
Pagi yang cerah. Wajah Andri dan Reyza kusut tidak karuan, pucat, bawah mata bengkak kurang tidur.
"Kalian kenapa?" Intan bertanya. Ia duduk di depan Andri dan Reyza yang mengantuk.
Reyza tidak menjawab. Ia malah membenamkan wajahnya di atas tangan yang dijadikan bantal. Begitu pula Andri. Anak itu malah sudah tidur duluan.
"Dasar Reyza!" Gerutu Intan sebal.
Lily masih terdiam sambil memerhatikan di bangkunya. Setelah Intan duduk kembali di samping Lily, barulah Lily juga ingin tahu, kenapa dua anak itu terlihat tidak bertenaga hari ini. Intan menggeleng. Dan Lily menatap menyelidik.
***
Setelah mencuri waktu untuk tidur sebentar, Reyza membuka obrolan. Di jam istirahat, mereka berkumpul dan Reyza tidak lagi peduli pada tatap mata murid lain yang tertuju kepadanya.
Dekat dengan selebriti sekolah, si Lily, memang merepotkan, tapi demi mengungkap identitas si penguntit dan kesehatan Andri, Reyza relakan dirinya digosip aneh oleh penggemar Lily.
"Semalem ada dua makhluk yang masuk ke tubuh Andri, satu Nara, satu lagi Anton. Gue gak dapet apa-apa dari Anton, dia masih kecil umur 10 tahun, polos banget. Dan ini!" Reyza mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. "Ini gue dapet dari Nara."
Akbar ikut dalam pertemuan itu.
Semua mata membelalak melihat benda itu, Akbar dengan sigap mengambil dan memerhatikan benda itu dengan seksama.
Berbentuk chip, dengan lensa kecil yang terhubung kabel. "Gue gak yakin, tapi kayaknya ini penyadap atau perekam," ucap Akbar mengira-ngira.
"Wait! Ada dua persoalan nih jadinya. Satu Andri, dan satunya lagi itu si penguntit. Iya kan Rey?" Intan memastikan.
Angguk Reyza. "Gue rasa Anton gak bahaya. Tapi gue gak tahu kalau Nara."
"Seperti apa pribadinya?" Tanya Lily yang sedari tadi diam saja.
Reyza menjawab, "sebentar aja sih gue ketemu Nara dan Anton. Tapi pertama Nara muncul itu, dia bilang jangan sebut nama Andri. Gue gak tahu pasti dia bilang itu ke siapa, tapi gue rasa itu buat Anton. Mereka berdua saling kenal. Dan kagetnya gue pas tahu kalau Nara juga lihat si penguntit."
"Keren juga tuh si Nara!" Puji Akbar. "Tapi kenapa lu gak panggil gue sih semalem?" Akbar kesal.
Suasana sedikit menegang, Andri menjelaskan sebelum Reyza atau Akbar naik pitam. Mereka berdua ini seperti anjing dan kucing kalau dibiarkan. Sulit membendung kalau sudah berdebat apalagi adu jotos, "hehe... lu kan sibuk sama DOTA lu itu Bar. Kita gak mau ganggu."
"*** lu!! Santai aja kali Ndri. Padahal kalo semalem gue ikut, gue bisa kejar tuh si brengs*k!" Akbar makin kesal dan kecewa karena tidak diajak.
"Ya okey, lain kali gue ajak lu." Reyza akui kekeliruannya karena tidak melibatkan Akbar. "Semalem gue emang butuh backup, gue terlalu sibuk ngurusin Andri dan jadi hilang jejak si penguntit."
"Nah apa gue bilang. Ya lu songong sih! Idi*t dasar!" Maki Akbar.
"Cukup Bar!" Intan mengingatkan. "Rey! Lu sendiri yang bilang kalau kita harus saling jaga. Kerjasama. Jadi mulai dari sekarang, kita harus percaya satu sama lain. Termasuk lu harus percaya Akbar!" Omel Intan.
Reyza menanggapi, "gue paham poin lu Tan."
"Okey clear. Sekarang lu jelasin lagi tentang Nara dan Anton," pinta Lily.
__ADS_1
"Apalagi yang harus gue jelasin Ly? Segitu aja gambaran gue," jawab Reyza.
Akbar tidak merasa peduli dengan sosok-sosok yang melekat pada Andri. Andri bukan persoalan Akbar. Target dan fokusnya menangkap si penguntit saja. Jadi ia hanya akan mengurusi semua hal yang berhubungan dengan si penguntit. Akbar menambahkan, "gue pegang alat ini. Gue kasih tahu kalian kalau gue udah tahu apa dan untuk apa alat ini."
Intan mengangguk.
"Jadi apa lagi Rey?" Tanya Andri.
"Oh satu hal lagi. Harusnya si penguntit datang buat ambil alat itu, iya gak?"
"Lu bener Rey," Intan setuju.
