SCHOOL OF LOST SOULS

SCHOOL OF LOST SOULS
Gambar


__ADS_3

Di dalam ransel Reyza, bertumpuk lukisan yang Andri buat. Hanya dua lukisan, yang terakhir, Andri belum memberikannya pada Reyza. Apa ia tanya lukisan itu sekarang?


Di sisi lain, Reyza masih khawatir kalau-kalau Andri kerasukan lagi. Ia tentu harus menjaga sikapnya kepada Andri. Tapi seharian ini bukannya ia sudah diam tidak wajar pada anak itu?


Okey, Reyza harus belajar bersikap wajar. Harus wajar sewajar-wajarnya. Dimulai dari menyapa Andri, atau mengajaknya pergi membeli sesuatu ke kantin, atau makan bareng seperti biasa.


"Ndri makan yu!" Ajak Reyza sealami mungkin.


"Lu udah gak marah sama gue Rey?"


"Jangan anggap serius Ndri. Gue cuma kecapekan aja tadi."


Andri tersenyum, ia senang temannya sudah kembali. Ia mengangguk, menjawab ajakan Reyza.


Mereka masih canggung sebetulnya, Andri kebingungan, dan Reyza belum selesai kesal.


Tapi obrolan tetap harus dipaksakan untuk mencairkan suasana yang beku itu.


"Lu masih asik aja tadi di kelas kaligrafi," pancing Reyza. Diam-diam ia bertujuan untuk meminta gambar terbaru Andri.


"Iya," jawab Andri tersenyum lebar.


"Sekarang lu buat gambar apa?"


"Nanti gue tunjukkin."


Reyza mengangguk, memaksakan senyumnya.


Mereka lanjut melahap makan malamnya.


***


Tiga lukisan berhasil Reyza terima. Ia bergegas pergi menemui Lily. Sementara Andri sudah terlelap.


Ada Intan bersama Lily, itu tidak jadi masalah. Yang menjadi masalah adalah, kenapa ada Akbar juga. Sial. Apakah si Akbar ini ekornya Intan, kemanapun selalu ada Akbar di samping Intan.


Reyza berbisik, "kenapa si Akbar ikut?" Pada Lily.


Lily santai menanggapi, "Akbar bisa dipercaya kok Rey."


Reyza kesal bukan main, tapi mau bagaimana lagi, terlanjur mereka sudah berkumpul, dan Akbar juga tahu saat-saat Andri kerasukan.


"Okey guys, gue gak mau lebay sebenernya, tapi apa yang kita lakuin sekarang gak berlebihan ya? Mungkin si Andri itu gak kenapa-kenapa, kitanya aja yang lebay." Kata Reyza sambil mengeluarkan tiga lukisan Andri dari ranselnya.


"Ini gambar yang Andri buat. Menurut kalian, apa ada yang salah? Kenapa si Andri ngasih ini ke gue?"


Mereka semua menatap lukisan itu dengan seksama.


"Ya ini aneh sih," Intan menanggapi.


Lily masih belum menanggapi.


"Gimana menurut lu Ly. Gue kesini pun karena lu yang minta," ucap Reyza.


"Aku masih mikir Rey, santai."

__ADS_1


Akbar tertawa, seperti menertawakan temperamen Reyza, seperti perempuan yang sedang PMS.


Reyza masih geram, masih seperti perempuan pada masanya.


Intan ikut tertawa, "Ly ditunggu loh komentarnya," goda Intan dengan mata genitnya.


"Fine..." Lily memutar bola matanya, dan meneruskan, "komentar aku nih Tan, kemungkinannya Andri diem-diem mau ngasih tau kamu soal kondisi dia Rey atau Andri sebenarnya enggak sadar dan enggak tahu kalau dia udah ngasih tau kamu."


"Kondisi apa?" Tanya Reyza dan Intan.


"His complex personality."


Mereka masih belum paham.


"Ini logikaku, gambar yang kita buat itu juga menunjukkan siapa kita. Makanya ada psikotest yang ngelibatin gambar-gambar pohon gitu kan. Kalian pada tahu itu gak?" Jelas Lily.


"Iya, tapi apa maksudnya personality complex?" Tanya Reyza.


"Antara..."


"Lu bingung Ly. Lu juga gak tau kan?" Ucap Akbar.


"Lu jangan potong omongan orang sembarangan dong!" Reyza membentak.


"Ya lu juga dari tadi nyolot terus gobl*k!" Balas Akbar.


"Udah! Biar Lily lanjutin penjelasannya," Intan melerai.


Mereka kembali fokus pada diskusi. "Okey Ly, jadi gimana?"


"Sok tau lu Ly!" Akbar ragu.


"Akbaaaarrrr...!" Intan mencoba memberi sinyal pada Akbar untuk tidak berkata kasar dan sembarangan.


