SCHOOL OF LOST SOULS

SCHOOL OF LOST SOULS
Story of Andri


__ADS_3

Dengan tatap mata yang menusuk, Andri memulai ceritanya:


***


Semua bermula dari sebulan setelah Andri masuk asrama. Pertama kali Andri bermimpi buruk. Ia dikelilingi oleh wajah dingin dan asing, wajah-wajah yang memandangi Andri dengan sorot mata kosong. Mereka hanya diam berdiri, sementara Andri tidak bisa bergerak dari posisi tidurnya. Mimpi yang terasa nyata, membuat napas Andri sempit, menahan takut, karena rasanya seperti ditawan oleh mereka.


Beruntung itu hanya mimpi, Andri terbangun dengan peluh membanjiri pundaknya, dan napas terengah-engah.


Siapa mereka?


Andri terus bertanya, tentu pikirannya kacau, seberapa keras pun ia mencoba mencari tahu arti dari mimpi itu, nihil. Andri tetap tidak paham.


Apakah ada demit yang mengikutinya?


Mimpi seperti itu tidak terjadi sekali, dua kali, tiga kali... mimpi itu terus terulang hingga sebulan penuh.


Andri kelelahan.


Waktu tidur yang kurang di asrama, ditambah dengan jam tidur terganggu, mimpi itu lebih seram dibanding hantu. Andri bisa kabur seketika dari hantu, tapi dari mimpinya sendiri? Bagaimana?


Jangankan sebulan, beberapa hari pun, tubuh manusia seharusnya tidak akan sanggup dengan tanpa istirahat, khususnya tubuh anak seumuran Andri.


Mimpi buruk itu seperti telah menjadi nyata. Realita Andri yang terus beraktivitas tanpa istirahat, tanpa tidur yang menenangkan, menjadi semakin buruk dibanding mimpi buruk itu sendiri.


Andri yang lugu, hanya mengira kalau mimpi ya mimpi. Bunga tidur semata.


Demit mengikutinya?


Mengapa hanya lewat mimpi, tidak yang lain?


Kemudian setelah satu bulan yang panjang, wajah-wajah dingin yang menatapnya dalam mimpi, entah kemana hilang.


Mereka tampaknya berpindah ke tempat yang lebih dekat dengan Andri. Di kepala Andri, kini seringkali berdenging suara-suara asing.


Riuh ramai, suara tak bertuan.


Setan?


Andri yang lugu, masih ragu.


Ia pikir, itu hanya efek karena ia kurang istirahat.


Karenanya, ia mendengar halusinasi melalui telinganya.


Terkadang kepalanya pusing tidak tertahan.


Kemudian, suara seseorang membentak, tapi Andri tidak tahu asal suara itu.


Kepalanya pusing lagi, terus menerus pusing, serta selalu diikuti oleh suara tak bertuan. Kadang tangisan, kadang rengekan, jeritan, bentakan, dan banyak lagi.


Ramai.


Tapi sepi.


Andri tidak mengerti dari mana asal suara itu.


Dari kepalanya?


Sejauh yang Andri ingat, suara itu memang sedekat kepala dengan telinga. Bukan bisikan/ suara dari luar, tapi dari dalam kepalanya sendiri.


Dalam kondisi tidak tertahankan, sakit di bagian kepala, dan takut pada teror suara, Andri menangis seorang diri. Di pojok kelas yang dingin. Tanpa Reyza, tanpa siapapun menemani.


Apakah ia menjadi gila?

__ADS_1


Bagaimana jika orang-orang menganggap Andri gila?


Air mata Andri meleleh. Ia tak kuasa menahan sedih. Sakit. Ibuuu, Andri sakit. Kepala Andri sakit.


"Keluar. Keluar. Keluar!" Kata suara dari dalam kepala Andri.


"Keluar. Keluar. Keluar!" Katanya lagi.


"Sudah waktunya."


Kemudian ngiiiiinggggggg... kepala Andri berdenging. Rasanya seperti akan pecah. Sakit sekali, dan


Gelap.


Semuanya menjadi gelap.


Andri hilang kesadaran.


***


Andri berjalan santai, seperti tidak ada apapun yang terjadi. Meski 'mereka' masih ramai, Andri tidak peduli lagi.


Ia terus berjalan, menuju warkop, membeli kertas karton dan krayon dari warung.


Kemudian, tangan Andri lincah mulai membubuhkan krayon warna hijau ke karton.


Andri fokus pada gambarnya.


