
Dua jam berlalu kini mereka sudah sampai di sebuah gedung dengan logo Tunas Kelapa. Mungkin, itu merupakan gedung Pramuka yang digunakan untuk pertemuan dan sebagainya.
"Baik adik-adik, sekarang kita sudah sampai di gedung Kwarcab Pandeglang, Banten. Silakan turun dengan beraturan ingat! Tidak ada yang dorong-mendorong!" Menggunakan pengeras suara, semuanya pun mengikuti arahan pemimpin peserta Jambore dari Padang.
Ninda pun membangunkan Ria yang sudah terlelap tidur, "Lili! Bangun! Kita udah sampai nih!" Sembari menggoyangkan tubuh Ria, Ninda pun menengok ke sebelahnya.
"Lho? Ana kemana? Masa iya dia udah duluan? Seharusnya dia pamit dong." Ninda membatin. Dirinya menjadi bingung.
"Emmhhhhh hoaammp ada apa sih?" Memfokuskan penglihatannya, Ria melihat ke sampingnya, disana terdapat Ninda yang sedang kebingungan.
"Kenapa Nin? 'Kok bingung gitu?" Tanya Ria dengan nada serak khas bangun tidur.
"Ini lho, si Ana kemana? Masa iya dia duluan? Tapi, kenapa 'nggak pamit gitu?" Jawab Ninda dengan nada gelisah.
"Kalian kenapa sih?" Tiba-tiba Bima ikut dalam pembicaraan mereka.
"Kamu lihat Ana 'nggak Bim?" Ninda bertanya kepada Bima. Sedangkan, yang di tatap menyeritkan dahinya. Bingung dan aneh, itu lah yang ada di benak Bima.
"Ana? Siapa?" Tanya Bima.
"Itu lho, gadis yang duduk di samping Ninda!" Sahut Ria cepat.
"Duduk di samping Ninda? Masa sih? Jujur, dari tadi 'kan aku lihat kalian kayak lagi ngobrol gitu, tapi aku 'nggak lihat siapa yang kalian ajak ngobrol?" Jelas Bima. Merinding, itu lah yang mereka rasakan. Bulu roma mereka pun berdiri. Suasana menjadi mencekam.
"Hah? Yang tadi sih! Kamu 'nggak lihat?" Bima menggeleng cepat.
"Memang namanya siapa? Coba kalian tanya kak Rudy, siapa tahu dia kenal sama gadis itu!" Bima memberi saran. Ria dan Ninda langsung mengambil tas mereka dan berlari turun dari Bus meninggalkan Bima sendirian.
Bima mendengus kesal, "ish! Aku di tinggalin! Ngomong-ngomong, siapa gadis yang mereka maksud?"
....
"Kak! Kak Rudy!!?" Pekik Ria memanggil kak Rudy.
"Ada apa?" Berbalik badan, kak Rudy pun menjawab.
"Begini Kak!" Dengan nafas tersengal-sengal, Ninda mulai menjelaskan.
"Kalian kenapa? Tarik nafas dulu ... Setelah itu keluarkan ..." Ria dan Ninda pun mengikuti arahan kak Rudy.
Setelah nafas mereka normal, mereka mulai menjelaskan dan bertanya perihal gadis yang bernama Liliana, "Kak! Kakak kenal 'nggak sama Liliana?" Tanya Ninda.
__ADS_1
"Liliana? Namanya 'nggak asing sih. Tapi, sekarang udah lama 'nggak dengar namanya," jawab kak Rudy.
"Memang dia sekolah dimana? Kali aja Kakak bisa bantu," sambung kak Rudy.
"Dia sekolah di ..." Terlupa, itu lah yang ada di fikiran Ria.
"Dimana ya Nin? Kamu ingat 'nggak?" Ria pun bertanya kepada Ninda. Ninda pun memutar otaknya untuk berfikir.
Setelah mengingat kurang lebih selama satu menit, akhirnya Ninda pun mengingat. "Itu itu! MAN 2 Padang!" Seru Ninda.
