Sebatas Patok Tenda

Sebatas Patok Tenda
SPT 43


__ADS_3

Bulan terus berjalan, hingga disini, bulan ini, minggu ini dan hari ini juga, merupakan hari wisuda bagi para mahasiswa.


Begitu juga dengan Rafael. Dirinya sudah rapi hari yang ditunggunya tiba.


"Anak Bunda, ganteng banget sih." puji sang ibu.


"Akhirnya kamu jadi sarjana, ingat ya, ilmu yang dikasih sama dosen, kamu gunain yang baik. Jangan sampai ilmunya sia-sia," tutur si bapak.


"Iya dong, Yah. Aku kan udah bikin usaha, itu juga usahanya sesuai sama jurusan aku. Ya, semoga berguna aja." balas Rafael senang.


"Udah, yuk nanti telat aja," ujar sang ibu lalu pergi meninggalkan lelaki berbeda generasi itu.


••••


Suara riuh memenuhi lapangan itu, para wisudawan serta wisudawati bersorak ria sambil melemparkan topi wisuda mereka ke atas langit.


Tidak hanya itu, mereka juga berswafoto dengan sesama teman, keluarga bahkan dosen, mulai dari yang ramah hingga yang killer.


"Selamat kalian sudah lulus dan jadi sarjana. Maafkan Bapak semenjak mengajar kalian, Bapak sering marah-marah, sampai ada juga yang dari kalian keluar dari kelas cuma hanya telat. Itu juga, supaya kalian disiplin dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Supaya kalian dewasa." tutur si dosen killer.


Para mantan mahasiswa/siswi itu mencium tangan sang dosen, dengan beranggapan memohon maaf kepada sang dosen.


"Iya, Pak. Kami juga minta maaf, kadang kita kayak anak kecil yang susah diatur, maaf ya Pak." balas mereka, entah itu dari lubuk hati terdalam atau memang benar adanya?


••••


"Eh sini-sini!" ujar Ninda mengajak temannya berfoto bersama.


Ninda dan teman-temannya berpotret menggunakan kamera yang milik sepupu Ninda. Tapi, ada juga yang memakai kamera ponsel pribadi mereka.


Tak terasa pagi berganti siang, kini sesi pemotretan para mahasiswa/siswi pun dimulai. Berganti setelah itu, kini para orang tua dan anaknya yang menjadi peserta wisuda, foto bersama.


"Eh, besok kita bikin acara yuk! Tapi jangan di rumah-rumah, kita pindah tempat aja, kayak di kafe, atau di tempat karaoke, mau nggak?" ajak Sindy antusias.


"Wah boleh tuh. Ide bagus, tapi kafe-nya dimana?" sahut Windy.


Semuanya ikut berpikir keras, "gimana kalau di tempat yang lagi nge-hits sekarang? Aku kebetulan pernah lewat kesitu." timpal Dona si ratu up to date.


"Dimana itu? Jauh nggak?" tanya Bima ragu.


"Nggak terlalu sih. Kalian tau nggak? Ruko-ruko yang baru dibangun itu? Nah, di sebelah pojok-nya ada tempat yang nge-hits itu." terang Dona.


"Oke, Don. Aku setuju!" sahut Rebecca dan Diana bersamaan.


"Aku juga ada tempat yang cocok buat acara kita." ujar Ria yang sedari tadi hanya diam.


"Dimana?!"


"Jauh sih, lokasinya ada di Puncak, Bogor." jawab Ria sambil cengengesan.


"Yah jauh itu mah!"


"Oh, villa yang lagi viral itu, ya?" sahut Dona, Ria mengangguk cepat.


"Itu padahal villanya udah lama, tapi karena direnovasi, makanya viral. Tempatnya bagus sih, aku pengin ke sana." sambungnya.


"Jadi, kita bakal kemana?" tanya Ninda bingung.


"Kita pergi ke villa rekomen dari Ria! Setuju, nggak?" ujar Dona antusias.


"Boleh aja, nanti kita ke sana naik apa? Pesawat?" tanya Ninda lagi.


"Suka hati kalian, maunya naik apa," ucap Dona santai.


•••••


"Eh, lo yakin kita bakal ngelakuin kayak begini? Nggak kreatif banget tau nggak?! Nanti kalo disangka maling gimana!?" geram Rafael kepada Feri yang mempunyai ide konyol itu.


Malam ini, mereka akan datang ke rumah Ria. Anehnya, mereka berdua itu menggunakan pakaian seperti maling. Ada sarung yang menjadi penutup kepala dan wajah mereka, yang terlihat hanya kedua mata.


