
"Keluar Tan! Kita sudah jauh dari asrama." pinta Akbar.
Intan masih terdiam di tempat sembunyinya di dalam mobil.
Akbar tidak tahu, namun bahkan mobil pun mungkin telah disadap mereka. Tapi sudah terlanjur, mereka pasti sudah tahu. Intan harus periksa kabar keluarganya, tapi Hp-nya ditinggal. Jika Musa otak di balik semuanya, apakah kaki tangan Musa (orang-orang yang berbaju hitam) itu akan berani mencelakai Akbar. Intan rasa tidak mungkin.
Maka akhirnya, meski masih ragu, ia keluar perlahan dari tempat sembunyinya.
Akbar tersenyum, "Tenangkan pikiranmu. Itu pemandangan bagus, sayang dilewatkan." lirik mata Akbar ke area perkebunan di daerah Banten itu. Pohon karet berjejer rapih, simetris, dan indah. Rumah-rumah penduduk kecil di bawah. Terhampar hijau hutan lebat, kebun singkong yang luas, dan terasering sawah.
Intan menghayati masalahnya, sambil ia hirup udara sehat dari jendela mobil yang terbuka. Angin lembut menerpa wajah manisnya. "Apa yang bakal kamu tukar untuk buat aku bebas? Kita tidak mungkin gagalkan Musa apalagi menghancurkannya." tanya Intan skeptis.
Tangan Akbar mengusap halus rambut Intan.
"Kamu gak punya rencana Bar?" tanya Intan lagi lebih pesimis.
Akbar masih tidak bisa menjawab. Sebetulnya irama jantung Akbar berdegup tidak beraturan. Ia juga rasakan keraguan dan ketakutan akan gagal.
Intan ikut diam. Ia tenangkan pikirannya dengan memanjakan mata melihat pemandangan hijau.
***
Mereka sampai di gedung Wisma Argo Prasetyo. Akbar hapal ini tempat nongkrong ayahnya. Gedung mewah 27 tingkat lantai yang cenderung sepi dan tidak ada banyak karyawan di sana.
Resepsionis langsung mempersilahkan Akbar masuk. Akbar diantar ke ruang tunggu dan privat untuk urusan langsung bertemu direksi di sana.
Akbar tidak ingin menunggu lama, ia terobos masuk ke ruang kerja ayahnya. Pintu ia gebrak.
Musa yang sedang mereview tumpukan kertas kantor tersentak dan terkejut melihat kedatangan Akbar. Musa membelalak, ia hampiri Akbar dan menyambutnya. "Siapa gadis jelita ini?" tanya Musa polos.
Akbar ketus berkata, "Jangan pura-pura gak tahu. Ini Intan Priyonggo yang ayah teror! Ini burung di sangkar ayah!"
Musa masih tersenyum halus seolah menganggap Akbar mengada-ada. "Ayolah ... kamu baru sampai. Santai dan istirahatlah dulu." ucap Musa.
Akbar hempaskan keramahtamahan Musa. Ia katakan sekali lagi, "Lepaskan Intan!"
Musa berseringai, "Ayah gak paham maksud kamu apa Bar!" masih mengelak.
Intan menunduk dan ketakutan, ia tidak berani menginterupsi perbincangan Musa dan Akbar.
"Baik kalau lu gak ngaku! Gue pergi dari sini. Gue bawa Intan dan keluarganya. Jangan harap lu bisa nemuin gue!" ancam Akbar. Ia berbalik menarik Intan. Ia akan keluar dari ruangan ayahnya.
Sontak ayahnya berkata, "Tunggu!" ayah Akbar terpancing.
__ADS_1
"Gue mau dengar dari lu langsung, apa yang sebenernya lu perbuat di sekolah Malik! Buat apa!?"
Musa terpojok. Ia tidak akan mampu bernegosiasi dengan anak laki-laki tunggal kesayangannya. Tidak akan mungkin. Ia merengek, "Hentikanlah Nak! Anggap itu angin lalu."
Akbar jengkel, "Bangs*t! Jadi Reyza bener soal lu!" ia kecewa.
Musa salah tingkah tertangkap basah oleh anaknya.
"Lu bodoh ya!" bentak Akbar.
Dari awal, yang Akbar pedulikan hanyalah dirinya dan Intan. Ia tidak terlalu ingin tahu persoalan Andri, apalagi Ali, Pipit, dan Nafira yang bahkan tidak pernah ia temui. Urusan Intan tertangani, ia juga temukan si dalang, maka baginya semua sudah berakhir. Sisanya, urusan Reyza, Andri, dan Lily. Tapi berbeda dengan Intan.
Intan memberanikan diri maju ke hadapan Musa, "Di mana kamu kuburkan Ali dan Nafira!" tanyanya dengan air mata di kelopak dan suara bergetar.
Akbar pegangi terus tangan Intan dari belakang.
