Sebatas Patok Tenda

Sebatas Patok Tenda
SPT 29


__ADS_3

Ria membalas pesan itu, "kabar gembira apaan?" Itu isi pesan Ria.


"Ada deh, besok kamu pasti tau!" Read.


• • •


Di pagi hari yang cerah, Ria berangkat ke sekolah dengan keadaan yang suram. Karena apa? Ya. Ya. Ya. Karena, dia kurang tidur, semalam begadang sambil nonton drakor. Dasar! Manusia!


"Li! Kamu PR kimia udah dikerjain?" Tanya Ninda yang melihat kedatangan Ria dengan keadaan yang suram. Tetapi, itu semua tak dilihat oleh Ninda.


"Hah? PR? Emangnya ada? Kemarin 'kan, 'nggak dikasih," jawab Ria yang tiba-tiba bola matanya membulat sempurna.


"Hih! Kemarin dikasih! Tapi dadakan, semalam bu Nami ngasih tau di WA." Bagai tersambar hujan di pagi hari, eh petir maksudnya. Ria yang tadinya ingin bermeditasi sementara, malah diharuskan untuk mengerjakan PR dadakan.


"Emang kamu 'nggak liat grup WA?" Sambung Ninda dengan tatapan menyelidiki.


"Semalam aku 'nggak buka data. Jadi, aku 'nggak liat." Ria membalas sambil mengukir cengiran lebar. "Eh, liat dong ... Please ....." Lanjut Ria sembari menyatukan kedua telapak tangannya, berharap akan ada malaikat berbaik hati yang akan memberikan secarik kertas jawaban.


"Ya udah. Masih ada 30 menit ini, cepat ya!" Ucap Ninda kemudian memberi buku latihannya kepada Ria. Dengan suasana hati yang senang, Ria langsung mencatat soal beserta jawabannya.


30 menit berlalu.


Guru mata pelajaran telah datang, bel pun sudah menggema di seluruh penjuru ruangan sekolah itu. Dan, Ria sudah menyelesaikan PR dadakannya itu, 5 menit yang lalu.


Untungnya, ia meminjam kekuatan Ultraman untuk menulis dengan secepat kilat. Jika tidak, bisa hancur dunia perekonomian (Padahal 'nggak ada hubungannya).


"Selamat pagi, semuanya." Sapa guru bernama Nami itu, sambil membawa beberapa buku tebal yang tebalnya hampir mencapai KBBI yang pernah Author jumpai. Serta, di ekori oleh murid laki-laki yang wajahnya tak asing bagi seorang Ria.


"Baik, hari ini kalian kedatangan teman baru. Dia pindahan dari sekolah Bina Cahaya. Nak, silakan perkenalkan diri kamu." Bu Nami mempersilakan pemuda itu untuk memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


"Halo semua, namaku, Rafael Dirgantara. Saya pindahan dari SMA Bina Cahaya, salam kenal. Semoga kita bisa berteman dengan baik." Ternyata eh, ternyata dia adalah Rafael.


Yang semula hanya menatap lurus, kini netra Rafael tak sengaja melihat Ria. Ia tersenyum entah senyum apa itu, aku pun tak tau lah, lepas makan biskuit Yaya jadi macam ni.


APA?! Mungkin, itulah jeritan Ria dalam hati. Mana mungkin, teman yang ia kenal waktu jambore, ternyata akan satu kelas dengannya. Wah, tidak bisa terpikir begitu sih.


"Rafael, kamu bisa duduk di bangku kosong depan, Ria." Bu Nami memberitahu tempat duduk Rafael, sambil menunjuk ke arah bangku kosong yang ada dihadapan Ria.


WHAT?! Jika hanya beberapa orang dalam kelasnya, kemungkinan besar Ria akan berteriak sekencang-kencangnya.


"Terimakasih, Bu." Kata Rafael lalu berjalan menuju kursi yang ditunjuk bu Nami tadi.


"Jadi ini, kabar gembiranya." Batin Ria mencibir.


Sampai jam pelajaran telah selesai, digantikan oleh jam istirahat. Di kelas hanya tersisa beberapa orang saja, ada Ninda yang sedang menunggu Ria. Ada Dona yang sibuk dengan make-up nya, dan juga teman-teman Dona. Serta, ada beberapa murid laki-laki yang sedang mengobrol. Tak lupa juga dengan, Rafael yang masih membaca buku materinya.


"Li? Udah? Ayo cepat, ditungguin sama kak Rudy!" Tukas Ninda yang sudah tak sabar.


Ketika Ria melewati tempat duduk Rafael, yang masih ada penghuni yang duduk disitu, seketika langkah Ria terhenti oleh suara seseorang.


"Tunggu! Aku mau ikut!" Ucap Rafael sambil menarik pergelangan tangan Ria. Untung saja, Ria masih bisa menyeimbangkan tubuhnya, jika tidak, bisa hancur dunia kecantikan (Padahal 'nggak ada hubungannya haha).


Semua yang masih berada di kelas, melihat hal tersebut, dan membuat Ria tersipu malu.


"Mau ikut kemana?" Tanya Ria dengan datarnya.


"Kak Rudy, bukannya pembina pramuka kalian? Aku mau join buat jadi anggota pramuka inti," kata Rafael dengan setengah berharap.


"Iya deh, yuk!" Bukan Ria yang merespon, melainkan Ninda yang dangat bersemangat.

__ADS_1


Mereka bertiga, keluar kelas dan menuju basecamp, tempat para anggota pramuka inti berkumpul.


• • •


"Kok mereka bisa langsung akrab sih? Padahal baru aja kenal, belum sehari pula." Suara Dona mencibir Ria dan Ninda.


"Mungkin, cowoknya emang mantan pramuka inti kali, Don. Emang kenapa, sih?" Sahut Diana, teman satu genk dengan Dona.


"Iya. Emang kenapa sih, Don? Ribet amat, ngatur-ngatur hidup orang." Kali ini, suara laknat yang keluar dari mulut Rebecca yang termasuk satu genk dengan Dona.


"Tau, Don. 'Nggak usah ribet-ribet atur hidup orang deh. Belum tentu 'kan, hidupmu benar?" Suara durjana yang keluar dari mulut Riana.


Dona hanya rolling eyes, baginya sudah terbiasa mendengar ocehan-ocehan laknat para teman genk-nya. Mungkin, itu senjata yang tepat untuk orang yang suka menyindir orang lain. Hahaha.


.


.


.


.


.


Author begadang ges, harusnya tadi siang buat cerita. Tapi, karena keasyikan ngeyutub, ya'nggak jadi deh. Hiks, dasar aku ಥ‿ಥ.


Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)


*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*

__ADS_1


-**Bersambung-


#HappyReadingAll😉🤗**


__ADS_2