
Seusai mengikuti 6 bulan di semester genap ini, kini, Ria resmi lulus setelah mengikuti ujian nasional. Hari ini, minggu ini, bulan ini dan juga tahun ini, Ria dan para peserta didik akan mengadakan perpisahan di sebuah tempat wisata yang sangat indah.
"Baik Anak-anak semua, udah siap belum? Ada yang belum datang?" tutur sang kepala sekolah yang masih setia menunggu peserta didiknya.
"Kayaknya udah, Pak." jawab anak berkacamata bulat.
"Rafael kemana? Apa dia belum datang?" gumam Ria yang masih mengedarkan pandangannya.
"Pak! Kayaknya ada yang beluk datang! Satu orang di kelas saya ada yang belum datang, Pak!" Sambil mengangkat tangannya, Ria memberitahukan bahwa ada satu anggota kelasnya yang belum datang.
"Oke, kita tunggu dia," jawab kepala sekolah.
Selang sepuluh menit, mereka masih menunggu satu orang dari kelas XII IPA 1 . "Mana dia? Sudah datang atau belum?" tanya kepala sekolah yang masih tetap setia menunggu.
Ria mulai khawatir akan ini. "Ya sudah, kita mulai berangkat aja. Mungkin, dia sudah datang tapi belum kasih kehadirannya." ucap pria paruh baya itu.
Ria hanya pasrah. "Emang dia belum datang, Li?" tanya Ninda yang berada di sampingnya.
Ria menggeleng lesu, "entahlah. Tapi, firasat aku itu bilang, kalau dia belum datang."
"Jangan main firasat-firasat! Serem tau!" tukas Ninda seraya melipat tangannya di dada.
"Anak-anak, Bapak akan absen kalian sesuai dengan urutan nama dan juga kalian di bus mana, oke?" ujar seorang TU muda yang menjadi panitia.
"Oke, Pak!"
Satu persatu semuanya sudah masuk ke dalam bus-nya masing-masing, begitu juga dengan Ria, Ninda, Windy dan Sindy.
Tapi, ketika berada di pertengahan absen, panitia itu kebingungan, karena tak ada satupun siswa atau siswi yang menyahut.
"Rafael Dirgantara." ucapnya dengan penekanan menggunakan pengeras suara.
"Rafael Dirgantara, mana? Hadir?" Panitia itu mengulangi ucapannya.
"Oke, mungkin 'nggak ada, ya. Selan-" belum selesai mengucapkan katanya, ada orang yang memotong ucapannya itu.
"Tunggu, Pak! Saya, Rafael Dirgantara!" seru orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Rafael.
"Kemana kamu? Telat? Ya sudah, kamu ada di bus tiga," kata panitia itu dengan ucapan yang bertubi-tubi.
"Baik, Pak. Maaf, saya telat." sesal Rafael sambil menundukkan kepalanya.
"Sudah, kamu masuk ke bua tiga. Teman kami banyak yang nunggu," ucap pria muda itu. Rafael hanya menurut, dan mulai memasuki bus yang tadi disebut kan oleh panitia.
Sedangkan, panitia itu terus mengabsen seluruh murid yang akan ikut acara perpisahan ini.
•••
"Lama banget, kamu ngapain aja? Berangkatnya jalan kaki? Atau naik siput?" celetuk Ria yang agak kesal dengan sikap Rafael.
"Ya maaf sih. Tadi aku di ceramah-in sama bunda aku. Terus juga, aku di suruh bawa ini itu. Nih, liat tas-tas aku sampe gendut begini kayak panda." ucap Rafael sembari mengangkat kedua tasnya. Karena sang ibunda yang terbilang sangat posesif, maka mau tidak mau, Rafael harus menuruti semua perkataan ibunya itu. Tapi, kalau ke arah yang salah, dia tak bakal mau.
"Oke, oke aku ngerti." Ria kembali sibuk dengan ponselnya. Sedangkan, Rafael yang duduk di depan Ria pun kembali sibuk dengan beberapa tas-tas gendut bagaikan panda miliknya itu.
"Eh, besok kita jadi 'kan, ke rumah Dona?" tanya Windy memecahkan keheningannya. Karena, posisi duduknya itu hanya bersebrangan dengan tempat duduk Ninda dan Ria.
"Jadi kayaknya sih," jawab Ninda. Akhirnya, bisa nikmatin drakor tanpa buang-buang kuota, pikirnya.
"Iya, kata teman-teman sih jadi. Aku baru aja liat di grup," imbuh Ria yang tadi hanya sibuk dengan ponselnya.
"Okee," ucap Windy dan Sindy serempak sambil menyatukan jari jempol dan jari telunjuknya.
••••
Lantunan musik dan juga lirik terdengar bagaikan saling mengiringi. Dalam bus yang Ria dan teman-temannya naiki, mereka semua sedang menyanyikan sebuah lagu yang berjudul, ‘Adaptasi’ yang di populerkan oleh penyanyi yang bernama ‘Tulus’. Bak namanya yang tulus, aku juga tulus mencintainya.
