Sebatas Patok Tenda

Sebatas Patok Tenda
SPT 24


__ADS_3

Malam harinya di rumah bernuansa modern bercat putih, datanglah seorang remaja yang baru saja pulang bersama teman-temannya.


"Assalamu'alaikum, Viko pulang!" Seru remaja lelaki itu sambil berjalan ke arah ruang tamu. Ya, remaja lelaki itu merupakan adik Rafael yang tadi siang dipanggil dengan sebutan 'Udin' (Chap. 23). Nama sebenarnya yaitu, Viko Abraham Dirgantara, remaja yang baru saja menginjak usia 13 tahun dan juga baru saja naik ke kelas 1 SMP.


"Wa'alaikumsalam," sambut orang tuanya yang sedang tertawa ria di ruang tamu sambil menonton acara komedi di layar kaca mereka.


"Sini, nonton bareng!" Ajak si Ibu yang bernama Santi Indah Dirgantara.


Remaja itu menggeleng pelan, "nanti deh, Bun. Viko mau mandi dulu, lengket!" Balas remaja yang bernama Viko itu.


"Tadi, kakak mu pulang, terus nyariin kamu. Memang benar, kamu yang berantakin kamar kakak mu?" Tanya si Bapak yang bernama Romeo Dirgantara.


"Oh. Yaudah deh, Viko ke kamar dulu. Bye, Bun, Yah!" Pamit Viko lalu berjalan ke arah anak tangga dan mulai menaikinya.


.....


Di dalam kamar Rafael, ia sedang berbaring sambil bermain dengan ponselnya. Dan, merasa ada yang bising di luar kamarnya, Rafael pun langsung mengecek dan keluar dari kamarnya.


Ketika di luar kamar, di sana terdapat sosok si pelaku pemberantak kamarnya. Sontak, ia langsung mencegah langkah si pelaku itu.


"Din!" Tukas Rafael sambil merentangkan tangannya untuk menghalangi jalan Viko.


"Apa sih, Kak?!" Ketus Viko lalu berhenti melangkah lalu, melipat tangannya di depan dadanya.


"Kamu yang berantakin kamar aku, iya 'kan?!" Rafael menelisik ke arah Viko.


Kemudian, dengan santainya, Viko berkata, "iya. Kenapa? Masalah?"


Rafael mengusap wajahnya kasar, "kalau udah berantakin, kenapa 'nggak di rapihin kembali sih?!!!" Amarahnya semakin meluap-luap.


"Namanya juga berantakin, ngapain di rapihin lagi!" Balas Viko dengan santainya.


"Udin!!!!!!!!" Pekik Rafael sambil mengepalkan tangannya dengan erat. Ingatkan Rafael untuk jangan melayangkan bogeman ke wajah sang adik, karena, itu memang salahnya.


"Apa? Salah sendiri! Kenapa kamarnya 'nggak dikunci?!" Ujar Viko dengan ketusnya.


"Siapa tahu 'kan, sama bunda mau di bersihin! Ya makanya, aku kunci!" Balas Rafael tak mau kalah.

__ADS_1


"Siapa juga yang mau bersihin kamar, Kakak?! Dih! Bersihin kamar sendiri! Udah gede! Ingat umur tuh!!!" Tukas Viko sambil mengetuk-ngetukan bagian sisi kanan kepalanya.


"Udin!!!! Bisa 'nggak sih, sehari aja! Jangan bikin keributan?!" Pekik Rafael yang semakin geram dengan sikap adik semata wayangnya.


"Hellow!! Sorry, ya!! Jangan atur-atur hidup aku!" Pungkas Viko lalu langsung berlari ke kamarnya.


"Ni anak ya! Dulu mah waktu kecil imut-imut, sekarang mah amit-amit! Apalagi kelakuannya!" Geram Rafael.


"Udah! Jangan berantem! Salah kamu juga, kok. Siapa suruh, kamarnya 'nggak dikunci?" Sahut si Ibu yang tiba-tiba berdiri di belakang Rafael.


Rafael hanya menghela nafas panjang sepanjang rel kereta api Commuter Line. Eh? Benar 'nggak sih tulisannya?


Lalu, Rafael masuk ke dalam kamarnya sambil menggebrakan pintu kamarnya dengan kasar. Setelah itu, menghempaskan tubuhnya di kasur.


"Haduh, bete, ngapain ya?" Kata Rafael kepada dirinya sendiri, lalu ia menekan ikon telfon berwarna hijau alias WhatsApp.


Tiba-tiba saja, tangannya mengetik nama 'Ria Eliyanti' dan, munculah kontak tersebut. Ketika ia memencet kontak itu, tertera kata 'Onnline' di sana.


"Chat, atau telfon?" Katanya. Kemudian, tiba-tiba saja tangannya memencet tombol 'Panggilan Suara' dan juga melihat kata 'Berdering'.


Tuut ... Tuut


....


Kring ... Kring ...


"Ih?! Siapa nih yang nelfon?!" Seru Ria dan melihat foto seseorang di sana.


"Kayak kenal ... Tapi siapa?" Sambungnya. Lalu, mengingatkan foto itu dengan seseorang yang ada di fikirannya.


"Rafael, bukan sih?" Tanyanya pada diri sendiri. Kemudian, melihat lagi foto orang itu, "iya benar. Itu Rafael."


Tanpa basa-basi, Ria langsung mengangkatnya. "Halo?" Ucapnya, tetapi tak ada jawaban dari sana.


.....


Ketika Rafael melihat ada kata 'Menghubungkan', ia langsung memekik dan semakin menjauh kan dirinya dari ponselnya sendiri.

__ADS_1


"Halo?" Sapa seseorang, yaitu Ria dari seberang sana.


"Duh, di angkat!" Batin Rafael, kemudian ia mengambil ponselnya itu lalu menempelkan ke telinganya.


"Iya, halo. Hehe maaf, kepencet! Salah sambung!" Balas Rafael basa-basi.


"Eh? Ku kira ini Rafael? Ternyata salah orang," jawab Ria dari balik telfon.


"Eh, ini aku Rafael! Iya, aku Rafael! Tadi kepencet sih," kata Rafael dengan kekehan garing di akhirnya.


"Oh gitu," balas Ria singkat dari balik telfon.


"Eh, kamu dapat nomor aku dari mana?! Kamu stallker, ya?!" Sambung Ria dari balik telfon.


"Dih? Enggak, kok. 'Kan waktu kemarin lusa, kita sempat tukaran nomor. Gimana sih?!" Balas Rafael dengan ketus.


"Iya apa?" Ucap Ria dari balik telfon, kemudian ia mengingat-ingat hal itu. "Eh, iya deh." Lanjutnya.


Dan, terjadilah percakapan antara Rafael dan Ria di panggilan suara dalam aplikasi WhatsApp.


.


.


.


.


.


.


.


Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)


*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*

__ADS_1


-**Bersambung-


#HappyReadingAll😉🤗**


__ADS_2