Akbar.
"Gak disangka, orang sangar itu ternyata jenius banget maen game. Tapi orang-orang gak pada tahu ini," si senior terus mengoceh.
Novis hanya diam. Ia menahan emosi yang meluap-luap. Saking tidak kuatnya mendengar ocehan si senior yang memuji Akbar terus-menerus, Novis angkat kaki. Ia bangun dan pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pujian pun untuk mengapresiasi Akbar.
***
Holaa, ini ANDRI
Ini author kasih foto NOVIS juga yaaa..
__ADS_1