Sebatas Patok Tenda

Sebatas Patok Tenda
SPT 34


__ADS_3

Nb : Buat kalian yang jawabannya merasa benar menurut kalian BENAR. Hebat. Hebat. Hebat. Kalau salah, jangan salahin aku ya ^_~.


*****


Setelah menghubungi semua teman dekat Dona, tetapi hasilnya tetap nihil. Ria memutuskan untuk langsung mendatangi rumah Dona.


Ketika ia sampai di rumah Dona, suasana di sana sangat sepi sekali, seperti perkataan Rebecca dan lainnya di balik telfon.


Dengan susah payah Ria menelan salivanya, suasana horror menyelimuti bak film horror yang pernah ia tonton sebelumnya.


Perlahan tapi pasti, Ria berjalan pelan menuju pintu rumah Dona, kemudian menarik handle pintu dengan pelan-pelan. Keadaannya sama seperti Ria masuk ke rumah Dona minggu lalu. Kali ini, harus lebih waspada! Pikirnya.


Ketika ia mengedarkan pandangannya, ternyata cukup aman, Ria melangkahkan kakinya lagi.


Tiba-tiba, ia mendengar seseorang yang turun dari tangga. Yang letaknya tak jauh dari ia berdiri, dengan sigap Ria berlari kecil, lalu pergi keluar lewat pintu yang sengaja tak ditutup olehnya.


Ria bersembunyi di semak-semak yang ada di halaman rumah Dona. Lalu ia menghubungi beberapa teman dekatnya terutama teman lelakinya untuk berjaga-jaga.


‘Cepat ke rumah Dona! Tanpa banyak tanya! Pokoknya langsung kesini! Gawat nih!’


‘Bebek penyet enak.’ Pesan itu ia kirim ke teman dekatnya. Yaitu, teman-teman Dona, Windy, Sindy, Ninda, Risa, Saras, Bima, Dean, Robby, Dean, Doni dan Rafael. Sengaja ia menorehkan kalimat, 'bebek penyet enak.' supaya langsung dibaca oleh temannya, ide seperti itu ia dapatkan dari seorang youtuber favoritnya, dan youtuber itu favorit Author juga.


Ada beberapa dari mereka yang menjawab, ‘Kenapa? Ada kebakaran?’, ada pula yang membalas, ‘apa ini?! Penting 'nggak?!’ Ria tetap membalas dengan pesan sebelumnya.


• • •


Ditempat yang sama, namun diwaktu yang berbeda. Terlihat dua suruhan Dona sepekan lalu kembali ke rumah Dona, dengan seringai yang menghiasi bibirnya.


Mereka, suruhan Dona, langsung mendobrak pintu rumah Dona dengan kasar. Dona yang sedang bersantai di kamarnya bisa mendengar ada suara yang menggelegar dari ruang tamu. Dengan segera ia menyambar jaket tebalnya dan langsung keluar kamar.


"Siapa sih malam-malam begini bikin ribut!" Omel Dona sambil memakai jaket tebalnya ketika sudah berada di luar pintu kamar.


Dona menuruni anak tangga, sambil terus menggerutu, "siapa tadi yang gebrak pintu?!" Bentaknya ketika sudah berada di lantai bawah. Namun, disana tak ada siapapun. Dona terus mengelilingi pandangannya, di seluruh penjuru ruangan itu.


Tiba-tiba, ada orang yang membekap dari belakang. Dona terus memberontak namun, tenaganya tak sebanding dengan orang yang membekapnya.


Karena orang itu membekapnya semakin erat, Dona pingsan akibat efek obat bius yang digunakan kedua orang itu.


"Bagus!"


• • •


Ria masih ditempatnya, ia terus menunggu teman-temannya untuk membantu mencari Dona.


Selang 10 menit, barulah yang ditunngu oleh Ria pun datang, ada dari mereka yang berlari-larian, ada juga yang menaiki motornya.


"Ada apa sih, udah jangan buang-buang waktu! Jangan ngabisin waktu rebahan aku yang berharga!" Dean menggerutu kesal.


"Ini kayaknya masalah yang besar." Ria langsung membicarakan topiknya tanpa basa-basi. Ia menceritakan kejadian seminggu yang lalu dan tadi pagi. Semua mendengarnua dengan serius, sesekali ada yang menguap karena kantuk yang terus mengintainya.


"Begitu, ya. Terus? Kita harus ngapain?" Tanya Windy ketika Ria sudah selesai menceritakan.

__ADS_1


Ria berpikir sejenak. "Aku tahu!" Bukan Ria yang mengeluarkan suaranya, namun Riana.


"Gimana kita ngendap-ngendap buat masuk ke dalam? Kata Ria 'kan, Dona masih ada di dalam, tapi keadaannya sepi. Kita ngendap-ngendap aja, biar 'nggak ketahuan. Dan, buat lelaki, beberapa dari kalian ada yang ikut masuk dan ada juga yang jaga disini. Gimana?" Saran Riana yang disambut anggukan oleh semuanya.


"Ya udah, kita harus cepat. Takutnya ada apa-apa. Firasat aku lagi 'nggak enak nih," ucap Ria, segera mereka pun mulai rencananya.


Ketika mereka masuk ke dalam rumah Dona, suasana memang benar-benar sepi.


"Hiks, hiks." Tiba-tiba, mereka mendengar suara orang yang menangis.


"Itu, suara apa itu?!" Panik Dean sambil berlindung ke punggung Robby.


"Penakut!" Cibir Robby yang merasa risih, tubuhnya dijadikan benteng.


