SCHOOL OF LOST SOULS

SCHOOL OF LOST SOULS
Limbo


__ADS_3

Andri terperangkap dalam manifestasi memorinya yang terdalam. Ia tersesat di sana. Anton, Hazan, Amar menatap dengan tatapan mereka yang khas. Mereka berjejer seolah mempersilahkan Andri ke suatu tempat. Andri menunduk hormat, permisi kepada mereka. Anton menunjuk orang lain masih berwajah Andri, "Bicaralah! Sebelum Kak Nara datang!" ucapnya dengan suara kecil. Andri mengangguk.


Terpancar aura berwarna hitam di sekujur tubuh Andri 'terakhir' itu. Aura negatif seakan menyimpan dendam kesumat yang kental dan pekat. Andri menahan ngeri, ia tancapkan langkahnya demi secuil jawaban atas kondisinya. Ini kesempatan yang tidak ia dapatkan dengan mudah. Bertemu dengan sosok hitam.


"Hallo ...." sapa Andri.


Orang itu berbalik, lalu ia pegangi lengan Andri. Dengan polosnya, Andri hanya pasrah pada bimbingan si orang itu. Wajah si hitam identik dengan Andri, ini membuat Andri bisa mengurangi takutnya.


Mereka berjalan ke arah yang terlihat seperti jurang. Tak sempat Andri bertanya, si hitam langsung menjatuhkan diri sambil menyeret tubuh Andri bersamanya.


Mereka terjun ke memori terdalam Andri. Ke masa ciliknya Andri lagi. Andri geleng-geleng menolak, ia ogah bertemu nenek menjijikkan. Tapi sudah terlanjur, ia sudah berada di lapisan terbawah dan terdalam dari ingatannya.


Ia melihat kilasan balik berputar seperti film di layar besar, terpajang di mana-mana. Kenangan ketika ia dilahirkan, ketika ayah ibunya masih ada, ketika ia ditimang dan bermain dengan Nafira. Dan jantungnya seolah terhenti sejenak sesaat ia melihat memori nenek itu.


"Siapa dia?!" tanya Andri pada si hitam.


"Dia? Nenek kita." ucap si hitam menahan sedih.


"Kenapa dia lakuin itu ke Nafira?!"


Si hitam menjawab, "Hidup terkadang sangat keras dan tidak sesuai harapan kita."


"Lalu?" Andri menunggu lanjutan omongan si hitam.


"Kamu di-bully oleh hidupmu sendiri. Kamu benci pada hidupmu sendiri, kamu ditekan, diremas, diperlakukan lebih buruk dari binatang oleh hidupmu sendiri, rasanya kamu ingin bunuh saja hidup itu."


"Aku tahu aku menyedihkan," kata Andri. "Tapi aku bisa protes pada hidupku, dan lakukan sesuatu untuk membully balik hidupku. Mati bukan pilihan yang terhormat."


Si hitam tersenyum, "Kamu betul, aku pikir juga begitu."


"Benarkah?" Andri ragu. Hitam bukannya ingin bunuh diri?


Si hitam mengangguk, "Aku pikir ... kamu memang harus terus lanjutkan hidupmu dengan optimis. Dan aku ... harus pergi."


Andri mengembuskan napasnya lega, "Itu artinya kamu akan berhenti menggangguku?"


Hitam mengangguk senang, "Ya. Tapi tidak sekarang. Sampai kamu bisa terima memori-memori ini dengan lapang dada."


Andri menunduk, "Bagaimana bisa? Nafira ternyata menderita, dan aku cuma bisa saksikan penderitaan Nafira tanpa bisa berbuat apapun."


Hitam mengusap rambut Andri penuh kasih sayang, dan ada rasa sabar di sana. "Ayo kembali ke atas." ucapnya.


Andri bersiap ditarik lagi ke atas oleh hitam. Mereka perlahan mengapung, lalu seketika melesat terbang ke atas.

__ADS_1


Mereka mendarat sempurna, Andri merasa mual pusing. "Wah, kamu seperti sudah biasa menjelajah di sini yaa."


Hitam tertawa kecil, "Tentu saja. Karena di sini aku diciptakan dan di sinilah tempatku."


"Sebetulnya tempat apa ini?" tanya Andri.


Hitam menatap Andri seperti orang yang kasihan pada Andri, "Ini di dalam dirimu sendiri Ndri! Kami semua adalah kamu." senyumnya.


Andri tersentak dan terkejut. Ia kehabisan kata-kata. Tidak sanggup memberi tanggapan.


Hitam melanjutkan, "Hubunganku dengan Nara memang tidak baik."


"Kenapa?" Andri baru bertanya.


"Mari kita panggil yang lain kemari."


Andri menurut, ia ikuti saja Hitam.


Anton, Hazan, dan Amar berbondong-bondong menghampiri Hitam dan Andri. Mereka duduk melingkar, dan cerita Hitam pun mulai.


"Seperti yang kukatakan tadi, kami semua adalah dirimu. Anton ...."


