
Malam harinya, Ria sedang berbaring santai di kamarnya. Sambil membaca novel kesayangannya dan juga mendengarkan lagu-lagu kesukaannya.
"Payung fantasi melambai di sinar pagi
Hei-hei, cantik nian
Boleh kupandang wajahmu secantik bintang
Bolehkah disayang?
Siapa gerangan tuan
Cenderawasih dari bulan
Ataukah si bintang siang
Pembawa pelipur rasa bahagia." Itulah sepenggal lirik dari lagu yang Ria dengarkan. Berjudul, Payung Fantasi yang dinyanyikan oleh Tatjana Saphira.
'Tok tok tok!'
Suara ketukan itu mengalihkan pandangan Ria, yang semula menatap buku novelnya, menjadi menatap ke pintu kamarnya.
'Tok tok tok!'
Suara itu kembali berbunyi lagi, sehingga, mau tidak mau, Ria harus beranjak dari tempat ia berpijak.
"Iya, iya, sebentar!" Ucapnya sambil berjalan ke arah pintu kamar. Ketika ia membuka pintu kamar, terdapat Sukma yang sedang menatap datar ke arahnya, "tas mu, mau dicuci 'nggak? Kata Amak."
"Oh, tas yang kemarin dipakai jambore?" Tanya Ria balik, Sukma hanya mengangguk sekilas.
Ria berjalan ke arah kolong meja belajarnya, yang terdapat tas-tas kesayangannya. Kemudian, ia mengambil tas berwarna pink dengan corak kucing berwarna putih.
"Nih," ucap Ria dengan tanpa dosanya. Sukma hanya memandang datar ke arahnya, "kasih aja sendiri!" Tolak Sukma dengan cara halus menurut dirinya kemudian, melenggang pergi dari situ.
__ADS_1
Ria hanya mematung sambil memegang tasnya dan juga masih memasang eskpresi sebelumnya, yaitu senyum penuh bangga. "Ck!" Berdecak kesal, lalu keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah belakang rumahnya yang terdapat, sebuah kobakan kecil yang sengaja dibuat oleh Pak Izzudin.
Sebelum dicuci, Ria memeriksa kembali tasnya, ia merogoh di tempat-tempat kecil dalam tasnya dan juga luar. Ketika di resleting ke-tiga, Ria menemukan sebuah secarik kertas yang dilipat kecil. Ia langsung mengambil kertas itu kemudian menaruh tasnya di bak berisi air.
"Kertas apa ini?" Tanyanya, kemudian pergi menuju kamarnya.
"Aku tahu, aku ini pecundang. Karena, aku ungkapin ini lewat secarik kertas, aku 'nggak tahu mau lewat apa selain ini. Sebelumnya, jika kamu bertanya, siapa pengirim surat ini, karena 'nggak ada nama. Kamu, 'nggak perlu tahu siapa aku, dan itu pun 'nggak penting sama sekali. Walau hanya lewat pertemuan yang menurutku singkat, tapi, dari situ aku mulai tahu, seperti apa rasa jatuh cinta itu. Seperti apa, jatuh cinta pandangan pertama itu. Yah ... Aku 'nggak perlu kebanyakan intro, atau apa itu. Intinya, aku itu suka sama kamu. Aku sengaja taruh surat ini di tas kamu. Supaya, kamu bisa baca surat ini tanpa perantara siapapun.
Kalau kamu tanya, kenapa aku bisa suka sama kamu, kenapa aku bisa cinta sama kamu? Aku cuma bisa jawab, aku cinta kamu, tapi aku 'nggak tau alasannya. Karena, cinta itu datang tak mengenal waktu, kadang, bisa datang diwaktu yang tak tepat, atau sebaliknya. Kalau kamu 'nggak ngerti sama surat ini, sama. Aku juga 'nggak ngerti apa yang aku ungkapkan ini. Aku harap, kamu bisa mengerti apa yang aku ungkapkan ini. Tertanda : Pengagum di belakangmu." Itu lah isi surat tersebut, dari si pengirim tanpa nama.
Kalau kalian 'nggak ngerti isi surat itu, sama, Author juga 'nggak ngerti. Maksudnya apa, dan maunya apa.
"Ini siapa, sih?" Tanya Ria pada dirinya sendiri.
"Pertemuan singkat?" Ia berpikir sejenak, "Nando? Tapi, masa iya, sih?! Dia 'kan tinggal di Tangerang. 'Nggak! Bukan, bukan!" Masih saja, ia terus bermonolog.
"Misterius ... Seperti di buku novel!" Serunya, mungkin jiwa detektif tengah bersemayam di dalam tubuhnya itu.
"Haih! Udah lah! Mending aku tidur aja, ngantuk!" Tukasnya, lalu membersihkan tubuhnya sebelum tidur, setelah itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang di kamar tidurnya, kemudian ia pun mulai memasuki dunia mimpi.
Pagi harinya, semua keluarga Ria sudah ada di meja makan. Tidak lama dari itu, Ria datang sambil membawa tasnya.
"Cie ... Dapat surat cinta dari siapa semalam?" Kelakar Sukma sambil memasukan sesendok nasi ke mulutnya.
Ria yang baru saja mendudukkan dirinya di bangku, terkejut lalu berkata, "surat cinta?"
Sukma pun mengangguk, "iya. Isinya so sweet banget. Omong-omong, dapat dari siapa itu?" Goda Sukma lagi.
"Apaan sih!" Elak Ria sambil mencibir Sukma.
"Tadi, waktu aku mau bangunin kamu, kamu nya masih tidur sambil pegang secarik kertas. Nah, aku ambil kertasnya, terus aku baca. Ternyata, isinya itu ungkapan seseorang," terang Sukma dengan nada berwibawa bak seorang jaksa yang mengungkapkan kejadian sebenarnya.
Ria hanya melirik sinis ke arah Sukma dan sesekali mencibirnya.
__ADS_1
.....
"Pagi, sayang!" Sapa Santi yang berstatus sebagai Ibu kandung Rafael.
"Pagi, Bun, Yah!" Sahut Rafael lalu duduk di kursi dekat meja makan.
"Oh, ya, katanya, semalam kamu 'nggak fokus belajar, ya?" Tanya Santi dengan tatapan menyelidiki.
"Kok, Bunda tahu, sih?!" Sahut Rafael kaget.
"Kemarin, bu Qinan telfon Bunda, katanya, kamu itu 'nggak fokus belajarnya. Ya, Bunda jawab aja, kalau kamu itu 'nggak bisa tidur, terus minta di dongengin sama Bunda." Si Ibu terlihat tak berdosa mengucapkan hal tersebut.
"Kok Bunda ngarang sih?!" Ucap Rafael tak terima.
"Ya harus gimana lagi?" Sahut Si Ibu yang tak berdosa sama sekali.
.
.
.
.
.
.
Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)
*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*
-**Bersambung-
__ADS_1
#HappyReadingAll😉🤗**