
Suara sirine ambulance, memenuhi jalan itu. Para tim medis, mulai mengeluarkan brankar dari garasi ambulance, dan langsung menaruh pasien gawat darurat di brankar, setelah itu langsung memasukkan ke dalam bagasi ambulance. Suara sirine kembali memenuhi jalan raya.
•••
Ria terbangun dari tidurnya, ternyata itu semua hanya mimpi. Tapi, siapa mereka? Kenapa penampakkan mereka semua sangat buram? Apa maksud dari itu? Pikirnya.
"Untung cuma mimpi," gumamnya, sambil mengelus dadanya.
"Jam berapa ini?" tanya Ria pada dirinya sendiri, ternyata jam menunjukkan pukul satu dini hari.
"Mending aku salat tahajud aja deh, udah lama. Siapa tau, aku nggak mimpi buruk lagi." ucap Ria, kemudian ia turun dari ranjang dan beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Ketika hampir menuju kamar mandi, Ria melihat sang ibu tengah bersujud di atas sajadah. Sangat menenangkan hati, tak lama ia langsung ke kamar mandi dan mengambil wudhu.
••••
Tiga hari kemudian.
Hari ini, Ria tak ada jadwal kuliah. Maka dari itu, ia lebih memilih untuk berada di rumah sambil menikmati beberapa film drakor yang baru saja rilis.
Dilihatnya, notifikasi WhatsApp ternyata kosong, tak ada satupun pesan yang masuk. Bahkan, pesan dari Rafael hanya bekas kemarin. Karena bosan hanya tarik ulur beranda di WhatsApp, Ria langsung beralih ke aplikasi favoritnya.
•••••
"Raf, lo kenapa sih? Dari tadi mondar-mandir kayak ayam, mikirin apa sih lo?! Tugas udah kelar, terus lo mikirin apa?!" pekik Feri heran.
"Diem lo! Lo nggak tau apa-apa, mending lo diem aja!" ketus Rafael.
"Oh, jadi selama ini, lo nggak anggap kalau gue itu temen lo, iya? Begitu?!" balas Feri tak kalah ketus.
"Bukan gitu ...." tiba-tiba saja, ucapannya terpotong.
"Emang masalah apa sih? Sampai bikin lo kayak orang linglung," sambung Feri.
"Udah lah cerita aja, oh biar gue tebak! Lo pasti lagi mikirin tu cewek, kan? Gara-gara dia kagak ngasih kabar, iya kan?" Rafael mengangguk pelan.
"Gue tau nih! Kebetulan waktu SMA, gue tuh playboy, jadi gue tau gimana ngebujuk cewek-cewek, mau nggak dapat saran dari gue?" ujar Feri sambil menaik turunkan alisnya.
"Jadi selama ini, gue temenan sama playboy, pantes aja kalo papasan sama cewek suka genit." gumam Rafael namun masih terdengar oleh Feri.
"Eh, santai dong. Gue ini mantan playboy, bukan playboy lagi." sahut Feri santai sambil menekankan kata 'mantan'.
"Gue udah tobat, suwer deh!" sambungnya sambil menampakkan jari telunjuk dan tengahnya.
"Iya-iya, gimana rencananya?" tanya Rafael tak sabaran.
__ADS_1
"Sini, gue bisikin." Rafael mendekatkan telinganya ke mulut Feri, tapi tidak terlalu dekat.
"Ya? Gimana?" tanya Feri ketika sudah selesai memberitahu rencanya.
"Apaan? Gue denger cuma kresek-kresek doang sih, kayak televisi tabung," balas Rafael kesal. Sedangkan, Feri hanya cengengesan.
"Oke, ini beneran kok."
•••••
"Ria! Amak sama abah mau pergi, ya. Ada acara sama teman, baru aja dia ajak makan bareng," teriak amak Laila.
"Mau ikut ...." rengek Ria memohon.
"Kamu jaga rumah! Uni-mu soalnya ada rapat di tempat kerja dia." ucap amak Laila tegas.
"Iya deh," balas Ria lesu.