"Nah! Iya tuh Kak! MAN 2 Padang! Gimana? Kakak ada kenalan di situ?" Sahut Ria dengan antusias.
"Oh ada kok! Mereka juga ikut acara Jambore ini. Tadi juga Kakak sempat ngobrol sama pembina dari sana," jawab kak Rudy. Ria dan Ninda pun semakin penasaran.
"Ayok Kak! Kita ke pembinanya! Kita mau nanya sesuatu!" Ucap Ria kemudian, Ria dan Ninda menarik tangan kak Rudy.
Ketika mereka bertemu dengan pembina dari MAN 2 Padang, mereka langsung bertanya perihal gadis bernama Liliana.
"Liliana? Astagfirullah. Apa kalian benar? Kalian sempat ngobrol sama dia?" Seketika pembina itu kaget tak karuan. Ninda dan Ria pun mengangguk.
"Memang kenapa, Kak?" Tanya Ria yang melihat raut wajah sedih di wajah pembina itu.
"Sebenarnya, sepekan lalu dia itu meninggal dunia. Kita semua juga belum tahu penyebab kematian Lili itu apa. Kemungkinan besar, dia itu di bully. Dia itu anaknya aktif, suka sama kegiatan Pramuka setiap ada acaran ke Pramukaan, dia pasti yang selalu ikut," jelas pembina itu. Ria dan Ninda pun kaget bukan kepalang. Mereka ternyata berbincang dengan hantu.
"Iya Kak, kita turut berduka cita. Semoga, Ana ditempatkan di sisi yang terbaik ..." Sahut Ria yang tiba-tiba air matanya turun.
"Terima kasih. Saya juga minta maaf atas kejadian tersebut," balas pembina itu. Ria dan Ninda pun mengangguk.
....
"Jadi, kalian tadi ngobrol sama hantu?" Bima yang sedari tadi menguping pun bertanya.
"Jangan bohong!" Sambungnya.
"Serius Bim. Kita 'nggak nyangka. Tapi, kenapa cuma kita yang ngelihat dia? Kamu serius 'nggak lihat wujudnya?" Timpal Ria yang masih meneteskan air mata.
"Iya, Bim. Memang kamu benar 'nggak lihat wujud dia seperti apa?" Sahut Ninda yang terlihat sangat ketakutan.
Bima menggeleng, "aku 'nggak lihat. Aku cuma dengar kalian ngobrol sama seseorang. Tapi, aku 'nggak lihat kalian ngobrol sama siapa?" Ucapnya sembari mengingat kejadian di Bus tadi.
Ninda dan Ria menghela nafas kasar, "ya udah lah. 'Nggak usah di fikirin! Nanti 'nggak bisa tidur lagi!" Ujar Ninda.
__ADS_1
"Ketakutan yaa??" Goda Bima sembari menaik turunkan alisnya.
"Apaan sih! Udah deh 'nggak usah kayak begitu! Kamu copas dari Doni ya?" Balas Ninda dengan tatapan menyelidiki.
"Ih apaan. Bilang aja kangen 'kan? Sama Doni??" Timpal Bima semakin menggoda Ninda.
Ninda pun merona, "apaan sih! Udah lah 'nggak usah ngomongin Doni" Ucapnya sembari menutupi pipinya.
"Pipinya merah!" Seru Bima kemudian, tertawa terbahak-bahak.
....
"Ha—huacih!" Doni bersin.
"Kenapa bersin gini ya? Wah wah, jangan-jangan ada yang ngomingin aku nih!" Ucapnya sembari menggelengkan kepalanya.
.....
"Udah lah!" Ninda pun beranjak pergi.
"Eh, Li? Kenapa? Matanya keringetan?" Ucap Bima yang tidak sengaja melihat Ria menangis.
"Apaan sih! Lagi nangis begini di bilang keringetan!" Tegas Ria kemudian pergi meninggalkan Bima sendirian.
.
.
.
.
.
.
.
Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)
*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*
__ADS_1
-**Bersambung-
#HappyReadingAll😉🤗**