
Siang harinya, para peserta mulai masuk ke dalam bus pengantar. Sesuai dengan tujuannya masing-masing. Mereka masuk ke dalam bus dengan berurutan dan tanpa dorong-dorongan.
"Akhirnya, pulang juga, setelah sekian lama LDR-an sama kasur," celetuk Ninda yang duduk di samping kursi Ria. Yang mendengar alias, Ria, hanya memutar bola mata jengah.
"Eh, Li!" Pekik Ninda, yang dipanggil pun menoleh sambil mengangkat sebelah alisnya tanpa berkata sepatah kata pun (read : mager ngomong). "Tuh! Lihat, dah!" Pekik Ninda lagi sambil menunjuk ke arah jendela bus.
"Apa sih?!" Akhirnya, Ria pun berucap. "Tuh! Lihat dah!" Ujar Ninda dengan nada serius. Jari telunjuknya mengarah ke luar bus yang sedang berhenti karena macet. Walaupun jalanan nya masih di desa, tetapi, desa itu sangat padat penduduk.
Bus mereka berada di tepat samping kebun yang banyak rerumputan liar. Ninda terus menunjuk ke arah sana, karena penasaran, Ria pun melihat sesuai arah tunjukan, Ninda.
Ketika melihat ke luar bus dari jendela, Ria terkejut bukan main. Yang ia lihat adalah siswi dari MAN 2 Padang yang bernama Liliana (ada di chap. 11 dan 12). "Itu ... Itu," ucap Ria terbata-bata.
"Gimana nih, Li?! Jangan-jangan, dia bakal ngikuti kita selamanya lagi!!!" Panik Ninda dengan raut wajah ketakutan. Ria pun kesal dibuatnya, "kamu! Lebih baik, kamu aja! Aku 'nggak mau!"
"Udah lah, kalau gitu, kita jangan panik. Takutnya, dia ngikutin kita terus," saran Ria lalu menyandarkan tubuhnya di kursi bus. Begitu juga dengan, Ninda. Ia mengambil ponselnya lalu memasangkan earphone ke telinganya.
.....
"Kita naik pesawat lagi!!!" Seru Ninda sambil berteriak sedikit kencang.
"Nin! Jangan malu-maluin! Kita yang jadi teman kamu malu tau! Emang kamu 'nggak malu apa?!" Sewot Bima yang berhasil membuat Ninda cemberut. "Ih! Sorry, ya! Aku tuh, 'nggak bakal nafsu sama kamu! Kayak begitu malah tambah jelek tau 'nggak?!" Lanjut Bima dan berhasil membuat Ninda berjalan mendahului Bima.
"Li! Temanmu urus tuh," ucap Bima dengan sedikit berteriak. Ria menoleh ke sampingnya, dan benar saja, Ninda sedang berjalan disitu sambil mengehntak-hentakan kakinya. Ria hanya menggelengkan kepalanya, miris gitu lihatnya.
Mereka mulai chek-in di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Setelah itu, mereka menunggu pesawat yang akan datang sambil bersantai sejenak.
"Ri?" Sapa seseorang yang suaranya tak asing lagi bagi Ria. Siapa lagi jika bukan, Rafael? Ria menoleh ke arah sampingnya, ternyata, Rafael sudah duduk duluan. Wah, dekat-dekatan nih. Virus woy! Jaga jarak! 10km!!
"Apa?" Jawab Ria dengan nada memelas, yang mendengar hanya berdecak lalu menghela nafas. "Kenapa sih? Dari tadi kayaknya tuh, badmood mulu. 'Nggak habis pikir aku tuh!" Rafael menggerutu kesal.
"Lagi malas aja. Malas, 'nggak tau mau ngapain, 'nggak tau mau kemana habis ini, dan 'nggak tau juga mau buat apa," balas Ria lalu mengambil ponsel yang ada di tas kecilnya. Kemudian, membuka ikon telfon miring, berwarna hijau. Mau ngapain lagi? Chek Whatsapp dulu dia. Setelah scrool ke atas, bawah, depan, belakang, samping kiri, samping kanan, 'nggak ada chat.
Karena bosan, Ria menaruh kembali ponselnya di tas kecil kepunyaannya. "Aku ada tebak-tebakan!" Ujar Rafael yang membuat Ria menoleh sekilas, "apa?" Jawab Ria dengan nada yang masih sama.
__ADS_1
"Nanti dulu! Kok lupa, ya?" Kata Rafael sambil memegang dagunya, Ria berdecak sebal lalu menoleh ke lain arah.
