Sebatas Patok Tenda

Sebatas Patok Tenda
SPT 35


__ADS_3

Sudah hampir satu setengah minggu Dona berada di rumahnya. Ia sering kali mengurung diri jika ada orang datang untuk bertamu, entah itu rekan orang tuanya, atau saudara-saudara jauh yang datang, lebih-lebih lagi jika ada lelaki. Ia akan mengurung dirinya di kamar selama berjam-jam.


'Tok tok tok.'


Ketukan itu membuat Dona yang semula melamun menjadi tersentak, kemudian berkata, "siapa?"


"Ini Bunda, buka pintunya," jawab Dian Permata Ayu, bunda Dona.


Setelah mendengar suara yang tak asing bagi Dona, ia langsung berjalan mendekat ke arah pintu kamar dan membuka pintu itu secara perlahan-lahan.


"Kamu 'kan udah lama nih, berdiam diri di rumah, gimana kalau kita jalan-jalan? Mau 'nggak? Mumpung sekarang weekend, mending kita jalan-jalan aja. Iya 'kan?" Ajak Dian membujuk putri semata wayangnya itu.


Terlihat jelas ada raut wajah ketakutan di wajah Dona, "ada Bunda ini, kamu 'nggak usah takut gitu. Ayo dong, Bunda yakin trauma kamu itu udah sembuh, kalau kamu masih trauma, nanti Bunda bawa ke dokter lagi nih. Mau ke rumah sakit lagi?" Ancam Dian dengan penuh penekanan. Memang, Dona itu sangat takut jika berhubungan dengan rumah sakit, baru menghirup aroma khas rumah sakit saja, ia sudah ketakutan.


Dona menggeleng cepat, "Dona 'nggak mau ke rumah sakit, Bun!" Rengek nya pada sang ibunda.


"Ya udah, sana kamu cepat siap-siap!" Titah Dian tak terbantahkan. Dona langsung masuk lagi ke dalam kamarnya dan mengganti pakaiannya yang agak tertutup.


••••


Karena sekarang weekend, alias akhir pekan, alias lagi hari minggu, Ria dan beberapa anggota pramuka inti sedang berlatih seperti biasanya.


Hari minggu kemarin tak ada jadwal latihan pramuka, jadi mereka berlatih agak lama, ditambah 2 jam ke depan.


"Adik-adik, kita istirahat dulu, ya. Kakak capek nih," ujar kak Rudy sambil mengelap peluh di pelipis dan juga tengkuknya. Aduh mau jadi sapu tangannya deh, unch unch.


"Kakak sendiri yang minta latihannya ditambah 2 jam, udah tau capek kenapa malah ditambah?" Gerutu Doni kesal.


"Kemarin 'kan kita 'nggak latihan," jawab kak Rudy usai mencari alasan dari otak di kepalanya itu.


Semuanya hanya bersorak penuh kekecewaan. "Iya iya, sebagai gantinya, Kakak bakal traktir kalian makan. Mau 'nggak? Tapi, bukan sekarang, kalian latihan dulu. Okay?" Bujuk kak Rudy, yang harus merelakan beberapa uang dalam dompetnya itu.


"Oke, Kak! Ayo, kita lanjut latihannya!" Seru Bima dengan semangat menggebu seketika.


"Kalian ini, giliran yang gratis aja, langsung semangat. 'Nggak habis pikir Kakak tuh," cibir kak Rudy sambil menghela nafas kasar.

__ADS_1


"Nanti dulu, istirahatnya masih lama. Kakak genap-in jadi 4 jam, okay?" Sambung kak Rudy dengan seringai tipis menghiasi bibirnya.


"Dih, perhitungan!"


"Lagi pula, Kak. Kalau ada gratisan, kenapa ditolak? 'Kan 'nggak enak sama orang yang nawarin kita," suara durjana keluar dari mulut Windy dan Sindy.


"Terserah kalian!" Ia tak tahu lagi harus bagaimana untuk menghadapi mereka semua yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya.


Selepas itu, mereka kembali ke aktivitasnya masing-masing, Ria yang sedang bersenda gurau dengan Rafael, tiba-tiba terganggu oleh kedatangan Bima, kemudian disusul oleh Ninda, setelah itu sosok kak Rudy menyempil di antara anak muda seperti mereka.


"Eh kalian tau 'nggak?" Ujar Ninda dengan wajah serius.


"Apaan emangnya?" Sahut Bima.


"Mana aku tau, orang belum di ceritain."


Ninda yang sedang fokus pada layar ponselnya sambil terkekeh kecil, kemudian berkata, "apa ya? Aku lupa," katanya tanpa dosa sekalipun.


"Nin, kamu itu ... ish padahal belum sepuluh menit berlalu tapi udah lupa begitu aja!" Sewot Ria dengan amarah, bukan hanya karena itu, tetapi karena momen-momen senda guraunya yang terganggu karena kedatangan teman laknat seperti mereka.


'Tiin ... tiin.'


"Uni? Ada apa?" Tanya Ria melihat kedatangan kakaknya yang tiba-tiba.


"Ini siapa, Ria?" Tanya kak Rudy yang sepertinya sangat kepo dengan kehidupan Ria.


Wajah Sukma yang semula datar menjadi berbinar ketika melihat ketampanan dari wajah kak Rudy.


"Saya Sukma, saya Uni-nya Ria." Tangannya terulur untuk menjabat tangan dengan kak Rudy dengan senyum manis yang tiba-tiba mengambang. Kak Rudy pun membalas jabatan tangannya Sukma.


"Ooh, begitu ya. Ada apa ini?" Tanya kak Rudy lagi.


"Ini, saya kesini bawa makanan buat Ria. Kalau lebih, Abang boleh makan juga 'kok. Buatan saya, dijamin enak," ucap Sukma dengan bangga. Sepertinya, jiwa kecentilan tiba-tiba bersemayam dalam tubuhnya itu.


••••

__ADS_1


"Masih kuliah, ya? Apa udah lulus?" Tanya kak Rudy memecahkan keheningan.


"Masih kuliah, lagi di semester 3, Kak."


"Jangan panggil 'kakak', panggil aja saya Rudy. Mungkin kita seumuran?" Timpal kak Rudy dengan kekehan kecil, yang bisa membuat Sukma menjadi tergila-gila, apalagi Author ini AAAA, Mas ganteng aku oleng dulu yaw.


Ria yang melihat sikap Sukma tak seperti biasanya hanya bisa menggeleng miris, karena baru pertama kali ini Sukma melihat sosok kak Rudy yang menjadi kakak pembina pramuka Ria. Terakhir kali, ketika ia mengantar Ria waktu Ria masih menjadi MuBar (Murid Baru).


.


.


.


.


.


.


.


Maafkan jika update-nya lama hiks. Semoga kalian terhibur ^_~.


Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)


*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*


-Bersambung-


#HappyReadingAll😉🤗


Selamat hari milad untuk majelis ku, Syubbanul Muslimin yang ke-15 tahun. Syubban Lovers mana suaranya 📣📣🎉💚. Mabruk alfa mabruk, semoga lelah mu menjadi lillah 💚. Dan, semoga aku bisa datang dan hadir diantara ribuan jamaah, serta tanpa adanya wacana 💚🎉.


#IstiqomahTanpaBatas

__ADS_1


#SemuaKarenaCinta


#YaumulMilad💚🎉


__ADS_2