"Kayaknya dari gudang, kita langsung ke sana aja. Yuk!" Ajak Ria dengan semangat.


Mereka berjalan perlahan-lahan, ketika sampai di gudang, suara tangisan parau itu kembali terdengar, namun kali ini terasa semakin dekat.


"Rupanya kalian. Kami udah berpikir kalau kalian bakal kesini, iya 'kan? Dan, termasuk kamu, Gadis!" Preman yang menjadi suruhan Dona, tiba-tiba muncul dihadapan mereka semua.


"Mau apa kalian, hah?!" Bentak Ria dengan emosi yang menggebu ketika ia teringat kejadian seminggi yang lalu.


"Kalian kesini pasti mau cari teman si4l4n kalian itu, 'kan?! Kalau kalian mau bertemu dia, kalian harus lawan kami terlebih dahulu!" Rupanya, preman itu sudah mengetahui niat mereka.


"Dasar preman br3ngs3k!!" Pekik Ria, dengan tangan terkepal dan langsung memukul preman itu.


"Hei, Gadis! Jangan sok berani kamu!" Ancam preman itu ketika Ria hendak melayangkan bogeman, tangannya tercekal oleh preman itu.


Teman-temannya tak tinggal diam, Robby langsung memukul bagian tengkuk belakang preman itu, ketika preman tersebut berbalik badan.


"Anak kurang ajar!" Ketika tangan preman itu ingin melayangkan pukulan tinju, langsung di tangkis santai oleh Robby. Jangan bingung, ia memang atlet bela diri sejak kecil.


"Jangan panggil aku anak kurang ajar, kalau kamu sendiri juga kurang aja!" Balas Robby sambil menatap tajam. Ria? Ia sudah terlepas dari cekalan preman itu, ia sedang mengurusi rekan preman yang satunya.


Ketika mereka berhasil membuat kedua preman itu ambruk, Ria dan lainnya langsung masuk ke dalam gudang. Di dengarnya, suara tangisan itu semakin dekat.


"Dona! Dona!" Kata mereka serempak.


Gudang itu cukup luas, bahkan ada beberapa pintu yang ditutup, maka dari itu mereka membuka pintu tersebut satu persatu. Ketika Ria membuka salah satu pintu itu, ternyata pintu tersebut terkunci, ia terus mendobrakkan tubuhnya supaya pintu itu bisa terbuka.


Di percobaan terakhir, baru pintu itu bisa terbuka. Dilihatnya, Dona sedang terduduk di pojokan sambil menekuk lututnya. Serta, hampir dadanya terekspos.


Ria memandang parau Dona, ia langsung mengambil selimut yang ada di gudang itu.


"Udah, udah, kamu aman, mereka udah di habisi sama teman-teman. Jangan nangis lagi," ucap Ria menenangkan, setelah itu Dona tak menangis lagi.


Ketika semua temannya terus mencari, Ria keluar dari ruang kecil itu, "hei! Dona ada disini!" Pekiknya, mereka semua langsung berlari kecil menuju Ria.


"Eits, yang cowok 'nggak boleh masuk! Kalian jaga diluar!" Titah Ria sambil menunjuk ke arah teman lelakinya.


"Lho, emang kenapa?" Tanya Dean.

__ADS_1


"Tau, kenapa sih. Teman sendiri begitu, teman macam apa itu?!" Sahut Robby.


"Hah, udah jangan diladenin! Biarin aja mereka! Ayo," imbuh Diana lalu menarik tangan Ria. Teman perempuan Dona langsung masuk ke ruang kecil dimana Dona berada.


"Don-" ucapannya terhenti ketika melihat Dona berselimut dan terduduk di pojok ruangan itu ia hanya bisa menutup mulutnya dengan satu tangan dan berdiam diri disitu.


Sedangkan, Riana langsung mendekati Dona, "kamu kedinginan?" Tanyanya, Dona hanya menggeleng pelan lalu memeluk tubuh kecil Riana.


Riana merasakan ada benda kenyal di dekat tangannya, "Don?! Kamu kok?!" Pekik Riana.


"Tutup pintunya!!!!" Pekik Riana lagi, tanpa basa-basi Rebecca yang dekat dari pintu langsung menutupnya.


"Emang ada apa?" Tanya Rebecca tak tahu.


"Udah! Kita harus bawa Dona ke rumah sakit, sekarang!" Titah Ria yang memang ia sudah tahu kondisi Dona.


Riana pun memakaikan hodie besar miliknya untuk menutupi tubuh Dona yang hampir terekspos.


• • •


Dona masih diperiksa oleh dokter, ia masih berada di ruang UGD rumah sakit, setelah dokter keluar, semuanya langsung memberikan segudang pertanyaan kepada dokter itu.


"Dok, gimana kondisi teman saya?!" Tanya Rebecca dengan panik.


"Kondisinya 'nggak apa-apa, hanya saja ia mengalami trauma ringan. Biasanya akan hilang dalam waktu 1 atau 2 minggu," jawab dokter itu.


"Terus, merah-merah yang ada di leher teman saya, gimana dok?" Sahut Diana.


"Untuk itu, akan saya berikan salep untuk menghilangkan titik merah itu," jawab dokter itu lagi.


"Kalau begitu, saya permisi." Pamit dokter itu kemudian berlalu.


"Eh, orang tuanya Dona udah dikabarin 'kan?" Tanya Ria kepada Riana.


Riana mengangguk, "iya. Tenang aja, mereka dalam perjalanan."


.


.


.


.


Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)


*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*


-**Bersambung-


#HappyReadingAll😉🤗**

__ADS_1


__ADS_2