Satu menit berlalu, "nih! Baru ingat!" Ujar Rafael dengan nada semangat. Ria kembali menoleh ke arahnya.
"Dalam keluarga katak, anak katak yang baru lahir disebut?" Kata Rafael dengan nada serius. Ria hanya menghela nafas, "ya pasti, berudu lah. Yang kayak ikan, kan?" Ucap Ria.
"Salah!" Sahut Rafael yang berhasil membuat Ria terkejut sambil mengerutkan dahinya. "Terus? Jawabannya apa, selain berudu? Kecebong?" Balas Ria sedikit kesal.
"Bukan. Mau tau jawabannya?" Ucap Rafael seriud dan kembali berhasil membuat Ria penasaran.
"Jawabannya yaitu ..." Rafael sengaja membuat Ria penasaran dengan menjeda kalimatnya.
"Apa?!" Ria semakin penasaran dibuatnya.
"Keluarga!" Jawab Rafael dengan santai dan membuat Ria menjadi ambigu. "Keluarga? Kok, keluarga?!" Tanya Ria yang sedikit kesal.
"Kan anak katak. Masa anaknya 'nggak dianggap keluarga," sahut Rafael santai. Ria hanya menghela nafas dan sesekali berdecak kesal.
......
Ketika bus yang ditunggu sudah datang, mereka mulai naik dengan perlahan. Tersisa tiga kelompok yang belum pergi. Yaitu, dari sekolah SMA Batanghari 3, Padang, SMA Bina Cahaya, dan juga MAN 2 Padang.
"Eh, kamu belum pulang?" Tanya Ria yang mendapati Rafael sedang duduk di samping beberapa temannya.
"Iya, nih. Bus nya belum datang," jawab Rafael lesu. Ria hanya ber-Oh ria saja.
Tak berapa lama, bus yang Ria tunggu akhirnya datang, "aku duluan, ya!" Pamit Ria sambil tersenyum ke arah Rafael. Yang di senyum hanya membalas dengan anggukan kikuk.
"Tunggu!" Pekik Rafael ketika Ria mulai melangkah bersama Bima dan Ninda. Ria menoleh lalu menjawab, "apa?"
Tanpa sepatah kata, Rafaek memberi secarik kertas dari sakunya, "ini. Ini ... Eum, nomor aku. Nanti, kita bisa komunikasi lewat pesan, ya!" Ujar Rafael.
Ria hanya membalas dengan anggukan lalu tersenyum kembali, "yaudah, nanti kalau ada waktu luang, aku chat kamu, ya!" Ucap Ria.
__ADS_1
Rafael mengangguk, "hati-hati!" Ucapnya sambil melambaikan tangannya. Ketika Ria ingin masuk ke dalam bus, Ria menatap Rafael dari jauh lalu tersenyum, begitu juga dengan Rafael.
"Siapa tu, Bro?" Tanya teman Rafael yang bernama Denny Gunawan.
"Jangan-jangan, itu gebetannya, ya?" Sahut teman Rafael satunya yang bernama Dika Mahardika.
"Wah, setelah sekian lama, baru ku menyadari, ternyata ku selalu menahan rasa cintaku ..." Sahut teman Rafael lagi yang bernama Dani Ibrahim.
"Syut! Apaan sih?! Sibuk aja!" Ketus Rafael dan mengundang gelak tawa oleh teman-temannya.
-Cinta, merupakan satu kata yang membuat manusia menjadi buta dan lengah. Kenapa? Karena, ketika kita menemui cinta, maka, cinta itu akan mengendalikan kita. Maka dari itu, kita harus mengendikan cinta itu. Lebih baik, mengendalikan daripada dikendalikan, yang bisa membuat diri kita menjadi buruk. Jatuh cinta itu wajar, yang tidak wajar adalah, kita di buat jatuh oleh cinta itu, jatuh terus ke bawah, ke lembah yang gelap gulita. Bagaimana sih, caranya kita bisa mengendalikan cinta itu? Jawabannya, yaitu, cukup satu. Yaitu, diri kamu sendiri. Kenapa? Karena, diri kamu sendiri yang bisa mengendalikan itu semua. Ingat, jatuh cinta itu boleh-boleh saja, tapi, jangan sampai jika kita jatuh cinta, lalu, kita dibuat bodoh oleh cinta yang kita buat sendiri. Berani berbuat? Berani bertanggung jawab! You're life, you're rules!- (Rizka) //Nggak tau, itu nyambung atau 'nggak. Intinya, tiba-tiba ngalir aja gitu kayak pipa rucika.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)
*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*
-**Bersambung-
__ADS_1
#HappyReadingAll😉🤗**