Musa merasa yang ditanyakan Intan tidak penting, ia jawab sekenanya, "Saya buang ke laut!"
Akbar geram. Ayahnya memang bangs*t. "Kita pergi Tan!" ajak Akbar merasa malas ada di ruangan iblis.
Intan terpaku. Tubuhnya seperti tertancap di sana. Akbar tarik pun tangan Intan, Intan tidak bergeming. Ia terus diam menatap tajam Musa.
"Tan?" panggil Akbar. "Kita harus cek keluargamu!" ucapnya.
Akbar terdiam melihatnya. Tapi tidak ia cegah. Setelah semua tekanan mental yang Musa lakukan pada Intan, Musa memang pantas dapatkan itu dari Intan.
Tetapi ketika Intan kena tampar balik dari Musa, tinju Akbar sontak melayang ke wajah Musa. Seringan kertas, tubuh Musa terdorong menabrak lemari yang berkaca.
"Ternyata anak ayah sudah dewasa," kata Musa. Senyumnya merekah untuk Akbar.
"Kalau ada korban yang kayak Intan lagi di sekolah asrama, gue yang bakal samperin lu langsung. Gue gak segan jadi algojo buat lu!"
Musa menggila, ia tertawa gila dengan mulut yang berdarah-darah. "Hebatnya anak ayah yang gagah dan kuat. Ayah gak pernah salah didik kamu Nak! Kamu memang yang terbaik." ocehnya.
Akbar menyerah. Ia tidak sadar kegilaan ayahnya sudah sampai ke level yang tidak ia mengerti.
Intan masih menahan rasa perih di pipinya. Ia gemetaran menyaksikan keberingasan Akbar.
Akbar lindungi Intan. Ia bimbing Intan untuk cabut dari ruangan iblis itu.
***
Langkah kaki terdengar cepat menuju ruang Musa. Itu Reyza, Andri dan Lily. Mereka susul Akbar.
__ADS_1
"Lu pada kenapa datang kemari juga!?" tanya Akbar. Mereka bertemu di ruang tunggu.
"Histeria di asrama! Banyak murid dan guru yang jadi gila. Bahkan ada yang saling bacok!" ucap Andri panik. Napas mereka masih memburu.
"Terus kenapa kalian baik-baik saja."
"Kami dapat kabar ini dari ayahku. Kami sudah lebih dulu pergi menyusul kamu sebelum ada kejadian ini." jelas Lily.
"Gimana ayahmu Ly?" tanya Intan khawatir.
Lily murung dan menggeleng.
"Kita belum tahu. Yang pasti, pemicunya adalah Musa. Kita harus hentikan Musa." ucap Reyza penuh kekesalan.
Akbar mengangguk kuat. Ia persilahkan teman-temannya ke ruangan Musa.
Tepat di pintu ruangan itu, Hitam muncul di diri Andri. Dendam yang ditanam Andri melalui sosok Hitam mencuat. Hitam berlari hendak mencekik Musa sampai mamp*s.
Di tangan Musa sudah dipeganginya botol berisi cairan misterius. Hitam tidak peduli.
Tangan Hitam berhasil mencengkram leher Musa dan mengangkatnya. Ia melotot kesetan*n. Hitam pilih metode cekik, karena ia ingin merasakan dengan tangannya sendiri bagaimana nyawa Musa mengalir keluar melalui lehernya. Musa menggeliat mencari udara, ia seperti tikus yang dimangsa piton.
Akbar diam saja membiarkan Andri menghabisi ayahnya. Nyawa memang dibayar nyawa. Musa berutang nyawa pada keluarga Andri. Meski hati Akbar seperti disayat, perih rasanya melihat darah dagingnya menjadi segila itu dan sedang sekarat di tangan temannya sendiri.
Tetapi cekikan Hitam lepas. Musa ambruk. Nara masuk dan ikut campur. Nara berbalik membelakangi Musa. Membersihkan tangannya dan menatap sinis Reyza dan yang lain. "Aku datang untuk menagih janji Reyza kepadaku." ucap Nara.
Musa masih tidak berdaya dengan sakit di lehernya. Bekas cekikan melingkar dan membiru dengan cepat. Ia batuk-batuk masih mengatur napas.
"Ini bukan waktunya Nar!" jawab Reyza bingung. "Apa mau lu!" tanyanya.
Nara berseringai, "Simpel. Gue mau lu tinggalkan inang gue."
Reyza tidak paham.
"Jauhi inang gue. Buang inang gue dari hidup lu. Biarkan inang gue mamp*s di tangan si tua bangka ini, karena dia pantas dapat hukuman itu." timpal Nara.
Kemudian DORR!!!
Suara tembakan sungguhan meneror ruangan itu. Mengheningkan dan membekukan seketika suasana di ruangan itu.
***
Ilustrasi MUSA
__ADS_1