
Malik, nama kepala sekolah, paman sekaligus ayah angkat Lily.
Lily yatim piatu sejak balita. Ia akhirnya diasuh oleh keluarga Malik dan menjadi satu dari banyaknya anak kesayangan Malik.
Malik dan istrinya, berdua mengelola sekolah asrama yang sejak lima belas tahun lalu dibangun. Memang sekolah baru, tapi berkat donasi dari Prasetyo dan Musa, sekolah ini juga mampu bersaing dengan sekolah lain yang sudah lama menjadi favorit.
Banyak pihak yang berdonasi ke sekolah, termasuk pemerintah dan sebagian besar orang tua murid yang berasal dari kalangan atas.
Lily dekat dan hapal betul bagaimana ayah angkatnya ini. Malik adalah sosok yang bijak, lembut, pengayom, dan pemimpin yang disegani oleh semua murid dan orangtuanya, juga oleh masyarakat di sekitar sekolah.
Bahkan beberapa tokoh tersohor nasional, politikus, akademisi elit, para peneliti dan profesor, pengusaha, selebriti, dan lainnya seringkali datang untuk mengundang Malik di suatu acara bergengsi, atau untuk sekedar bersilaturahmi dan meminta saran dari Malik. Banyaknya sih para politikus yang berebut suara dan dukungan dari Malik.
Begitulah...
Malik fokus pada sekolah asrama yang dikelolanya, ia menolak untuk turut merambah ke dunia usaha, meski berkali-kali ditawari oleh para pengusaha untuk bergabung, misal sebagai investor, sebagai komisaris, bahkan pernah diberikan posisi direksi. Malik menolak.
Ia tidak bisa membagi fokusnya. Ia cukup nyaman dengan hanya mengelola satu sekolah asrama berusia cilik, yang bahkan belum berstandar internasional.
Dari SD hingga SMA, Lily dididik di sekolah asrama yang Malik bangun. Demikian juga Intan. Mereka bersahabat dari kecil. Sejak Prasetyo sering datang berkunjung ke sekolah, Reyza akhirnya kenal Lily, dan mereka juga berteman sejak kecil. Itulah kenapa Reyza dan Lily tampak akrab, tidak lain karena orangtua mereka berdua juga dekat.
Di ruang makan, Lily, Malik dan istrinya seperti biasa menyantap makan malam bersama. Di momen ini, biasanya mereka berbincang, entah itu hanya sekedar membicarakan prestasi Lily atau berdiskusi soal para murid di sekolah.
Baik Malik, istrinya dan Lily, semua yang ada di rumah besar milik kepala sekolah itu selalu senantiasa sibuk. Ribet dengan urusan mereka masing-masing.
Berbincang-bincang ala keluarga pada umumnya tidak bisa banyak dilakukan oleh Malik kepada anak kesayangan Lily.
Hanya di waktu-waktu tertentu, seperti di saat dinner seperti sekarang ini.
"Gimana belajarmu Ly?" Hal yang sudah pasti ditanyakan orangtua kepada anaknya.
"Baik. Lily harus terus latihan buat persiapan lomba siswa teladan tingkat provinsi ayah."
"Oh yaa... semangat nak. Itu bagus sekali," ucap Malik tersenyum bangga, sambil masih menyantap makan malamnya.
"Kapan lombanya?" Tanya Ibu.
"Hmm... sekitar dua minggu lagi."
Mereka kembali fokus pada santapan malam.
Lily sedikit gusar. Ia sesungguhnya sedang galau memikirkan penyakit Andri dan si penguntit. Rasanya ia sangat ingin memberitahu ayahnya mengenai hal itu.
__ADS_1
Tapi...
***
Saat itu Lily masih kelas 1 SMP. Saat pertama kali ia merasakan gejala, kurang lebih mirip dengan sakit yang dialami Andri.
Pelajaran olahraga. Tiba-tiba bola meluncur tepat ke kepala Lily. Gadis kecil itu tumbang membentur aspal yang keras dan seketika tidak sadarkan diri. Intan histeris.
Lily dibopong ke UKS. Dua jam berlalu, barulah Lily membuka matanya.
Ia merasakan sakit yang menusuk-nusuk di kepalanya. Perih bercampur nyeri.
Lily berusaha bertahan dengan obat anti nyeri. Sebetulnya itu cidera yang biasa saja. Hanya terhantam bola, tengkorak kepalanya tidak sampai retak, tidak mengakibatkan damage yang parah di kepalanya. Tapi sesuatu di kepala Lily, yang telah lama tertidur, akhirnya terbangun.
