Sebatas Patok Tenda

Sebatas Patok Tenda
SPT 40


__ADS_3

Rasa cinta paling tinggi adalah, mengikhlaskan seseorang yang kita cintai untuk pergi sementara, atau selamanya— Ria Eliyanti.


♛┈⛧┈┈•༶


Tahun pertahun sudah ia lewati dengan cepat. Hingga, sekarang ia sudah berada di tingkat kuliah, tingkat dimana semua waktu akan dipergunakan full aktivitas. Mulai dari UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), dan masih banyak lagi. Apalagi, jika sudah ada di semester akhir.


Ria Eliyanti, gadis itu tengah duduk di taman kampus sembari memangku buku kecil berwarna biru pemberian seseorang yang spesial.


Ia tengah bersantai sambil melihat mahasiswa/mahasiswi lainnya yang sedang berlalu lalang. Kemudian, mengambil pulpen yang ada di selipan buku kecil biru miliknya.


Jari-jemarinya mulai lihai menggunakan pulpen itu dan mencoret kan beberapa kata yang ia rangkai menjadi kalimat yang indah dan penuh makna.


Bahkan, ia masih ingat ketika buku itu di berikan oleh orang spesial itu.


*****


"Eh, Ria ya? Boleh duduk nggak?"


Perempuan itu menoleh, alangkah terkejutnya ia. Ternyata, itu adalah seseorang yang sangat ia rindukan. Walau baru bertemu dua hari yang lalu.


"Lho? Kamu kok ada disini?" tanya Ria sambil menyipitkan matanya.


"Iya, besok lusa aku baru berangkat ke Jakarta." jawab pemuda yang berdiri di sampingnya.


"Aku boleh duduk nggak? Capek tau berdiri mulu," sambungnya.


Ria menggeser kan tubuhnya ke samping kiri sebelum mempersilakan Rafael untuk duduk. "Silakan," ucapnya.


"Jadi, kamu beneran pergi?" tanya Ria dengan raut wajah khawatir.


"Iya. Tapi, aku kan udah pernah bilang, aku janji kita nggak bakal lose kontak!" kata Rafael seraya mengangkat telapak tangannya sebagai ungkapan janjinya itu.


"Oh iya. Ini." lelaki itu memberikan buku kecil dengan sampul biru untuk Ria.


"Buat apa?" tanya Ria yang masih bingung.


"Buat kamu. Anggap aja kalau ini tuh sebagai kenang-kenangan dari aku. Kamu bisa tulis semua yang ada di hati kamu, dan pikiran kamu. Nggak baik lho kalau di pendam-pendam, daripada kamu nggak mau ada urusan sama orang lain, kamu curahkan di buku ini aja," jelas Rafael.


"Beneran?" Rafael mengangguk. "Tapi, ini kan punya kamu. Waktu itu juga kamu bawa buku ini kan, saat pesta di rumah Dona?" lanjut Ria yang masih enggan menerima buku itu.

__ADS_1


"Nggak, aku ada dua. Nih, liat!" pemuda itu menunjukkan buku yang sama miliknya ke Ria.


"Anggap aja, kalau ini couple, buku kita sama-sama biru, ukurannya juga sama-sama kecil. Disimpan, ya!" ucap Rafael sambil tersenyum tulus.


"Oke." jawab Ria membalas senyuman Rafael.


Tiba-tiba, Rafael pergi begitu saja tanpa pamit. Karena hal itu, Ria kesal dibuatnya, "pergi begitu aja! Nggak bilang-bilang pula!" kesalnya.


Selang sepuluh menit, Rafael masih belum kembali, padahal ada buku diary miliknya. "Apa dia terburu-buru? Sampai-sampai, lupa sama bukunya? Ah tau lah, besok aku balikin aja ke rumahnya." pikir Ria.


"Aduh, kok dingin sih. Kan nggak hujan," gumam Ria ketika merasakan dingin di bagian pipinya. Ternyata, Rafael kembali sambil membawa es krim yang baru saja di belinya.


"Maaf lama, tadi ngantri panjang banget," ucap Rafael lalu membuka bungkusan es krim miliknya.


"Udah, makan aja. Nggak ada sia*nidanya kok!" kelakar Rafael saat melihat Ria hanya mematung.


