
"Putri! Jangan tinggalkan aku!" Sergah sang Pangeran.
"Maaf kan aku, aku harus pergi sekarang," ucap sang Putri yang ternyata itu adalah Ria. Dengan cepat, Ria pergi meninggalkan ruang dansa.
Ketika berada di depan istana, Ria hendak menuruni anak tangga. Tetapi, tiba-tiba......
'Byur'
"Hah ... Hah ... Hah," seakan kehabisan nafas di dalam air, Ria langsung terbangun dari tidurnya.
"Bangun! Ngigau ngigau nyebut Pangeran. Makanya! Kalo mau tidur jangan baca komik!" Ucap Sukma setelah menuangkan segelas air ke kasur Ria.
"Apaan sih!" Elak Ria sembari mengelap wajahnya.
"Mandi! Habis itu sarapan!" Perintah Sukma kemudian mencipratkan air lagi ke wajah Ria yang sedang melamun.
"Cepat! Kepikiran Pangeran lah tuh!" Lanjutnya.
Ria pun tersadar dari lamunan dan berucap, "iya iya. Pangeran apaan sih?! Nggak jelas dah!"
"Sana cepat mandi!" Titah Sukma tak terbantahkan. Ria langsung mengambil handuknya dan berjalan menuju kamar mandi.
Sekolah
"Selamat pagi anak-anak!" Sapa Bu Sella seorang guru Seni Budaya. Wanita muda yang baru menginjak usia 28 tahun merupakan guru paling muda ke 2 di SMA favorit di kota Padang. Nama lengkapnya yaitu Sella Marcella. Blesteran Padang-Swiss yang menjadi ia seperti remaja usia 15 tahunan.
"Pagi Bu!" Jawab murid murid serempak.
"Silakan buka buku halaman 10 kita kerjakan uji kompetensinya kemudian kita koreksi bersama," perintah bu Sella sembari menaruh alat mengajarnya.
"Baik Bu!" Balas murid murid.
Istirahat
"Ria, Bima, Windy, Robby nanti kalian temui kakak di basecamp ya!" Ajak Kak Rudy ketika bertemu dengan adik adik bimbingnya.
"Oke Kak! Siap!" Sahut mereka --Ria, Bima, Windy, dan Robby--- serempak.
Kemudian Kak Rudy pergi kembali entah kemana dan mereka semua melanjutkan acara makannya.
Basecamp
"Ada apa Kak?" Tanya Bima ketika masuk ke dalam basecamp.
"Sebentar lagi kan Persami, jadi Kakak mau kalian atur perlengkapan perlengkapan buat Persami. Misalnya, tenda. Kakak minta juga, kalian tulis perlengkapan untuk adik adik kalian nanti. Besok, dibagikan. Gimana? Paham?" Jelas Kak Rudy yang tadinya sedang membaca majalah.
Semuanya mengangguk semangat. Robby pun berkata, "paham Kak paham. Itu doang?"
"Oh yah, jangan lupa buat siapin penampilan api unggun."
"Itu mah gampang Kak!" Sahut Bima bangga.
__ADS_1
"Halah, gampang apaan? Waktu tahun kemarin aja kamu gagal mimpin," cibir Windy sambil menyenggol kasar bahu Bima.
"Ya itu kan tahun kemarin. Sekarang udah berpengalaman dong," elaknya tak mau kalah.
"Seterah lah," balas Windy mengalah.
"Yang waras ngalah." Sambungnya lagi.
"Yaudah, kalo gitu aku aja yang ngalah!" Balas Bima tak mau kalah.
"Enggak enggak, aku aja. Aku aja yang ngalah. Kamu menang!" Imbuh Windy tak mau kalah juga.
"Enggak, aku aja yang ngalah. Kamu menang!" Balas Bima sambil menggelengkan kepalanya.
"Enggak enggak. Aku aja yang ngalah. Kamu menang," balas Windy lagi.
"Enggak aku aja!"
"Aku aja!"
"Aku aja yang ngalah, kamu menang!"
"Aku!"
"Aku!"
"Aku!"
"Kalian kenapa sih?! Bisa nggak kalo semenit aja nggak usah ribut?!" Sambung Kak Rudy.
"Tuh Bimanya Kak!" Adu Windy sambil menunjuk ke arah Bima.
"Apaan sih?! Kamu duluan!" Elak Bima sambil menunjuk ke arah Windy.
"Kamu!"
"Kamu!"
"Kamu!"
"Kamu!"
"STOOOOPPPP!!!!!!!" Pekik Ria sambil mengangkat tangannya ke atas.
"Kalian kenapa sih?!" Sambungnya.
"Tau, ribut mulu dari tadi!" Lanjut Robby dengan wajah marah.
Setelah menyadari keberadaan Robby disana, Windy langsung terkekeh, "Hehe. Maaf 'yang tuh Bima tuh. Ngajakin aku gelud mulu,"
"apaan sih?!" Ucap Bima diambang kemarahan.
__ADS_1
"Udah udah! Ingat! Penampilannya jangan kayak tahun kemarin. Masa celana Pramuka sampai melorot gitu?" Kata Kak Rudy.
"Itu mah Bima Kak! Udah tau penampilannya kayak gitu bukannya pakai ikat pinggang biar nggak melorot malah katanya kekencengan nanti nggak bisa nafas," sahut Ria sambil terngakak-ngakak dan jangan lupa memukul meja yang ada dihadapannya.
Muka Bima pun memerah bak kepiting rebus kemudian beralasan, "udah udah ah! Tuh meja dipukul-pukul kasian tau! Bringas banget sih jadi cewek! Huh!"
"Yaudah sih. Daripada kamu yang dipukul mau?" Balas Ria.
"Yaudah. Kalian balik lagi ke kelas jam istirahat mau habis. Kakak masih ada urusan di kwarcab," pamit Kak Rudy kemudian bangkit dari duduknya dan mengambil tas ransel miliknya.
"Siap Kak!" Semuanya pun keluar basecamp dan kembali ke kelas masing-masing.
....
"Lama banget, ngomingin apa aja tadi?" Tanya Ninda dengan wajah sejuta penasaran.
"Tadi bicarain tentang Persami. Terus, kita mampir dulu toilet, hehe, emang selama itu ya?" Jawab Windy.
Ninda menggeleng dan berkata, "nggak juga. Oh ya, si Ria mana? Kok nggak bareng?"
"Oh tuh bentar lagi datang. Tadi dia ribut dibasecamp sama Bima," ucap Windy sambil setengah berbisik diakhir pengucapannya.
Ninda pun terkejut, "yang benar? Ya ampun. Mereka itu emang nggak selalu akur. Giliran jodoh aja baru tau rasa!"
"Makanya, pas di toilet aku juga bilang gitu ke dia. Katanya gini 'Aku sama Bima itu cuma temenan. Lagi juga berantem itu karena aku kesal aja sama dia. Lagi mana ada sih benci jadi cinta?' Gitu." Windy bercerita kepada Ninda.
"Hmm kalo kejadian aja baru tau rasa!" Komentar Ninda sambil tersenyum masam.
Windy tertawa terbahak-bahak dan berkata, "iya tuh benar!"
Tiba-tiba Ria datang sambil melipatkan tangannya di dada. Windy dan Ninda pun berhenti tertawa dan berbisik, "ada Ria, udah ketawanya nanti dia curiga!"
.
.
.
.
.
.
Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)
*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*
-**Bersambung-
#HappyReadingAll😉🤗**
__ADS_1