
Rafael masih belum menyantap makanannya, ia hanya fokus dengan layar ponsel di depannya. Ketika ia menscroll ke bawah, ada perempuan yang sudah lama ia rindukan. Di foto itu, terdapat Ria, Ninda dan beberapa teman lainnya, dan yang membuat Rafael geram adalah, ada lelaki yang terlihat sangat dekat dengan Ria.
Rafael memendam amarahnya terlebih dahulu, ia lebih memilih untuk menyantap makanan yang ada di hadapannya.
Feri yang melihat, hanya bengong seketika masalahnya, baru kali ini ia melihat seorang Rafael makan dengan terburu-buru, seperti tak makan empat tahun, pikirnya.
"Heh, kalo makan itu, jangan buru-buru, tersedak aja lo!" ancam Feri.
Selang satu menit, perkataan Feri tadi ada benarnya, Rafael terbatuk-batuk. "Tuh, 'kan gue bilang apa. Kalo makan tuh, jangan buru-buru, kayak mau balapan aja lo!" tukas Feri, namun di hiraukan oleh Rafael.
•••••
Disebuah taman bermain, terdapat gadis muda yang sedang menikmati keindahan taman. Yang tak lain, dan tak bukan adalah, Ria. Ia sedang duduk di bangku taman sambil melihat-lihat anak kecil yang sedang bermain.
Dilihatnya, buku diary pemberian dari seseorang. "Kamu kemana sih?! Kenapa nggak ngabarin aku?! Mentang-mentang sibuk!" omelnya pada buku itu, seakan buku yang ia pegang adalah orang yang sudah sangat ia rindukan.
"Dik, kamu udah siapin alat-alat buat besok lusa belum?" tanya pemuda yang tiba-tiba ada di sampingnya dengan nada suara yang seperti perempuan. Pria itu sangat sibuk dengan buku catatan yang ada di tangannya.
"Udah, Kak. Tinggal beberapa lagi, konsumsi udah, sampai biaya transportasi juga udah. Sisa, seragam yang bakal kita pakai." jawab Ria yang dari nada bicaranya seperti mencari-cari sesuatu.
"Benar? Awas kalau salah, kayak tahun kemarin! Kakak turunin jabatan kamu, lho!" ancam pemuda itu, yang biasa dipanggil Kak Pon-Pon.
"Iya, Kak Pon-Pon yang cantik," balas Ria seraya tersenyum paksa.
"Oke deh, say. Sip!" kak Pon-Pon membentuk tanda 'oke' kepada Ria.
"Kak, kenapa sih, setiap ada anggota baru pasti kita tuh bikin seragam baru mulu. Penuh-penuhin lemari tau!" gerutu Ria kesal.
"Biar menarik, say. Jadi, kita tuh tau, mana yang anggota lama dan mana anggota baru." jelas kak Pon-Pon dengan gaya bicara khas dirinya.
"Oohh," Ria hanya ber-oh ria saja.
•••••
Di lain tempat, ada seorang pria muda yang sedang menelfon seseorang. Hal itu, telah ia lakukan selama puluhan kali. Dan juga, ia telah mengirim pesan juga kepada orang yang sama, namun tetap tak ada balasan sama sekali.
"Aduh, kenapa nggak diangkat sih?!" gerutunya sembari berbolak-balik tanpa henti.
"Angkat dong ... angkat ... ayo," ucapnya sambil menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
Rafael mengusap kasar wajahnya, tangannya terkepal, dirinya semakin cemas, ia sudah mondar-mandir tak berarti.
Pesan WhatsApp pun hanya cek list satu, ditelpon juga tak diangkat. Apalagi yang harus ia lakukan lagi?!
"Eh, lo kenapa sih? Mondar-mandir kayak setrikaan. Lagi naber, ya? Dih, jorok," cibir Feri yang baru saja tiba di ruangan itu.
"Diem deh lo! Gue lagi frustasi ini!" oceh Rafael yang terus-terusan mondar-mandir tak berarti.
"Halah, cuma cewek doang sih, paling dia lagi sibuk, atau lagi ada urusan lain. Udah, mending kita main PS aja yuk!" ajak Feri yang merangkul Rafael.
"Oh, iya. Main PS-nya di kamar lo aja, ya? Gue ada sesuatu yang mau diomongin, lagi butuh temen curhat," sambungnya.
"Tumben lo curhat, biasanya 'kan lo gibahin orang, kayak emak-emak depan gang," timpal Rafael sambil menatap sinis.
"Udah lah, hayuk, main PS! Tangan gue gatel nih!" Dengan segera, Feri menarik tangan Rafael, tapi Rafael hanya menurut saja.
"Selama gue main ke rumah lo, kenapa gue itu nggak dibolehin masuk ke kamar lo? Gue penasaran, makanya gue minta mainnya di kamar lo aja." ucap Feri sambil terus menaiki anak tangga satu persatu.