••••
Ditengah keasyikannya membaca novel, tiba-tiba pintu diketuk oleh seseorang. Dengan rasa kesal, Ria langsung menuju pintu di ruang keluarga.
Ketika dibuka, ada Bima, Dean dan Doni dengan raut wajah khawatir.
"Kalian? Ada apa? Eh, ayo masuk," kata Ria mempersilakan mereka masuk.
"Rafael, Li. Rafael." Bima terisak beriringan dengan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
"Kenapa?!" pekik Ria.
"Rafael, nggak ada," timpal Doni dengan nada terisak.
"Yang benar! Ini nggak lucu, tau nggak!?" pekik Ria dengan nada dua oktaf jantungnya berdebar tak karuan.
"Kami dapat kabar, tadi pagi." ucap Dean membuka suara.
Buru-buru Ria menyambar jaket miliknya dan langsung pergi berlari menuju kediaman Rafael sebelumnya.
Sedangkan, Bima, Doni dan Dean langsung menghapus air matanya sambil bertos ria.
"Berhasil nggak nih?" tanya Dean ragu.
"Udah, kita lihat aja nanti. Kuy! Markicab, mari kita cabut!" seru Bima lalu pergi dari sana bersama antek-anteknya. Tak lupa juga, menutup pintu rumah Ria.
•••
__ADS_1
Sesampainya di rumah Rafael, suasana sangat sepi, tak segan Ria langsung membuka pintu. Ternyata sepi dan gelap. Pandangannya teredarkan ke seluruh sudut rumah itu.
Di tengah ruangan, tepatnya di ruang tamu, terdapat sebuah gundukan seperti mayat. Ria langsung segera berlari ke sana sambil terisak.
Saat dirinya mendekat ke gundukan itu, lampu menyala dan ada suara meledak dari sebuah confetti.
Semua teman masa SMA Ria, bersorak riang bahkan ada yang tertawa terbahak-bahak.
"Kalian? Kok kalian ketawa sih!?" pekik Ria.
"Buka coba, liat ada apa dibalik kain itu." ujar Sindy sambil menahan tawanya.
Dengan ragu Ria menarik kain itu, dan ternyata isinya adalah guling yang hampir berukuran seperti manusia.
"Jadi, ini bukan ...." kata Ria tak menyangka hingga ia tidak bisa melanjutkan perkataannya.
"Bukan, aku disini." suara yang dirindukannya ternyata menyahut. Ria langsung menoleh, ternyata itu Rafael, orang yang sudah di rindukannya.
"Rafael?!" pekik gadis itu, dan langsung berlari ke arah Rafael tanpa aba-aba, Ria memeluk tubuh jangkung Rafael.
"Aku kira, kamu ...." perkataannya itu terpotong.
"Udah, jangan bilang gitu." sambung Rafael.
"Ehem, aduh kita kayaknya salah tempat deh, mending pergi aja yuk!" deheman itu membuat Ria langsung melepaskan pelukannya.
"Jadi, ini rencana kalian?!"
"Bisa dibilang seperti itu, bisa dibilang tidak seperti itu." Bima membuka suara.
"Padahal ini maunya si Rafael, tapi ide yang begini sih, dari kita-kita. Iya nggak?" sambungnya.
"Tapi, kamu senang, kan? Dia bisa balik ke sini?" tanya Ninda menggoda. Sedangkan, Ria hanya cengengesan.
"Aku minta maaf, yang waktu kemarin. Ya, mungkin aku salah paham dan terlalu posesif, aku minta maaf ya." tutur Rafael sambil menundukkan kepalanya.
Ria tersenyum, "iya, nggak apa-apa kok. Jadi, kamu tau kan? Kalau itu kakak tingkat aku?" Rafael mengangguk senang.
"Tunggu aku lulus nanti, tinggal beberapa bulan lagi." kata Rafael lembut.
Sedangkan, yang menjadi penonton hanya bisa tersenyum sambil menahan tangis.
"Aaaa, mau kayak gitu." ucap Ninda.
"Iya, so sweet." timpal Sindy.
__ADS_1
"Apalah dayaku yang jomblo ini," sahut Saras.
-To be Countine-