“Berdiam diri di dalam rumah ini denganmu. Dari malam hingga, malam lagi. Terkungkung langkah ragu tak kemana-mana. Dari rabu, hingga rabu lagi. Semakin banyak waktu 'tuk bicara. Semakin 'ku paham harap mu apa. Semakin banyak waktu 'tuk bersama. Bersyukur 'ku kau utuh jiwa raga.”
Seusai lagu itu berhenti, tiba-tiba ada gumpalan kertas yang melayang ke arah Ria. Ia jadi teringat akan kejadian tahun lalu itu. Langsung, ia pun menghunuskan tatapan membunuh.
"Selow, yang kena lemparan kertas itu, dia yang harus nyanyi." ucap seorang pemuda yang kira-kira seumuran dengan Ria.
Pemuda itu menghampiri Ria dan memberi microphone. "Ayo, nyanyi!" seru pemuda itu.
"Nyanyi, nyanyi, nyanyi!"
"Ayo dong, kakak pratama putri, masa nyanyi aja 'nggak mau?" celetuk Rafael menggoda Ria.
__ADS_1
Ria mulai mengambil microphone itu, lalu berucap, "aku mau nyanyi lagu Bahagia dari GAC."
"Oke, musik! Go!"
Musik hip-hop pun langsung terdengar, nada intro juga sudah mulai.
“Hai, hai apa kabar kawan, siapkah kamu untuk melangkahi, masalahmu. Hadapi esok pagi. Hai, hai apa kabar kawan, siapkah kau untuk melangkah ke masa depan, menantikan pelangi. Percayalah kawan, esok 'kan berbeda. Pastikan engkau mencoba, buat mimpi mu jadi nyata, oh nyata. Kita semua pasti bisa, asalkan kita melangkah. Sambut hari, yang indah yee-eeh.”
"Semuanya!" seru Ria di microphone memberi aba-aba untuk bernyanyi bersama.
“Marilah kita mensyukuri. Semua berkat dalam hidup ini, kita bahagia-ia. Kita bahagia. Bersama hangatnya mentari. Nikmati dan lukis kan memori. Kita bahagia. Kita bahagia. Ba-ha-gia-ia. Ba-ha-gia-ia-ia. Ba-ha-gia hoo-yeee, jalani hidup ini.”
•••
Sudah dua jam mereka menempuh perjalanan. Akhirnya, perjalanan panjang mereka telah terobati oleh pemandangan asri dan juga pepohonan yang sangat indah. Semuanya hijau asri. Pohon-pohon menjulang tinggi yang menyejukkan pemandangan. Bagaikan di dalam hutan atau kebun raya, kanan kiri mereka di hiasi oleh pohon tinggi. Seperti naik puncak gunung, kiri kanan, banyak pohon cemara.
Pertama, mereka akan berwisata di Lubang Jepang yang berada di Bukittinggi. Mereka diperbolehkan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati makanan yang telah disiapkan oleh panitia.
Setelah itu, semuanya melanjutkan wisatanya. Di depan pintu Lubang Jepang, di sana sudah ada dua orang pemandu wisata. Mereka masuk beriringan dan pemandu wisata menjelaskan semua sejarah tempat itu.
"Eh, apa itu?!" pekik Rafael. Ria yang berada di belakangnya pun menyahut, "apaan?"
Ada ide jahil yang muncul di otak cerdasnya itu. "Oh, permisi, ya mbak." kata Rafael sambil menunduk dan tersenyum tipis.
"Apaan sih?! Di depan 'nggak ada apa-apa juga," oceh Ria sambil rolling eyes.
"Kamu mah 'nggak liat!" cibir Rafael.
"Masa sih?" sahut Ria. Tiba-tiba, terlintas ingatannya waktu pertama kali bertemu dengan seorang Rafael Dirgantara. "Oh, iya. Emang bener, ya? Disini tuh ada makhluk?" tanya Ria penasaran.
"Iya. Tuh, di depan kita." jawab Rafael seraya menunjuk ke depannya menggunakan wajahnya sendiri.
"Permisi, mbak." ucap Rafael yang memasang senyum tak bisa diartikan.
"Katanya, kalau datang kesini, kalau masuk kesini, jangan bicara sembarangan. Nanti di ganggu sampe sukses," lanjutnya seraya menoleh ke arah Ria.
"Ohh," jawab Ria.
"Tuh, dia di samping kamu sambil senyum-senyum," ucap Rafael jahil.
"Ih, suruh pergi apa! Takut!"
"Ih, gimana sih!! Mbak, pergi, saya takut, saya takut! Ampun, mbak! Ampun!"
Tiba-tiba, tawa Rafael pun pecah, "kamu percaya kali?"
"Hah?" beo Ria.
"Jadi, kamu cuma bercanda?!" pekik Ria yang tadi otaknya tak unconnect.