"Oh, gue tau! Pasti kamar lo berantakan, ya? Terus, lo malu karena kamar lo itu jelek, ditambah lagi, catnya udah usang, tembok-tembok udah pada kelupas. Dan juga, penampakan kamar lo itu kayak gudang yang udah nggak terpakai, ckckckck ... Rafael, Rafael gue turut prihatin, ya." Feri terus saja mengoceh tanpa henti, sampai Rafael sudah sampai di lantai dua.
"Ngomong mulu, kayak bebek." cibir Rafael sudah sampai di lantai dua.
Sedangkan, si pelaku hanya cengengesan belaka.
Ada juga kamar mandi, dan lemari yang tak terlalu kecil dan tak terlalu besar pula untuk menaruh sepatu, tas, dan beberapa buku. Terdapat nakas yang ditaruh dekat dengan kasur serta ada ruangan walk in closet.
"Raf?! Gue nggak nyangka! Kamar lo, lebih besar dari kamar gue! Ada walk in closet juga! Maafkan saya yang sudah meragukan mu, wahai sahabat." tutur Feri yang terdengar sok bijak.
"Eh, gue mau liat walk in closet lo dah! Ayo," seru Feri kegirangan.
"Katanya mau main PS," tukas Rafael.
"Nanti aja, itu mah gampang!" balas Feri sambil menampakkan giginya.
"Nyengir mulu, kayak kuda."
Rafael hanya menurut, kemudian ia buka pintu walk in closet miliknya.
"Wih, keren," gumam Feri tak berkedip.
__ADS_1
"Eh, Raf! Ini 'kan sepatu yang dipakai Tehyang PTS, ya?" ucap Feri sambil menunjuk sepatu yang sangat klasik. Ia tahu itu, karena adik perempuannya sering nonton video klip boyband asal Korea itu. Btw, namanya di sensor, biar nggak bermaksud sponsor gitu.
"Iya apa? Gue dibeliin sama nyokap gue waktu dia ada di Korea." jawab Rafael santai.
"Berapaan ini btw?" tanya Feri girang.
"Berapa, ya? Gue nggak liat struknya sih, kira-kira empat puluh juta mungkin," jawab Rafael sambil berpikir-pikir.
"Gue kalau belanja, emang nggak pernah liat struknya sih, takutnya nanti gue yang kena stroke." kata Feri sambil menggelengkan kepala.
"Udah deh, gue nggak kuat! Mending kita langsung main PS aja," sambungnya lalu keluar dari ruangan itu. Rafael hanya menggelengkan kepala.
•••••
Malam harinya, setelah makan malam bersama, Ria masuk ke kamar untuk mengerjakan tugas yang diberikan dosen. Ketika ia melihat ponsel, ada banyak sekali notif yang bermunculan. Karena, ia sengaja tidak membawa ponselnya tadi siang.
"Rafael?" gumam Ria.
Ada lima puluh panggilan tak terjawab dan dua ratus lima puluh pesan yang belum dibaca dari Rafael.
Yang membuat dirinya kaget adalah, ketika Rafael mengirim screenshot fotonya bersama para kakak-kakak UKM, dan ditambah lagi, Rafael memberi pesan tulis, 'siapa mereka semua?' Ria tak tahu harus membalas apa. Feeling-nya berkata, kalau Rafael itu seperti cemburu.
Kemudian, Ria mengetik sesuatu yang berisi, 'mereka kakak-kakak UKM yang aku ikuti. Kenapa? Emangnya salah?' dan, Ria menekan tombol kirim. Tak lama kemudian, Rafael membaca pesan itu. Terlihat di atas ada kata 'mengetik .....'
'Kakak UKM? Kok keliatannya dekat banget?' isi pesan itu, langsung Ria baca.
'Iya, di samping itu namanya kak Pon-Pon, dia ketua UKM. Emang kenapa sih? Apa aku nggak boleh berbaur sama mereka?' terkirim.
'Oh.' Isi pesan itu, terlihat singkat sekali. Entahlah, dia harus berbuat apalagi.
Ria langsung melempar ponselnya sembarang yang tentunya jatuh ke kasur.
•••••
"Tolong!! Tolong!!" pekik seorang wanita.
"Pak, tolong, Pak. Tolong panggilkan ambulance!" ucapnya pada orang yang berdatangannya. Di pangkuannya, terdapat pria yang di kepalanya bercucuran darah.
"Pak, tolong, Pak. Mas, Mbak tolong!" wanita itu terus menjerit histeris sambil terus-terusan menangis.
__ADS_1
Suara sirine ambulance, memenuhi jalan itu. Para tim medis, mulai mengeluarkan brankar dari garasi ambulance, dan langsung menaruh pasien gawat darurat di brankar, setelah itu langsung memasukkan ke dalam bagasi ambulance.
✧・゚: *✧・゚:* To be continue