Sesuatu itu perlahan-lahan menghantui Lily. Ia merasakan seakan sesuatu itu merongrong, menghisap seluruh energinya untuk hidup. Lelah juga takut.
Lily yang masih kecil tidak tinggal diam. Dengan sedikit tenaga karena sakit, ia sudah... sudah meminta bantuan Malik. Merengek kepada ayahnya untuk disembuhkan.
Suatu malam, Lily menjerit-jerit seperti orang gila. "Ayah! Ayah! AYAH!!!!"
Air matanya mengucur deras, tersedu memohon menyedihkan dan mengkhawatirkan kepada Malik, agar Lily bisa sembuh. Agar Lily bisa hidup tenang tanpa rasa takut, lelah, dan perasaan ingin bunuh diri.
Tidak ada.
Malik tidak membawa Lily ke dokter. Malik tidak mengobati Lily dengan pengobatan yang Lily ingin dan harapkan.
Malik malahan menghujani Lily dengan ceramah yang tidak sedikitpun Lily kecil pahami.
Lily hanya bisa terus menangis, menangis, dan menangis. Perasaan tidak nyaman yang menekan dirinya terus-terusan menghantui Lily hingga sebulan penuh.
Mata yang sembab, diri Lily yang sedikit lagi hancur berkeping-keping, Lily hilang jalan. Ia menyerah. Ia tidak akan lagi meminta bantuan Malik. Lily hanya bisa bergantung pada dirinya sendiri pada akhirnya.
Saat sebulan berlalu, cahaya matahari pagi terlihat cerah dan menenangkan. Saat itulah, Lily rasakan kedamaian pada dirinya lagi. Sesuatu itu untuk pertama kalinya datang dan hilang dari diri Lily.
Senyum Lily kembali, dan Intan menyambutnya dengan bahagia dan penuh haru. Intan memeluk Lily erat, sambil menangis rindu karena sahabatnya telah kembali dari tidur yang panjang.
Juga Lily. Ia sungguh senang, ia hanya berharap sesuatu itu tidak datang memberikan terornya lagi.
***
"Iya pak. Saya akan menyediakan semua yang Bapak minta," ucap suara Malik dengan suara lirih.
__ADS_1
Dari balik pintu kamar Malik, Lily mendengar percakapan Malik kala itu.
"Saya sudah berusaha apapun untuk Bapak. Bapak percaya pada saya. Saya tidak mengecewakan Bapak, dan sekolah ini sepenuhnya untuk keperluan dan kebutuhan Bapak," ucap Malik lagi.
Lily mempertajam kemampuan mendengarnya. Sekolah ini adalah milik Malik, siapa orang itu yang berani sekali mengatur-atur Malik.
Lily yakin, ada hal yang tidak beres.
Keperluan dan kebutuhan apa? Bapak? Bapak siapa?
"Kalau Bapak sudah konfirmasi dengan orang tua murid, saya tentu tidak bisa menolak. Saya manut saja Pak," kata Malik lagi dengan suaranya yang pelan.
Ah siapa itu? Manut? Kenapa ayah Lily harus manut? Ini sekolah yang ayahnya kelola. Kenapa orang lain ikut campur dalam pengelolaan? Sejauh yang Lily tahu, donatur hanya donatur. Donatur tidak berkewajiban dan tidak berhak dalam pengelolaan dan pengurusan sekolah.
"Oh, Bapak sudah memilih beberapa anak?" Tanya Malik. "Boleh nanti daftar anaknya saya terima," pinta Malik. "Baik. Baik kalau begitu. Saya selalu support program Bapak."
Percakapan Malik dengan orang dari balik telepon itu berakhir sampai sana.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang mereka bicarakan? Program apa? Mereka membicarakan suatu program, sementara Lily tidak merasa ada program apapun yang diaplikasikan di sekolahnya.
Lily mematung di sana, kebingungan dan amat ingin tahu.
"Ly?" Malik keluar kamar dan menegur Lily yang termenung. "Ngapain kamu berdiri di situ?"
"Ah enggak Yah. Kebetulan aja Lily lewat, terus Lily lagi ingat-ingat ada barang yang kelupaan, hehe..." jawab Lily bohong.
***
Inilah alasan sesungguhnya kenapa Lily tidak bisa melapor dan memberitahu Malik tentang penyakit Andri apalagi tentang si penguntit itu.
Tidak banyak yang bisa Malik lakukan, dan justru akan menjadi boomerang untuk Reyza, Lily, Akbar, dan Intan. Malik bisa menutup kasus itu, menyuruh mereka untuk tidak berurusan atau menyelidiki kasus itu lagi.
***
Author kasih FOTO AKBAR yaaa....
Sama fotonya INTAN deh
__ADS_1