Anton tersenyum lebar, "Hai Kak Andri." sapanya. "Maaf Anton gak bisa banyak bicara sama Kak Andri. Itu karena ...." Anton terhenti menunjuk ke atas.


Andri tidak paham.


Kini Hitam bicara lagi, "Kami adalah perwujudan dari hasrat, memori, dan emosimu sendiri Ndri. Kamu menekan sekuat tenaga ingatan masa kecilmu hingga alami amnesia, tapi di sisi lain, kamu rindu ingatan masa kecil yang hilang itu. Kamu juga ingin merasakan asyiknya bermain sewaktu kecil terutama dengan Nafira. Karena itu, tercipta Anton." Hitam tersenyum ramah.


Andri tidak menanggapi. Ia ingin Hitam selesai dengan penjelasannya.


"Hazan dan Amar adalah manifestasi dari kesedihan, kesakitan, rasa frustasi dan amarahmu. Semua itu hilang ketika ingatanmu hilang. Tapi tidak dengan residu emosi itu. Residunya menjelma menjadi Hazan dan Amar."


Andri mengerti. Ia menunduk tidak tahu harus apa. "Bagaimana denganmu dan Nara?" hanya bertanya itu. "Kamu dan Nara bukan perwujudan dari emosiku yang hilang. Kalian apa?" tanyanya lagi.


"Siapa bilang?" Hitam terkekeh. "Nara itu adalah rasa bersalahmu. Dia mirip Amar. Penuh kebencian dan amarah, hanya saja Nara lebih kuat. Ia dicipta dari kebencianmu yang terdalam."


Andri mengangkat kepalanya, "Kebencian pada siapa dan apa?"


Hitam tersenyum penuh simpati, "Pada dirimu sendiri."


Seperti ada panah yang menusuk hati Andri. Hitam terlalu benar. Andri teteskan air matanya, ia remas dadanya. Hitam memeluknya.


"Karena itu Nara membencimu. Nara memerintah Anton, Hazan, dan Amar untuk tidak sedikit pun menyebut namamu. Nara sangat membencimu hingga tingkat di mana ia ingin habisi kamu Ndri."

__ADS_1


Tangis Andri tumpah dan semakin menjadi-jadi. Ia meraung-raung mengeluarkan semua emosinya. Hazan menimpali. Anton kebingungan, dan Amar cuek saja. Hitam mengeratkan pelukannya. Andri mencari-cari ketenangan, tapi tidak ia dapatkan.


Hitam berkata, "Sekarang giliranku."


Andri sesenggukan menahan tangisnya, "Siapa kamu?! Kenapa peduli padaku!?" tanyanya membendung air mata.


"Aku yang juga hilang dari hatimu." Hitam meminta Anton, Hazan, dan Amar menutup mulut untuk diam dan tidak memberi Andri petunjuk.


"Apa?" Andri berusaha menebak.


"Apa yang selalu kamu rindukan?"


Andri berpikir, "Teman."


"Lalu?" tanya hitam mendorong.


Andri berpikir lagi, jawabnya, "Diriku."


Nara menggeleng, "Bukan."


"Aku ingin sembuh. Aku ingin hidup normal. Itu yang paling kumau."


"Tidak." Hitam bersikeras menolak. "Kemarilah!" ajak Hitam.


Andri ikuti Hitam. Ia menyuruh Andri berdiri di tepi jurang.


"Kamu lihat di bawah sana ada apa?" tanya Hitam. "Itu hasratmu yang terpendam."


"Itu kenangan masa kecilku? Anton sudah mewakilinya! Apa lagi!"


Hitam geleng-geleng, masih berusaha membantu Andri menebak. "Lihat lebih dalam. Ada apa yang hilang dari sana?"


Andri memejamkan matanya, mencoba mencari sesuatu yang hilang itu. Apa yang paling ia rindukan sebetulnya.


Andri akhirnya menjawab, "Keluarga." air mata meleleh hangat, banjir di pipinya. "Aku rindu keluarga." sekujur tubuh Andri merinding, bereaksi pada rasa rindu yang kuat menjalar di dirinya. "Aku ingin keluargaku!" rengeknya.


Hitam peluk Andri lagi penuh kasih sayang. Selama ini Andri hidup sebatang kara tanpa ingatan, tanpa keluarga. Malik menemukan Andri di sebuah panti asuhan yang dibinanya. Lalu Malik pindahkan Andri ke sekolah asrama miliknya. Di sana, Andri baru bertemu Reyza dan teman yang sudah ia anggap keluarga sendiri.


Hitam berucap penuh keharuan, "Namaku Nafira. Mereka panggil aku Hitam tanpa tahu nama asliku. Aku Nafira, keluargamu yang hilang dan yang selalu kamu rindukan Ndri."


Andri membalas pelukan Nafira. Tangisnya buncah lebih keras. "Terimakasih selama ini kamu ternyata telah berusaha melindungiku. ucapnya sesenggukan.


***

__ADS_1


Haduh ... emosional sangat Episode kali ini 😭 author sampe kebawa suasana. Terus jadi pengen bikin spin off cerita Nafira dan Andri. Gimana menurut temen-temen? 😁



__ADS_2