
Malam itu, Reyza santai membaca novel. Sebentar lagi ia berangkat tidur. Andri sudah tidak di UKS. Anak itu tak lama langsung sadarkan diri dan linglung.
"Lu okey kan Ndri?" Tanya Reyza.
"Jadi gimana hasilnya?" Andri balik bertanya.
"Nara itu pemimpin sosok-sosok yang ngikutin lu. Lu sama sekali gak tau Nara?"
Andri menggeleng, "gak ada yang gue tahu tentang para sosok. Gue emang bisa dengar suara mereka. Tapi gak jelas Rey."
"Coba lu yang atur mereka!" Pinta Reyza.
"Caranya?"
"Lu yang harusnya paling tahu."
Andri berbaring menenggelamkan tubuhnya di balik selimut. Ia kesal Reyza amat ketus kepadanya. Tapi Reyza benar. Harusnya memang ia yang menjadi tuan dari tubuhnya sendiri. Harusnya setan-setan itu tidak seenaknya keluar masuk, apalagi tanpa izin dirinya sebagai tuan rumah.
Andri mengatupkan matanya memilih tidur.
***
Dalam tidur, mereka menghantui. Andri bermimpi seolah ia terdampar di ruangan penuh kabut warna-warni. Kadang ruangan itu meniupkan kabut berwarna kuning, kemudian merah, biru, warna pastel, abu, dan hitam.
Hitam adalah warna yang paling mengerikan, seakan menghipnotis ruangan itu menjadi horor. Andri memeluk tubuhnya, merasa tak nyaman di setiap kali kabut berubah warna.
"Haloooo?" Andri memanggil, mencari peruntungan mungkin saja ada orang yang juga ada di sana. Suara Andri menggema dan kembali ke telinganya.
Udara menusuk kulit, dingin terasa. Andri makin erat merapatkan dan membelitkan tangan di tubuhnya.
"Siapapun itu, keluarlah... haloooo! Di mana iniiii!!!" Panggil Andri lagi.
Tak ada yang menjawabnya, hingga sesosok aneh muncul. Siluet manusia dengan warna biru. Dari sana, sayup-sayup terdengar seseorang menangis.
Andri memicingkan matanya. Ia berusaha melihat. Meski kakinya kaku karena takut, tapi ia coba melangkah menghampiri si sosok yang menangis.
Perlahan, Andri menjulurkan tangannya. Ia ingin meraih pundak si sosok itu, dan melihat wajahnya.
"Permisi," ucapnya. Tangan telah menyentuh pundak kanan si sosok.
Tak disangka, sosok itu menoleh juga. Memberi tanggapan atas sapaan Andri.
Andri kaget setengah mati. Ia mundur beberapa langkah nyaris tersungkur. "Siapa lu!?" Tanyanya.
Sosok itu berwajahkan Andri. Seperti berkaca, amat mirip dengan Andri, tak sedikitpun ditemukan bedanya, identik sekali dengan Andri. Ada cahaya biru yang memancar dari tubuhnya.
"Gue tanya, siapa lu!" Bentak Andri.
Tangis sosok itu semakin menjadi. Ia bersimpuh di hadapan Andri. Tersedu-sedu.
Andri menelan ketakutannya. Ia ingat pesan Reyza kalau ia tidak boleh menjadi pengecut atas dirinya sendiri. Ia langkahkan kakinya lagi, mendekati sosok yang menangis itu. "Lu sosok lain yang ngikutin gue kan?"
Sosok itu terus menangis, tak berhenti.
Andri mengusap kepalanya. Ia berkata pelan, "gue gak benci lu. Lu jawab pertanyaan gue..." Andri berpikir, apa yang harus ia tanyakan. Ah mungkin sebutan si sosok itu, "siapa nama lu?"
Merasa lebih tenang, karena Andri tidak lagi membentak, sosok itu akhirnya membuka mulut. Dengan kakunya ia berkata, "Ha... Zan."
__ADS_1
"Hazan?" Tanya Andri memastikan. Suara Hazan kecil nyaris tak terdengar. "Kenapa lu nangis? Siapa yang buat lu nangis? Tapi paling penting, kenapa kita di sini?"
Hazan diam saja tak menjawab.
Andri makin frustasi. Mengapa ia mimpi seram lagi. Ini vivid dream, tapi rasanya ia hilang kendali. Ia tak tahu harus kemana di mimpi ini. Ia bahkan tak bisa melihat apapun, karena semuanya tertutup kabut.
"Siapa lagi yang ada di sini? Gue mohon jawab gue!" Andri mencoba bertanya lagi.
Masih tersedu, sambil sesekali membuang ingus, sosok Hazan membuka mulutnya hendak berkata, "Anton."
