
Napas Akbar memburu, terus mengejar sesosok bayangan gelap yang entah sekarang pergi kemana dia. Sial, sial, sial. Akbar tertinggal. Anak tangga dari lantai dua ke lantai bawah terlalu banyak, tentu ia akan tertinggal.
Akbar sama sekali tidak mengingat bagaimana rupa bayangan itu. Wajahnya. Ia tidak melihat wajah si bayangan.
Baju hitam, celana hitam, rambut hitam, kulit cokelat, dengan topi hitam, bagaimana Akbar bisa melihat wajahnya.
Satu hal yang pasti, itu manusia, bukan demit. Itu orang yang sepertinya sedang mengintai salah seorang dari mereka berempat (Akbar, Reyza, Lily, atau Intan) atau justru bukan salah seorang, tapi keempatnya. Tidak ada murid lain, selain mereka yang malam itu numpang di gedung kelas. Jadi jelas, target orang hitam itu adalah mereka berempat atau seseorang di antara mereka berempat.
Apa mungkin Lily atau Intan? Apa urusannya? Jika itu antara Akbar atau Reyza, masih masuk di logika. Akbar dan Reyza adalah pewaris bisnis raksasa ayah mereka berdua. Hal seperti "diikuti" oleh suruhan dari kompetitor adalah sesuatu yang sudah lumrah terjadi.
Akbar belum bisa menarik kesimpulan. Ia belum dapat petunjuk apapun, selain bahwa sosok itu adalah manusia.
Napas Akbar masih berat, "sial!!!! Kemana perginya?! B*go!!!" Umpat Akbar kesal pada dirinya sendiri.
Semakin gelap, bulan bersembunyi pun bintang di tengah langit malam yang mendung. Satu batang rokok sudah habis. Sebatang lagi, Akbar ingin mengatur napasnya dahulu.
Akbar masih berpikir, mencoba menebak-nebak kemungkinan jalan yang dilewati si bayangan. Sebutan "penyusup" tampaknya lebih cocok untuk orang hitam itu.
Di samping gedung kelas ini, terbentang luas lapangan tempat main futsal. Akbar yakin ia lihat si penyusup itu berlari ke arah samping. Di belakang, ada masjid, kemudian toilet laki-laki, dan berakhir di hutan bambu yang Akbar sendiri ragu untuk memasukinya.
Gila tuh orang!
Apa dia tidak tahu, kalau banyak demit yang siap memangsa di malam hari. Tidak mungkin kalau tanpa penerang, jalan di hutan bambu tentu gulita, sangat sangat gelap, tidak terlihat apapun.
Akbar bergegas, berjalan cepat, menuju gerbang asrama. Ia menunggu peruntungan, mungkin saja si penyusup lewat depan.
"Eh Nak Akbar," sapa pemilik warung kopi depan gerbang.
"Hai Bi. Pengurus udah periksa tempat ini?"
"Sudah tadi," jawab Bibi Piah si pemilik warkop.
Akbar membuang napas lega. Beberapa menit ke depan, ia bisa tenang meneguk kopi panas buatan si Bibi. "Satu Bi," pesan Akbar.
"Kenapa kayak orang habis dikejar setan nak?"
Akbar tertawa kecil, "bukan dikejar setan Bi. Tapi ngejar setan."
"Walah," si Bibi terkejut, "terus kemana setannya?"
"Ya kabur. Gak ketangkep."
Bibi tersenyum, "Akbar ini aneh. Iseng amat ngejar-ngejar setan."
Akbar tertawa, "setannya ngintipin Akbar sih Bi. Ya Akbar gak terima."
Bibi tersenyum lagi. "Eh nak Akbar, gimana kabar neng Intan?"
Pipi Akbar merona, "ya gitu," jawab Akbar sambil senyum-senyum tersipu.
"Aduhhhh... anak muda. Gemes Bibi jadinya."
Akbar tersenyum lebar.
Kopi Akbar sudah siap. Ia meniup kopi itu, kemudian tiba-tiba melaju sebuah motor besar warna hitam, ditumpangi orang dengan pakaian serba hitam, sangat kencang dan berisik. Mengejutkan Akbar dan si Bibi.
__ADS_1
"F*CK!!"
Akbar mengumpat lagi. Ia sadar siapa itu.
"Itu setannya Bi!!!" Teriak Akbar. Ia berdiri sambil mengacungkan telunjuknya mengarah ke motor yang sudah hampir menghilang itu.
"Bawa motor ngebut begitu, gak takut jatuh yaa.. berisik, ganggu banget." Bi Piah mengomel.
"Ya namanya juga setan Bi!"
Akbar meletakkan gelas kopinya. Ia pamit, menuju ke asrama lagi.
***
Hingga sekarang Akbar yakin betul, si penyusup bukan orang sembarangan. Sampai botak pun ia berpikir, jawabannya tidak akan ia temukan. CCTV asrama percuma. Akbar yakin, si penyusup tidak sebodoh itu sampai lupa ada CCTV di asrama. Orang itu profesional.
