
Polisi berbondong-bondong mendatangi sekolah asrama itu. Mereka melakukan penyelidikan pada kasus penyekapan dan penganiayaan Novis. Luka lebam di seluruh wajahnya dan beberapa di tubuhnya, satu kuku dicopot, dan lidah terputus. Tidak banyak yang bisa polisi dapatkan. TKP bersih. Sidik jari sudah dihapus. Bahkan jejak kaki tidak ditemukan. Novis secara misterius ada dan disekap di gedung itu.
Polisi sendiri bergidik. Mereka menyadari betapa profesionalnya si pelaku.
Semua proses penyelidikan berjalan normal, tidak ada yang janggal. Tidak dihalangi atau dihentikan oleh orang yang berkuasa. Malik membiarkan polisi menggeledah sekolah asramanya tanpa khawatir apapun. Polisi bisa mencari keterangan sebebasnya dari para siswa dan guru di asrama. Malik tak takut pandangan orang luar berubah terhadap sekolahnya, atau sekolahnya menjadi sepi peminat karena kasus mengerikan ini.
Siapa yang mengira bahwa ternyata Novis hidup bersama kakek yang sudah renta. Bermodalkan gaji pensiunan PNS si kakek. Tidak ada saudara, tidak ada orang yang mengamuk memprotes kenapa Novis bisa terluka mengenaskan.
Novis dipulangkan ke rumah kakeknya yang sederhana. Ia diistirahatkan, dan diberikan sejumlah tunjangan untuk biaya perawatan oleh Malik. Bahkan Malik tanpa ragu juga menawarkan beasiswa perguruan tinggi untuk Novis.
Tidak banyak yang bisa polisi lakukan. Tidak ada saksi, tidak ada petunjuk di TKP, semua bersih tak berjejak. Tapi ini jelas perkara penganiayaan yang menyebabkan luka berat, kasus harus dinaikkan ke tingkat penyidikan. Tersangka harus mereka dapatkan. Hukuman lima tahun penjara untuk pelaku harus ditegakkan.
Kecuali jika Malik atau orang yang berkuasa meminta menghentikan penyidikan dan menutup kasus ini. Maka akan dengan senang hati, polisi melakukannya.
***
Reyza dan Akbar merasakan trauma di benak mereka. Akbar karena dikhianati temannya, sementara Reyza karena ia telah melakukan penyiksaan pada Novis. Tangan Reyza sudah ternoda darah. Kuku Novis yang ia lepaskan secara perlahan masih terbayang-bayang di kepala Reyza.
Andri baik saja. Ia sama sekali tidak ingat seluruh kejadian tadi malam. Andri bangun dari tidur dengan segarnya.
Lily masih mengantuk. Ia memeriksa kembali layar berfilmkan kejadian semalam. Ia mengulang lagi, ia jeli mengingat terakhir ia lihat Andri masih di gedung itu setelah Reyza dan Akbar pergi.
Apa yang Nara perbuat?
Begitu benak Lily. Tombol enter ia klik, dan benar saja.
Si*lan si Nara! Dia buat Novis cacat.
Tindakan Nara terlalu jauh. Menghapus jejak dengan membuat anak orang cacat, ah itu sudah keterlaluan. Lily tahu betul betapa narsisnya Novis. Lily juga tahu sisi psikopat yang dipendam Novis. Tapi memotong lidah Novis? Lily sendiri merinding, tak terbayang rasa sakit yang dirasakan, tanpa bius, terutama Nara memotongnya secara perlahan. Si psikopat Nara! Anak itu seperti sedang menyantap rasa sakit yang diderita Novis.
Kelas kembali kondusif setelah semua pemeriksaan dilakukan polisi. Reyza dan Akbar menjelaskan alibi yang sempurna. Pengurus menerangkan kepada polisi bahwa selalu ada yang patroli sepanjang malam.
Polisi kembali ke markasnya dengan tangan kosong. Percuma jika menaikkan kasus ini ke tingkat penyidikan, tidak ada petunjuk yang mengarah ke pelaku.
Reyza mengajak teman-temannya berkumpul. Lily, Intan, Akbar, dan Andri mengikutinya. Masih merasakan takut di tulangnya, suara Reyza bergetar membuka rapat mereka.
"Gue yakin yang sudah hapus semua jejak itu adalah Nara."
Andri menunjuk dirinya, "gue?" Tanyanya memastikan tidak percaya.
"Iya. Bukan gue, bukan Akbar. Tapi lu Ndri! Nara di dalam diri lu."
__ADS_1
Intan tak banyak bicara, pun Lily. Intan tak paham, ia juga takut. Lagipula selama ini, tidak banyak yang Intan kontribusikan untuk mereka. Intan merasa tidak berguna. Tidak mungkin ia mengomentari pekerjaan Reyza, Akbar, dan Andri.
"Gue gak bisa banyak komentar. Sudah banyak yang kalian alami. Gue cuma bisa kasih dukungan buat kalian, supaya kalian tetap kuat. Maaf karena gue gak bantu banyak," begitu kata Intan.
"It's okay Tan. Gue juga gak mau lu dalam bahaya," balas Akbar. Intan satu-satunya teman terdekat yang Akbar punya. Ia tidak akan membiarkan segores pun Intan terluka.