Seseorang menegur Andri, dengan senyum yang teramat sangat manis, gadis itu berbisik pelan di telinganya, "siapa namamu?" Gadis itu semakin tersenyum lebar.


"Kenapa aku harus memberitahumu namaku?"


Gadis itu membalas Andri dengan senyumannya lagi yang manis, "aku bisa jadi temanmu," ucapnya.


Gadis itu tersenyum (lagi), "aku Lily. Salam kenal," katanya.


Andri membalas senyum Lily.


"Kamu baru keluar?" Tanya Lily.


Andri mengangguk.


"Aku tanya namamu loh, kamu belum jawab."


Andri salah tingkah, ia menjawab sambil malu-malu, "namaku.... Anton."


"Berapa umurmu?" Tanya Lily lagi.


Andri menjawab, "10 tahun."


"Wah, berarti kamu harus panggil aku kakak dong," ucap Lily dengan senyuman ramah.


Andri mengangguk. "Iya Kak Lily," katanya.


"Oh ya, aku pergi yaa. Teruskan saja pekerjaanmu itu," Lily pamit. Ia menunjuk gambar yang dibuat Andri, lalu pergi sambil meninggalkan senyum yang manis.


***


Andri tertidur di atas meja kelas yang ia jajarkan. Ia tampak kelelahan setelah lebih dari satu jam ia menggambar.


Gambar yang lugu. Seperti dibuat oleh seorang anak umur 10. Penuh coretan tidak beraturan yang mirip dengan benang kusut. Krayon belum dirapihkan, gambarnya masih tergeletak di bawah, sementara Andri pulas tertidur.


Saat Andri membuka matanya, Andri melihat Reyza sudah duduk di depan Andri dengan posisi membelakangi dirinya.

__ADS_1


"Rey?" Panggil Andri.


"Btw, berapa lama gue ketiduran di sini?" Tanyanya.


"Gue juga gak tahu. Gue baru sampe kelas. Lu cuci muka sana, bentar lagi guru datang."


Mata dan kepala Andri masih terasa berat, meski pusingnya sudah hilang. Ia sedikit merasa aneh. Tapi aneh apa?


"Lu kayak orang linglung," ucap Reyza.


"Namanya juga baru bangun tidur Rey. Gue ngumpulin nyawa dulu nih."


"Ya udah cepet sana lu cuci muka."


"Iya iya..." Andri keluar kelas, pergi menuju kamar mandi sambil menguap lebar, dan badannya sakit semua karena lama tidur di atas meja yang keras.


Andri bingung sendiri, ia bertanya dalam hati, "kapan gue ke kelas? Ngapain gue di kelas?"


***


Cerita tentang Andri bersambung dulu sampai sana.


"Begitu cerita gue Rey," ucap Andri.


Reyza menepuk jidat dan mengomeli Andri, "lu kenapa gak cerita ke gue kalo selama ini lu dihantui mimpi buruk, gak bisa tidur, kurang istirahat, dan denger suara-suara aneh!?"


"Gue tau lu kecewa. Tapi gue mikirnya itu tuh hal sepele, gue baik-baik aja, dan itu bukan apa-apa."


"Tapi enggak kan Ndri. Lu itu gak lagi baik-baik aja. Lu sakit Ndri. Lu butuh orang buat ngobatin lu!" Omel Reyza terus.


"Gue sakit apa Rey?" Tanya Andri dengan raut wajah murung. Senyum Andri sudah jelas hilang, padahal Andri amat dikenal sebagai anak yang ceria.


"Gue gak bisa mastiin."


Mereka berdua diam.


"Tapi gue bakal terus ada buat lu, dan siap bantu lu kapan aja."


"Thanks Rey. Appreciate it."


"Thanks juga karena lu udah mau cerita."


Andri mengangguk, "masih banyak yang belum gue ceritain. Terus ada satu gambar lagi yang belum gue kasih ke elu."


"Kita terusin nanti. Sekarang, ada kelas."


***


Jam asrama memang selalu padat. Istirahat, makan, dan ibadah, kemudian kembali kelas. Kelas ekstra, kursus bahasa, atau kelas mata pelajaran tambahan.


Sebelum Reyza dan Andri keluar, Lily bergegas kabur agar Reyza dan Andri tidak menemuinya.


Sepanjang Andri bercerita, sebetulnya Lily berdiri di balik pintu, dengan cermat mendengarkan setiap kata yang Andri lontarkan.


Lily... agenda apa yang sedang ia kerjakan? Mengapa diam-diam ia menguping perbincangan Andri dan Reyza?


***


Ini POTRET ANDRI



__ADS_1


__ADS_2