Akbar diam.


"Lanjut Ly!" Pinta Intan.


"Kesimpulan aku sampe sekarang sih, ada tiga orang yang punya watak, personality, atau karakter yang beda yang buat gambar ini. Bukan satu orang."


"Tapi ini seriusan buatan Andri semua," jelas Reyza.


"Lu yakin Rey?" Tanya Intan.


"Ya kalian pikir, siapa lagi kan?"


"Kalau gitu..... apa menurut kalian?" Tanya Lily.


"Ini tebakan gue sementara, leuleus yuni (sebutan untuk yang mudah kerasukan di tanah Sunda) atau pribadi ganda," jawab Reyza.


Lily mengangguk.


"Apa itu mungkin?" Intan meyakinkan.


"Gue keluar," Akbar tiba-tiba meminta izin keluar, ia tampak merasa bosan dengan obrolan itu. Ia membawa beberapa batang rokok, dan selalu menikmati beberapa hisap di malam hari sebelum berangkat tidur.

__ADS_1


Sementara mereka bertiga berdiskusi, Akbar bersantai dengan rokok di tangannya dan dengan dinginnya angin malam, sesekali ia melihat ke bawah. Pemandangan gedung-gedung di sekolah, tampak gelap dan angker.


Akbar terhentak, terkejut ketika pandangannya berhenti pada sesosok bayangan hitam. Itu manusia. Sedang menatapnya dengan tatapan dingin dan tajam, dari bawah gedung ini.


"Fu*k!!!" Siapa itu ****!!


Refleks Akbar berlari, berniat mengejar bayangan itu sebelum hilang.


Intan yang melihat Akbar pergi, berteriak memanggil, "tunggu!"


Reyza hanya mengumpat, dan berkata, "biarkan saja orang gila itu!"


"Lu yang gila Rey!" Emosi Intan terpancing. Tidak terima Akbar disebut gila oleh Reyza.


Lily menyudahi pertemuan mereka, berhubung sudah larut juga. Pengurus asrama kemungkinan sudah berkeliling mendisiplinkan murid yang masih di luar.


Mereka bubar.


Intan terbirit-birit mengejar Akbar, yang sudah hilang entah kemana.


"Kemana dia Ly?"


"Sekarang kita istirahat, besok kita tanya."


"Aku yakin, pasti ada sesuatu Ly. Akbar gak mungkin lari gitu aja tanpa bilang apapun."


"Aku tahu Tan," ucap Lily sambil memeluk pundak Intan. Di sekitar asrama terasa makin dingin, dan gelap misterius.


***


Diskusi mereka yang singkat terhenti pada kesimpulan, mungkin saja Andri memiliki riwayat penyakit kejiwaan, gangguan kepribadian ganda, atau Andri hanyalah orang yang mudah kerasukan.


Tapi Reyza masih belum yakin. Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dari sejak mereka kenal, Andri bertingkah layaknya orang yang punya penyakit itu. Kenapa baru sekarang?


"Apa lu anggap gue aneh Rey?" Tanya Andri yang sedari tadi duduk di samping Reyza, di kelas, dengan wajah menyedihkan.


Andri yang biasa selalu ceria. Tapi sejak kejadian malam itu, Andri selalu tampak murung, loyo, tidak bersemangat.


"Gue beneran gak inget kejadian malem itu Rey. Apa lu bisa ceritain ke gue?" Pinta Andri.


"Lu duluan yang cerita," Reyza bersikukuh bahwa harus Andri duluan yang membuka diri. Ini agar ia bisa memahami kondisi Andri lebih dulu sebelum ia ceritakan kejadian malam itu kepada Andri.


"Akhir-akhir gue emang lagi ngerasa kacau."


"Kacau bagaimana?"


Andri belum yakin.


"Lu jangan ragu buat cerita ke gue. Lu temen gue, gue gak mungkin anggap lu aneh." Reyza merasa bahwa Andri di depannya ini sedang merasa ragu, khawatir, bahkan takut untuk bercerita.


"Gue bakalan mencoba buat paham kondisi lu, dan gak ngeremehin masalah lu." Reyza tahu bahwa banyak orang tidak berani membuka diri karena mereka merasa, orang lain tidak akan memahami mereka, mereka gagal dimengerti, masalah mereka direndahkan, mereka dianggap lebay, dipandang aneh, stress bahkan disebut tidak waras gila, kemudian malah dijauhi hingga dibully. Tidak seharusnya memang, orang yang sedang memiliki masalah diperlakukan demikian.


Andri mengangguk, sedikit matanya berkaca-kaca. "Okey, dengerin gue!" Pintanya. Andri mulai bercerita.


***

__ADS_1


__ADS_2