"Kamu anggap itu serius?" tanya Rafael balik sambil terus tertawa kencang.
Ria pun kesal, lalu ia pergi meninggalkan Rafael dan menyusul temannya.
•••••
Setelah berwisata di Lubang Jepang, mereka menaiki bus lagi dan berhenti di Kebun Binatang Bukittinggi.
Tak hanya binantang, di sana juga terdapat beberapa budaya Minang. Tapi, sayang, Author ini tidak bisa menjelaskannya satu persatu. Lebih baik, kalian pergi ke sana, entah bersama keluarga, atau bersama teman atau pacar atau sendirian.
Di sinilah mereka akan melakukan acara perpisahan dan juga kelulusan. Semuanya berbaris rapi, dan mengambil posisinya masing-masing.
Sebuah puisi juga ikut terukir di sana.
"Pagi nan indah, angin berderu menerpa sang wajah
Sementara dingin menyelimuti setiap langkah
Renungan setiap langkahnya hanya tentang kejayaan
Pikiran di setiap langkah pun hanya tentang keberhasilan
Detik demi detik hingga hari demi hari
Begitu cepat terlewati
Wajahnya tiada terpancar rasa jenuh sama sekali
__ADS_1
Semangatnya selalu menggelora
Tiada kata-kata yang seindah tutur katanya
Tiada hari tanpa sebuah bakti
Tiada penawar yang seindah senyumnya
Tiada benih kasih yang tercecer di luar sana
Kecuali hanya pada murid-muridnya
Jikalau dia kan melangkah pergi
Langkah yang penuh pengorbanan
Jikalau dirinya telah tiada,
Pasti kan selalu ada yang mengenangnya
Dan itu guru, dia pahlawan tanpa lencana."
Seketika cairan bening yang sudah menggenang di pelupuk mata pun jatuh tanpa ampun. Bagaikan hujan yang menerpa di wajah mereka.
Sehabis nya, para murid bertukar kado. Mereka menumpukkan kado-kadonya, lalu guru-guru pun mengocok nama-nama peserta didik.
Mereka memanggilnya secara acak. Setelah dipanggil, para peserta didik pun mengitari kado-kado yang sudah di acak itu. Dengan alunan musik, mereka mulai memutari nya. Ketika musik berhenti, mereka semua mulai berebut kado itu. Ada yang mengambil dua bahkan lebih, ada yang mengincar kado yang bungkusannya terlihat besar, padahal belum tentu isinya juga besar.
Setelah tukar kado, mereka mulai membuka kadonya masing-masing.
"Ih, apaan ya? Kayaknya isinya gede," celetuk Bima yang mendapat kado berukuran besar.
Ketika dibuka, ternyata ada bungkus kado lagi, di buka lagi, ada bungkus kado lagi. Hingga tiga puluh kali ia membukanya. Di lapis terakhir, ada kemenangan dalam hatinya.
"Kayaknya ini kado berharga banget, makanya si doi bungkusnya berlapis-lapis." Batinnya kesenangan.
Ketika di buka, ternyata isinya itu jilbab segi empat yang sudah lusuh dan kusam. "Wah, oncom!" Pekik Bima kecewa.
Semuanya hanya tertawa terbahak-bahak begitu juga dengan si pelaku. Yaitu, Rebecca.
•••
Setelah acara tukar kado, sang kepala sekolah mulai membagikan hasil ujian nasional dan juga beberapa bingkisan kecil dari guru-guru untuk semua muridnya.
Seusai itu, mereka mulai bersenang-senang diiringi lantunan lagu 'Kisah Klasik -Sheila on 7" dan juga tetesan air mata.
.
.
.
What's on?
•Apa itu Lubang Jepang?
Lubang Jepang atau Lobang Jepang Bukittinggi adalah salah satu objek wisata sejarah yang ada di Kota Bukittinggi, Sumatra Barat, Indonesia. Lubang Jepang merupakan sebuah terowongan perlindungan yang dibangun tentara pendudukan Jepang sekitar tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan.
Sumber : Wikipedia.
•Apa itu Kebun Binatang Bukittinggi?
Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan atau lebih dikenal dengan nama Kebun Binatang Bukittinggi adalah salah satu kebun binatang di pulau Sumatra, yang terletak di atas Bukit Cubadak Bungkuak, Bukittinggi, Sumatra Barat, Indonesia.
Sumber : Wikipedia.
Buat kalian yang mau ke sana, jangan lupa ajak inces Author syantik ini yaa. Sekalian, ongkosnya kalian yang bayar. Xixixi. Dan, jangan lupa juga baut lakukan 3M! Mencuci tangan pakai sabun minimal 20 detik, Memakai masker kemana pun dan dimana pun kalian berada dan Menjaga jarak sosial minimal 1,2 meter.
#BerbagiItuIndah
#SemogaBermanfaat
#IngatPesanIbu.
__ADS_1
-Bersambung-