Intan menunduk.
Lily memeluk pundaknya, "jangan takut. All is well," ucap Lily menenangkan dan tersenyum lembut pada Intan.
Intan membalas pelukan Lily, ia tersedu menangis sambil berkata, "aku takut Ly... aku takut!" Tubuh Intan gemetaran.
Lily mengusap rambut Intan, terus menenangkan Intan.
Akbar merasa tak tega melihatnya. Ia meminta Lily pergi mencari tempat yang lebih nyaman untuk Intan. "Jangan libatkan Intan lagi! Gue mohon ke kalian semua," pinta Akbar.
Ada kesedihan dalam sorot mata Reyza. Melihat temannya seperti itu selalu membuat Reyza tak tahan. Khawatirnya bertambah.
"Kejadian semalam memang bikin takut, tapi guys... kayaknya kita harus fokus cari biang keladinya deh," ucap Andri memecah suasana.
Reyza kembali memusatkan perhatiannya pada kejadian semalam. "Kita udah dapat biang keladinya. Itu Novis yang selama ini ngikutin lu sebagai orang berpakaian serba hitam, pake topeng warna kulit."
"Ya. Temen gue yang bejat itu selama ini adalah si penguntit," angguk Akbar.
Andri menutup mulutnya. Ia masih belum percaya.
Lily kembali, Intan ia antarkan ke kamarnya bersama seorang pengurus yang menjaga.
"Tapi siapa Mastermind-nya gue sendiri gak tahu. Nara yang tahu," Reyza menambahkan.
"Jadi Nara itu kayak gimana sih Rey?" Andri bertanya.
"Lu pikir sendiri Ndri. Nara hapus jejak kejadian semalam dengan sempurna, dan Nara juga yang potong lidah Novis. Lu pikir aja, kira-kira Nara sosok seperti apa?!" Kata Reyza.
"Kita undang Nara ikut di sini. Gimana Ndri?" Tanya Akbar.
Lily setuju, Reyza juga. Andri terdiam ragu. "Gue oke aja. Tapi apa gak bahaya? Terus gimana caranya? Nara muncul dan pergi semau dia. Dia gak bisa dipanggil atau diundang kan?" Begitu kata Andri yang ragu.
Andri benar. Hanya Nara yang keluar dari tubuh Andri dengan gampangnya, Nara juga pergi seenaknya, sementara yang lain biasanya Andri akan merasakan gejala aneh terlebih dahulu.
"Gue masih punya satu utang ke Nara. Mungkin gue bisa pancing Nara masuk ke tubuh lu," ucap Reyza.
__ADS_1
"Utang apa Rey?" Tanya Andri.
Lily juga terkejut. Ia melirik wajah Reyza dengan tatapan heran.
"Ini urusan gue sama Nara."
Akbar tak terima, menurutnya semua yang sudah terlibat di masalah ini harus terbuka. Tidak boleh ada yang ditutup. "Wah lu gak boleh lakuin hal di luar sepengetahuan kita dong Rey!" Protes Akbar.
Lily mengangguk setuju. "Biar gimanapun Nara itu sosok yang bahaya. Kamu gak bisa sembarangan buat kesepakatan dengan dia. We need to stick together Rey, biar bisa saling jaga. Kamu hati-hati sama sosok itu."
Reyza tahu. Tapi tidak ada jalan keluar baginya untuk lepas dari kesepakatan itu.
"Guys!" Panggil Lily. Tampak ia sedang meminta Reyza, Akbar, dan Andri untuk mendengar apa yang ia katakan.
"Ada sesuatu yang mau aku kasih tahu ke kalian.
Mereka semua diam, memberi waktu bicara kepada Lily.
Lily meneruskan, "aku tahu semua kejadian semalam. Aku kenal Nara dengan baik, aku tahu kondisi Andri, aku juga tahu si bayangan hitam. Aku rasa, sudah waktunya Aku buka ini ke kalian.
"Sekolah kita bukan sekolah biasa. Ada banyak hal yang disembunyikan sekolah ini, termasuk yang buat Andri seperti sekarang. Ada Mastermind yang sudah ngobrak-ngabrik sekolah kita.
"Aku sebagai putri dari pemilik sekolah ini, aku terikat dengan sekolah ini. Aku gak bisa lari dari apapun yang terjadi di sekolah ini, begitu juga Reyza dan Akbar. Ayah kalian donatur yang membesarkan sekolahku.
"Intinya yang mau aku sampaikan ke kalian, please bantu aku kejar si Mastermind. Please Rey, Bar, Ndri...
"Lalu siapa si Mastermind itu, dari hasil semalam kita gali informasi dari Novis. Pertama, Novis gak akan mungkin kasih tahu kita siapa. Reyza siksa Novis sampai koma pun, Novis akan memilih mati ketimbang mengucap nama si Mastermind.
"Tapi Novis lupa satu hal..."
Lily membuka rekaman CCTV, dan memperlihatkan video CCTV di layar besar dengan projector.
"Akbar punya keterkaitan dengan si Mastermind," tunjuk Lily pada Novis di video itu.
Lily mengakhiri pengakuannya.
***
Lily oh Lily........... 😫
__ADS_1