Akbar mengguncang tubuh Novis, temannya (si tuan sempurna). Pintar, tampan, calon ketua pengurus pesantren, dan baik (bagi Akbar).
"Bangun!"
Novis perlahan membuka matanya yang berat, kepalanya pusing karena dibangunkan dari tidur yang lelap. Tapi tetap ia bertanya, "ada apa Bar?"
"Handphone lu! Pinjem gue. Penting."
Novis menguap lebar. Mengucek matanya, sambil meraba lemari dan mengambil Hp dari laci lemari. "Nih!" Tubuhnya tumbang, kembali tidur
"Thank you bos!"
Akbar segera menghubungi ayahnya.
Dugaan Akbar benar, Ayahnya mengangkat.
Tapi Akbar menutupnya kembali. Karena akan sia-sia. Akbar tidak mungkin dapat jawaban dari ayahnya.
Akbar melempar jengkel Hp itu. Ia memukul dinding kamar cukup keras, hingga Novis terbangun kembali.
"Bar tidur!!!" Pinta Novis. Matanya masih terkatup.
Akbar menarik selimut, memilih istirahat.
***
Saat matahari terbit, meski masih gelap, bintang belum sembunyi, dan udara lebih dingin, daun berembun, Akbar sudah terbangun. Tidur singkat dengan beberapa mimpi kilasan balik masa lalu. Matanya bengkak, masih terkantuk dan kepalanya pusing karena kurang tidur. Ia menguap lebar, dan berusaha bangkit. Berjalan terkantuk-kantuk ke kamar mandi, membasuh wajahnya.
Ah ada Reyza di sana.
Mereka sering sekali berpapasan. Kebetulan pula Akbar ingin memberitahu Reyza tentang semalam.
"Gue..."
"Lu lari kayak pengecut semalem!" Potong Reyza.
"Anjing!!!" Akbar geram. "Lu id*ot!"
"Sebaliknya! Lu yang b*doh!" Reyza mengumpat balik.
__ADS_1
Akbar mengangkat lengannya, dan ia memukul kepala Reyza, meski tidak keras, tapi Reyza nyaris jatuh tersungkur.
Reyza memegang kepalanya, menahan amarah yang meluap-luap, lalu memilih pergi. "Gak ada gunanya gue berurusan sama orang gila kayak lu!" Ucap Reyza.
Akbar melempar gayung ditangannya ke arah Reyza, tapi tidak kena. "Bangs*at!!" Akbar mengejarnya.
Menghantam leher Reyza, tidak keras, tapi lagi-lagi cukup untuk membuat Reyza tersungkur. Seseorang yang melihat mereka berdua dengan panik menghalangi tubuh Akbar agar tidak menghampiri Reyza lagi.
Akbar melototi Reyza dengan buas, giginya bergemeretak, tangannya terkepal dan amat siap menerkam Reyza kembali.
Karena tertahan, Akbar melepaskan tinjunya ke dinding kamar mandi.
BUGGG!!! Sambil berteriak kesal! "BANGS*TTT!!"
Reyza membalas tatapan Akbar tanpa rasa takut.
"Rey udah Rey! Jangan nantangin Akbar!" Pinta temannya.
Beruntung amarah Akbar masih terkontrol. Akbar berhasil tenang, dan pergi kembali ke kamarnya. Ia menabrak pundak Reyza dan masih mengumpat, "Gobl*k!!"
***
Tujuan Akbar tidak lain hanya ingin memberitahu Reyza mengenai si penyusup. Tentu Akbar tidak bisa menyelidiki si penyusup itu seorang diri, karena ini melibatkan mereka berempat.
Reyza hapal betul temperamen Akbar yang sangar. Harusnya Reyza mengerti. Tapi hanya Reyza yang tahu kenapa ia selalu memancing amarah Akbar.
Keduanya memiliki hubungan rumit, yang bahkan Intan atau Lily pun belum tahu.
Intan yang mendengar kabar kalau Reyza dan Akbar membuat keributan (lagi) pagi tadi, langkahnya tegas mendatangi bangku Akbar. Intan duduk di hadapan Akbar dan mulai menginterogasi Akbar.
"Kan sudah kubilang, tahan....."
"emosi," lanjut Akbar.
"Iya. Terus pagi tadi kenapa? Huh?"
Akbar kecut, ia menjawab sebal, "si brengs*k itu nantangin gue sih!"
Intan membuang napasnya, dan berkata lembut, "lupakan kejadian tadi pagi okey! Sekarang kamu cerita, apa yang mau kamu sampein ke Reyza? Karena tumben kamu ngajak Reyza ngomong duluan. Itu kan gak ada di kamusmu."
"Ini....."
"Oh ya, kenapa semalem kamu pergi gitu aja?" Intan memotong.
"Gue liat orang, seperti sedang membuntuti kita."
Kuduk Intan merinding. Ia menelan ludah karena takut. "Kamu tau siapa?"
Akbar menggeleng, "belum."
***
Kurang lebih, begini tampang Akbar guysssss.... ;)
__ADS_1