Serta, memakai celana hitam yang menjadi seperti maling sesungguhnya.


"Udah, nggak usah gelisah gitu! Kita jalan santai aja, biar nggak dikira maling." ucap Feri acuh tak acuh.


"Mau keadaannya gimana pun, kita tetap dikira maling Junaedi! Lo liat nih, kita pakaiannya begini amat."


"Diam! Ayok kita jalankan misi!" seru Feri kemudian berlalu begitu saja, Rafael hanya menuruti ide konyol dari temannya itu.

__ADS_1


•••••


"Eh, lihat! Itu bukannyo maling? Tapi, kenapo mereka jalannyo itu santai?" kata salah satu warga yang sedang beronda. (Eh, lihat! Itu bukannya maling? Tapi, kenapa mereka jalannya itu santai?).


"Iyo, betul." sahut yang satunya. (Iya, betul).


"Hei! Kalian maling, yo?!" pekik warga yang sedang beronda sambil memukul-mukul pentungan yang ada di tangannya. (Hei! Kalian maling, ya?!).


"Ya Allah, kenapa aku ini bisa ketemu sama teman yang somplak?! Kena aku juga kan imbasnya!" batin Rafael geram.


Rafael dan Feri terus berlari hingga ia bersembunyi di balik tong sampah.


"Dimano mereka?" tanya bapak-bapak paruh baya. (Dimana mereka?).


"Indak ado Uda, kayaknya mereka kabur." jawab rekan rondanya yang berstatus sebagai adik kandungnya. (Tidak ada Kak, kayaknya mereka kabur).


"Lo sih! Untung mereka nggak liat!" kesal Rafael.


"Udah lah, jangan salah-salahin orang! Mending kita ke rumah target aja!" kata Feri santai.


••••


Sesampainya di rumah Ria, mereka Mengendap-endap. Lalu, saat ada di samping jendela kamar Ria, Rafael dan Feri membantu sama lain, Rafael berada di atas tubuh Feri, dan Feri menahan.


"Udah belum? Remuk tulang gue!" kata Feri sambil menahan sakit.


"Sabar, dikit lagi." balas Rafael yang seperti menaruh sesuatu di lantai kamar Ria.


'Bruk!'


Keduanya terjatuh karena Feri sudah tidak kuat lagi untuk menahan beban.


"Sakit gue!" pekik Feri sambil mengelus punggungnya.


"Lo sih! Bukannya nahan!"


"Tubuh gue udah terlanjur sakit Mujidin!"


"Ck, gimana dong."


Di kamar, Ria terbangun dari bangunnya karena suara berisik dari luar.


Ketika menoleh ke arah jendela, Ria melihat jendelanya sedikit terbuka. "Padahal aku udah tutup jendelanya dah, tapi kenapa kebuka?"


Saat ingin menutup jendela, Ria mendengar suara bisik dari bawah sana.


"Aduh, sakit. Ampuni hamba-Mu ini Ya Allah."


"Eh, lo jangan tindihin badan gue dong! Tambah sakit ini! Mending gue jatuhnya ke kasur lah ini ke tanah, sakit tau nggak?! Sakit!!!"


Ketika melihat ke bawah, Ria melihat pemuda yang memakai topeng sarung. "Heh! Kalian maling ya?!" pekik gadis itu.


"Maling! Maling! Tolong, ada maling!" pekik Ria semakin keras.


Sebelum warga datang, Rafael langsung membuka suara. "Eh, ini aku Rafael! Liat nih!" ucapnya sembari membuka topeng sarung yang menutupi wajahnya.


"Percaya kan? Ini tuh idenya si Mujidin." kata Rafael seraya menunjuk Feri.


"Kalian ngapain kesini? Malam-malam lagi." ucap Ria bingung.


"Ganggu orang tidur tau!" kesal Ria sesekali menguap kantuk.


"Ya maaf, kita sebenarnya ada sesuatu." jelas Rafael malu-malu.


•••••


Keesokan harinya, Ria dan keluarga beserta Rafael dan Feri tengah sarapan bersama.


Kejadian semalam, untung saja mereka tidak dikira maling atau semacamnya. Saat amak Laila dan abah Izzudin membuka pintu kamar Ria, mereka langsung bertanya, kenapa jendelanya terbuka dan lagi bicara sama siapa.


