
Siang harinya, gedung sekolah menjadi riuh bising, yang di sebabkan oleh, pengumuman dari sang kepala sekolah.
"Kebetulan, kami para guru, akan mengadakan rapat untuk merundingkan jadwal ulangan tengah semester. Jadi, para murid harus di pulangkan setelah istirahat." Ya, itulah perkataan daripada sang kepala sekolah menggunakan pengeras suara, yang sudah membuat sekolah menjadi riuh bising seperti pasar.
"Diam! Jangan ribut!" Seru bu Syila Priscilla yang menjabat sebagai guru SBK atau seni budaya.
"Bu, kenapa 'nggak langsung pulang aja? Tanggung lah, Bu!" Rengek salah satu siswi yang berada di kelas itu.
"Iya, Bu. Tanggung banget lho," timpal siswa di kelas itu juga, yang setuju dengan ucapan teman satu kelasnya.
"Kalian mau, nilai ulangan kalian, nol?!" Guru itu memberi ancaman kepada muridnya yang susah sekali diatur.
Alhasil, mereka pun menjadi ciut dan kelas menjadi hening. Hingga bel istirahat berbunyi, kelas pun di sudahkan dan di lanjutkan minggu depan. Serta, seluruh murid keluar dengan teratur, dan keadaan tetap hening.
"Li, kamu dari tadi diam aja, kenapa? What hepend? Aya naon? Cerita lah, ke kita. Kamu anggap kita apa? Autan? Atau Vape?" Cerocos Windy yang sedang mengaduk-aduk bakso pesanannya.
Ria menggeleng, "lagi males aja." Jawabnya lesu. Windy yang sedang mengunyah sebutir bakso kecil pun, hanya mengangkat sebelah alisnya. "Males apaan? Hei, tuh makanan sama kamu cuma pesan doang apa? Dimakan. Mubazir, kalau 'nggak mau, mending buat aku aja," kelakar Windy yang berusaha menghibur temannya itu.
"Iya, iya. Punya orang main disosor aja!" Ketus Ria, kemudian ia mulai memasukan makanan yang ia pesan.
♛┈⛧┈┈•༶
Sepulang sekolah.
"Eh, nanti kita main yuk!" Ajak Ninda sambil terus berjalan.
"Boleh tuh, Li! Ikut 'nggak?" Sahut Sindy yang memasang raut wajah sumringah.
"Pastinya, dia 'nggak mau!" Tukas Windy sambil melirik ke arah Ria yang masih memasang wajah murung.
"Emang kenapa? Kenapa, Li?" Tanya Sindy kepada Ria. Sedangkan, Ria hanya menghela nafasnya, "lagi 'nggak mood aja. Males."
"Ya udah deh, 'nggak biasanya tau, kamu kayak gini! Biasanya juga kamu paling heboh!" Imbuh Ninda yang tadi hanya menyimak.
"Iya, tuh. Ada apa sih, Li? Sampai jadi gini?" Sahut Sindy, kemudian menaruh pertanyaan kepada Ria.
Ria tak menggubris sama sekali. Ia lebih memilih bertengkar dengan pikirannya, entah apa yang ada dipikirannya itu, hanya Tuhan dan dia yang tahu.
✧・゚: *✧・゚:*
"Assalamu'alaikum, aku pulang...," lirih Ria sambil melangkahkan kakinya untuk terus masuk ke dalam rumah Gadang miliknya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," jawab seorang yang berada di rumah itu.
"Tumben udah pulang. Bukannya kamu masih ada pelajaran?" Ternyata, pemilik suara itu ialah pak Izzudin, ayah Ria. Ia sedang duduk di ruang tamu sambil menyeruput kopi yang telah ia buat sendiri.
Ria menghampiri ayahnya, lalu mencium tangan sang ayah. "Hah ..." Lagi-lagi, Ria menghembuskan nafasnya, "pulang cepat, makanya aku pulang." Jawabnya singkat.
"Kayaknya capek banget nih," ucap pak Izzudin yang memperhatikan Ria seperti merenggangkan otot-ototnya, "sini, pijitin Abah." Lanjut pak Izzudin sambil menepuk-nepuk pundaknya.
"Hehehe." Pak Izzudin hanya terkekeh melihat Ria yang seperti sedang kesal.
"Ya udah, kalau gitu kamu mending tidur aja sana. Tapi, jangan lupa mandi, abis itu salat!" Titah pak Izzudin, Ria hanya menurut dan langsung pergi ke kamarnya.
**✿❀ ❀✿**
"Males! 'Nggak bisa tidur lagi. Gimana dong?!" Gerutu Ria, kemudian ia mengambil ponsel yang berada di atas nakas.
Ia mulai membuka aplikasi WhatsApp, tiba-tiba, sebuah pesan masuk dengan nama pengirim, 'Rafael Dirgantara'.
Rafael Dirgantara : “Tumben onnline. ’Nggak sekolah?”
Ria yang membaca itu langsung menyipitkan matanya sambil bermonolog, "dia tau dari mana?! Wah, jangan-jangan ngintip-ngintip nih!"
Rafael Dirgantara : “Hehe. ’Nggak kok, soalnya, aku tuh pakai Yo WhatsApp. Makanya, ada pemberitahuan kalau ada yang onnline.”
Sedangkan, Ria hanya percaya-percaya saja, akan pesan yang dikirim oleh Rafael.
Ria Eliyanti : “Oh, gitu. Kirain apa.”
Rafael Dirgantara : “Iya, hehe.”
Ria Eliyanti : “Ngomong-ngomong, kok kamu juga onnline? ’Nggak sekolah?”
Rafael Dirgantara : “Pulang cepat, katanya sih, ada rapat dadakan.”
Ria Eliyanti : “Oh, gitu. Sama dong.”
Rafael Dirgantara : “Iya, hehe. Emang kamu lagi ngapain?”
Ria Eliyanti : “Lagi baca novel aja. Eh, ada chat masuk, aku balas.”
Rafael Dirgantara : “Oalah. Udah dulu, ya. Dipanggil sama ibu negara.”
__ADS_1
Ria Eliyanti : “Eh, kamu memang asli mana? Kayaknya, semenjak aku ngobrol sama kamu, logat kamu ’nggak terlalu melayu banget gitu.”
Rafael Dirgantara : “Ya, aku sebenarnya asli Jakarta. Tapi, pindah ke sini.”
Ria Eliyanti : “Oh, gitu. Ya udah, sana gih.”
Rafael Dirgantara : “Sana apaan? Ngusir nih? (Emot nyengir lebar)”
Ria Eliyanti : “Hih! Kamu ’kan dipanggil sama ibu kamu, sana samperin. Nanti dicakar luh!”
Rafael Dirgantara : “Oalah. Kira apaan. Ibu ku ’nggak galak banget, cuma cerewet aja (emot nyengir lebar 1000×).”
Read.
Lagi 'nggak ada quotes baru.-
⋇⋆✦⋆⋇
.
.
.
.
.
.
.
.
Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)
*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*
-**Bersambung-
#HappyReadingAll😉🤗**
__ADS_1