Lily berpendapat, "kemungkinan besar, penguntit itu bagian dari kita. Dia harus terus mengawasi Andri, menanam benda itu, dan mengambilnya lagi di waktu yang berbeda. Gak mungkin dia orang luar."
"Aku setuju kamu Ly," Intan menanggapi lagi.
"Jadi apa rencana kalian semua?" Akbar bertanya, merasa tidak sabar ingin segera membekuk si penguntit. Sebetulnya Akbar sendiri merasa janggal, kalau bukan orang luar, lalu siapa yang ia lihat membawa motor mewah? Tapi tidak masalah. Yang terpenting adalah menangkap si penguntit itu, tidak peduli apakah dia dari dalam atau dari luar.
"Harusnya dia ambil di waktu sepi," tambah Reyza.
"Subuh?" Pikir Lily.
Reyza mengangguk.
"Susah Rey. Artinya hari ini kita gagal nangkap doi," keluh Andri.
"Ya sudah, besok-besok lu ajak gue. Gue beneran bakalan ngejar orang itu sampe dapet," ucap Akbar dengan nadanya yang sinis.
Reyza membalas kesinisan Akbar. Interaksi mereka berdua memang terkadang menggelikan, tidak kurang sepeti kucing dan tikus.
***
Lily, Intan, dan Akbar sudah pergi lebih dulu meninggalkan Reyza dan Andri. Mereka berdua berjalan di lorong sepi, semua murid tampaknya sedang berada di kantin-kantin atau kelas.
Merasa tidak ada orang yang mendengar, Andri berani membuka obrolan tentang sosok-sosok yang menempel padanya. Dan ia memberitahu Reyza, "ada satu gambar yang belum gue kasih ke elu Rey."
Reyza tidak terkejut. Kini ia sudah terbiasa dengan hal janggal. Gambar-gambar Andri bukan apa-apa dibanding Nara yang ia temui semalam.
"Lu kasih ke gue aja," kata Reyza singkat.
"Lu pasti kaget lihat gambar ini."
"Kagetnya?"
"Ini gambar anak kecil."
"Maksud lu apa sih, gue belum mudeng. Gambar lu bukan gambar pohon lagi? Tapi gambar anak kecil gitu?"
__ADS_1
"Masih gambar pohon, tapi yang buat kayaknya anak kecil."
Reyza mudeng dari sana. Ia terdiam membeku dengan jantung berdegup.
"Lu tahu artinya apa?"
"Iya gue tahu," suara Reyza bergetar.
"Apa?" Andri bertanya penasaran.
"Berapa gambar yang udah lu buat?" Reyza malah balik bertanya menyelidik.
"Ada beberapa gambar yang hilang."
Yang Andri maksud gambar yang hilang adalah, di belakang lemarinya. Terdapat satu canvas yang terselip. Tidak berlukiskan pohon seperti beberapa gambar Andri yang lain, tapi hanya bertaburkan cat berwarna hitam pekat. Semua hanya hitam mengisi seluruh bagian canvas hingga ujungnya. Artinya apa? Jangankan gambar yang tersembunyi itu, gambar lain yang sudah Reyza terima saja, Reyza belum mengulas apa maknanya.
"Yang lu kasih tahu ke gue empat," kata Reyza tegas.
Andri mengangguk polos.
"Ada empat sosok yang suka sama lu!"
Andri terdiam menunduk. Mungkin ia sedih dengan fakta yang diungkapkan Reyza. Kemudian tiba-tiba, "Oh ketahuan juga ya," ucap seseorang melalui mulut Andri.
Atmosfir di sekitar lorong sontak berubah dingin. Kuduk Reyza merinding semua. Rasanya ingin kabur saja meninggalkan Andri dan setannya. Tapi tidak mungkin.
Reyza memantapkan nyalinya, ia coba bertanya santai tanpa memperlihatkan rasa takutnya, "lu datang lagi Nar!"
"Kali ini gue yang datang, tapi gue gak bisa pastikan kapan 'dia' atau 'yang lain' datang. Temen lu harus siap, lu juga!" Ucap Nara.
Reyza mengeluarkan napas lega, beruntung dirinya. Sedikit ia bisa mengurangi rasa takutnya, karena setidaknya ia sudah berkenalan dengan Nara.
Nara pergi dengan mudah dan cepatnya, berganti Andri yang kikuk. "Jadi sosok itu digambarkan lewat setiap lukisan yang gue buat?"
"Ye! Telat lu! Tadi si Nara dateng!"
"Ah serius lu!" Tak disangka Andri sendiri terkejut. "Gue gak ngerasain apa-apa tuh," ungkapnya kebingungan.
***
Temen-temen pasti udah tahu ini siapa kaann... ☺
Terimakasih bagi yang sudah berpartisipasi ikutan giveaway SOLS. Pemenang sdh ada, tapi gak bisa diumumkan... nnt kena 'sedikit' spoiler deh 😁😁
Ikuti terus cerita SOLS yaa teman-teman. Karena ke depannya, cerita SOLS bakalan makin menegangkan 😆
__ADS_1