Lantas, Ria menjawab di luar sana ada temannya. Rafael dan Feri yang hendak pergi, menjadi terhenti karena pekikan dari abah Izzudin.


Setelah menjelaskan hal yang sebenarnya namun ada yang ditutupi, mereka dipersilakan masuk dan bermalam di rumah abah Izzudin.


"Jadi, kalian semalam ada perlu apa sama Ria?" tanya abah Izzudin.


"Kita mau .... Umm mau ....."

__ADS_1


"Dia mau ngelamar Ria, Bah." Feri langsung berkata tanpa mengerem terlebih dahulu. Semua yang di sana terbatuk-batuk karena kaget, terkecuali Rafael yang menahan malu.


"Malu-malu in dah, lu!" bisik Rafael kepada Feri sambil mencubit punggung Feri.


"Aw!" pekikkan Feri terdengar kencang.


"Ada apa? Ada masalah?" tanya amak Laila.


"Ini si ...."


"Nggak ada apa-apa kok, semuanya terkendali," sargah Rafael cepat sambil menyengir.


•••••


"Kalian mau ikut ke Puncak, Bogor? Emang kalian bawa pakaian?" tanya Ria saat ia sudah siap untuk pergi bersama teman-temannya.


"Iya, kalau pakaian, kita selalu bawa. Ada dua koper malah!" jawab Rafael antusias.


"Apaan? Kita bawa seadanya doang sih!" sahut Feri sinis.


"Suut! Iyain aja napa!" bisik Rafael tapi dengan penekanan.


"I-iya iya iya iya."


••••


"Lo beneran mau ikut? Kita kan nggak bawa baju, itupun cuma seadanya doang." keluh Feri malas.


"Iya. Lo pake baju gue aja, kebetulan disini masih ada baju-baju gue. Santai, masih pada bagus kok, mulus pemakaian baru satu minggu." kata Rafael.


"Kayak selles onnline aja." cibir Feri. Sementara, Rafael sedang sibuk menyiapkan perlengkapan yang harus dibawa.


Kring ... kring ... kring.


Bunyi ringtone ponsel terdengar di ruangan itu.


"Hand phone lo bunyi tuh!" ujar Feri kepada Rafael.


"Halo? Ada apa, Bun?"


"...."


"Iya, aku pulangnya mungkin lima hari lagi. Aku mau ke Puncak, Bogor sama teman-teman aku."


"...."


"Iya, Bunda. Kalau urusan itu, aku udah siap, tinggal batinnya aja yang disiapin."


"Oh, iya tolong bilang ke mamanya Feri, Feri ikut juga ke Puncak sama aku."


"...."


"Siap, Bos! Iya, Bunda juga hati-hati. Bye, Bunda muach."


"Cih, anak mami. Dikit-dikit ditelponin!" cibir Feri.


"Ih, kalo sirik ya bilang dong! Tenang, gue kan udah bilang ke bunda gue, biar suruh kasih tau ke mama lo. Kalo diomelin, biar gue yang tanggung jawab!" sargah Rafael santai.


"Iya-iya. Udah siap belum? Takutnya mereka nunggu lama, kan nggak enak."


Mereka mulai merapikan barang-barang lagi dan memastikan untuk tidak ada yang tertinggal.


.


.


.


Halo para readers sejagat raya di Noveltoon/Mangatoon ini!


Aku tadi, eh bukan tadi sih kenarin. Aku searching-searching di google, dan aku ketemu tentang topi wisuda. Nah, penasaran nggak tuh? Nih lihat.


Tentunya kamu pernah memperhatikan acara wisuda di televisi yang mana di acara wisuda, seorang profesor selalu memindahkan kuncir tali di topi wisuda dari yang semula terletak di sebelah kiri kemudian dipindahkan di sebelah kanan. Nah, disinilah makna dari kuncir tali topi wisuda ini.


Memindahkan kuncir tali topi wisuda ini bermakna bahwa pihak universitas berharap bahwa setelah lulus kuliah, kamu menjadi sarjana yang tidak hanya mengandalkan otak kiri (kemampuan berpikir hardskills) saja melainkan juga menggunakan otak kanan (kemampuan softtkills berkaitan dengan daya inovasi, imajinasi serta kreativitas).


Yup, itu dia! Ya, semoga bermanfaat. Dan, semoga bisa menambah pengetahuan kalian serta makna dari tali yang terdapat di topi wisuda.

__ADS_1


So, kalau ada kesalahan, mohon dimaafkan kami manusia bukan robot.


Have a nice day and .... God bless you.


__ADS_2