Ah, ia teman baik Anton. Mungkin.
Andri tahu Anton. Reyza pernah cerita. "Kemana Anton?"
"Tidur," jawab Hazan.
"Lalu selain Anton?"
Hazan diam saja. Ia justru makin cemberut, mewek lebih kencang. Seperti seorang anak kecil yang tersesat dan terpisah dari ibunya.
Andri hilang akal. Bagaimana ini? Ia ingin bangun dari mimpi ini.
Andri merasa tak ada pilihan lain, selain mengekplorasi tempat ini. Berharap agar ia bertemu sosok lain yang lebih bisa diajak bicara.
Andri bangkit dari duduknya, ia meraba-raba ruangan penuh kabut itu. Tak berdinding dan tak bertepi. Seperti sejauh apapun Andri berjalan, ia tak akan menemukan ujungnya.
Hingga ia kelelahan. Satu sosok lain akhirnya datang juga. Kali ini warnanya merah.
Andri bersiap. Ia mundur perlahan, memantapkan lengannya jaga-jaga jika sosok itu ternyata bahaya.
"Siapa lu!" Tanya Andri.
Mengejutkan Andri.
Menabrak dan menjatuhkan Andri.
Sosok itu amat marah. Ia pun persis seperti Andri, namun sangat bengis.
Andri menahan sosok itu, dengan panik ia bertanya, "gue kawan bukan lawan! Gue temen lu!"
Sosok itu berhenti menyerang. Tapi napasnya masih berat, panas dan wajahnya tetap bengis.
Andri menghindar perlahan. Kemudian ia bertanya lagi perlahan, "siapa nama lu?"
"AMAR!" Bentak sosok itu dengan buasnya.
"Kenapa kita di sini?"
Amar melototi Andri.
"Santai... aku teman."
Amar tak banyak bicara seperti Hazan. Rasanya sia-sia bagi Andri untuk terus bersama Amar.
"Okey, kalo lu gak bisa jawab. Gue pergi," ucap Andri.
Andri berbalik, ia lanjutkan pencariannya. Ia ingin jalan keluar, itu saja.
Ia bersiap bertemu yang ketiga. Ia masih meraba-raba ruangan itu. Kabut yang memenuhi seluruh sudut ruangan terus berganti-ganti warna. Kuning, jingga, biru, merah, abu terakhir hitam.
__ADS_1
Lama Andri santai berjalan, tiba-tiba bruk! Andri menabrak sesuatu. Itu tubuhnya sendiri. Siapa lagi kali ini, apakah Anton?
Sosok itu berseringai.
Andri menelan ludahnya, ia tahu dengan jelas itu bukan Anton. Tapi kemana cahaya yang memancar dari tubuh sosok itu? Harusnya seperti Hazan dan Amar yang mengeluarkan cahaya warna biru dan merah.
"Siapa namamu?" Tanya Andri sopan.
Senyum sosok itu amat mengancam, ia berkata intens, "siapa yang menyuruhmu masuk? Jadi siapa di luar?"
Andri tak paham.
"Anton!" Panggil sosok itu.
Andri yang lain berlari terbirit-birit menuju Andri yang mengerikan ini.
"Iya Kak Nara," jawab Anton.
Andri yang asli masih belum paham.
"Anton, Hazan, Amar, gue dan lu ada di dalam. Jadi siapa yang di luar?" Selidik Nara.
Andri diam tak tahu harus jawab apa.
Nara tertawa lalu berseringai, "si hitam bangkit lagi rupanya."
Nara menjeda omongannya, lalu lanjutnya, "INI SEMUA GARA-GARA LU!" Bentaknya.
Nara melembutkan intonasi bicaranya, tapi terasa dingin dan sorot mata tajam, "kerangkengnya lepas."
Andri diam keheranan.
Nara mendekati Andri, kemudian ia membentaknya lagi, "KELUAR LU SEKARANG!"
***
Andri terbangun. Dengan posisi tangan di leher Reyza.
Reyza tercekik, dan tubuhnya terangkat cukup tinggi.
"Ndri! Sa... sa... dar! Napas Reyza tersengal-sengal nyaris habis.
Andri sontak melepaskan cengkeramannya di leher Reyza. Ia terguncang dengan semua keanehan yang dialaminya.
***
Hai guys...
Berhubung NT Najwa sering hang sampe gak bisa buka pesan dri temen-temen sadaya, Najwa mau buat grup WhatsApp nih 😊
BAGI TEMEN2 YANG BACA SOLS Dan tertarik ikuti SOLS sampai tamat, bisa ping Najwa di nomor 089662114176
😆
Ditunggu yaaa semua.
Salam saranghae,
__ADS_1
Ayu Najwa