"Apaan sih!" elak Ria lalu ia pun membuka bungkusan es krim.


*******


Ingatan itu tak pernah pudar dari pikirannya. Ia tak pernah tahu, jika jatuh cinta itu, akan seperti ini. Sakit sekali rasanya, ketika ditinggal oleh orang yang sangat kita cintai. Tapi, ia tak akan berharap lebih kepada orang itu, karena itu hanya akan meninggalkan rasa sakit, bukan sebaliknya.


"Ngelamun mulu kerjaannya! Udah, jangan pikirin dia mulu! Nanti pasti dia bakal hubungin kamu!" ucap Ninda menenangkan.


"Aku tau, Nin. Tapi, kenapa akhir-akhir ini dia jarang hubungin aku, ya?" balas Ria lesu.


"Yaa, mungkin dia lagi sibuk. Kamu tau kan? Kuliah itu banyak kegiatannya, kayak kita nih. Udah yuk! Nanti kak Pon-Pon marah loh!" ajak Ninda lalu menarik tangan Ria.


✧・゚: *✧・゚:*


Diwaktu yang sama, namun di tempat yang berbeda. Terdapat dua pemuda yang tengah di kerubungi oleh gadis-gadis centil nan polos.


"Kak! Foto bareng yuk!"


"Kak, boleh minta nomor telfon nggak?"


"Kak, Kakak rumahnya dimana?"


"Kak! Malam minggu kita jalan-jalan, yuk!"

__ADS_1


"Kak, pinang aku dengan bissmillah, Kak!"


"Kak, udah punya pacar belum?"


"Kak, mau nggak jadi abang aku?"


"Aduh, Fer! Gimana ini, gue bosen tau dikerubungin sama cewek-cewek di kampus!" pekik pemuda itu yang memakai jaket almet. dengan nametag Rafael.


"Sabar lo! Makanya, tuh muka jadi di ganteng-gantengin!" sewot temannya yang bernama Feri.


"Aduh, Adek-adek, udah ya. Kalian mending kembali ke kelas kalian." ucap Feri yang harus turun tangan.


"Yah, padahal kan kita mau foto sama Kakak-kakak," jawab mahasiswi yang satunya.


"Kalau kalian nggak mau masuk, Kakak akan laporin kalian ke dosen kalian semua!" ancam Feri dengan tegas.


"Yah, jangan dong, Kak. Dosen kita killernya minta ampun!"


"Iya, Kak. Jangan laporin ke pak palbot, Kak!" (Nb : Palbot : Pala botak).


"Ya udah, kalian balik ke kelas masing-masing, sana!" usir Feri sambil mengibas-ngibaskan tangannya seperti mengusir anak ayam.


Ya, seperti itu lah mereka berdua. Selalu di kerubungi oleh kaum hawa. Mulai dari anak yang sedang ospek, sampai kakak tingkat alias senior mereka.


"Udah yuk, ke kantin. Laper gue!" celetuk Feri lalu melenggang pergi begitu saja.


"Oke, kuy! (Bahasa gaul, dalam arti, 'yuk')."


Sesampainya di kantin, mereka langsung memesan makanan favorit mereka.


"Eh, nanti malam gue mau ke rumah lo, ya. Soalnya sampe besok lusa, gue home alone," ucap Feri membuka pembicaraan.


"Oke, santai aja. Nggak usah sungkan, kayak tamu aja lo," balas Rafael dengan santai. Mereka berdua kenal ketika masa ospek. Dan, itu juga hanya kebetulan, ketika mereka di tunjuk ke depan oleh kakak tingkat, dan dipermalukan dengan cara berjoget ala shopee. Sangat memalukan.


Rafael masih belum menyantap makanannya, ia hanya fokus dengan layar ponsel di depannya. Ketika ia menscroll ke bawah, ada perempuan yang sudah lama ia rindukan. Di foto itu, terdapat Ria, Ninda dan beberapa teman lainnya, dan yang membuat Rafael geram adalah, ada lelaki yang terlihat sangat dekat dengan Ria.


Akankah Rafael marah kepada Ria? Atau dia tetap positive thingking?


Mau tahu kelanjutannya?

__ADS_1


Klik, tombol like, favorit dan jangan lupa di vote yang gengs!


__ADS_2